
Entah sudah berapa lama Kaito pingsan. Sebelumnya dia sempat pingsan karena tidak kuat menahan sakit dari api dan petir yang muncul dari dalam tubuhnya karena memakan 2 kadal kembar. Sedikit demi sedikit mata Kaito mulai terbuka. Kesadarannya mulai kembali setelah mengalami siksaan yang berasal dari dalam. Kaito pun mulai membuka matanya dan menatap ke seluruh bagian goa.
Dia bisa merasakan stamina dalam tubuhnya telah kembali dengan penuh dan semua bekas lukanya pun juga sudah beregenerasi.
"Sudah berapa lama aku pingsan ? aneh tubuh ini rasanya telah kembali mendapatkan tenaga lagi"
Kaito menatap kedua tangannya, dia pun berusaha berdiri dan bersandar ke dinding tembok.
"Entah kenapa rasanya tubuh ku terasa lebih ringan dari biasanya. Eh rambut ku ? rambut ku yang sebelumnya terbakar sampai botak kembali lagi"
Kaito memegangi rambutnya yang sebelumnya habis terbakar, namun sekarang sudah kembali seperti semula. Angin kencang tiba-tiba muncul dari dalam goa berusaha menghempaskan tubuh Kaito keluar goa. Namun sayang, Kaito memanfaatkan sebuah batu besar yang tepat di sampingnya untuk menjadi pegangan agar tidak terhempas. Angin kencang itu perlahan demi perlahan mulai berhenti, Kaito pun melepaskan pegangan dari batu itu. Terlihat sangat jelas tangan Kaito terluka karena permukaan batu yang kasar, namun karena dia memiliki kemampuan regenerasi luka itu pun kembali sembuh.
"Sepertinya goa ini berusaha mengusir ku ya ? Sial aku sudah sejauh ini tidak mungkin aku kembali. Aku akan terus berjalan masuk kedalam goa"
Kaito pun melangkahkan kakinya setapak demi setapak menyusuri jalan goa. Dia terus berjalan dan terkadang berhenti untuk duduk dan mengamati isi goa.
"Entah sudah berapa lama aku di dalam sini, namun yang pasti aku masihlah hidup dan aku harus tetap berjalan"
Kaito pun terus melangkahkan kakinya tanpa pernah sekali pun dia menoleh ke arah belakang. Saat ini Kaito hanya ingin cepat keluar dari goa dan pulang kerumah untuk bertemu istri dan anaknya. dia tidak sadar kalau dirinya terpental ke dunia Zero. Selama perjalanan nya dia hanya berfikir bahwa dirinya masih hidup dan terpental ke Mesir serta semua kekuatan regenerasinya dia dapat karena kebaikan sang Maha Pencipta.
__ADS_1
Kaito yang terus berjalan kemudian mencium bau yang kurang sedap, lebih tepatnya seperti bau bangkai. Dia pun melangkah kan kakinya dengan cepat, dan betapa terkejutnya dia. Kaito melihat sosok bangkai ular putih di depan matanya.
"I..ini bangkai ular, bukan kah ini ulah yang berusaha memakan ku waktu itu"
Kaito mengenali ular itu dari bekas luka di ekornya. Ya ekor ular itu menunjukan bekas gigitan Kaito saat dia bergulat dengannya.
"Jadi ini ular sialan yang waktu itu ingin memakan ku ya, tak ku sangka nasibnya akan sial dan mati seperti ini"
Kaito terus melangkahkan kaki sambil menatap bangkai ular itu. Tiba-tiba pandangan Kaito tertuju pada kepala sang ular. Terlihat di bagian kepala ular itu melepuh seperti terkena panas dan yang lebih parah di sekujur sang ular terlihat banyak bekas capitan dan sebuah tusukan berukuran besar di sekujur tubuh.
"Apa ular ini kalah bertarung ? bekas luka ular ini dan caranya mati sepertinya lawannya lebih dari 1"
Kaito pun duduk di samping bangkai ular itu. Dia menatap tangannya dan berdiri kembali.
"Aku akan membakar mu, aku telah memakan kadal merah yang menyemburkan api hitam, pasti aku juga bisa menyemburkan api seperti kadal itu"
Kaito pun menarik nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkan nafasnya lagi berharap semburan api akan keluar. namun sayang sekali bukan api yang keluar namun air ludahnya yang keluar. Kaito merasa bingung dan kembali duduk.
"Kenapa aku tidak bisa menyemburkan api ? mungkin memang aku hanya memiliki kemampuan regenerasi saja"
__ADS_1
Kaito menatap langit dan dia pun merasa kesal karena hal itu. Karena perasaan kesal itu Kaito pun menatap bangkai ular itu dan membayangkan api membakar bangkai si ular kemudian dia pun menarik nafas dan melepaskannya. Kaito pun teringat sebuah anime Naruto, dia mengingat sebuah kemampuan mata yang mampu membakar apa pun dan berwarna hitam. Kaito pun menghela nafas dan tertawa.
"Hahaha tak ku sangka aku memikirkan hal konyol. Lagian itu hanya di anime mana mungkin aku bisa mengeluarkan api hitam dari mata ku haha"
Kaito pun berhenti tertawa dan berdiri menghadap bangkai ular besar itu.
"Tidak salah untuk mencobanya"
Kaito pun menutup matanya dan menghela nafas dalam-dalam. Kemudia Kaito membuka mata kirinya sementara mata kanannya tetap tertutup. Tiba-tiba sebuah api hitam keluar pada titik pusat yang di pandang nya. Api itu pun mulai membakar tubuh ular raksasa itu, dan Kaito merasa heran dengan yang terjadi. Kaito terus memfokuskan matanya, namun karena merasa lelah dia pun menutup mata kanannya dan membuka kedua matanya. Betapa terkejutnya dia melihat api hitam yang sebelumnya membakar tubuh ular raksasa itu menghilang.
"api hitam tadi kenapa malah menghilang ? padahal tadi api itu sangat besar dan membakar bangkai itu. Namun sekarang api itu menghilang dan hanya menyisakan bangkai ular gosong"
Kaito pun kembali terduduk dan berfikir, dia pun mulai paham kemampuan api hitam itu. Api hitam itu dapat muncul saat Kaito hanya melihat membuka mata kanannya dan memfokuskan pandangannya , namun api itu akan hilang bersamaan saat mata kanan tertutup dan kedua mata dibuka bersamaan.
Setelah memahami itu Kaito pun mencoba kembali membakar ular raksasa itu. Semua sesuai dengan perkiraan Kaito, dia terus menggunakan api hitam itu sampai tubuh sang ular terbakar habis menjadi abu. Setelah tubuh ular itu menghilang Kaito pun berbaring, mata kanannya terasa sakit dan tubuhnya mulai kelelahan. Seolah saat Kaito menggunakan kemampuan api hitam tadi berdampak pada staminanya. Kaito pun memutuskan untuk beristirahat sampai tubuhnya merasa lebih baik. selama istirahat Kaito mulai memikirkannya, saat dia memfokuskan satu titik dan membayangkan energinya berubah wujud menjadi api hitam dan api itu pun muncul.
"Kemampuan si kadal merah membuat ku bisa menggunakan api hitam melalui mata. Lalu kemampuan kadal biru itu bisa ku aplikasikan dengan cara apa ?"
Kaito yang ingat akan kadal biru dan kemampuannya mulai membuat Kaito merasa bingung. Kaito pun tertawa dan membayangkan bisa mengubah kemampuan kadal itu menjadi seperti sarung tangan yang dapat di gunakan membelah apa pun. Kaito pun berbaring dan mulai mencobanya lagi. Terlihat Kaito mulai memfokuskan semua tenaganya ke tangan kiri dan membayangkan energi itu berubah menjadi petir. Namun sayang usaha Kaito sia-sia, dia pun berdiri dan menatap ke dalam goa.
__ADS_1
"Yah kemampuan si kadal biru masih belum ku ketahui. namun setidaknya aku memiliki kemampuan untuk menyerang saat aku di serang"
Kaito pun dengan wajah percaya diri mulai melangkah kan kaki menuju kedalam goa.