
Perjalanan yang cukup melelahkan, banyak cobaan dalam usaha untuk keluar dari tempat itu. Ya kali ini Kaito sukses besar, dia berhasil keluar dari goa yang hampir membunuhnya.
Namun di luar goa itu bukan desa, bukan sungai, bukan juga gunung, hanya ada hamparan pasir dan matahari yang bercahaya dengan sangat cerah. Kaito terduduk di depan mulut goa.
"Bagaimana cara ku pergi ? aku harus bertarung lagi dengan panas gurun ? apa yang sebaiknya ku lakukan ?"
Kaito merasa bingung melihat di luar goa hanya terdapat pasir yang cukup panas. Kaito menatap setiap sudut gurun dan tidak sedikit pun terlihat desa, yang dia lihat hanyalah sebuah pasir dan panasnya terik matahari.
"Apa yang harus ku lakukan ? tak mungkin aku melewati tempat itu, dan tidak mungkin pula aku hanya berdiam diri di sini"
Kaito yang merasa bingung memutuskan tiduran di depan mulut goa.
"Coba aku bisa melakukan sesuatu yang hebat agar bisa keluar dari gurun ini hmm"
Kaito merasa bosan jika hanya duduk dan dia pun berdiri dan mulai berjalan di gurun yang panas itu. Setapak demi setapak kakinya terasa terbakar oleh panasnya gurun itu. Kaito hanya menatap ke depan dan berharap secepatnya menemukan pemukiman atau tempat berteduh.
Entah sudah berapa lama dia berjalan, namun dia tidak berhenti sama sekali untuk beristirahat. Langkahnya semakin cepat berjalan di gurun itu, dia menatap si depan terdapat sebuah danau dengan banyak sekali pohon kelapa. Kaito merasa heran dengan apa yang dia lihat itu.
"Hebat ada danau di depan sana, aku harus cepat menuju tempat itu"
Kaito pun berlari menuju danau itu, namun saat mulai mendekat tiba-tiba danau itu menghilang. Dia merasa seperti di permainkan dan terduduk di atas pasir.
"Sial ternyata hanya fatamorgana, aku capek dan haus. Apa tidak ada air sedikit pun di sini huh huh"
Kaito terbaring lelah, dan dia pun menutup matanya.
"Aku capek ingin tidur, semoga setelah tidur ada sebuah jawaban masalah ku"
Kaito pun tertidur di atas pasir yang panas, tiba-tiba angin kencang berhembus membawa pasir di sekelilingnya. Kaito membuka matanya dan melepas mana nya membentuk perisai petir. Badai pasir pun terbelah karena perisai petir itu, seketika dia teringat kemampuan mana.
"Benar juga, harusnya aku menggunakan kemampuan mana untuk keluar dari gurun ini"
Kaito pun menggunakan langkah petir nya dan menghentikan perisai petir nya. Kecepatan Kaito sangat cepat hingga setiap langkahnya bisa berpindah cukup jauh. Dia berlari dengan kecepatan penuh dan membuat pasir gurun terbelah menjadi dua karena kecepatan dia.
"Harusnya dari tadi aku menggunakannya hahaha"
Tiap langkahnya begitu cepat hingga badai pasir pun tak mampu menghentikannya. Dalam kecepatan itu, dia terus berlari melewati gurun dan dinding tebing gurun. Sampai lah dia di atas tebing. Dia menatap ke setiap penjuru mencari keberadaan desa terdekat. Di ujung timur terlihat jelas sebuah desa di gurun pasir, dia pun berlari menuju ke desa itu.
"Syukurlah akhirnya aku bertemu dengan sebuah desa"
Tiba-tiba Kaito menghentikan langkahnya saat berada di tengah jalan, terlihat sebuah gundukan pasir dan ada seseorang yang tergeletak. Kaito pun menghampiri orang itu dan menolongnya.
"Apa kau tak apa-apa kakek ?"
__ADS_1
Kakek itu terlihat begitu lemas dan tak mampu berbicara. Dengan cepat dia pun menggendong lelaki tua itu dan berjalan menuju desa. Kakek itu terlihat sudah hilang kesadaran dan Kaito pun berjalan dengan langkah petirnya. Hingga mereka tiba di depan jalan masuk desa.
"Pertama aku harus cari klinik di desa ini"
Kaito terus menggendong pria itu hingga tiba di desa. Dia terus bertanya kepada para penduduk soal klinik, namun mereka seolah tak mengerti maksudnya. Tiba-tiba nenek tua mendekati Kaito dan berkata.
"Bawalah orang itu ketempat ku, aku akan mengobatinya"
Kaito pun mengikutinya dan hingga sampai di depan rumah nenek itu. Nenek itu membuka kan pintu dan mempersilahkan Kaito masuk.
"Masuk lah, baringkan orang itu di atas ranjang itu"
Kaito meletakan pria tua itu, dia pun menatap sang nenek. Nenek itu pun langsung memeriksa keadaan pria itu. Kaito hanya duduk di kursi kayu yang berada di sudut ruangan. Setelah memeriksa kakek itu, si nenek menghampiri nya.
"Di sudah lebih baik anak muda"
"Yah terimakasih"
"Mau ku buatkan teh hangat ?"
"Tentu, terimakasih"
Nenek itu pun berjalan dan membuatkan teh untuk Kaito. Setelah beberapa saat teh itu pun di sediakan pada Kaito. Si nenek duduk di samping Kaito dan meminum teh nya.
"Apa kau saudara pria itu nak ?"
"Begitu ya"
"Lalu bagaimana keadaannya nek ?"
"Dia tidak terluka, cuma mungkin dia tidak kuat menahan panas di gurun dan kehabisan makan serta minum sehingga membuatnya pingsan"
Kaito hanya terdiam dan mengambil sebatang rokok di saku nya. Setelah menyalakan dan menghisap rokoknya dia bertanya kepada si nenek.
"Sebenarnya desa apa nek ?"
Si nenek hanya diam dan menikmati teh nya.
"Ini adalah desa Hunt"
Kaito merasa heran dengan nama desa ini, dia menatap ke sekeliling ruangan. Tiba-tiba si nenek berkata.
"Desa ini dulu begitu ramai penduduk, namun semuanya berkurang sejak badai gurun dan para perampok masuk desa"
__ADS_1
"Perampok ?"
"Iya, mereka merampok tempat kami, dan menculik gadis-gadis muda di desa ini"
Kaito terdiam dan meminum nya.
"Apa tidak ada orang yang menangkap para perampok ?"
"Tidak ada yang berani pada para perampok itu anak muda"
"Kenapa bisa begitu ?"
"Karena, setiap ada orang yang melawan perampok itu. Mereka akan terbunuh dan gagal kembali"
"Jadi mereka kuat ya ?"
"Begitu lah, namun akhir-akhir ini mereka sudah tidak muncul lagi"
Kaito hanya terdiam dan menikmati teh hangat serta rokoknya. Nenek itu tiba-tiba bertanya hal yang mengejutkan Kaito.
"Apa kau bertemu dan membunuh para perampok itu ?"
"Apa maksud anda nek ?"
"Yah seperti yang ku lihat, kamu memiliki hal yang istimewa"
"Maksud nenek ?"
"Kalung yang kau kenakan itu adalah peninggalan raja terdahulu"
"Bagaimana nenek tau ?"
Kaito pun berdiri dan mengeluarkan bola petir dan bersiap menyerang si nenek.
"Tenang lah anak muda"
"Dari mana anda tahu soal kalung ku ? jawab !!"
"Tentu aku tau, karena dulu kalung itu adalah milik tuan ku di kerajaan Kuno"
"Kerajaan Kuno ?"
"Yah jika di kalangan kami yang pernah menjadi pasukan pemerintah kerajaan menyebutnya dengan kerajaan Piramida"
__ADS_1
Bagai tidak percaya dengan ucapan nenek itu, Kaito hanya terdiam mendengarnya.
"Yah semua itu berawal saat itu"