BATTLE ZERO WORLD

BATTLE ZERO WORLD
Perjalan Menuju Kerajaan Lama


__ADS_3

Pagi pun datang bersama dengan semangat dari mereka bertiga. Kaito keluar rumah dengan langkah penuh semangat, dan di luar sudah terlihat kakek Rasyid serta nenek Salamah menanti di atas kuda.


"Apa kau sudah siap tuan Kaito ?"


Kakek Rasyid mendekati Kaito dengan membawakan kuda yang siap untuk di tungganginya.


"Aku siap kapan pun. Maaf aku tak naik kuda, aku akan mengikuti kalian dengan langkah kilat ku"


Kakek Rasyid tertawa, sedangkan Nenek Salamah terus menatap peta.


"Yah kalau tuan tak butuh kuda, baiklah saya akan kembalikan dan di tukar dengan uang haha"


Kakek Rasyid pergi meninggalkan nenek Salamah dan Kaito. Pagi itu terasa begitu nyaman dan udaranya pun juga dingin. Angin seolah tidak berhembus sedikit pun, dan cahaya mentari pun menyambut kepergian mereka bertiga. Di sepanjang perjalanan, kuda terus di pacu dengan cepat oleh mereka berdua. Kaito hanya mengikuti mereka dengan kemampuan langkah kilatnya.


Udara semakin panas bersama dengan matahari yang mulai naik. Kakek Rasyid menghentikan kudanya dan di ikuti oleh kedua orang di belakang.


"Ada apa kakek Rasyid ?"


Kaito berjalan menghampiri Kakek Rasyid yang turun dari kuda. Nenek Salamah terdiam di atas kuda menatap mereka berdua.


"Kita istirahat dulu"


Kakek Rasyid menjawab dengan begitu tenang, Kaito hanya terdiam. Tiba - tiba nenek Salamah menghampiri Kakek Rasyid dan langsung memukulnya dengan tongkat. Terlihat kakek Rasyid kesakitan dan memegang bekas pukulan itu, nenek Salamah pun menatap Kaito dan berkata.


"Kita tetap jalan !!!"


Kaito hanya diam, kakek Rasyid menatap nenek Salamah dengan tatapan sayu.


"Kak Salamah, Aku tahu kakak ingin cepat sampai di kerajaan lama. Namun seperti yang kakak tau, perjalanan ini akan panjang. Kita tidak bisa memaksakan diri untuk cepat - cepat sampai disana"


Kaito hanya diam mendengar ucapan itu, sementara nenek Salamah menghela nafas dalam - dalam.

__ADS_1


"Kau tidak mengerti Rasyid, semakin kita lama disini. Kita akan terlalu banyak membuang waktu"


Kakek Rasyid tersenyum dan menatap ke arah nenek Salamah.


"Kak, santai saja. Entah berapa lama waktu yang di butuhkan, selama kondisi kita sehat itu lebih baik. Dari pada kita harus memaksakan diri dan berakhir dengan sakit"


Nenek Salamah terdiam dan mulai turun dari kuda. Kakek Rasyid menurun kan beberapa barang dan mengeluarkan botol minum. Kaito hanya diam dan berfikir.


"Kenapa mereka bisa memilih tempat istirahat di tempat terbuka seperti ini ?"


Kaito menatap ke segala arah, dan yang dia lihat hanyalah hamparan pasir yang panas. melihat semua itu membuatnya teringat saat pertama dia sampai di dunia itu dan harus bertahan hidup hingga akhirnya memiliki kekuatan untuk melindungi dirinya.


"Ada apa tuan Kaito"


Kakek Rasyid menghampirinya membawa sebuah kotak.


"Tidak ada apa apa kek. Eh, apa itu kek ?"


Kakek Rasyid tersenyum dan membuka kotak itu.


Kaito tersenyum dan mengambil sebatang rokok dari kotak lalu menyalakannya. Kakek Rasyid pun menikmati rokoknya dan berdiri di samping Kaito sambil menatap ke arah depan.


"Kau lihat kan tuan Kaito ?"


"Iya, hamparan pasir yang panas"


"Benar, namun apa kau tau tuan ? jika di hamparan pasir itu bisa menjadi sebuah neraka bagi mereka yang meremehkannya"


Kaito terdiam dan teringat saat dia hampir mati di gurun pasir. Kakek Rasyid menceritakan sedikit pengalaman yang telah dia lalui selama berkelana mencari Khasim. Kaito hanya diam mendengarkan cerita tersebut dan sesekali menghisap rokoknya.


Suasana terasa semakin panas, Kaito menatap ke arah nenek Salamah yang mulai berkemas. Kakek Rasyid pun juga berjalan menuju kudanya, Kaito hanya diam menatap ke arah depan.

__ADS_1


"Semoga di depan tidak ada hal yang merepotkan"


Kuda pun berlari dengan cepat meninggalkan lokasi mereka beristirahat. Langkah kaki yang cepat bersamaan dengan suasana panas yang makin menyayat kulit. Kaito terus berlari mengejar mereka berdua yang berada di depannya. Waktu terus berganti bersamaan matahari yang mulai berpindah tempat. Hingga tibalah mereka di sebuah tebing yang cukup tinggi. Terlihat di sekitar tebing itu tidak ada sedikit pun tanda - tanda kehidupan.


"Apa kita akan lewat sini kak Salamah ?"


pertanyaan kakek Rasyid tidak sedikit pun mendapat jawaban dari Nenek Salamah. Terlihat wajah wanita tua itu sedang berfikir cukup hati - hati. Kaito menatap sekitar tebing dan atas tebing. Bebatuan yang berada di atas terlihat cukup berbahaya jika melintasinya. Nenek Salamah menatap ke samping pintu masuk tebing dan kembali berfikir. Kakek Rasyid hanya duduk diam di atas kudanya dan sesekali bertanya lagi kepada nenek Salamah yang sedang berfikir.


"Sebaiknya kita cari jalan lain"


Ucap Kaito sembari menatap ke arah kanan pintu masuk tebing.


"Kenapa kamu berfikir begit tuan Kaito ?"


tanya kakek Rasyid yang merasa heran.


Nenek Salamah pun ikut ambil bicara mendengar ucapan Kaito.


"Aku juga setuju, dari pada kita melewati jalan lurus yang terlihat aman namun begitu meragukan. sebaiknya kita cari jalan memutar yang lebih aman dan meyakinkan"


Kakek Rasyid hanya diam mendengar ucapan nenek Salamah. Akhirnya mereka pun pergi ke arah kanan pintu masuk tebing. Kuda mereka pacu dengan begitu cepat, membuat langkah Kaito terasa berat karena pasir. Kakek Rasyid menyetarakan kecepatan kudanya dengan milik nenek Salamah hingga bersebelahan. Kaito hanya terus mengikuti dan menatap mereka berdua melajukan kuda sambil berbicara. Pembicaraan mereka tak mampu terdengar oleh Kaito karena langkah kaki kuda mereka. Namun Kaito tak terlalu mempedulikan apa yang mereka obrolkan dan terus berlari mengikuti langkah kuda yang semakin cepat.


Waktu terus berganti sepanjang perjalanan mereka bertiga. Hingga akhirnya malam pun tiba menyambut mereka. Terlihat langkah kaki kuda mulai melambat bersamaan dengan rasa lapar yang ada. mereka bertiga pun berhenti dan menatap ke sekitar tempat itu. Mereka berdua turun dari kuda dan meletakan tas ke pasir. Kaito terhenti dari larinya dan menatap mereka berdua. Kakek Rasyid terlihat sibuk membongkar tas, sedangkan nenek Salamah sibuk mengikat kuda agar tidak lari. Kaito hanya diam, dan tiba - tiba nenek Salamah melempar sebuah botol ke arahnya.


"Eh ini ?"


"Minumlah, kita akan bermalam disini"


sahut nenek Salamah sebelum Kaito sempat berbicara. Tanpa fikir panjang di minumnya air itu. Kakek Rasyid mulai menyalakan api dan nenek Salamah menyiapkan perlengkapan untuk mereka makan. Kaito menghampiri mereka dan bertanya.


"Apa yang bisa ku bantu ?"

__ADS_1


Nenek Salamah tidak menjawab dan mengeluarkan beberapa alat yang sudah di bawanya. Kakek Rasyid berdiri menghampiri Kaito dan memberikan sekotak rokoknya.


"Tuan Kaito beristirahat saja dan nikmati rokok ini, biar masalah disini kami berdua yang urus"


__ADS_2