BATTLE ZERO WORLD

BATTLE ZERO WORLD
Jalan di Belakang Air Terjun


__ADS_3

Kaito terus melangkahkan kakinya, dia menatap ke depan. Terdengar suara air mengalir dari arah yang di tuju, Kaito mulai berlari menuju sumber suara. Betapa terkejutnya dia melihat danau luas dan air terjun di dalam goa. Kaito mulai merasa bingung karena melihat semua itu. Dia mulai membuka peta yang di bawa, di peta terlihat jelas bahwa lokasi itu adalah sebuah kota dan bukan danau.


Kaito menatap danau itu, dia melihat hal yang cukup ganjil di tempat itu. Namun semua di tempat itu hanya ada hamparan air, dinding goa dan sebuah air terjun.


"Ini hal yang sangat aneh dan tak masuk akal. Orang itu menggambar peta ini dan menandainya sebagai sebuah kota, namun kenapa malah danau ?"


Kaito berjalan mendekati danau, tatapannya tertuju ke arah air terjun.


"Apakah mungkin di belakang air terjun itu terdapat jalan ke kota lama ? namun kenapa air danau ini tidak meluap meski terisi selalu oleh air terjun ?"


Pertanyaan dan keganjilan muncul di kepala Kaito. Bagaimana teori dan logikanya sebuah danau yang di isi oleh air terjun namun tidak meluap sama sekali. Kaito pun jongkok di tepi danau dan menatap kedalam danau.


"Sial kelihatannya danau ini sangat dalam, hampir aku tak bisa melihat dasarnya. Jika sampai aku terjatuh ke danau ini, bisa di pastikan aku akan mati tenggelam"


Kaito pun berdiri dan berjalan mendekati air terjun. Betapa derasnya air terjun itu membuat dia berfikir kembali untuk melihat apa yang ada di baliknya. Kaito pun bersandar di sebuah batu, dia menatap ke arah air terjun yang deras itu.


"Apa ku coba gunakan bola petir untuk memastikan apakah di belakangnya ada jalan menuju kota lama ?"

__ADS_1


Kaito mulai memusatkan semua energinya ke telapak tangan. Dia merubah energi itu menjadi sebuah bola, kemudian dia melemparkan bola itu ke arah air terjun. Bola petir itu melesat sangat cepat dan menyebabkan ledakan besar yang membuat arus air terjun itu terbelah menjadi dua. di saat itulah Kaito melihat ada sebuah jalan di belakang air terjun, namun tiba-tiba batu dari atas jalan itu runtuh menutup setengah jalan masuk akibat ledakan tadi. Kaito hanya terdiam dan memikirkan cara membelah aliran air terjun itu tanpa menghancurkan batu di atas agar tidak runtuh lagi. Dia teringat akan buku yang di bacanya di ruangan aula, Kaito mengingat bagian di buku dimana tertulis bahwa energi bisa di ubah kedalam wujud elemen dan di kendalikan sesuai keinginan. Namun Kaito terus berfikir bagaimana cara nya mengendalikan bola petir yang di lempar agar tidak membentur dan meledak. Dia hanya termenung dan menatap ke arah air terjun kemudian melangkahkan kaki mendekati air terjun. Jarak Kaito dan air terjun itu tinggal lah beberapa meter, dia menarik nafasnya dalam-dalam dan kemudian memusatkan seluruh energi ke sekitar tubuhnya. Dia pun melangkahkan kakinya menuju air terjun yang deras itu, saat tiba di dekat air terjun tiba-tiba muncul petir yang memutari tubuh Kaito dan melindunginya. Ternyata Kaito memusatkan semua energinya di sekitar tubuhnya dan membentuknya melingkarinya, sehingga saat dia mulai mendekati air terjun itu energinya di rubah kedalam bentuk petir yang menyebar menyelimuti tubuhnya.


Petir yang melindungi Kaito membentuk sebuah kerucut dan menyebabkan air tidak dapat menembusnya. Akhirnya dia sampai di depan pintu masuk di belakang air terjun, batu yang sempat menutupi setengah jalan pun di hancurkan Kaito dengan perisai petir itu. Setelah memasuki jalan Kaito menghentikan pertahanan nya dan mulai berjalan masuk menuju kota lama.


"Tak ku sangka perisai petir sukses meski baru pertama ku coba. Dengan begini kemampuan ku sudah ada 4, antara pertahanan dan kekuatan ternyata sudah hampir sempurna"


Namun tidak seperti jalan goa sebelumnya yang terdapat obor dan lentera, namun di jalan itu sama sekali tidak ada lentera mau pun obor. Akhirnya Kaito pun memiliki sebuah ide, dia mengeluarkan bola petir nya dan di genggam untuk di jadikan seperti senter. Di sepanjang jalan Kaito terus merasakan hawa dingin yang sangat berbeda, angin yang berhembus seolah menusuk sampai ke tulang. Namun Kaito tetap terus melangkah maju dan menghiraukan apa yang dia rasakan, sampai akhirnya dia terhenti karena sebuah aura kegelapan yang seperti ingin membunuhnya.


"Aura apa ini ? aura ini seperti perasaan kematian. Apa-apaan ini, asalnya dari dalam sana. Ada apa di sana ? dan aura kematian macam apa ini ? meski begitu kenapa tidak terasa sedikit pun hawa membunuh seperti saat aku bertemu 2 kadal itu ? apa pun yang terjadi aku harus terus melangkah maju"


Kaito pun melanjutkan perjalanan meski tubuhnya seperti di hadang badai es yang membekukan langkahnya. Tiba-tiba Kaito di serang dengan hantaman keras dari arah depannya. Dia pun tetap berdiri namun benda yang menyerangnya seolah menghilang, Kaito hanya terdiam dan tidak bergerak. Matanya terus mengawasi sekitar tempat dia berdiri.


Tiba-tiba Kaito kembali diserang dari arah belakang. Dia tetap tidak dapat melihat apa yang menyerangnya.


"Sial apa yang menyerang ku tadi, gerakannya terlalu cepat dan bagaimana dia bisa menyerang di kegelapan seperti ini. Tak ada waktu untuk memikirkan apa yang menyerang ku, yang terpenting sekarang bagaimana cara ku menanganinya"


Sekali lagi Kaito di serang dari samping dengan sangat kuat. Namun sayang dia masih tetap kuat berdiri, dan serangan itu terus menerus tanpa henti.

__ADS_1


"Sialan dia terus menyerang ku tanpa memberi ku kesempatan untuk membalas. Bagaimana ini ?"


Di saat serangan yang terus menerus di terimanya Kaito, dia mulai sedikit mendengar suara bunyi. Yah suara itu mirip seperti hembusan angin yang sangat tipis, karena suara itu Kaito mulai menutup matanya"


"Benar juga meski aku tidak bisa melihat namun pendengaran ku masihlah bisa berfungsi. Kuncinya hanyalah suara hembusan angin tadi, jika begitu aku harus lebih memfokuskan indera pendengaran ku"


Serangan itu berhenti bersamaan saat Kaito menghilangkan bola petir nya.


"Hening sekali, kenapa tidak ada suara dan serangan. Apakah karena bola petir ku sudah ku hentikan sehingga dia juga berhenti menyerang"


Kaito membuka matanya, dan berusaha melangkah kan kakinya. Namun sayang sekali serangan kembali di terima Kaito saat dia melangkahkan kakinya. Kaito yang menerima serangan langsung terjatuh.


"Jadi begitu ya ? bukan cahaya yang membuatnya menyerang ku, namun karena dia memang ingin menghalangi ku"


Kaito mulai menutup matanya lagi, dan kali ini dia mulai melangkahkan kakinya. Seketika makhluk itu bergerak berusaha menyerang Kaito dan perisai petir pun langsung di aktifkan. Makhluk itu mengeluarkan suara seolah dia kesakitan menabrak perisai petir. Kaito pun tidak membuang-buang waktu, dia langsung menggenggam makhluk yang menyerangnya. Betapa terkejutnya Kaito, ternyata yang menyerangnya dari tadi adalah kelelawar berukuran cukup besar. Kaito pun langsung menggunakan api hitam untuk membakar kelelawar itu. Setelah kelelawar itu terlihat sudah tidak memberontak dan Kaito pun menghentikan api hitamnya.


"Sial ku kira hewan apa ternyata kelelawar besar yang menyerang ku, sial karena hal itu membuat ku menjadi lapar"

__ADS_1


Kaito pun memakan daging kelelawar itu sampai tak tersisa. Dia pun setelah makan kemudian melanjutkan perjalanan menuju kota lama.


__ADS_2