
Kaito yang terkejut melihat hal itu mulai merasa kagum. Nenek Salamah dan Kakek Rasyad terlihat senang melihat kertas kosong itu mengeluarkan gambar sebuah peta letak Kerajaan Lama berada. Kaito yang masih bingung terus menatap peta itu, namun dia tetap tak mampu membaca isi peta tersebut.
"Apa isi peta itu Nenek Salamah ?"
Nenek Salamah hanya tersenyum dan menetes kan air mata. Apa yang selama ini dia cari akhirnya muncul tepat di depan matanya. Kakek Rasyid menghampiri Kaito dan mengajaknya keluar rumah.
"Ikut lah dengan ku tuan Kaito"
Kaito menuruti perkataan Kakek Rasyid tanpa banyak bicara. Mereka berdua berjalan meninggalkan Nenek Salamah yang masih menatap peta dengan berlinang air mata. Kaito hanya menatap ke arah Nenek Salamah dan berjalan pergi mengikuti Kakek Rasyad. Sesampainya di depan rumah, Kakek Rasyad menyentuh pundak Kaito.
"Terimakasih tuan Kaito. Berkat anda impian kami berdua bisa terwujud"
Kaito mulai paham dengan maksud Kakek Rasyid.
"Jadi isi peta itu benar - benar sangat berharga buat kalian ya ?"
"Yah begitulah tuan Kaito"
Kaito hanya tersenyum dan merasa senang karena bisa membantu.
"Tuan Kaito, bolehkah saya bertanya ?"
"Ya, apa yang mau anda tanya kan Kakek Rasyad ?"
Kakek Rasyad mengeluarkan kotak bakau nya dan membuat rokok dan di serahkan pada Kaito.
"Sebelum nya mari kita menyalakan rokok ini dan mulai berbicara serius"
Kaito mengambil rokok itu dan menyalakannya sambil bersandar di dinding rumah.
"Bagaimana rokok buatan saya tuan ?"
Kaito hanya mengangguk dan menghisap rokoknya. Kakek Rasyid mulai membuat rokok lagi dan berbicara.
"Apakah kamu mau membantu kami menemukan Kerajaan Lama yang sudah hilang cukup lama tuan ?"
Kaito mengeluarkan semua asap yang ada di mulut nya dan tersenyum menatap Kakek Rasyid.
"Tentu aku akan membantu kalian berdua"
Terlihat wajah Kakek Rasyid begitu lega mendengar jawaban Kaito.
__ADS_1
"Aku senang mendengarnya tuan"
"Ya tak masalah asalkan aku bisa membantu kalian berdua"
Kaito kembali menghisap rokoknya dan menatap ke langit. Kakek Rasyid pun menghisap rokoknya dan berjalan masuk ke dalam rumah.
"Mungkin selama perjalanan nanti akan banyak halangan, saran saya selama kita bersiap. Tuan bisa menghabiskan waktu untuk berlatih di gurun yang jauh dari desa ini"
Perkataan Kakek Rasyid membuat Kaito berfikir, mungkin kah dia kurang kuat. Kaito menatap langit dan mengingat kembali semua yang sudah di lalui selama ini. Dia merasa bahwa kekuatannya semakin meningkat berkat pengalaman dan kebiasaan yang biasa dia lalui.
"Seperti nya latihan juga tidak masalah buat ku. Selain itu aku bisa mencoba hal baru dan kebiasaan baru dari latihan"
Kaito pun berjalan menuju ketempat yang di maksud oleh Kakek Rasyid dengan rasa penuh percaya diri.
Sementara itu di rumah Nenek Salamah, Kakek Rasyid mulai menyiapkan perlengkapan untuk perjalanan mereka ber tiga. Terlihat Nenek Salamah juga bersiap membawa bekal tanaman obat dan obat - obatan yang mungkin bermanfaat.
Hari semakin panas menyelimuti desa, Kaito terus berjalan hingga sampai di tempat yang di beritahukan oleh Kakek Rasyid. Tanpa banyak berfikir Kaito langsung mengeluarkan Bola petir nya dan melemparnya ke arah gundukan pasir di depannya.
"Ledakan nya kurasa sudah cukup. Namun aku rasa, disini tempatnya akan cocok untuk menjadi tempat latihan ku dalam mengontrol mana"
Kaito terlihat tersenyum dan mulai melakukan pemanasan sebelum memulai latihan. Waktu terus berganti, rasa panas pun mulai menerpa tubuh Kaito yang terus berlatih.
"Apa kau belum memahami isi peta itu Kak Salamah ?"
"Seperti yang kau tau Rasyid, dari kita bertiga hanya Kak Kashim yang memahami isi peta ini"
Kakek Rasyid berjalan menuju ke sebuah kamar dimana dulunya tempat itu adalah kamar Kashim.
"Kau mau apa masuk ke kamar Kak Kashim ?"
Kakek Rasyid tidak menghiraukan sedikit pun perkataan dari Nenek Salamah. Kamar itu begitu sempit dan hanya ada kasur dan sebuah meja kecil. Kakek Rasyid memandangi setiap sudut ruangan dan menemukan sebuah lubang kecil di lantai bawah kasur.
"Ada apa Rasyid ?"
Terlihat Nenek Salamah begitu heran melihat tingkah Kakek Rasyid. Tanpa banyak bicara Kakek Rasyid menyingkirkan kasur dan langsung menghancurkan lubang kecil yang berada di bawah kasur dan menemukan sebuah buku.
"Apa yang kau lakukan Rasyid !! kau sudah menghancurkan lantai kamar ini !! dasar kau ini !!"
Terlihat ekspresi marah nenek Salamah yang merasa kesal melihat tingkah Kakek Rasyid yang seenaknya sendiri. Di ambil lah buku dari dalam lubang yang telah dia hancurkan.
"Apa yang kau ambil itu Rasyid ?"
__ADS_1
Terlihat rasa ingin tahu Nenek Salamah melihat Kakek Rasyid mengambil buku dari dalam lubang. Kakek Rasyid berdiri dan tersenyum senang seperti menemukan harta emas. Nenek Salamah hanya terdiam dengan ekspresi kosong melihat sikap Kakek Rasyid.
"Kak Salamah, apa kau tahu buku apa ini ?"
Nenek Salamah hanya terdiam dan mengangkat kedua bahunya yang menandakan dia tidak tahu apa pun.
"Ini adalah buku yang di tulis oleh Kak Kashim. Di dalam buku ini pasti terdapat cara kita bisa membaca peta buta itu"
Mendengar ucapan Kakek Rasyid, senyum Nenek Salamah muncul. Dengan cepat Nenek Salamah langsung merebut buku itu dan membaca. Bagaikan menemukan pengetahuan baru, Nenek Salamah membaca tiap lembar buku dengan seksama.
"Bagaimana Kak Salamah ? apa kau menemukan sesuatu ?"
Kakek Rasyid mulai merasa heran begitu Nenek Salamah selesai membaca buku yang dia temukan. Nenek Salamah langsung tersenyum dan berjalan menuju peta buta yang ada di atas meja. Dengan perasaan senang dia menatap ke arah Kakek Rasyid dan berteriak.
"Kerajaan Lama aku akan pulang !!!!"
Suara Nenek Salamah membuat Kakek Rasyid menutup telinga nya dan tertawa.
Waktu terus berganti dan malam pun mulai menyelimuti desa. Semua persiapan sudah tersedia dan Kakek Rasyid duduk manis di depan rumah sambil merokok. Nenek Salamah berjalan menghampiri Kakek Rasyid dengan membawa tiga cangkir kopi yang sudah dia buat. Nenek Salamah duduk di samping Kakek Rasyid dan meminum kopinya, sedang kan Kakek Rasyid terus menikmati rokok nya.
"Apa tuan Kaito masih berlatih di tempat itu ?"
Kakek Rasyid hanya tersenyum sambil mengeluarkan semua asap rokoknya.
"Mungkin dia bisa menjadi raja baru kita Rasyid"
"Aku rasa juga begitu Kak Salamah"
Mereka berdua memiliki sebuah impian yang cukup besar dan bersamaan dengan munculnya Kaito yang memiliki potensi sebagai raja mereka. Tak berselang beberapa menit datanglah Kaito dengan pakaian yang sobek.
"Jadi bagaimana latihan mu, tuan Kaito"
Dengan senyum bangga Kaito mengambil bakau dan membuat rokok lalu menyalakan nya.
"Aku sudah siap kapan pun kita berangkat"
Perkataan Kaito membuat Nenek Salamah dan Kakek Rasyid ikut tersenyum.
"Besok pagi kita akan berangkat mencari Kerajaan Lama"
Kakek Rasyid berbicara dengan penuh rasa senang.
__ADS_1