BATTLE ZERO WORLD

BATTLE ZERO WORLD
Piramida Tersembunyi


__ADS_3

Api pun menyala bersama dengan sunyi senyap malam di gurun pasir itu. Tebing batu tempat mereka berkemah menjadi alas pelindung dari terpaan angin di malam itu.


Kakek Rasyad berjalan menghampiri Kaito membawa sepiring makanan dan segelas minuman.


"Silahkan di nikmati tuan"


Kaito hanya diam mengambil makanan dan minuman, kemudian menyantapnya. Kakek Rasyid duduk dan menyalakan sebatang rokok.


"Tahukah tuan, di gurun pasir ini sering terjadi hal yang tidak masuk akal. Terkadang tebing seperti ini bisa menjadi jalan buntu untuk orang yang bepergian"


Kaito hanya diam dan menikmati makanannya, kakek Rasyid melanjutkan ceritanya sambil menghisap rokoknya.


"Yah terkadang tempat aman itu bisa menjadi sebuah kuburan untuk kita yang merasa nyaman"


Makanan pun habis dan di letakkan piring dan gelas. Kaito mengambil sebatang rokok dan kemudian menyalakannya lalu mendengarkan cerita kakek Rasyid.


"Apa tuan merasa nyaman kalau kita bermalam di sini ?"


"Entah, namun aku merasa ada hal buruk yang akan terjadi"

__ADS_1


"Begitu ya, kalau sampai terjadi hal buruk. Anda akan menolong kami kan tuan Kaito ?"


Kaito hanya diam menatap langit sambil menghisap rokok. Kakek Rasyid tersenyum melihat Kaito, dan kemudian membawa piring dan gelas ke tempat nenek Salamah yang masih sibuk membaca peta. Dalam hati Kaito hanya bisa berbisik.


"Hawa dingin ini mengingat kan ku, pada tempat yang hampir membunuh ku saat sampai di sini pertama kali"


Kaito berbaring di atas pasir sambil sesekali memejamkan matanya. Suasana yang begitu tenang seolah menjadi pengantar tidur untuk dirinya. Dalam sepi sunyi itu terdengar samar - samar suara kakek Rasyid dan nenek Salamah sedang berbicara. Suara yang samar itu di cobanya untuk memahaminya, namun hanya sebagian kata yang mampu dia tangkap. Mereka berdua sedang membicarakan isi peta itu dan beberapa hal tentang kenangan lama saat di kerajaan lama. Kaito terus memejamkan mata dan terus mendengarkan suara samar dari mereka.


Angin berhembus dengan kencangnya dan di iringi pasir yang terbawa angin melewati celah tebing tempat mereka berkemah. Terdengar suara kakek Rasyid dan nenek Salamah berdebat untuk memutuskan jalan yang akan di lalui besok. Mereka berdua berdebat cukup keras hingga membuat Kaito tidak jadi untuk tidur. Kaito pun bangun membuka mata dan menggunakan langkah kilat menaiki tebing tempat mereka berkemah.


"Dasar, kenapa mereka berdua meski berdebat. Jalan bisa di fikir besok kenapa mereka mesti berdebat. Yah merepotkan sekali karena mereka aku tidak jadi tidur"


"Tempat aneh apa ini ? kenapa bisa ada tempat seperti ini di tengah gurun pasir ? padahal tadi siang saat kami lewat sini tidak ada Piramida ini"


Kaito yang merasa heran hanya berbicara sendiri sambil menatap pintu masuk yang terlihat 2 Sphinx menjaganya. Kaito pun tanpa ragu berjalan menuju jalan masuk ke dalam Piramida. Sampailah dia di depan pintu masuk dan di lihatnya sebelah kanan dan kiri sepasang Sphinx itu seolah menatap ke arahnya dan bersiap menyerang. Kaito tidak terlalu menghiraukan kedua patung itu dan menatap ke arah jalan masuk ke dalam Piramida. Jalan yang terlihat gelap dan aman, membuatnya teringat ucapan kakek Rasyid.


"Ini kah yang di sebut terlihat aman namun belum tentu aman ?"


Kaito mengeluarkan bola petir nya untuk meneranginya dan berjalan masuk ke dalam. Tiba - tiba kedua patung itu pun bergerak menutup jalan masuk tepat setelah dia memasuki Piramida.

__ADS_1


"Sial aku terjebak, apa boleh buat aku hanya perlu jalan sampai menemukan pintu keluar"


Kaito menatap jalan di depan nya dan berjalan dengan tenang. Suasana yang terasa aman membuatnya menjadi lebih waspada. Tanpa sengaja kaki Kaito menendang benda keras, dia pun mengarahkan bola petir ke sekitar kakinya. Betapa terkejutnya Kaito, terdapat banyak sekali kerangka kepala dan bagian tubuh manusia berserakan di tanah tempat dia berdiri.


"Sial, ini membuat ku merasa nostalgia dengan tempat ku dulu saat memperoleh kalung ini"


Dengan langkah tenang, Kaito pun berjalan menghiraukan semua tulang yang berserakan. Jalan itu begitu senyap dan terasa mulai menunjukan ke anehan. Banyak tulang yang seolah berusaha seperti lari dan ada beberapa tengkorak yang bertindak seperti merangkak. Kaito yang merasa curiga mulai lebih berhati - hati. Hingga tiba - tiba terdengar suara seperti harimau dari dalam lorong. Suara itu terdengar jauh, namun yang pasti semua lorong terasa tergetar oleh hal itu. Kaito berjalan dengan langkah pelan dan tanpa sengaja dia menginjak sebuah ranjau yang terdapat di jalan lorong itu. Atap dari lorong itu mulai terbuka dan menjatuhkan banyak batu yang akan menimpa Kaito. Dengan tenang dia keluarkan perisai petir yang membuat semua batu itu hancur. Kaito yang mulai terbiasa dengan kekuatannya membuatnya tidak terlalu khawatir dengan semua jebakan mau pun musuh yang akan menyerangnya. Kaito berjalan dengan terus mengaktifkan perisai petir nya, dan meninggalkan tempat ranjau pertama. Di setiap perjalanan sepanjang lorong hampir semua berisikan ranjau, namun Kaito mampu berhasil selamat sebab pelindungnya.


"Ranjau ini seperti tempat bermain ku saja. Jadi teringat sama goa yang hampir membunuh ku dulu hahaha"


Dengan senang dan santainya Kaito hanya tertawa menikmati setiap ranjau yang gagal mengenainya. Setiap ranjau yang mau mendekati Kaito, semua hancur bersamaan dengan saat menyentuh perisai petir nya yang


terus aktif. Tiba - tiba dari dalam lorong terdengar suara keras dan semakin dekat dengan kecepatan penuh menuju ke arah Kaito. Suara langkah kaki dan gerangan itu makin mendekat membuat seisi lorong seperti terguncang dengan begitu kerasnya. Kaito hanya diam menanti apa yang akan datang menyerangnya.


"Datanglah, serang aku !!! haha"


Suara sombong Kaito dan rasa percaya dirinya membuat suasana semakin menegang. Tiba - tiba serangan ekor pun melesat ke arah perisai petir Kaito dan membuatnya terpental cukup jauh dari posisi dia berdiri sebelumnya. Kekuatan serangan ekor yang kuat itu membuat semangat Kaito semakin membara.


"Akhirnya, musuh kuat muncul untuk menguji kekuatan ku sekarang haha"

__ADS_1


Getaran dari lorong semakin terasa bersama geraman yang semakin mendekat. Kaito menutup mata kanannya, dan memfokuskan ke arah depan. Tibalah saatnya monster itu pun muncul tepat berdiri di depan Kaito, dengan posisi siap menyerang.


__ADS_2