BATTLE ZERO WORLD

BATTLE ZERO WORLD
Serangan Perampok


__ADS_3

Di saat Kaito telah berhasil mendapatkan milinium puzel dan juga kekuatan baru dia mulai berusaha untuk keluar dari goa.


Sementara itu, sebelum melanjutkan perjalanan Sadi dan Bryan sempat istirahat. Selama beristirahat Bryan dan Sadi terus di awasi orang. Akhirnya mereka berdua melanjutkan perjalanan menuju kota Dandelion. Di sepanjang perjalanan Bryan terus fokus dan tidak melemahkan penjagaannya. Sadi yang mengetahui muridnya merasa waspada setelah dia memberitahu situasinya. Sadi bertanya kepada Bryan.


"Apa kau sudah siap jika harus bertarung Bryan ?"


Bryan dengan santainya menjawab.


"Tentu siap guru"


Sadi menghela nafas berkata kepada sang murid.


"Saat kau sudah berani bertarung, kau juga harus siap untuk di bunuh atau membunuh, apakah kau sudah siap mental untuk hal itu ?"


Bryan hanya tertunduk dan memikirkan perkataan gurunya. Sadi seolah menyadari kelemahan muridnya yang tidak memiliki keberanian untuk membunuh. Sebelum sempat Sadi berbicara Bryan tertawa.


"Hahaha guru, jika memang harus membunuh. Akan ku lakukan semuanya dengan cepat"


Sadi pun terkejut mendengar jawaban muridnya, ternyata dia sudah menyiapkan mentalnya jika harus membunuh. Sadi hanya tersenyum bangga melihat muridnya sudah berkembang. Dari yang sebelumnya hanya ingin lari sekarang berani menerima kenyataan dan berusaha bertahan hidup.


"Kau sudah bertambah hebat ya Bryan"


"Maksud guru ?"


"Tidak lupakan saja"


Bryan yang mendengar ucapan gurunya merasa terheran-heran, namun dia tidak mau menanyakan kepada sang guru.


"Kau tak perlu waspada seperti itu"


"Kata guru aku harus waspada"


"Ya namun maksud ku waspada adalah kau bisa merasakan mana musuh saat dia menyerang"


"Ouh benar juga ya guru, tapi kan kemampuan ku dalam merasakan keberadaan orang cuma dalam radius 2 kilometer guru"


"Setidaknya dari jarak itu kau bisa merasakan kehadiran musuh kan"


"Iya guru"


Bryan menurunkan waspada nya dan berjalan dengan santai. Sang guru hanya bisa tertawa melihat tingkah muridnya. Sadi terus menerus mengawasi muridnya itu dan mengingat setiap perkembangan yang muncul dari muridnya. Tiba-tiba sebuah anak panah melesat dengan cepat ke arah Bryan. Bryan pun dengan cepat menghentikan panah itu dengan kemampuan benangnya. Dia gunakan benangnya dan membalikan panah itu ke arah orang yang menyerangnya. Sebelum sempat menghindar orang yang memanah Bryan pun tewas terkena serangan panahnya sendiri.


Sadi yang melihat itu cukup terkejut, karena muridnya bisa langsung mengeluarkan benang dan mengaitkannya pada benda yang bergerak serta langsung mengembalikannya dengan kecepatan penuh. Sadi hanya termenung melihat wajah Bryan yang serius setelah mengembalikan serangan anak panah itu.


"Tak ku sangka gerakan mu lincah juga ya"


"Hehehe kan guru yang mengajari"

__ADS_1


"Jadi kau sudah merasakan keberadaan musuh dari tadi ?"


"Tidak guru, aku merasakan potongan angin di radius 2 kilometer mendekat ke arah ku. Jadi secara reflek langsung ku gunakan kemampuan ku"


Sadi memegang kepala Bryan dan mengusap rambutnya.


"Kau sudah banyak berkembang ya hahaha"


Bryan hanya diam dan merasa di perlakukan seperti anak kecil.


"Namun serangan mu tepat sasaran Bryan"


"Maksud guru, saat aku mengembalikannya tepat mengenainya ?"


"Iya, dia tewas terkena serangannya sendiri"


Bryan pun merasa bangga dan senyum dengan semangat. Sadi pun melanjutkan berjalan di ikuti sang murid. Sepanjang jalan Bryan terus mengingat perkataan gurunya. Saat dia di serang tadi, Bryan langsung teringat dengan ucapan orang di kedai waktu itu. Bryan mengingat jelas ucapan mereka yang bilang jalan menuju kota Dandelion di penuhi oleh perampok yang kejam. Bryan pun bertanya ke pada Sadi.


"Guru apa benar di sini tempat para perampok berkeliaran ?"


Sadi hanya tersenyum dan menjawab pertanyaan Bryan.


"Ya tepat sekali. Sebenarnya bukan hanya di sini"


"Maksud guru di tempat lain juga ada ?"


"Benar sekali"


"Jawabannya cukup mudah, semua yang berada di jalan penghubung rata-rata hanya di hiasi oleh monster-monster berbeda dengan hutan yang di huni mutan. Selain itu para perampok itu mengambil lokasi kerja yang jauh dari wayah monster"


"Jadi mereka memiliki lokasi sendiri-sendiri ya"


"Begitulah"


"Lalu kenapa monster tidak menyerang para perompak ?"


"Monster itu tidak akan bergerak menyerang lawan yang tidak memasuki wilayahnya"


"Jadi begitu"


Setelah mendengar penjelasan Sadi, Bryan mulai mengerti aturan di dunia ini. Saat sampai di sebuah jembatan, tiba-tiba Bryan dan Sadi di kejutkan dengan segerombolan perampok yang menunggu di tengah jembatan. Salah satu perampok itu berteriak kepada Bryan dan Sadi sambil mengarahkan senjata mereka.


"Berhenti !!! serahkan semua barang bawaan kalian kalau masih mau hidup"


Tanpa berfikir lama Bryan pun mengeluarkan benangnya dan mengambil semua senjata perampok. Dengan benang itu Bryan mampu mengontrol 10 senjata sekaligus dan menggerakan nya sesuai keinginannya. Bryan langsung menyerang para perampok itu menggunakan senjata mereka sendiri. Para perampok yang menyaksikan dan menghindari serangan senjatanya itu pun mulai merasa takut dan terdesak. Mereka pun berlari meninggalkan jembatan.


"Dasar perampok"

__ADS_1


Sadi hanya diam dan tertawa melihat apa yang di lakukan Bryan pada para perampok. Bryan menatap sang guru yang tertawa.


"Kenapa guru tertawa ?"


"Hahaha lihatlah mereka tadi, seperti kucing yang takut pada anjing haha"


"Hadeh karena guru tidak bertindak, aku harus mengurus mereka kan"


"Iya iya hahahah. Kita istirahat dulu di jembatan ini, siapa tau nanti mereka kembali"


"Baru juga beberapa meter masa sudah istirahat lagi guru ?"


"Apa kau mau membantah guru mu ini Bryan"


"Ti..tidak guru"


"Bagus sekarang kita istirahat"


Bryan pun duduk di tepi jembatan, dan Sadi menggunakan kemampuannya untuk menangkap ikan. Tiba-tiba Sadi mengatakan hal yang membuat Bryan tertarik. Bryan mendengarkan dengan seksama saat gurunya berbicara. Sang guru membicarakan mengenai kemampuan seseorang dalam meracik obat dan racun. Sadi menatap Bryan dan berkata.


"Apa kau tau Bryan banyak orang yang berbakat dalam bertarung, namun juga ada orang yang berbakat dalam bidang medis"


"Ya, aku tahu soal kayak gitu guru"


"Namun apa kau tahu soal kemampuan meracik racun untuk membunuh lawan ?"


Mendengar ucapan Sadi membuat Bryan penasaran.


"Memang ada orang yang mau membuat racun untuk perang guru ?"


"Setiap petarung pasti memiliki kartu AS sendiri-sendiri"


"Berarti beberapa orang membuat racun untuk bertarung ya"


"Benar sekali"


"Namun meski bisa membuat racun, pasti ada yang bisa membuat penawarnya kan guru ?"


"Kalau itu jelas ada, namun ada sebuah isu mengatakan sebelum ke kota Dandelion terdapat sebuah gubuk tua di tengah hutan. Di gubuk itu tinggal seorang ahli racun, dan tidak ada yang mampu membuat penawarnya"


"Apa guru tau lokasi orang itu ?"


"Tentu saja aku tau, dulu dia adalah teman ku saat pertama kali aku berpetualang"


"Kalau begitu mari kita menemui teman mu itu guru"


Sadi melihat mata Bryan di penuhi keinginan belajar membuat racun. Akhirnya sang guru menuruti keinginan muridnya. Bryan dan Sadi pun berkemas dan melanjutkan perjalanan.

__ADS_1


__ADS_2