BATTLE ZERO WORLD

BATTLE ZERO WORLD
Usaha Yang Tidak Sia-Sia


__ADS_3

Sebelumnya Sadi telah menunjukan dan menjelaskan semua mengenai perubahan energi. sekarang Bryan mulai berlatih dengan sangat keras untuk mampu memanipulasi energinya menjadi sebuah senjata. Sadi terus mengawasi latihan Bryan, semua yang di ajarkan Sadi di terapkan olehnya. Namun semua selalu gagal, dan Sadi pun tertawa melihat ke gagalan sang murid.


"Hahaha apa kau sudah menyerah Bryan ?"


"Apa maksud guru ? apa guru meremehkan ku ? tentu saja aku belum menyerah"


Bryan pun kembali mencoba, namun setiap dia berusaha memfokuskan kekuatannya. Semua selalu tidak terkontrol dan berakhir dengan ledakan. Sadi terus menatap sang murid yang selalu gagal, dia hanya tersenyum melihat usaha yang di lakukan sang murid. Bryan kali ini mencoba melepaskan semua energinya ke seluruh tubuhnya sebelum dia mulai fokuskan semua energi ke satu titik. Terlihat dengan jelas wajah Bryan yang fokus dan penuh konsentrasi. Sedikit demi sedikit energi yang terfokus itu mulai menyebar dan meledak, sehingga menyebabkan tubuh Bryan terpental cukup jauh. Sadi kaget melihat energi sang murid yang terfokus dan menyebar lalu meledak. Sadi pun berdiri dan menghampiri sang murid yang tergeletak di tanah karena efek ledakan tadi. Terlihat dengan jelas wajah sang murid mulai kelelahan dan pingsan. Sadi yang melihat muridnya tidak sadarkan diri lalu tersenyum.


"Dia benar-benar akan mampu menguasainya, tak ku sangka kemampuannya ternyata sama dengan ku"


Sadi pun meninggalkan muridnya dan masuk kedalam hutan.


"Sebaiknya aku mencarikan dia makanan dan minum sebelum dia sadar"


Sadi meninggalkan muridnya terkapar tidak sadarkan diri. Pria tua itu terus berjalan masuk ke hutan untuk mengumpulkan buah dan air untuk sang murid. Sadi menuju sebuah pohon besar di tengah hutan, di sana dia menemukan banyak buah apel. Sadi pun menggunakan kekuatannya untuk mengambil banyak buah. Setelah selesai mengambil buah, dia pun melanjutkan menuju hilir sungai untuk mengambil air. Setelah mengambil air, Sadi menatap air sungai dan dia melihat bayangan di sungai.


"Dia adalah murid pertama ku, tak ku sangka dia mampu melewati semua sesi latihan ku. Namun apakah dia bakal bisa melewati latihannya ini ? bisa di sebut aku terlalu terburu - buru mengajarinya teknik itu"


Sadi pun berbalik dan mulai jalan menuju ketempat sang murid. Saat dia keluar dari dalam hutan, betapa terkejutnya Sadi melihat sang murid sudah sadar dan memulai kembali latihannya. Sadi dapat melihatnya dengan jelas, Bryan mulai mampu memusatkan semua energinya ke titik fokusnya dan mulai memanipulasi energi itu menjadi sebuah senjata. Sedikit demi sedikit energi itu mulai menunjukan bentuk lain yang tidak asing di mata Sadi. Ya benar Bryan mampu mengubah energinya menjadi sebuah benang, namun benang yang di ciptakan berbeda dengan Sadi. Benang yang di ciptakan Bryan lebih halus dan tipis seperti benang pada rajutan baju. Panjang benangnya pun cuma mencapai lututnya. Sadi yang menatap itu dengan ekspresi terkejut lalu melemparkan sebuah apel ke arah Bryan.


Yah Bryan mencoba mengayunkan tangannya, namun sayang benang energi yang dia hasilkan tiba-tiba hilang dan buah apel pun tepat mengenai wajahnya. Sadi pun tertawa melihat kegagalan Bryan, dan dia langsung menghampiri muridnya itu.


"Konsentrasi mu mulai kabur saat kau mengayunkan tangan mu"


"Hmmm susah guru saat bergerak dengan memfokuskan energi itu benar - benar susah sekali"


"Jika menurut mu susah, kenapa kau masih mencobanya ?"


"Aku sudah menjadi murid mu guru, maka aku akan malu jika tidak bisa menguasai apa yang guru ajarkan.


Mendengarkan jawaban sang murid, Sadi pun tersenyum dan membagikan apelnya ke pada Bryan.


"Makan lah dulu, setelah makan,lanjutkan lah latihan mu"


Bryan pun mengambil apel yang di bawa gurunya. Bryan mulai memakan apel itu dan terus berfikir cara agar bisa menstabilkan energinya. Bryan menatap sang gurunya yang sedang makan, kemudian Bryan pun mulai menanyakan hal yang mengganggunya.


"Guru"


"Ya ada apa ?"

__ADS_1


"Ada hal yang mengganggu otak ku guru"


"Apa itu ? tanyakan lah"


"Gini guru, kenapa guru bisa mengubahnya menjadi benang dan saat di ayunkan tidak menghilang ?"


Sadi hanya tersenyum dan menatap sang murid.


"Dengarkan aku Bryan, apa kau lupa dengan apa yang aku katakan sebelum menyuruh mu melakukan latihan ini ?"


"Tentu saja tidak guru, aku mengingatnya kok"


"Apa saja coba ? sekarang jelaskan lah"


"intinya adalah guru meminta ku untuk memfokuskan energi, lalu melakukan manipulasi bentuknya kan ?"


Sadi pun mengetuk kepala muridnya dengan apel yang dia pegang.


"Sudah ku duga kamu melupakan hal penting itu"


Bryan mengelus kepalanya dan kemudian menatap gurunya.


Sadi pun memukul kepala Bryan menggunakan bambu tempat minum.


"Kau benar-benar melupakannya"


Bryan mengelus - ngelus kepalanya yang di pukul oleh sang guru. Sadi pun hanya terdiam melihat sang murid yang melupakan hal yang penting.


"Lalu apa yang penting itu guru ?"


"Hal penting itu adalah pernafasan mu"


"Bagaimana bisa guru ?"


"Saat kau mencoba menggerakkan tangan kau kelihatan jelas kehilangan keseimbangan energi dan juga fokus mu mulai pudar. Kau bahkan lupa bahwa saat kau mengubah bentuk energi atau mengkombinasikan itu seperti saat kau bernafas"


"Sama seperti saat aku bernafas ?"


"Ya begitulah, saat kau berlatih konsentrasi kau juga melatih pernafasan mu, apa kau juga lupa hal itu ?"

__ADS_1


"Tidak... aku tidak lupa akan hal itu guru"


"Jika kau tidak lupa, harusnya kau bisa lebih fokus saat mengayunkan benang energi tadi"


"Benang energi ?"


"Iya benang energi"


"Jadi wujud manipulasi energi ku tadi benang guru ?"


"Memang kau fikir apa ?"


"Aku pikir cambuk guru, karena aku membayangkan senjata cambuk"


Sadi hanya terdiam, dia merasa heran dengan jawaban sang murid. Jika benar sang murid membayangkan energinya berubah menjadi cambuk, kenapa bisa saat di terapkan malah berbeda hasil.


"Apa kau yakin benda yang terlintas di fikiran mu senjata cambuk ?"


"Aku yakin 180° guru"


"Yang benar persen bukan derajat"


"Maaf guru hehehe, hanya bergurau"


"Kasus mu aneh juga ya"


"Kenapa bisa ?"


"Jika cambuk yang kau bayangkan, harusnya manipulasi itu berubah kebentuk cambuk dan bukan benang"


"Apa mungkin sebelumnya tadi saat aku lepaskan semua energi dan langsung menekan ke satu titik terlintas senjata kawat guru ? jadi hasilnya malah benang"


Sang guru tertegun dan memegang dagunya.


"Ya itu juga bisa saja terjadi, sekarang coba kau lanjut lagi. Kali ini fokus bayangkan senjata kau benang dan jangan lupa saat kau lepaskan energi dan fokuskan semuanya sama seperti saat kau bernafas"


Bryan pun berdiri, dia menatap sang guru dan berjalan menuju hamparan rumput yang luas. Bryan mulai menarik nafas dalam - dalam lalu berkonsentrasi, dia mulai melepaskan semua energinya agar mengalir ke seluruh tubuhnya. Sesaat setelah semua energi terlepas, Bryan pun mulai memfokuskan energinya menuju jari-jarinya. Setelah semua energi itu terfokus, Bryan pun mulai memanipulasi bentuknya menjadi benang. Sadi yang mengamati muridnya mulai melihat benang itu muncul dari jari - jari sang murid. Sadi pun melempar kembali apelnya ke arah sang murid, namun betapa terkejutnya dia. Apel itu terbelah menjadi ukuran kecil-kecil. Bryan tidak menggerakkan tangannya, namun benang itu bergerak melindungi Bryan. Sadi yang terkejut lalu memberikan tepuk tangan kepada muridnya. Akhirnya Bryan pun mampu melakukan manipulasi energi menjadi senjata. Bryan pun menghentikan manipulasi senjatanya kemudian tersenyum.


"Aku berhasil"

__ADS_1


Teriakan Bryan membuat sang guru tertawa dan merasa senang atas keberhasilan sang murid.


__ADS_2