BATTLE ZERO WORLD

BATTLE ZERO WORLD
Keajaiban


__ADS_3

Setelah Kaito membakar jasad ular putih itu, dia melanjutkan perjalanan ke dalam goa. Di sepanjang perjalanan hanya ada hawa dingin dan sedikit cahaya dari langit - langit goa yang berlubang. Kaito menatap langit-langit goa dan melangkah dengan pelan.


"Kenapa goa ini terasa aneh ya ? meski ini goa namun sebagian lorong terdapat cahaya obor dan bagian atas goa ada yang berlubang"


Kaito terus memikirkan ke anehan yang dia rasakan. Matanya seolah tidak bosan menatap ke langit dan dinding goa.


"Goa apa pun ini yang penting ada cahayanya jadi aku bisa sedikit lega. Tunggu dulu, cahaya ? kenapa goa ini bisa memiliki cahaya obor ? apa ada orang yang tinggal disini ?"


pertanyaan demi pertanyaan muncul di kepala Kaito. Dia mulai merasa bahwa di goa itu di tempati beberapa orang. Namun pemikirannya tiba-tiba buyar bersamaan saat dia mengingat hal yang dia alami.


"Tidak mungkin di goa ini ada orang, apa lagi hewan - hewan aneh tadi menyerang ku. Jika misal ada orang pun, mungkin mereka sudah mati terbunuh"


Kaito menghela nafas dan berhenti sejenak menatap ke dalam goa.


"Namun jika benar goa ini dulu di tempati manusia, berarti di dalam sana terdapat banyak bangkai atau mungkin tulang belulang manusia. Sial aku tidak bisa kembali, sudah setengah jalan dan tak mungkin kembali. Lebih baik aku tetap lanjutkan, entah ada hewan aneh lagi atau apa pun itu aku akan membunuhnya. Dan jika aku lapar, maka aku akan memakan apa pun yang ada di depan ku"


Kaito membulatkan tekadnya dan memulai langkahnya kembali. Dia melangkah dengan begitu tenang tanpa keraguan.


"Aku tidak perlu ragu lagi, tubuh ku mampu beregenerasi dan aku bisa menggunakan api hitam melalui mata ku. Jika misal aku di serang pun aku bisa membalas mereka, entah mau manusia, hewan atau monster akan ku bunuh mereka"

__ADS_1


Semua penyiksaan yang di rasakan Kaito seolah semua mulai hilang dengan adanya kekuatan yang dia miliki sekarang. Entah itu sifat kesombongan atau kepercayaan dirinya, namun yang Kaito tau dia hanya ingin cepat keluar dari goa. Tidak berselang beberapa lama, Kaito melihat di depannya terlihat cahaya merah yang terang. Dia pun tidak mau membuang - buang waktu dan mulai berlari menuju sumber cahaya itu.


Yang ada di fikirannya setelah melihat cahaya itu hanyalah jalan keluar. Semakin cepat dia berlari dan akhirnya sampailah Kaito di tempat cahaya itu, namun betapa terkejutnya dia. Cahaya yang dia lihat ternyata bukalah pintu keluar goa, melainkan cahaya obor yang mengelilingi tempat goa itu. Kaito sampai di tempat yang tidak bisa di sebut goa, tempat itu seperti aula yang besar dan terdapat 2 jalur bercabang dan 1 pintu kayu tertutup di tengah jalan pemisah goa.


"Sial, tempat apa ini ? benarkah ini di goa ? tapi kenapa ada aula di dalam goa ? lalu jalan mana yang harus ku ambil, kenapa juga jalannya harus terbagi 2. Pintu itu ? mungkin kah di dalam sana terdapat petunjuk"


Kaito pun berjalan menghampiri pintu kayu itu, dia berusaha membuka nya namun pintu itu tidak bisa terbuka sama sekali. Kaito terus menarik dan mendorong pintu itu, namun semuanya sia - sia.


"Sial !!! Apa pintu ini memiliki kunci ? meski ku dobrak pun pintu ini tetap tidak bisa terbuka"


Kaito pun duduk di depan pintu itu dan terus menatapi pintu kayu itu.


"Apa ku coba bakar saja dengan api hitam itu ?"


"Sial api hitam ku tak mampu menyentuh pintu itu, seolah pintu itu di lapisi dinding kaca tidak terlihat"


Kaito bangun dan duduk menghadap pintu.


"Coba kekuatan petir itu bisa ku keluarkan, pasti aku bisa menghancurkan pintu itu"

__ADS_1


Kaito termenung dan menatap tangannya. Dia mencoba memikirkan bagaimana agar petir itu bisa keluar. Namun semakin keras dia berfikir, seolah semua menjadi hal yang tidak mungkin. Kaito pun berdiri dan mengarahkan tangan kirinya ke arah pintu itu.


"Aku tidak tau apa akan berhasil atau tidak, namun jika tidak ku coba maka aku tida akan merasa puas"


Kaito memusatkan semua energinya ke tangan kirinya dan menarik nafas dalam - dalam. Dia memusatkan semua konsentrasinya pada telapak tangannya dan membayangkan energi yang terpusat itu berubah menjadi sebuah petir yang menyelimuti telapak tangannya.


Tiba - tiba bola petir pun muncul di genggamannya. Kaito yang terkejut merasa tidak percaya dia berhasil merubah energinya menjadi bola petir. Kemudian dia memusatkan konsentrasinya kembali dan membayangkan bola petir itu berubah menjadi sebuah sarung tangan petir yang setajam pedang. Seperti yang dia harapkan, bola petir itu berubah sesuai keinginannya.


"Hebat, ini seperti cidori di anime Naruto saja hahaha"


Dia merasa senang dan tertawa dengan apa yang di lakukan nya. Kaito pun mulai mengambil persiapan untuk mengarahkan serangan ke pintu itu. Setelah dia merasa sudah cukup dia pun melesatkan serangannya menuju pintu. Terlihat jelas serangan Kaito seolah berbenturan dengan kekuatan penghalang pintu, dia terus menguatkan serangan dan mendorong tangannya agar mampu menghancurkan penghalang itu. Namun sangat di sayangkan, Kaito di pental kan karena benturan kekuatan itu. Dia terpental dan tubuhnya sampai menabrak batu dinding yang lancip, terlihat darah mengalir di bekas tusukan di perutnya karena batu itu.


Kaito berusaha melepaskan diri dari batu itu, darah mengalir dengan sangat deras dari lubang di perutnya. Kaito seolah mulai merasa pandangannya kabur.


"Apakah ini akhirnya ugh ugh, sialll"


Dia batuk mengeluarkan darah dan pandangannya mulai kabur hingga akhirnya Kaito pun pingsan. Di saat itulah proses regenerasi Kaito mulai terjadi, bekas luka di perutnya dalam seketika mulai kembali pulih. Bekas luka itu pun hilang berkat regenerasi nya, dan betapa beruntungnya Kaito memiliki kemampuan itu. Nyawa Kaito terselamatkan namun, dia masihlah belum sadarkan diri. Selang beberapa jam, Kaito pun mulai membuka matanya. Kaito mulai sadar dan melihat lubang di perutnya sudah menghilang dan kembali seperti semula. Melihat hal itu Kaito pun tersenyum.


"Ternyata Tuhan masih memberi ku kesempatan untuk hidup. Heiii pintu sialan bersiaplah untuk ku hancurkan"

__ADS_1


Kaito mulai mengeluarkan petir di tangan kirinya, lalu dia mulai berlari menuju pintu itu dan menyerangnya dengan kuat. Benturan kuat itu pun seolah menggetarkan seisi tempat itu, dia terus menekankan serangannya dan memusatkan semua energinya ke tangan kirinya. Petir yang muncul itu pun tiba-tiba mulai menjadi lebih besar dan kuat. Seluruh isi di tempat itu di penuhi guncangan kuat dan seolah langit tempat Kaito berada mau runtuh.


Kaito tersenyum dan terus meski tubuhnya mulai terasa berat untuk melangkah maju menghancurkan penghalang itu. Dan akhirnya penghalang pintu itu pun hancur bersamaan dengan pintu kayu itu.


__ADS_2