
Aku sedikit berlari untuk segera sampai ke kontrakanku karena aku tidak mau hatiku panas dan kakiku juga panas - oh jangan lupakan aku tidak memakai alas kaki.Berjalan dijalanan Sydney, dibawah langit yang sedang panas-panasnya - uh rasanya kakiku melepuh, baru pertama kali aku berjalan diluaran tidak memakai alas kaki.Ah aku juga masih memiliki tugas yang belum terselesaikan dan harus menemui Dira.Sedikit menyesal karena tadi aku menengok ke arah anak itu, sehingga aku mengingat kembali masa terpahitku.Mungkin bagi orang-orang, masa kecil adalah masa paling bahagia dan penuh kenangan, tapi aku tidak merasakannya.
**
Kini aku sedang mengerjakan tugas kuliahku yang belum terselesaikan, aku mengambil Jurusan Manajemen Bisnis.Berharap suatu saat nanti aku menjadi pekerja kantoran, dan hidupku akan berubah, menjadi orang yang sukses, sesuai doa yang kudapatkan dari Bunda, Bu Daisy, Kak Seto dan nenek tadi.
Matahari sudah mulai redup, menandakan waktu siang akan berganti menjadi sore hari.Aku segera menyelesaikan tugasku dan bergegas untuk mandi.
"Dira pasti sudah menungguku" Gumamku masih dengan menatap kertas dengan huruf-huruf yang berjejer dengan rapi dan tangan kananku memegang bolpoin.
Aku tidak memliki telepon.Itulah yang mempersulit aku dengan Dira tidak bisa berkomunikasi dengan baik.Jika tidak Dira yang datang dan menungguku, aku yang datang ke taman dan menunggunya di sana.
Bagaimana aku bisa tahu kalau Dira akan menemui ku? Karena setiap sebulan sekali Dira menemuiku dan mengajakku janjian di taman dekat kontrakan ku.Entahlah Dira akan datang atau tidak, jika tidak?aku memakluminya karena dia adalah model, mungkin dia sibuk, meskipun belum terkenal dan Go Internasional seperti Kak Tusya.Sejak Dira menjadi model, dia selalu membantu keuanganku.
**
Aku berlari menemuinya yang sedang duduk di kursi taman sembari memainkan ponselnya "Kamu sudah menunggu lama?" Tanyaku padanya yang sedang memainkan ponselnya.
Dia mengangkat kepalanya, menatap ke arahku dan kami berkontak mata beberapa detik.
"Tidak, aku baru datang sejak 15 menit yang lalu" Jawabnya.
Aku berjalan mendekat kearahnya dan duduk di sampingnya "Maaf, tadi kakak mengerjakan tugas kuliah dulu" Ucapku.
"Tidak masalah, apakah ada masalah dengan kampus mu kak?" Tanyanya dengan gerogi dan menggaruk kecil kepalanya.
"Eumm maksudnya dengan biayanya?" Lanjutnya.
"Kakak rasa tidak ada" Jawabku.
Dira hanya menganggukkan kepalanya, lalu dia merogoh tas yang ia bawa, entahlah dia sedang mencari apa.
"Ini ambilah, jangan menolaknya lagi!" Ucapnya sembari menaruh sebuah ponsel keluaran terbaru di atas pahaku.
"Tidak usah Dira, ini pasti harganya sang-"
"Jangan memikirkan harganya kak!aku tidak menyuruhmu membayarnya, aku hanya memintamu untuk mengambilnya" Ucapnya menahan tanganku yang ingin memasukan kembali ponsel itu pada tas nya.
__ADS_1
"Ini untuk kuliahmu" Ucapnya lagi sembari memberikan satu amplop coklat dan menaruhnya pada tanganku yang satunya.
Aku menerimanya dan memasukan semua pemberian dari Dira kedalam Tote bag yang kubawa.
Aku menerjang tubuh mungil, mulus dan putih itu kedalam pelukanku "Terimakasih! terimakasih telah membantuku" Ucapku meneteskan air mata haru dibahunya.
Dira membalas pelukanku dan beberapa detik kemudian dia melepasnya "Sudahlah jangan menagis" Ucapnya mengelap air mata yang keluar dari pelupuk mataku dengan tangan putihnya.
"Kak Alin yang ku kenal adalah orang yang tegar, mampu menyembunyikan kesedihannya tanpa menularkannya pada orang lain" Lanjutnya sembari menatap intens ke arah ku.
Aku tersenyum, rasanya bahagia, haru dan sedih campur aduk dalam hatiku.Setitik air mata keluar lagi dari pelupuk mataku, bukan karena sedih, itu karena bahagia.
Aku mengusap air mata yang keluar dari mataku "Terimakasih selalu ada untukku" Ucapku sembari terus tersenyum kepadanya.
"Selagi aku bisa membantumu, kenapa tidak?" Jawabnya diiringi dengan senyuman.
Rasanya ingin menangis bahagia karena kata-kata yang keluar dari mulut adikku, tapi aku berusaha menahannya karena pasti Dira akan memarahiku dan mengata-ngatai ku.
"Terimakasih" Ucapku lagi dengan diiringi senyuman bahagia dan haru.
"Sudahlah, sudah berapa kali kakak mengucapkan kata terimakasih" Jawabnya.
Raut wajahku berubah, memudarkan senyuman yang kupancarkan tadi "Tidak bisakah lebih lama disini?"
Dira hanya meresponnya dengan gelengan kepala dan senyuman dibibir merahnya.
"Maaf.." Lanjutnya dengan nada melirih.
"Yasudah, kamu pergi sana" Jawabku.
"Oh jadi mengusir ku ya?" Jawabnya sedikit bercanda.
"Tadi katanya–"
"Bercanda, yasudah kak Dira pamit ya byee.." Ucapnya sembari melambaikan tangannya kecil, kemudian aku menanggapinya serupa.
Hingga Dira berbalik dan meninggalkan taman, menyisakan aku yang masih duduk di kursi taman dengan Tote bag yang aku tenteng dipundakku.
__ADS_1
...****************...
"Cari tahu tentangnya dan berikan setiap informasi yang kau dapatkan kepadaku" Perintah seseorang berjas hitam, celana hitam dan berkacamata hitam pada anak buahnya.
"Baik bos, saya akan mencaritaunya" Jawab anak buah itu.
Setelah kepergian anak buah itu dari ruangan yang berukuran besar, banyak kertas-kertas dimeja dan satu buah sofa panjang.Seperti kamar - tidak, itu bukan kamar bahkan lebih luas dari kamar.
"Kupastikan kau jadi milikku" Gumam seorang berkacamata hitam itu menatap keluar jendela disampingnya dengan seulas senyuman.
Kemudian orang itu berjalan ke arah mejanya dan duduk di kursi kebanggan yang sudah pasti miliknya sembari mengatupkan kedua tangannya di meja yang penuh dengan kertas-kertas.
**
"Sorry gue sengaja" Ucap seseorang mahasiswi yang tidak sengaja menabrak ku - sengaja maksudnya - entahlah motif apa sampai dia sengaja menabraku.
Kedua mahasiswi yang entah datang darimana dan tiba-tiba menabraku dengan sengaja sampai aku mundur beberapa langkah kebelakang.
Naraya dan Melanie.Kalian bisa memanggilnya Raya dan Millen.
Nama yang bagus tapi tidak dengan kelakuannya.Sangat disayangkan sekali.
Mereka berbeda Jurusan denganku.Aku mengambil Jurusan Bisnis, dan mereka mengambil Jurusan kedokteran, sama seperti Alan.
Aku tidak meresponnya, aku hanya diam.Lalu Millen menengkas kakiku hingga aku terjatuh dan lututku menyentuh lantai.Karena aku menahan tubuhku menggunakan kedua lututku, lututku rasanya sakit.
"Upss! sorry gak sengaja" Ucapnya menutup mulutnya dengan tangannya seolah tak sengaja menegkasku.
"Mari ku bantu" Ucapnya mengulurkan satu tangannya dihadapan ku.
Aku mengangkat wajahku dan menerima uluran tangannya.
Aku berdiri dengan pelan, belum aku berdiri sepenuhnya, Millen melepaskan genggaman tangannya dan mendorongku.Aku tersungkur ke depan dan sekarang bukan hanya tubuhku yang menyentuh lantai, tetapi wajahku juga, sampai rasanya pangkal hidungku juga sakit - lebih dari sakit, lebih tepatnya ngilu - karena Millen mendorongku sangat keras.
"Auuu" Aku meringis kesakitan sembari memegang hidungku dengan kedua tangan.
"Sorry, tadi tangan gue gatel, jadi gue lepasin genggaman tangan gue" Ucapnya dengan muka seperti tidak bersalah sama sekali.
__ADS_1
Disana aku menjadi pusat tontonan bagi mahasiswa-mahasiswi lainnya.Tidak ada yang menolongku, mereka malah menertawakanku dan ada juga yang mendukung Raya dan Millen untuk berbuat lebih padaku.Tidak ada yang berani melawan mereka - Raya dan Millen - karena orangtua mereka memiliki kekuasaan yang tinggi dikampus ini.Tidak ada yang berani berurusan dengan mereka - kecuali Alan.
Bersambung~