Be Strong Girl

Be Strong Girl
Chapter 23


__ADS_3

Sejak tadi Seto memerhatikan setiap gerak-gerik orang yang kini dihadapannya. Awalnya, orang itu berdiri di depan toko sembari menelpon seseorang, setelah itu dia memasukan kembali telepon genggamnya pada saku jaket lepis yang ia pakai. Seto akhirnya menghampiri orang itu.


"Mau beli bunga apa ya?" Tanya si penjaga toko bunga pada orang di hadapannya.


Orang yang ditanya menggeleng "Apakah saya boleh menjualkan bunga yang ada di toko ini?" Tanyanya


"Eh?" Seto mengerutkan keningnya.


Orang itu mengambil nafas, 3 detik kemudian bersuara "Nama saya Mark, saya butuh pekerjaan untuk membantu kebutuhan sehari-hari saya" Jelasnya.


Mendengarkan penjelasan dari orang dihadapannya, Seto lalu mengangguk agak keki "Oh? I-iya, boleh"


Bagaimana bisa? Dia sangat to the point sekali? Kan rasanya jadi–


"Sekarang?"


"Ten-tu" Seto mengangguk lalu tersenyum dengan menampilkan deretan giginya.


"Maaf sebelumnya, saya pernah melihat ada seorang perempuan yang berjualan bunga juga" Orang itu–Mark maksudnya, membuka topik percakapan baru.


"Ya, dia mengambilnya disini" Sela Seto cepat, karena tau arah pembicaraan Mark.


"Lalu?" Tanyanya.


Menaikan kedua alisnya, "Apanya?" Tanya Seto seperti orang kehilangan arah sembari mengedipkan matanya beberapa kali.


Mark menghela nafas samar ketika lawan bicaranya tidak mengerti apa yang ia tanyakan "Kenapa sekarang tidak ada?"


Seto hanya ber-oh setelah mendengar ucapan selanjutnya dari Mark "Oh, sebentar lagi dia datang, memangnya kenapa?" Tanyanya.


"Aku ingin–"


"Haii kak–" Suara lembut perempuan yang baru saja datang membuat Mark menghentikan kata-katanya. Tidak jauh dari mereka, berdiri seorang perempuan memakai kemeja berwarna cream dengan model cerutan di kedua pergelangan tangan nya dengan rambut tanpa dicepol dan celana jeans biru. Tampak sangat kontras dengan warna kulitnya. Alin yang baru saja datang menyapa kak Seto dan kata-kata terakhirnya ia gantung ketika melihat ada seseorang yang asing baginya di samping kak Seto, ia mengalihkan pandangannya lagi ke arah kak Seto yang berdiri di hadapannya.


Seto yang menyadari tatapan Alin segera menjawab "Dia penjual bunga keliling baru sepertimu" Jelasnya.


Mark tersenyum, "Hallo" sapanya. Alin mengalihkan pandangannya pada orang yang katanya penjual bunga baru itu.


Membalas senyuman Mark, lalu menyapanya "Haii,"


"Nama saya Mark" Ucap Mark.


"Alina, saya biasa dengan pangilan Alin"

__ADS_1


Seto hanya memerhatikan interaksi anak muda dihadapannya itu, kemudian dia mengselanya "Oh ya Alin, bunga-bunga yang akan kamu jualkan sudah kakak siapkan ya di belakang, kamu tinggal mengambilnya saja"


Alin memutuskan kontak mata dengan Mark dan beralih menatap kak Seto "Terimakasih kak, kalau begitu Alin ke belakang dulu" Ucapnya, berjalan menuju ruang belakang yang ada di toko Aster Floris.


Setelah kepergian Alin, Mark dan Seto saling pandang "Apakah saya?–"


"Silahkan memilih bunga yang ingin anda jualkan" Ucap kak Seto pada Mark.


"Terimakasih" Ucap Mark lalu memilih dengan asal bunga yang ingin ia jualkan.


Aku berjalan ke arah depan dengan menenteng satu keranjang kecil yang berisikan bunga-bunga. Seperti biasa, tidak banyak seperti kemarin, karena pasti hanya laku sedikit, tapi berharap saja banyak yang membeli. Karena tidak ditemani Romi, mungkin bunganya tidak akan cepat laku.


"Apakah saya boleh berjualan bersamamu?" Tanya Mark padaku.


"Tentu" Jawabku mengangguk dengan tersenyum kecil.


"Kakak masuk dulu ya Al," Pamit kak Seto, aku hanya mengangguk. Kak Seto pergi dari hadapan kita -aku dan mark- memasuki toko. Kini hanya ada kita berdua di hadapan toko.


"Mari, berjalanlah didepan saya" Mark membuka percakapan sembari mengulurkan satu tangannya kedepan mempersilahkan aku untuk berjalan di depannya.


"Eh jangan, aku bukan atasanmu" Sergahku.


"Tidak apa-apa"


Dia tampak diam, 5 detik kemudian dia bersuara "Berdampingan lebih baik" Ucapnya.


Aku hanya ber-oh dengan menganggukkan kepalaku. Berjalan berdampingan untuk menuju jalanan kota sembari menenteng keranjang kecil ditangan kanan masing-masing.


Tidak ada pembicaraan lagi, sampai akhirnya Mark lah yang memulai duluan "Kamu sudah berjualan lama?"


Aku menengok kearah samping dan menatapnya, begitupun dengan Mark "Bisa dibilang lumayan lama" Jawabku.


Mark hanya menganggukan kepalanya kecil, tidak ada lagi yang berbicara. Hanya terdengar suara bising kendaraan yang lalu-lalang tepat di sampingku "Kamu sendiri kenapa berjualan bunga?" Merasa sungkan dalam situasi seperti ini, aku melempar pertanyaan ringan padanya.


"Karena aku memiliki keperluan yang tidak bisa dijelaskan" Jelasnya.


"Iya, aku paham" Sela ku dengan segera, aku tau maksudnya. Mungkin dia juga sepertiku, tapi itupun tidak pasti. Aku hanya menerkanya saja.


**


Kini aku dan Mark sedang duduk di kursi pinggiran kota seperti biasa, kita baru saja sampai di tempat jualanku sehari-hari. Cuaca hari ini cukup tidak baik, matahari nya sangat terik. Beruntung aku memakai baju dan celana panjang jadi matahari tidak langsung mengenai kulitku. Tapi aku tidak memakai topi untuk melindungi kepalaku ataupun kacamata untuk mengurangi sinar matahari yang bersinar.


"Cuaca saat ini benar-benar sangat terik" Mark berucap tanpa menoleh ke arahku, dia terus menunduk melihat kakinya dengan topi yang terpasang di kepalanya.

__ADS_1


"Seperti nya begitu" Jawabku sembari mengelap keringat yang membasahi keningku.


"Pakailah punyaku" Mark melepaskan topi yang dikenakannya lalu memberikan topi itu padaku.


Aku menoleh kearahnya, dia tampak memperhatikan ku. Aku menolak topi yang diberikan Mark, meskipun aku sangat membutuhkan nya "Eh, tidak-tidak, untukmu saja"


"Siapa dia?" Gumam seseorang memakai kacamata hitam di sebrang jalan tidak jauh dari Alin dan Mark yang sedang duduk di kursi pinggiran kota.


"Ini panas" Mark memasang topinya pada kepalaku.


Aku pasrah ketika Mark memasangkan topinya "Bagaimana denganmu?" Tanyaku.


"Pakailah, jangan hiraukan aku" Ucapnya sembari membenarkan rambutnya kedepan sehingga matanya menghilang, mungkin untuk menghalang sinar matahari yang masuk ke penglihatannya.


"Terimakasih" Ucapku.


Jam terus berputar, dan matahari pun bertambah panas. Sudah hampir satu jam kami duduk di kursi pinggiran kota, hanya ada beberapa orang yang membeli bunga kami.


Ku lihat Mark yang beberapa kali meneguk salivanya sembari sesekali mengusap tenggorokan menggunakan tangannya "Apakah kamu haus?" tanyaku.


Pandangan Mark berubah menatapku, dari yang menatap kendaraan yang berlalu lalang di depan menjadi ke arahku "Sedikit" Jawabnya.


"Mau minum tidak?" Tawarku.


"Kamu membawa air?" Tanyanya.


"Tidak"


"Lalu?" Dia menyerngitkan keningnya dengan matanya yang sejak tadi menyipit, menolak sinar matahari yang ingin masuk ke mata coklatnya.


"Akan ku belikan minuman untukmu" Ucapku.


"Jangan, biar aku saja yang membelinya" Mark menggeleng.


"Tapi kan aku yang menawarimu"


"Kamu yang menawariku dan aku yang akan membelikannya untukmu" Jelasnya. Aku hanya mengedipkan mata ku beberapa kali. Dia bangkit dari duduknya lalu berangsur menjauh dariku dan keranjang bunganya yang disimpan di samping tubuhku.


"Aneh" Gumamku menatap kepergian Mark.


bersambung~


Hahaa garing banget ya gak si? lagi gak ada ide di otak nii🙃

__ADS_1


__ADS_2