Be Strong Girl

Be Strong Girl
Chapter 27


__ADS_3

Romi melirik sebentar pada kursi kosong disebelahnya. Bibirnya tertarik keatas, tampak tersenyum simpul. Ia arahkan lagi pandangannya kedepan, menatap dan memerhatikan dosen yang sedang menerangkan di depan. Ia mencatat dua buku sekaligus, bukunya dan buku Alin. Alin sempat menolak Romi untuk tidak menuliskan pelajaran yang tertinggal ketika Alin di rawat, tapi Romi tetap memaksa, dan akhirnya Alin mengiyakan keinginannya.


Sementara diruangan VIP rumah sakit, terlihat seorang gadis cantik sedang duduk di atas bangsalnya dengan deraian air mata. Alin terus menangis tanpa suara, menatap ke depan dengan pandangan kosong. Terputarlah memori dahulu, memori masa kecilnya berputar-putar diotaknya.


Jika ia boleh meminta pada Tuhan, ia ingin kembali lagi ke masa kecilnya, tertawa tanpa beban, tersenyum dengan tulus, hanya ada kebahagiaan tanpa tangisan, tapi sayangnya semua itu hanya sementara. Dan nyatanya ia tidak bisa merasakannya lagi ketika bundanya, orang yang sangat ia cintai, sangat ia sayangi, meninggalkan nya.


"Bundaa..." Lirihnya dengan deraian air mata yang sedari tadi membasahi pipinya.


"Kenapa bunda meninggalkan ku? Apakah bunda membenciku seperti papah?" Tanyanya dengan pandangan kosong. Jelas-jelas dia tidak akan mendapatkan jawaban apapun dari sekitarnya.


Ia memejamkan matanya, mencoba untuk meredam tangisnya, menghentikan kerinduan yang berkepanjangan pada bundanya, tapi tidak bisa. Tak akan bisa "Bundaa...jika Alin bertemu bunda, apakah boleh? Alin hanya ingin bersama bunda, selamanya...kenapa bunda meninggalkan ku?..." Ucapnya lirih, sangat lirih, bahkan sampai tak terdengar.


Ia masih setiap memejamkan matanya, kali ini Alin menunduk "Ketahuilah bunda, Alin sangat-sangat menyaingi bunda. Apakah bunda tahu bahwa saat malam tiba, Alin selalu berbicara di bawah langit yang menghitam, dibawah cahaya bulan yang menyinari gelapnya malam. Alin selalu merindukanmu, tapi Alin tidak bisa memelukmu ataupun hanya sekedar bertemu denganmu, Alin hanya bisa menangis ketika merindukanmu. Ingin sekali Alin bercerita banyak pada bunda, tapi bunda tidak bisa mendengarkannya, bunda terlalu cepat meninggalkan ku, padahal aku ingin menunjukkan padamu bahwa anak perempuan mu ini akan sukses. Doakan Alin ya bunda, Alin akan jadi orang yang sukses seperti apa yang selalu bunda harapkan" Ucapnya panjang lebar, mencurahkan isi hatinya, kerinduannya yang ia pendam, Ia menganggap hidupnya sangat miris, tidak seperti anak lainnya, yang disayangi oleh orang tuanya.


"Kuharap bunda tidak memarahiku ketika melihatku terbaring seperti ini, aku anak yang ceroboh ya bunda. Alin sangat ingat ketika Alin jatuh dari tangga, jatuh dari ranjang, terpeleset di kamar mandi, dan sekarang tertabrak motor. Alin ingin dinasehati oleh bunda lagi, bahkan dimarahi pun tidak apa-apa" Tidak ada lagi deraian air mata yang membasahinya, kering, air matanya sampai tidak bisa mengalir lagi saking derasnya air mata yang membasahinya tadi. Ia sembari melihat keadaannya sekarang, terbaring lemas dengan kaki di balut perban dan memakai gips.


"Aku kangen bunda, aku akan mengunjungimu ketika Alin sudah keluar dari rumah sakit ya bunda, tunggu Alin, Alin akan segera keluar dari sini" Gadis itu menggumam, merebahkan badannya ke bangsal, menatap ke atas langit-langit kamar dan tersenyum. Senyum palsu, senyum kesedihan, senyuman miris. Banyak sekali maksud dari senyuman itu.


Tok tokk..


Suara ketukan pintu dari luar membuatnya tersadar, ia segera menghapus jejak-jejak air mata yang membasahi nya.


"Masuk" Ucapnya.


Pintu itu terbuka, tampak seorang wanita memakai jas putih dan satu orang lagi dibelakangnya membawa papan kecil dan bolpoin.


Aku refleks mendudukkan kembali badanku, mereka berjalan ke arahku.


Mereka berdiri disamping kananku "Bagaimana keadaan nona?" Tanya dokter wanita itu padaku.


"Sudah agak mendingan dok" Aku mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


Tampak kerutan kecil di keningnya, "Kenapa dengan matanya? Apakah sakit?" Tanyanya sembari memperhatikan intens wajahku.


Ah aku lupa. Aku habis menangis dan pasti mataku memerah dan bengkak, pasalnya aku terlalu lama menangis. Aku binggung sendiri memikirkan alasan yang masuk akal. Oke, aku memakai alasan ini saja, menurutku ini tidak masuk akal, tapi mudah-mudahan saja dokter percaya.


"Eum...saya tidak apa-apa dok, ini hanya kemasukan debu saja tadi" Elakku dengan senyuman.


Dokter itu terdiam untuk beberapa saat sembari terus memperhatikan ku, aku merasa tidak nyaman diperhatikan seperti itu, serasa orang yang sedang diintrogasi. Sampai akhirnya dokter itu mengangguk ber-oh kecil padaku "Ooh, baiklah. Saya lakukan pemeriksaan ya" Ucapnya dan langsung mendapat anggukan dariku.


Dia mendekat ke kaki kananku yang memakai gips, lalu ia memeriksanya dengan bantuan seorang suster yang menemaninya. Aku hanya melihatnya dia memeriksa kakiku.


"Keadaannya cukup baik" Ucapnya setelah selesai memeriksa keadaan kakiku.


"Oh ya dok, kapan kira-kira saya bisa pulang?" Tanyaku padanya.


"Kira-kira sekitar 3 harian lagi, atau mungkin bisa kurang dari itu"


"Apakah nanti saya bisa berjalan seperti biasa?"


"Satu bulan?" Tanyaku sembari membulatkan mataku.


Dokter itu mengangguk kecil "Iya nona, percayalah nona bisa berjalan seperti biasa, asalkan nona tidak terlalu banyak beraktivitas dan rajin memeriksakan kakinya ke dokter" Ucapnya.


"Oke, terimakasih dokter" Finalku.


Ia mengangguk sembari tersenyum sebagai jawaban "Sama-sama nona, kami permisi" Lanjutnya lalu pergi meninggalkan ku.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Sekitar beberapa hari Alin di rawat di rumah sakit, kini dia dibolehkan untuk pulang. Sebenarnya dokter menganjurkan untuk pulang besok, tapi Alin memaksa untuk pulang hari ini juga.


Romi membantu Alin untuk berjalan. Kini Alin harus berjalan memakai bantuan penyanggah kaki, setidaknya hanya untuk satu sampai dua bulan ia memakai alat ini. Alin agak risih ketika memakainya, karena dia belum terbiasa.

__ADS_1


Romi mendudukkan Alin di kursi tunggu rumah sakit itu "Tunggu sebentar di sini ya" Ucapnya lalu berlalu dari hadapan Alin. Alin hanya mengangguk dan terdiam, entah apa yang dilakukan romi. Aku ingin menanyakan nya, tapi aku terlambat karena Romi telah menghilangkan dari hadapanku.


Beberapa saat kemudian Romi kembali lalu duduk di sampingku. Dia ingin membantuku berdiri, tapi aku menahan tangannya terlebih dahulu.


"Kamu habis darimana?" Tanyaku menatapnya penuh tanya.


"Oh itu, aku habis membayar biaya rumah sakit" Jawabnya. Ah aku lupa kalau menginap di rumah sakit itu memerlukan biaya.


"Berapa? Pasti sangat mahal ya? Karena aku kan menginap selama beberapa hari disini" Tanyaku.


Dia menggeleng "Sudahlah tidak usah dipikirkan ya? Kamu hanya perlu memikirkan kesembuhanmu supaya bisa berjalan normal lagi seperti biasa" Jelasnya dengan senyuman manisnya.


Ah aku merasa sungguh tidak enak, baru beberapa bulan aku menjadi sahabatnya, aku sudah banyak sekali merepotkannya.


bersambung~


^^^aku kembali~!^^^


^^^ada yang kangen gak nihh sama cerita urakan ini? atau kalian lebih kangen author ya, mhewhe just kidding:v ^^^


^^^maaf baru up lagi karena author nya tidak ada kuota wgwgwg, syedih syekaly epribody༎ຶ‿༎ຶ^^^


^^^jangan lupa tinggalkan jejak ya^^^


Commen,


Like,


Vote,


^^^Karena nyatanya membuat cerita tidak semudah membaca ceritaಥ‿ಥ. TYSM buat yang udah ninggalin jejak, sayang kalian banyak banyak<333333333^^^

__ADS_1


__ADS_2