Be Strong Girl

Be Strong Girl
Chapter 9


__ADS_3

"Nek, ini panas loh, aku antar pulang ya" Ucapku.


"Nenek tidak punya rumah" Jawabnya.


"Lalu nenek tinggalnya dimana?" Tanyaku.


"Nenek tinggal dimana saja yang penting nenek bisa berteduh" Jawabnya dengan seulas senyuman.


"Memangnya nenek tidak punya saudara?adik?atau kakak?" Tanyaku lagi.


Nenek itu menggeleng perlahan "Entahlah nak, sejak kecil nenek tinggal dipanti asuhan" Jawaban nya.


"Maukah nenek tinggal bersamaku?" Tanyaku.


Nenek itu menggeleng keukeuh "Tidak nak, nenek tidak mau tinggal dengan orang lain" Jawabnya.


"Nenek tidak ingin merepotkan orang lain" Lanjutnya.


"Aku tidak merasa direpotkan nek!aku senang jika nenek tinggal bersamaku, aku jadi mempunyai teman dirumah" Jawabku dengan senyuman.


"Memangnya kamu tinggal bersama siapa?" Tanya nenek itu.


"Eum i-itu nek! aku...aku tinggal bersama–" Jawabku dengan berpikir keras.


"Aku harus mengatakan bahwa aku tinggal di kontrakan? nanti jika nenek bertanya kenapa tinggal dikontrakkan? aku harus jawab apa? ataukah aku harus berbohong bahwa aku tinggal bersama keluargaku?"batinku bermonolog dengan diriku sendiri.


"Nak?"


Tanya nenek itu, membuat aku tersadar dan lamunanku buyar seketika.


"Bersama keluargaku nek" Sela ku cepat.


"Cepatlah pulang nak, orang tuamu mungkin sedang mencarimu dan mengkhawatirkan mu karena kamu tidak berada di rumah" Ucapnya.


Menggigit bibir bawahku sendiri untuk menahan tangisan.'Orang tuamu mencarimu, mengkhawatirkan mu' kata itu sangat sensitif bagiku, karena - ah sudahlah lupakan.


"Baiklah nek, Alin pamit ya nek! jaga diri nenek baik-baik, ini ada sedikit uang untuk bisa membeli makanan" Ucapku merogoh saku bajuku dan mengambil beberapa lembar uang pada nenek itu.


"Terimakasih nak, kamu orang baik! semoga tuhan memberkatimu" Jawab nenek itu sembari mengambil lembaran uang yang ada ditanganku.

__ADS_1


"Aamiin"


"Yasudah nek, Alin pamit dulu ya" Ucapku berpamitan padanya.


Aku membalikan badanku untuk tidak menatap nenek, aku berkedip dan saat itu juga air mataku jatuh.Menunduk, melihat kakiku yang tidak beralaskan, lalu ku usap jejak air mata pada pipiku lalu aku mengangkat kepalaku dan berjalan menjauh dari sang nenek.


Aku disini sekarang, menatap kedepan hamparan air yang sangat luas berwarna biru dengan pandangan kosong, duduk ditengah jembatan, kakiku menjulur kebawah, mengayun kedepan dan kebelakang.


Jembatan Harbour Bridge



...Jembatan Harbour Bridge-sydney.Berarti Alin lagi ada di tengah-tengah jembatan itu sembari mengayunkan kakinya (kepeleset sedikit langsung nyebur)....


"Alin sayang, hati-hati nak"


"Jangan terlalu banyak makan permen, nanti gigimu sakit"


"Bunda masakin kesukaan kamu"


"Selagi bunda masih ada disisimu, kamu aman"


Kata-kata bunda berputar lagi di pikiranku, terngiang-ngiang, seperti aku kembali ke masa kanak-kanak ku, bunda yang memperingatiku untuk tidak menaiki tangga dengan tergesa-gesa, memperingatiku agar tidak memakan coklat terlalu banyak, masakin makanan kesukaanku.Sayangnya aku tidak bisa mendengar larangan-larangannya lagi.Oke, bunda sudah tiada, tidak baik aku terus menangisinya ketika aku rindu.


Sampai aku menagis darahpun bunda tidak akan pernah kembali, aku harus menerima kenyataan pahit ini dengan lapang dada.


"Bunda, Alin rindu.." Batinku


Tidak ada suara tangisan atau isakan, hanya ada deraian air mata yang terus mengalir dengan deras dan berjatuhan ke dalam sungai yang ada tepat di bawahku.


Aku memandangi ke arah samping yang tampak membentang lebih dari 240 kilometer berhias pantai yang belum terjamah, taman yang indah, serta berbagai padang belukar alami.Memandang pemandangan yang begitu indah disana - tidak, aku memandangnya biasa saja, bahkan tanpa segores senyuman pun, hatiku sedang hancur, berantakan.


Lalu pandanganku beralih pada gedung yang berbentuk seperti cangkang.


Gedung Opera Sydney



Gedung Opera Sydney-New South Wales adalah salah satu bangunan abad ke-20 yang paling unik dan terkenal.Gedung ini terletak di Bennelong Point di Sydney Harbour dekat Sydney Harbour Bridge.

__ADS_1


Kuputar kembali ingatanku ketika melihat pertunjukan teater, balet, dan berbagai seni lainnya bersama bunda-tentu bersama bunda, papah tidak mau diajak jalan-jalan bahkan nyaris tidak pernah mengajakku dan bunda untuk pergi berlibur.


Aku iri melihat banyak anak seumuran denganku berjalan-jalan bersama keluarganya - ayah dan ibunya - jujur, aku sangat iri melihat pemandangan itu.


"Bunda, kenapa Alin tidak seperti anak lainnya yang berjalan-jalan bersama papah dan bunda mereka" Tanyaku pada bunda.


"Papahmu sibuk, jadi tidak bisa menemani kita" Jawab bunda sembari mengelus rambut panjangku yang terurai.


Selalu jawaban itu yang aku dapatkan dari bunda ketika aku bertanya tentang papah yang tidak menemani aku berjalan-jalan.Apakah sebegitu sibuknya seorang Dion Aditya? Apakah tidak ada waktu semenit pun untuk bersama anaknya? Apa yang dikerjakannya di kantor?.Pertanyaan-pertanyaan itu terngiang di otakku waktu kecil, aku tidak menanyakan kepada bunda untuk menjawab semua teka-teki yang ada di otakku saat itu.


Saat aku tumbuh menjadi dewasa, aku menyimpulkan bahwa papah Dion tidak menyayangi ku, dan Bunda Yura.Aku tidak asal menyimpulkan sesuatu, aku hanya - sudahlah jangan dibahas.


"Apakah dunia membenciku?" Gumamku beralih memandang laut biru yang airnya menggelombang karena tertiup oleh angin yang cukup besar.


"Karena mengantarku sekolah, bunda meninggal" Lanjutku.


Aku ingin sekali bercerita pada siapapun, setidaknya dengan bercerita akan mengurangi beban dalam pikiranku, pikiranku akan lebih baik jika aku menceritakannya pada orang terdekat ku.


Aku harus bercerita pada siapa? Siapa yang mau membantuku mengurangi beban dalam pikiranku?


Aku tidak punya teman.Itu kenyataan yang membuat beban mengendap dalam pikiranku.


"I'll show the world that I can get through all this! (Saya akan menunjukkan kepada dunia bahwa saya bisa melewati semua ini!)" Memantapkan ucapanku, aku mengelap jejak-jejak air mata yang ada di wajahku.Hanya menyisakan warna merah di bagian mata dan ujung hidung karena aku menangis lumayan lama.


Aku berdiri dan berjalan meninggalkan Jembatan Harbour.Berjalan menjauhi Jembatan itu.


"Ayah, aku mau es krim rasa coklat sama strawberry! boleh ya?" Ucap seseorang agak jauh dariku tapi aku masih bisa mendengarnya.


Aku dengan refleks menengok ke arah kananku.Seorang anak kecil sedang merengek dan bergelayut di tangan ayahnya meminta dibelikan es krim.


"Iya boleh" Jawab ayahnya sembari mengangkat tubuh mungil anaknya dan digendongnya.


Agak miris melihat ini, aku meluruskan lagi pabdanganku.


"Jangan iri, aku juga pernah dibelikan es krim oleh bunda, bahkan sering" Batinku mencoba menguatkan diri sendiri.


"Tapi tidak dengan papa" Lanjut batinku.


Entahlah, aku tidak ingin mengucapkan kata itu meski dalam batin, tapi kata itu terucap begitu saja meskipun aku menahannya, seperti ada bisikan-bisikan ghaib yang entah datang darimana.

__ADS_1


bersambung~


__ADS_2