
"Kamu suka minuman jeruk?" Tanyanya padaku.
"E-eum i-iya hehe.." Jawabku mengiyakan pertanyaannya saja, aku harus buru-buru memberikan minuman ini pada Alan karena Alan hanya memberiku waktu 3 menit.
"Kak kalau begitu Alin duluan ya!" Ucapku lalu pergi meninggalkannya.
"Jadi 20 ribu mbak" Ucap kasir itu padaku.
(pake rupiah aja ya!pusing author karena harus lihat google untuk mengubah rupiah ke dollar Australia)
Lalu aku menyodorkan selembar uang yang tadi diberikan Alan.Aku menghampirinya dengan berlari kecil.
"3 menit 4 detik" Ucapnya melihat jam tangan yang ia pakai.
Aku menyerahkan kresek yang ku bawa padanya.
"Ambil buat Lo aja! gue udah gak butuh! lumayan kan untuk Lo minum, gue tahu Lo gak sanggup membelinya" Ucapnya dengan nada sangat menjengkelkan dan mengejekku.
"Tadi katanya disuruh beli" Gumamku tapi masih bisa terdengar oleh Alan.
"Lo nya kelamaan bodoh!" Ucanya sembari menatapku.
"Maaf.." Lirihku tidak mau memperpanjang masalah dengannya.
"Sana Lo! ngapain masih disini" Usirnya padaku.
Aku melengos pergi begitu saja dari hadapan Alan.
"Heii bodoh!" Panggilnya.
__ADS_1
Aku menengok kebelakang "aku?" Ucapku sembari menunjuk diriku sendiri.
"Iya, siapa lagi orang bodoh selain Lo!" Jawabnya.
"Ambil buat lo!" Ucapnya mengembalikan kresek berisikan minuman yang tadi ku beli di supermarket.
Aku berjalan kearahnya untuk mengambil kresek itu.
"Terimakasih" Ucapku lalu melengos pergi dari hadapannya.
Aku berjalan dibawah langit Sydney yang kini sinar senja menyinari langkahku.Setelah berjalan cukup lama aku sampai di Pemakaman Teratai, aku berjalan melewati jajaran nisan yang tertata rapi disana sampai akhirnya aku berhenti di nisan bertuliskan nama bundaku 'Yura Giraldo'.Aku berjongkok di samping gundukan tanah itu sembari mengusap-usap batu nisannya dengan tanganku.Mencabut rerumputan yang menghalangi makam bundaku.
"Bunda, Alin datang...bunda apa kabar?" Tanyaku pada gundukan tanah didepanku yang jelas tidak bisa menjawab pertanyaan yang aku lontarkan.
"Bunda lihat, cahaya senja hari ini sangat indah, tapi akan lebih indah jika Alin melihatnya dengan bunda.Alin kangen lihat Senja bareng bunda lagi" Ucapku sembari menatap langit perpaduan orange ke biru biruan.
"Bundaa jikalau bunda menghawatirkan ku, aku tidak apa-apa kok! Alin bahagia disini...walau tanpa bunda" Ucapku, dengan nada yang berujung melirih.
Tanpaku sadari ada cairan bening yang membasahi pipiku, dan dengan segera ku hapus cairan itu supaya bunda tidak tahu kalau putrinya disini sedang menangis.
"Bunda Alin tidak menangis kok, Alin hanya teringat masa-masa kita bersama, bermain di Taman Botani, lari-lari mengelilingi Pantai Bondi Beach, masak makanan bersama, camping di depan rumah, melihat kanguru,koala dan binatang lainnya di Taronga Zoo Sydney.Alin kangen bunda..." Batinku.
Aku tidak bisa menahan air mata yang akan keluar dari pelupuk mataku.Aku mencoba untuk tidak menangis ketika aku mengunjungi makam bundaku, tapi rasanya tidak mungkin.Karena setiap aku datang ke makam bunda aku selalu teringat semua kenangan bersamanya dahulu.
Aku masih berusaha menahan air mataku mati-matian supaya tidak menangis.Menggigit bibir bawahku sendiri supaya tidak mengeluarkan suara isakan.
Akhirnya pertahananku untuk tidak menangis runtuh.Aku terduduk di samping makam bunda dengan posisi kedua lututku ku peluk dan badanku gemetar sembari menyelundupkan kepalaku diantara kedua lutut.
Aku menangis, aku menangis sejadinya, tak bisa ku pungkiri bahwa aku sangat merindukan bunda ku, aku tidak bertemu dengannya bertahun-tahun.Semenjak aku baru memasuki sekolah TK kira-kira umurku saat itu masih 5 sampai 6 tahunan dan sekarang umurku sudah menginjak usia dewasa.Aku kangen perhatian yang diberikan oleh bunda, pahlawanku, malaikat tanpa sayap.Bagaimana dengan papa? - ah sudahlah pasti kalian tahu bagaimana sikap papa padaku, papa tidak menganggap ku anaknya dan bolehkah aku beranggapan bahwa papa tidak akan pernah bisa menganggap ku sebagai anaknya selamanya? ya, selamanya.
__ADS_1
Jikalau ada orang yang bertanya padaku apakah aku memiliki orang tua? - entahlah aku harus jawab apa, apakah aku harus menjawabnya dengan kata 'mungkin' atau dengan kata 'tidak' hanya bunda Yura saja yang menganggapku, tapi bunda sudah beristirahat disana.Jadi, apakah aku sudah dianggap mati oleh dunia? - oh tidak, Dira adik tiriku masih menganggap ku, hanya dia...kak Seto dan Bu Daisy.
Gelegar
Aku yang sedang menangis diantara kedua lututku tersentak ketika mendengar suara petir, ku angkat kepalaku menatap ke langit.Ternyata langit sudah mendung sekarang, dan sebentar lagi akan turun hujan.
Byurr
Hujan turun terlebih dahulu sebelum aku berteduh.
"Bunda Alin pergi dulu ya nanti pasti kembali lagi" Ucap Alin pada makam bundanya lalu mencium singkat nisan bertuliskan 'Yura Giraldo' itu.
Aku berjalan meninggalkan pemakaman Teratai dengan baju yang sudah basah kuyup dan langkah yang gontai.Aku tidak berteduh karena baju ku sudah basah kuyup jadi sudah tidak ada gunanya lagi aku berteduh.
Cklek
Aku membuka pintu kontrakan, aku masuk kedalamnya meletakkan tas sekolah ku yang sudah basah kuyup di meja.Tapi tidak dengan bukunya karena aku memasukan buku-buku pelajaran ku kedalam kresek yang ku bawa, lalu aku bergegas untuk membersihkan diri.
Sekarang aku sedang merapikan buku-buku ketempatnya, lalu aku menyuci tas dan sepatu yang tadi aku pakai.Untung besok tidak ada pelajaran yang harus ku ikuti.
"Jadi besok setelah ke Aster Florist aku ke Kafe Melorine setelah itu aku pulang untuk mengerjakan PR dan bertemu sebentar dengan Dira" Gumamku sembari menuliskan kegiatan yang akan aku lakukan di kertas harianku karena aku tidak memiliki ponsel.Jangankan ponsel, sudah makan hari ini saja aku bersyukur.
Aku menutup buku harianku dan merebahkan tubuhku di atas kasur lantai yang sudah lapuk dan sangat tipis.Wajar saja karena aku menyewa kamar dengan harga yang paling murah hanya 9,11 Dolar Australia setara dengan 100.000 ribu perbulannya.
Sementara aku hanya mendapat gaji 50 ribu setiap menjual bunga perharinya, belum untuk makan, uang kuliah, dan membayar kontrakan.Jadi, setiap tidak ada pelajaran yang harus ku ikuti di kampus, aku mencari pekerjaan tambahan.Beruntung Dira adikku memberi bantuan uang padaku setiap bulannya yang pasti tanpa pengetahuan papah.Aku selalu menolak pemberian darinya tapi Dira selalu memaksaku untuk mengambilnya dengan ancaman dia tidak mau lagi menganggap ku sebagai kakanya jika aku tidak menerima bantuan darinya.
Aku menutupkan mataku untuk tidur sekaligus melupakannya beban-beban dan penderita yang sedang aku alami saat ini, semoga tidak dengan seterusnya.
bersambung~
__ADS_1