
"Aku akan mencari tau lebih dalam tentangmu dan tentang keluargamu" Gumam pria itu sembari masih mengemudikan mobilnya.
"Mengapa om Dion merahasiakan Alin? Ada apa dengan keluarga mereka?" Lanjutkan.
Beberapa menit lalu mobil Cleon telah sampai di rumah Tusya -ralat, maksudnya mansion.
Kini Cleon sedang berada di ruang tamu keluarga Aditya, berbincang-bincang dengan nyonya rumah sambil menunggu kedatangan Tusya.
"Kamu jarang sekali ya main ke mansion Aditya belakangan ini"
"Maaf tan, soalnya belakangan ini aku sedang banyak pekerjaan di kantor"
"Jadi, kapan kamu ingin ke jenjang lebih serius dengan anak tante Cle?" Tanya Anita yang merupakan istri dari pemilik mansion.
Pria itu kaku ketika mendapatkan pertanyaan serius yang dilontarkan Anita "Emm kalau itu aku–"
"Sayang, kamu sudah datang?" Perempuan itu tersenyum manis.
Ucapan Cleon terpotong ketika mendengar suara kekasihnya menggema. Pria bertubuh tinggi itu berdiri dari posisi yang tadinya terduduk lalu membalas tersenyum manis. Terpaksa.
Tusya berjalan ke arahnya lalu menautkan jarinya dengan jari-jari kekasihnya.
"Ayo kita berangkat sekarang" Ajaknya.
"Mah, aku dan Cle pamit ya" Kali ini pandangan Tusya beralih pada wanita lanjut usia yang melihatnya sejak tadi.
Anita mengangguk kecil "Iya sayang, hati-hati"
Kini mereka telah sampai di toko langganan Tusya, tentu bukan toko kaleng-kaleng. Cleon mulai kesal karena Tusya memilih baju sangat lama, padahal itu keluaran terbaru semua.
Tusya keluar dari kamar pas dengan mengenakan dress diatas lutut berwarna hijau tosca "Sayang, apakah ini bagus untukku?" Tanya nya pada Cleon yang sedang duduk di kursi sembari memainkan telepon genggam nya.
Cleon meluruskan pandangan nya ke arah Tusya yang sedang berdiri dengan pelayan toko di sampingnya "Ya bagus, cocok untukmu" Jawab Cleon dengan senyuman termanis yang ia punya.
Tusya tampak berfikir sejenak. Ia melihat lagi dirinya melalui pantulan cermin besar dihadapannya "Emm gitu ya,"
"Tapi, menurutku ini warna nya terlalu soft, akan ku cari warna lain" Ucapnya.
Huh, entah sudah berapa kali Cleon mengucapkan kata 'cocok' pada Tusya yang terus bergonta-ganti dress. Dari mulai warna kalem, soft, sampai yang mencolok dan dress yang panjangnya diatas lutut, selutut, sekaki, bahkan sampai 10 meter tidak ada yang cocok untuknya. Cleon frustasi.
Apakah semua wanita seperti itu?
Akhirnya, setelah beberapa jam lamanya menunggu Tusya yang sibuk bergonta-ganti dress, dapat juga. Membeli 2 dress dengan warna, motif, dan ukuran yang berbeda dan 3 pasang heels.
__ADS_1
Yang pastinya branded original semua lah ya, mana mau Tusya memakai barang KW.
Mereka kini selesai makan di restoran yang ada di mall tersebut.
"Apakah kamu mempunyai adik?" Celetuk Cleon sengaja.
"Ya, bukankah kamu sudah mengetahui nya?" Ucap Tusya tanpa menaruh curiga apapun pada Cleon.
"Aku lupa. Siapa namanya?" Pancing Cleon lagi.
"Aldira, Aldira Aditya" Jawab Tusya sembari mengelap bibirnya menggunakan tisyu.
"Hanya satu?" Tanya Cleon lagi.
"Ee i-iya, memangnya siapa lagi?"
Cleon memicingkan matanya "Entahlah, tapi kurasa kau sedang berbohong padaku"
"H-hah? Apa maksudmu sayang? Aku tidak sedang berbohong padamu, apakah kau mencurigaiku?" Ucap Tusya mulai gugup.
Cleon menatap mata Tusya lagi sedalam dalamnya, sementara Tusya hanya diam mematung dan sesekali menghindari tatapan Cleon yang mengintimidasi "Mungkin hanya firasatku, lupakan" Cleon memutuskan kontak matanya lalu tersenyum.
"Bagaimana caraku mendapatkan informasi darinya tentang Alina? Oh ayolah Cle, berfikir, berfikir!" Batin Cleon gemas sendiri.
Ah, Cleon mendapatkan ide dari pertanyaan Tusya "Tidak ada, aku hanya rindu dengan adikku" Ucap Cleon berpura-pura sedih.
"Adikmu? Kamu memiliki adik?" Tanya Tusya kaget.
"Ya, perempuan"
"Kenapa kau tidak pernah menceritakannya padaku? Siapa namanya?" Tanya Tusya lagi.
"Adikku sudah tiada sejak kecil, aku belum sempat menceritakannya padamu" Jelas cleon.
Raut muka Tusya berubah menjadi sendu, "Maaf aku tidak bermaksud" Lirihnya pelan.
"Alina, namanya Alina"
Kata selanjutnya yang keluar dari mulut kekasihnya membuat Tusya tercengkat ditempat "A-alina?" Ucapnya menjadi gagap.
"Ya, Alina. Kenapa? Seperti nya wajahmu langsung berubah ketika mendengar nama Alina?" Pancing Cleon lagi.
"A-ah, tidak."
__ADS_1
"Ada apa? Katakanlah, ceritalah padaku" Cleon terus merayu Tusya supaya memberikannya informasi tentang gadis yang terus memenuhi pikirannya itu. Berharap berhasil mendapatkan informasi tentang Alina dari Natusya sekecil apapun.
Tusya terdiam beberapa detik, hingga detik kelima perempuan dengan surai panjang itu membuka suara "Aku memiliki teman dulu, namanya Alina. Dia gadis malang, selalu di siksa oleh ayahnya bahkan tidak dianggap ada oleh keluarganya"
Ck, teman.
"Apakah dia tidak memiliki ibu?" Tanya Cleon yang mulai penasaran. Akhirnya dia mendapat info dari Tusya tentang Alina.
"Tidak, ibunya meninggal ketika mengantarkannya sekolah TK"
"Ayahnya?"
"Ayahnya selalu menyiksanya, tidak memberinya makan dan perhatian, mereka juga tidak saling bertegur sapa meskipun satu atap, gadis itu selalu makan dengan para pembantu dan hanya dibolehkan makan tempe dan tahu setiap harinya. Bahkan dia tidur di gudang"
Cleon menghela nafasnya sejenak. Tanpa diketahui oleh tusya, tangannya sudah terkepal. Ingin sekali ia merobek mulut Tusya saat itu juga, tapi ia menahan amarahnya demi kelancaran rencananya, ia tidak boleh menghancurkan suasana ini. "Astaga Alina!" Batin Cleon
"Dia memiliki satu kakak dan satu adik tiri" Jelasnya lagi. Oke bagus, sepertinya Tusya mulai terpancing dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Cleon.
"Kakaknya pasti sama jahatnya kan sedang ayahnya?" Pancing Cleon. Tanpa disadari, rupanya Cleon sedang menyindir Tusya dengan estetik.
"Tidak, kakanya tidak jahat. Kakaknya cantik dan berpendidikan tinggi, hanya saja dia malu mempunyai adik seperti Alina karena penampilannya urakan bak gelandangan" Elaknya.
Ya jelas saja, orang kakaknya itu dia. Mana mungkin dia menjelekkan dirinya sendiri. Kan lucu.
"Brengsek! Kan ku putar balikan keadaan mu dengan Alina" Batin Cleon yang mulai kesal penjelasan Tusya. Bagaimana bisa Alina di mansion ayah kandungnya sendiri di perlakukan sangat buruk seperti–
Tusya menarik nafas karena ia terlalu panjang menceritakan kisah temannya itu "Ya, bagaimana tidak malu, masa dia mengakui bahwa Alina adalah adiknya, meskipun hanya adik tiri. Tapi perbedaan mereka sangat jauh seperti langit dan bumi"
"Sombong sekali ya kakaknya, jika aku jadi Alina, akan ku robek mulut kakaknya" Ucap Cleon berpura-pura kesal.
Tusya meneguk salivanya dengan susah mendengar ucapan dari sang kekasih.
"Ya, aku juga sependapat dengan mu" Timpal Tusya pura-pura setuju saja, daripada Cleon curiga kan?
"Kau bisa tau sedetail itu ya teman gadis bernama Alina" Tanya Cleon lagi.
"E-e...ti-tidak juga, aku hanya mengetahuinya sedikit karena ia bercerita padaku" Jawab Tusya.
Hahah Cleon sangat senang melihat pacarnya ketakutan seperti sedang dikejar rentenir -caelah, masa holkay punya utang.
"Apakah aku bisa bertemu dengannya?"
bersambung~
__ADS_1