
"Assalamualaikum" Ucap seseorang yang baru saja membuka pintu kamar Papa Giraldo sembari masih menenteng tas sekolah.
"Waalaikumussalam" Ucap ketiga orang yang berada dalam kamar Papa Giraldo.
"Papa kok bisa seperti ini? bagaimana keadaan Papa sekarang?" Tanya Yura cemas melihat sang Papa berbaring di ranjang pasien.
"Papa tidak..." Ucap Papa Giraldo terpotong.
"Papamu terkena serangan jantung saat sedang mengurus kafe" Jelas Papa Yudho mengambil alih jawaban.
Yura pun mengalihkan pandangannya pada Papa Yudho yang berada di kursi sebelah nya dan mendengarkan penjelasan Papa Yudho.
Yura menatap lagi pada sang papa "Pah, papah istirahat saja ya di rumah, nanti Yura yang akan mengambil alih kafe" Ucap Yura.
"Apa kamu tidak keberatan?" Tanya Papa Giraldo.Yura pun hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"Yasudah pah, Yura mau ke kantin sebentar ya mau cari makan, Yura belum makan soalnya" Ucap Yura sembari memamerkan sederet gigi putihnya.
"Iya" Jawab Papa Giraldo singkat.
Yura pun keluar dari kamar Papanya dan menyusuri jalanan rumah sakit untuk mencari letak kantin.Ketika baru saja makanan Yura datang, Yura dipanggil oleh seseorang yang tak lain adalah Mama Yani.
"Ada apa tan?" Tanya Yura keheranan karena Mama Yani menangis.
"I-itu, papa kamu!" Ucap Mama Yani dengan nafas ngos-ngosan dan berbicara dengan gugup.
"Papa? papa kenapa Tante? papa tidak apa-apa kan? " Tanya Yura cemas.
"Pa-papah kamu sudah meninggal" Jawab Mama Yani gugup.
"H-hah!pa-papah meninggal!" Yura shock mendengar perkataan dari Mama Yani, Tak terasa air matanya lolos begitu saja tanpa di perintah.
Yura meninggalkan Mama Yani.Yura segera berlari sekencangnya menuju kamar papanya.Tak luput dengan air matanya yang terus mengalir sembari menenteng tas kuliahnya, Yura berlari-lari sesekali ia dimarahi oleh orang-orang yang ia tabrak ketika berlari.Tapi Yura tidak menghiraukan nya.
__ADS_1
"Papah!!" Seru Yura ketika berhasil masuk ke dalam kamar papanya.
Dilihatnya Om Yudho sedang menangis melihat Dokter dan beberapa Perawat mencopot infus dan selang-selang yang menempel pada tubuh papah.
Yura berlari kecil menuju sang papa yang terbaring pucat dengan mata terpejam.
"Papah!!jangan tinggalkan Yura pah, Yura masih butuh papah...hiks..hiks..hiks..pah..papah pasti bangun kan, papah ayo bangun.." Ucap Yura mengguncang-guncang tubuh lemah papahnya.
Pandangan Yura beralih pada Om Yudho yang terduduk di sofa agak jauh dari kasur papa.
"Om, katakan kalau ini tidak benar kan om!ini hanya bohongan kan om!!ayo cepat katakan om Yura mohon..hiks..hiks.." Ucap Yura mengguncang-guncang tubuh Om Yudho sembari terus menangis.
"Sudah nak, ikhlaskan papamu, biarkan papamu tenang di sana" Ucap papa Yudho memeluk Yura yang menangis histeris untuk menenangkan Yura.
"Papah...bangun pahh Yura mohon...hiks..hiks.." Ucap Yura masih dalam pelukan Papa Yudho tapi dengan pandangan menatap papa berharap papanya membuka mata.
"Papahh" Suara Yura mulai memelan, dan akhirnya Yura pingsan.
Sekarang Yura yang mengambil alih kafe papahnya, itu adalah wasiat papahnya yang harus Yura jalankan.Yura dinikahkan dengan Dion anak Om Yudho dan Tante Yani.Yura sempat menolak keinginan Om Yudho dan Tante Yani, tapi mereka bilang itu adalah salah satu wasiat yang diberikan papa.Tidak ada pilihan lain, Yura akhirnya menerima perjodohan itu.Yura tahu Dion tidak mencintai nya dan tidak akan pernah mencintai nya.
Alin kecil yang belum mengetahui apa-apa harus menerima kebencian oleh Papa kandungan sendiri.Di dalam gudang Alin hanya terus menangis dipojokkan.Ia terus menagis dan memangil-manggil mamanya yang telah meninggalkan nya, berharap mama Yura datang memeluknya dan mengeluarkan nya dari gudang ini.Tapi ekspektasi Alin salah, mama Yura tidak datang untuk menyelamatkan nya.Akhirnya Alin pasrah membiarkan dan menyetujui Papa nya untuk menikah lagi.
Dua belas tahun berlalu.Kini Alin beranjak dewasa dan ia berkuliah di Universitas bergengsi di Sydney yaitu Universitas Zervard.Alin diterima melalui jalur Beasiswa.
(Author memakai sudut pandang Alin ya!!)
"Ma-maaf aku gak sengaja" Ucapku tertunduk.Aku tidak sengaja menabrak seseorang dan menginjak sepatunya.
"Lo lagi! Sial banget gue hari ini ketemu Lo dua kali, pakek acara nabrak gue segala lagi!!bersihin sepatu gue gak!! gue jijik tahu Lo nginjek sepatu mahal gue!Tau gak harganya berapa hah?!" Ucap orang itu penuh tekanan dan melihatku seperti kotoran an**jing.
"Maaf.." Lirihku masih dengan tertunduk karena aku tidak berani menatap orang itu.
Dengan segera orang itu mendorong tubuhku hingga aku tersungkur ke depan.Beruntung aku masih bisa menahannya hingga lututku tidak menyentuh lantai.
__ADS_1
"Cepat bersihkan bodoh! kata maafmu tidak bisa membeli sepatu mahalku" Bentak orang itu kepadaku.
ALAN
Ya, itu adalah Alan mahasiswa yang semena-mena terhadapku.Ia sangat tidak suka dengan ku, aku tidak tahu alasannya.Tapi aku tahu dia sangat-sangat tidak menyukai ku karena setiap dia bertemu dengan ku selalu mengucapkan kata "Jijik gue lihat Lo!! mata gue sakit lihat Lo!" selalu itu yang kudengar dari mulutnya.Alan anak dari CEO terkenal di Jerman, dan semua mahasiswa-mahasiswi adalah anak dari orang yang berada kecuali aku.Ya, mungkin aku salah masuk Universitas ini, tapi Universitas ini adalah impian ku sejak SMP.Karena aku masuk ke universitas ini menggunakan jalur beasiswa, bayarannya tidak lumayan tinggi.
Aku mengambil tisu yang ada di tas, lalu aku mengelap sepatunya perlahan dengan tangan yang gemetar.Aku sudah biasa melakukan hal seperti ini terhadap Alan, tapi entah kenapa rasa gemetar ini tidak bisa dihilangkan, mungkin karena aku takut dia akan membentakku jika aku melakukan kesalahan.
"Cepat bodoh!lambat sekali gerakanmu seperti siput!" Sentak Alan.
Aku tersentak karena ucapan Alan membuatku kaget, dan dengan segera aku membersihkan sepatu nya.Alan pergi begitu saja setelah aku membersihkan sepatu nya.
Aku berjalan menuju kelas, karena sebentar lagi kelas akan segera dimulai.
**
DI DALAM KELAS
"Alin hapus semua tulisannya" Ucap dosen menyuruhku menghapus coretan-coretan spidol yang dibuatnya ketika menerangkan pelajaran.
Aku berjalan menuju meja dosen dan mengambil penghapus untuk menghapus coretan-coretan spidol yang menempel di papan tulis.Karena papan tulis itu berukuran lebar dan tinggi sehingga aku agak kesulitan untuk menghapus nya.
"Pendek banget si Lo jadi anak"
"Loncat dong,,lama nih kita nungguin"
"Minum susu makanya"
"Cihh,,segitu saja tidak sampai"
Berbagai macam hinaan yang aku dengar dari arah belakang ku, bahkan dosenku pun tidak memarahi mereka semua yang menghinaku.
bersambung~
__ADS_1
#salam manis dari Author