
Di timur sang mentari menunjukkan jati dirinya membuat cakrawala terhempas bebas dari kegelapan sang malam hari, warna merah kekuningan yang merona mulai menghiasi dinding langit.Dengan begitu malam sudah meninggalkan tempatnya, berganti sinar yang terang dari pagi hari yang memancarkan keceriaan dari sudut timur negeri.
Seorang gadis menggeliat di atas kasur lantainya.Gadis itu mengucek matanya yang masih saling merekat.
Membuka matanya lalu melihat ke arah Jam Dinding yang menunjukkan pukul 9 lebih.Ia segera bangun dari tidurnya dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
**
"Kak apakah Bunga Asternya sudah dikirim?" Tanyaku pada kak Seto.
"Loh! kok kamu disini Al?" Tanyanya padaku.
"Maksudku, kenapa kamu tidak berangkat ke kampus?" Lanjutnya.
"Alin tidak ada jadwal kuliah hari ini kak" Jawabku.
"Oh"
"Apakah bunga Asternya sudah dikirim?" Tanyaku lagi.
"Belum Al, mungkin besok dikirimnya" Jawab kak Seto.
Aku hanya mengangguk-ngangguk tanda mengerti sembari memasukan bunga untuk aku jualkan ke dalam keranjang kecil.
"Al?" Panggil kak Seto padaku.
Aku yang tadinya sibuk memilih bunga untuk aku jualkan menengok ketika namaku di panggil.
"Iya kak?" Jawabku sembari menatap kak Seto yang juga menatapku.
"Apakah kamu tidak ingin berjualan memakai sepeda seperti yang lainnya?" Tanya kak Seto padaku.
Aku menggeleng "Tidak usah kak, Alin lebih nyaman berjualan tanpa memakai sepeda" Jawabku sembari memberikan semyum simpul padanya.
"Apakah kamu yakin?" Tanyanya padaku dengan tatapan seperti rasa iba padaku.
"Yes, why not?" Jawabku meyakinkan nya.
"Oke" Jawabnya sembari menganggukkan kepalanya pelan.
**
Aku berjalan di pinggiran jalan kota sembari menjinjing keranjang kecil berisikan berbagai macam bunga.Mobil hitam sport berhenti tepat disampingku, aku refleks menengok kearahnya, lalu pengemudi itu membuka kaca mobil dan munculah seorang pria tampan memakai kaos oblong berwarna hitam.
"Mbak! Bunga Asternya ada?" Tanyanya padaku.
"Maaf lagi kosong" Jawabku gugup karena selama ini belum pernah ada orang yang membeli bungaku memakai mobil sport.
"Oh, yasudah saya beli bunga Mawar Ungu aja mbak!" Jawabnya sembari menunjuk salah satu bunga yang ada dikeranjangku.
Aku mengambilnya dan memberikannya pada pengemudi itu.
Pengemudi itu mengambil dompet di celananya dan ketika akan membukanya untuk mengambil uang, dompet itu jatuh kebawah.
__ADS_1
"Maaf mbak sebentar!" Ucapnya padaku, aku hanya membalasnya dengan anggukan pelan.
Pengemudi itu menunduk untuk mengambil dompetnya yang terjatuh, dan muncullah seorang perempuan dibalik tubuhnya tepatnya disampingnya.
"Kak Tusya!" Ucapku sontak membuat Kak Tusya yang sedang sibuk dengan gadget nya menengok ke arahku dan tatapan kita bertemu beberapa detik.
Ya, seorang perempuan itu ternyata Natusya kakaknya Alin-kakak tiri lebih tepatnya - Natusya sedang bersama pacarnya yang bernama Cleon.
Tapi tatapan kami terputus karena pengemudi itu menegakkan kembali badannya.
"Sial! Ngapain ketemu dia, pake nyapa gue segala lagi" Batin Natusya.
"Kamu kenal dia sayang?" Tanya pengemudi itu pada kak Tusya lalu berganti menatap ke arahku sembari menyerngitkan keningnya.
"Tidak, mana mungkin aku kenal dengan penjual bunga jalanan! mungkin dia hanya fans ku!" Jawab Tusya gelapan tapi mencoba untuk tenang.
Degg
Hatiku sakit saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut kakakku, walau dia bukan kakak kandungku.
"Fans?ehh iya lupa kalau aku hanya adik tirinya yang tak dianggap oleh keluarga Aditya bahkan semua orang" Batin Alin miris, hampir saja dia menitikkan air matanya.
"Ayok sayang! itu lampunya sudah berubah menjadi hijau, nanti kamu diomelin lagi sama pengemudi yang dibelakang" Ucap Kak Tusya pada pengemudi itu.
"Terimakasih mbak! kembaliannya ambil saja" Ucap pengemudi itu padaku yang masih mematung sebelum menutup kaca mobilnya dan memberikan selembar uang.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum simpul sembari menahan air mataku agar tidak jatuh di depan kak Tusya.
Degg
"Manis" Batin Cleon sembari membalas senyuman Alin.
Cleon menjalankan mobilnya meninggalkan Alin yang masih tetap mematung di pinggir jalan.
"Tidak seperti biasanya Tusya diam saja, biasanya juga setelah minta ditemani pemotretan, dia selalu ingin berbelanja" Batin Cleon.
"Sayang! penjual bunga yang tadi beneran cuman fans kamu?" Tanya Cleon pada Natusya dengan tatapan menyelidik.Karena setelah membeli bunga, Tusya diam mematung ditempat duduknya.
"I-iya sayang!" Jawab Tusya meyakinkan Cleon.
"Gak mampir belanja dulu?" Tanya Cleon lagi.
"Tidak usah sayang, aku sedang capek! tadikan pemotretannya beberapa produk" Alasan Tusya.
"Biasanya juga beberapa produk! tapi dia tidak pernah absen untuk berbelanja" Batin Cleon masih dengan menatap pacarnya.
"gara-gara anak bodoh itu Cleon jadi curiga padaku!" Batin Tusya kesal.
Tusya merasa gugup ditatap oleh Cleon seperti itu, bukan tatapan kagum tapi tatapan menelisik "Apakah kamu tidak percaya padaku?" Tanya Tusya.
"Percaya"ucap Cleon.
"Tapi aneh aja gitu" Lanjut Cleon membatin.
__ADS_1
"Sudahlah tidak usah memikirkan penjual bunga tidak penting itu!" Ucap Tusya supaya Cleon melupakan kejadian tadi.
"Ahh aku jadi memikirkan nya!" Batin Cleon teringat Alin sembari senyum simpul.
**
"Kak Seto ini pendapatan hari ini kak! sedikit, tidak banyak seperti kemarin" Ucapku menyerahkan beberapa lembar uang pada kak Seto.
Dia mengambilnya "Tidak apa-apa, mungkin besok akan lebih banyak" Jawabnya memberikan senyuman padaku.
"Mudah-mudahan" Timpalku membalas senyuman nya.
"Ini untukmu" Ucapnya memberikan selembar uang kertas padaku.
"Ini terlalu banyak kak!" Jawabku menolak uang yang diberikan kak Seto padaku.
"Tidak apa-apa! terimalah!" Ucapnya memberikan uang itu pada tanganku.
"Terimakasih kak!" Ucapku menerima uang itu lalu menyimpannya kedalam saku baju ku.
"Al?"
"Iya kak" Jawabku sembari sedikit menegakkan kepalaku karena kak Seto lebih tinggi daripada badanku.
"Apakah hari ini kamu sibuk?" Tanyanya padaku.
"Sedikit! setelah ini Alin pergi ke kafe Melorine lalu pulang sebentar untuk mengerjakan tugas kuliah yang belum Alin selesaikan dan bertemu dengan Dira" Paparku.
"Dira?" Ucapnya dengan raut wajah memikir.
"Adikku" Jawabku cepat.
"Adik tirimu?" Tanyanya.
Aku hanya menjawabnya dengan anggukan kecil.
"Ada apa ya kak? apakah ada urusan penting?" Tanyaku.
"Tidak, tidak jadi" Jawabnya sembari menggelengkan kepalanya.
"Yasudah kalau begitu Alin pamit ya kak!" Ucapku pergi dari tempat itu ketika sudah mendapatkan anggukan.
"Hebat! Tetap terlihat tenang meski tersimpan banyak beban dalam pikiran" Gumam kak Seto sembari melihat kepergian Alin.
KAFE MELORINE
"Alin, kamu akhirnya datang juga" Ucap Bu Daisy.
"Maaf bu, tadi Alin berjualan bunga dulu" Jawabku sembari memberikan senyuman padanya.
"Yasudah tidak apa-apa, tadinya ibu mau cari yang lain untuk menggantikan posisi mu, karena cucian sudah numpuk soalnya tadi banyak yang makan sama minum" Ucap Bu Daisy.
"Jangan bu! jangan ganti Alin ya bu, Alin akan mencucinya sekarang ya bu" Ucapku.
__ADS_1
bersambung~