
Aku menggeleng "Tidak Romi, aku akan membayarnya" Ucapku keukeuh.
"Sudahlah–"
"Aku akan membayarnya atau aku tidak mau menjadi sahabatmu lagi" Selaku mengancamnya, hanya dengan ancaman itu Romi tunduk padaku dan tidak bisa berkata-kata.
"Oke, oke, ancamanmu yang satu ini sangat ampuh bagiku" Finalnya mengiyakan ucapanku.
Aku terdiam, berfikir keras "Emm memangnya biayanya berapa?" Ucapku serius, mudah-mudahan saja tidak terlalu tinggi. Jika tinggi, dapat uang darimana aku untuk membayarnya? Menjual bunga? Mencuci piring? Ah kalian juga pasti suadh tahukan kira-kira berapa uang yang aku terima dari pekerjaanku ini. Ya pasti tidak akan cukup jika aku hanya mengandalkan dua pekerjaan itu, belum untuk aku makan, dan sebentar lagi akan ujian.
Romi tersenyum, entahlah tersenyum karena apa "Nanti saja ya, aku akan beritahu lain waktu. Sekarang aku lapar, ayo kita cari makan dulu!" Ucapnya mengalihkan pembicaraan. Tapi mungkin Romi benar juga, sekarang masih menunjukan pukul 9, kita tidak ada jadwal kuliah hari ini, dan tadi juga Romi bilang dia belum sempat makan.
Romi membantuku untuk berdiri "Janji ya," Aku menatapnya sembari menjulurkan jari kelingking di hadapannya sebelum melangkahkan kakiku.
Dia menatapku lalu menautkan kedua jari kelingking kami "Yes, i am promise!"
...***...
Kini aku dan Romi baru saja sampai di kantin yang ada di rumah sakit, aku duduk dengan perlahan lalu menaruh penyanggah kaki ku di samping kursi yang aku duduki. Sedangkan Romi duduk di hadapanku, posisi kami berhadapan, Romi bangun dari duduknya "Kamu mau makan apa? Minum apa?" Tanyanya padaku.
Aku yang sedang menaruh penyanggah kaki ku mengangkat kepala dan menatap ke arahnya yang lebih tinggi dariku, jelas saja posisiku duduk, dan Romi berdiri "Terserah kamu saja" Jawabku karena aku sendiri bingung akan memakan apa.
Romi tampak berfikir sejenak "Bagaimana kalau nasi goreng dan teh hangat?" Tanyanya.
Aku mengangguk kecil "Boleh"
Aku menatap punggung Romi yang semakin lama menjauh dariku, ia menghampiri warung kantin, dan berinteraksi dengan penjualnya. Aku hanya menunggunya di kursi sembari melihat sekitar, cukup ramai. Sampai mataku tertuju pada seorang pria yang sedang duduk di pojok kantin, aku menyipitkan mataku, melihat lebih jelas lagi. Aku mengenalnya.
"Sedang apa–" Gumamku.
__ADS_1
"Makanan datang tuan putri~" Romi datang membawa nampan yang berisikan 2 gelas teh hangat dan 2 piring nasi goreng.
Aku dengan refleks mendongak ke arahnya dengan sedikit terkejut. Tentu saja terkejut, karena tadi aku sedang memerhatikan ke arah lain dan Romi datang mengagetkanku.
Romi yang melihatku terkejut mengerutkan keningnya "Ada apa?" Tanyanya.
Aku menjawabnya dengan gelengan, lalu dengan segera aku arahkan lagi pandanganku menatap ke pojokan kantin. Nihil, aku tidak menemukannya. Aku berfikir keras, apakah benar?
"Dimakan dong Alina, atau mau aku suapi?" Lagi-lagi suara Romi membuatku kaget dan lamunanku buyar seketika. Aku menatap Romi yang mulutnya sudah terisi oleh nasi goreng.
Aku menggeleng pelan "Tidak usah, yang sakit kakiku bukan tanganku"
Aku memakan nasi goreng hangat yang tadi dipesankan oleh Romi, sesekali Romi mengajakku mengobrol dan aku hanya menjawabnya seperlunya saja. Bukankah berbicara ketika sedang makan itu tidak baik?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sebenarnya Alin agak kesusahan mengenai kondisinya saat ini, buktinya saat mandi Alin hampir terpeleset karena tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya.
Tok tokk..
Alin yang mendengar suara ketukan dari luar segera menyambar tas sekolahnya. Apakah itu Romi?
Alin segera memutar knop pintu dan membukanya.
Alin meneguk salivanya "Eh Bu?"
Seorang perempuan paruh baya itu menatapnya tajam dan malas "Iya saya, bayar sekarang juga! tidak ada kata bulan depan lagi! Saya sudah beberapa kali mentoleran kamu, dan sekarang sudah tidak ada toleransi lagi untukmu" Cerocos ibu itu dengan nada tidak bersahabat.
Alin hanya menatap dan mendengarkan kata-kata yang keluar dari mulut ibu tersebut.
__ADS_1
Ibu kost.
Alin memang menunggak dua bulan uang kontrakannya. Memang Dira memberinya uang waktu itu, tapi itu kan untuk membayar semua kebutuhan kuliahnya. Dan soal upahnya bekerja, Alin gunakan untuk kebutuhan sehari-harinya, Alin juga tabungkan pada celengan ayamnya dan yang sisanya Alin berikan pada panti asuhan.
Kenapa Alin menyumbangkan uangnya pada panti asuhan? Kenapa ia tidak tabungkan saja? Alasannya cukup simpel, Bundanya pernah berpesan, 'Sesulit apapun kamu, jangan lupa untuk berbagi, jangan takut miskin karena uangmu terbagi, yakinlah Allah akan menggantinya dengan yang lebih banyak'. Alasan yang cukup simpel bukan? Tapi sangat bermakna untuknya.
"I-iya bu, Alin bayar–"
"Jangan iya iya saja, saya tidak butuh kata iya dari kamu, saya hanya butuh janji kamu bulan lalu yang bilang akan membayarnya sekarang" Sela ibu kost dengan cepat dan menaikkan nada bicaranya.
"Ah, i-iya bu, Alin ambilkan dulu uangnya"
"Cepat, saya tidak punya banyak waktu"
Alin segera masuk ke dalam kamar kost nya dengan hati-hati, karena ia belum terbiasa menggunakan penyanggah kakinya.
Di dalam, Alin tampak binggung sendiri. Ia harus membayarnya dengan uang yang diberikan Dira atau dengan uang tabungannya? Semntara keduanya sangat penting untuk Alin, uang yang Dira berikan untuk membayar biaya semester, dan yang ada di dalam celengan, rencananya akan ia gunakan untuk membayarkan pada Romi.
Akhirnya Alin membuka lemari pakaian dan menyambar amplop coklat yang tertimbun beberapa pakaiannya. Ia membuka amplop itu, mengambil beberapa lembar uang yang berada di dalamnya.
"Ini Bu" Ucap Alin sembari memberikan dua lembar uang pada ibu kost.
Ibu kost itu segera merebut uang dari tangan Alin dengan kasar sampai keseimbangan Alin terguncang, tapi syukurlah ia bisa menyeimbangkan tubuhnya. Setelah merebut uang dari tangan Alin, ibu kost itu pergi begitu saja tanpa mengucap sepatah kata pun pada Alin.
Alin terdiam beberapa detik, ia mengerjapkan matanya beberapa kali lalu menutup pintu kostnya dan berjalan menuju kampus. Alin berangkat lebih awal dari sebelumnya, jadi ia tidak terlalu tergesa-gesa untuk segera sampai ke kampus, berjalan hati-hati menggunakan tongkat kakinya. Ia sempat beberapa kali akan jatuh karena Alin belum terbiasa memakai alat itu, ia kesusahan, apalagi hari ini ia membawa beberapa buku paket.
bersambung~
Hiya..I'm back guys!!~🍒
__ADS_1