
"Mas saya juga ya!" Timpal seorang perempuan di sampingnya
"Kak minta fotonya dong" Ucap seorang gadis muda, kira-kira umurnya 4 tahun dibawahku.
"Aduhh mas nya kok ganteng banget si, meskipun mukanya sedang bonyok gini mas tetap ganteng kok mas, tidak seperti suami saya yang mukanya tidak bonyok tapi tetap tidak ganteng! mudah mudahan anak saya kayak mas ya!" Ucap ibu-ibu gendut yang tengah berbadan dua sembari mencubit gemas dagu Romi, mungkin niatnya ingin mencubit pipinya Romi, tapi Romi lebih tinggi darinya.
Alhasil ia hanya bisa mencubit dagunya Romi berkali-kali. Disampingnya si ibu ada seorang pria yang umurnya sama dengannya. Apakah itu suaminya? Ah mungkin iya, karena raut muka pria itu sedang tidak bersahabat sekali. Mungkin ia sedang kesal karena istrinya membandingkan dirinya dengan pria lain tepat dihadapannya dan dihadapan orang banyak.
"Sayang, sudah fotonya dong, ingat kamu sedang mengandung" Ucap suami sang ibu berusaha untuk merayu istrinya yang masih asik berfoto-foto ria dengan Romi.
"Ah iya bu, tidak baik jika sedang mengandung terlalu lama berdiri, mendingan ibu membeli bunga dulu lalu pulang dan beristirahat" Timpal Romi.
Ibu itu mendengarkan perkataan Romi dengan baik lalu menjawabnya "Oke ganteng. Nak, ibu beli bunga mawar merah ya" Ucap sang ibu mengalihkan pandangannya kearahku.
Aku segera mengambil bunga mawar merah lalu memberikan nya kepada sang ibu, dan dia memberikan beberapa lembar Dollar kepadaku.
"Terimakasih bu" Ucapku sembari memberikan senyuman kepada nya.
"Sama-sama nak, semoga anak ibu bisa secantik dan seganteng kalian ya, kalian memang pasangan yang cocok!" Ucapnya kepadaku lalu keluar dari kerumunan orang-orang yang mengeroyoki Romi.
"Eh, bu saya–" Ucapanku terpotong karena sang ibu yang sudah keluar dari kerumunan.
"Mas saya juga ya!" Timpal seorang perempuan yang berada di samping sang ibu yang tengah berbadan dua tersebut.
"Mbak, saya beli bunganya ya, tapi izinkan saya berfoto dengan pacar mbak ya sebentar saja kok, saya janji mbak" Ucap seorang perempuan yang kira-kira seumuran denganku.
Aku sempat melongo dengan perkataan perempuan itu dan segera menyangkalnya
"Eh? Tapi–"
Belum sempat kuselesaikan perkataanku, Romi segelas menyela ucapanku "Tidak apa-apa mbak, pacar saya baik kok orangnya, dia ngak cemburuan"
Karena tidak sanggup dengan banyaknya orang yang meminta foto dengan Romi, aku memutuskan untuk menunggunya di kursi pinggiran kota yang tidak jauh dari kerumunan orang-orang.
Orang-orang kini berangsur pergi dan bunga-bunga jualanku juga berkurang dengan kepergian orang-orang yang mengeroyoki Romi.
__ADS_1
Entah apa yang dikatakan Romi pada mereka sehingga mereka membeli bungaku sampai habis. Padahal aku membawa bunga lebih banyak dari sebelumnya.
Sembari menunggu Romi yang sedang dimintai foto oleh orang-orang - seperti jumpa pers saja - aku melihat kendaraan yang berlalu lalang dihadapan ku.
"Wah bunganya kok ngilang? Kemana bunga-bunga nya? Sudah habis ya?" Tanyanya sembari melihat keranjang bungaku yang kosong.
Dengan refleks aku menengok ke arah sumber suara. Romi mendudukkan dirinya tepat di sebelah ku.
Aku tersenyum kearahnya "Iya, ini juga berkat kamu"
"Nggak juga"
"Kamu kan bantuin aku jualan. Sampai-sampai ada yang mengajak kamu foto karena kamu–" Aku menggantung kata-kata ku, hampir saja keceplosan.
"Kamu apa?" Tanyanya penasaran
Aku melihat kearahnya lalu menggeleng "Tidak jadi, lupakanlah" elakku.
"Ganteng? Ganteng kan? Iya kan? Come on Alina, mengakulah?" Ledek Romi sembari senyum-senyum kearahku.
"Iya iya, malu dilihat orang orang sekitar"
"Iya apa?" Tanyanya lagi meledekku sembari menarik turunkan alisnya.
Aku tersenyum lalu dengan segera menjawabnya "Ganteng"
"Siapa" Tanyanya lagi.
"Kamu"
"Aku kenapa?"
Aku sedikit memajukan bibirku lalu mendecak kesal "Ganteng!"
Dia tersenyum puas "Hah apa ngak kedengaran, bising banget kendaraan nya"
__ADS_1
"Ihh nyebelin ya ternyata kamu!" aku mendecak kesal lalu berjalan meninggalkan Romi yang masih berdiri dibelakang ku.
"Alina tunggu!!" Teriaknya lalu berjalan menyusulku. Percuma juga aku lari, dia pasti bisa menyusulku tanpa berlari, karena 5 langkah kakiku, sama dengan 2 langkah kakinya.
Kini kami telah sampai di toko Aster Floris, seperti biasa. Ku lihat kak Seto sedang melayani beberapa pembeli, aku dan Romi menunggu di kursi depan toko sembari menunggu pembelinya pergi.
Tak lama kemudian pembeli itu membuka pintu toko dan disusul dengan kedatangan kak Seto di belakangnya.
"Al?" Panggilnya.
Aku menoleh ke belakang, nampaklah seorang pria yang lebih tua dariku, tidak tua seberapa si, hanya berjarak 7 tahun dariku sedang tersenyum menatapku. Aku berdiri dan berjalan beberapa langkah ke arahnya.
"Maaf sudah membuatmu menunggu" Lanjutnya
"Tidak apa-apa kak!" Jawabku mengganguk.
Dia melihat kearah keranjang kecil yang ku tenteng di tangan kananku "Wahh Al, kamu hebat! Bunganya habis terjual loh. Padahal kamu membawanya lebih banyak dari sebelumnya kamu jualkan" Jawabnya sedikit kaget, karena baru kali ini aku menjualkan bunganya lebih banyak daripada yang kujualkan sebelumnya dan habis dalam waktu setengah hari.
Aku tersenyum dan menjawab nya "Alhamdulillah kak!"
Dia menatap ke arah belakang ku lalu menatap ke arahku "Dia siapa?" Tanyanya.
Aku menoleh kebelakang -ah aku lupa mengenalkannya- "Ah iya aku lupa mengenalkan nya, kenalkan dia Romi teman kampusku, dan Romi kenalkan ini kak Seto penjaga Aster Floris yang sudah kuanggap sebagai kakak ku!" Ucapku melihat Romi dan kak Seto bergantian
Romi mendengarkan penjelasan ku lalu tersenyum ke arah kak Seto dan menjulurkan tangannya "Romi" Ucap Romi memperkenalkan dirinya.
Begitupun dengan kak Seto, dia tersenyum lalu membalas uluran tangan Romi dan menjabatnya "Seto"
"Bunganya laku karena Romi kak! Banyak yang membeli bunga karena meminta foto bersamanya" Ucapku.
"Terimakasih ya" Ucap kak Seto pada Romi dengan iringan senyum di bibirnya.
"Sama-sama kak!" Jawab Romi.
Kini kami -aku dan Romi- sedang berada di dalam supermarket dekat dengan toko Aster, aku sengaja mengajak Romi mampir ke supermarket untuk membeli makanan dan minuman karena sejak tadi kita belum memakan ataupun minum. Aku membeli minuman kaleng, eskrim dan makanan cepat saji untuk kumakan dirumah nanti, dan romi membeli es krim serupa denganku dan beberapa cemilan. Aku yang membayarnya.
__ADS_1
Awalnya Romi menolak, tapi aku memaksanya dan mengancamnya jika dia tidak mau, maka dia jangan temui aku lagi. Hahaa mungkin sedikit berlebihan, meskipun hanya candaan. Tapi kata itu membuat Romi bungkam dan pasrah membiarkan aku membayar semuanya.
bersambung~