
Mark menjauh meninggalkan Alin yang duduk di kursi pinggiran kota dengan topi yang menutupi kepalanya. Ketika sedang ditengah perjalanan menuju ke supermarket untuk membeli minuman ponselnya bergetar.
Drrt drrtt..
Mark menghentikan langkahnya ketika ponsel bergetar yang berasal dari saku celananya. Mengambilnya lalu menggeser icon hijau untuk menjawabnya.
"Bagaimana?" Ucap seorang di balik telepon.
"Saya belum mendapatkan informasi apapun darinya tuan, bukankah terlalu mencurigakan jika aku langsung bertanya tentangnya, sedangkan kita baru beberapa jam bertemu" Jelas Mark panjang lebar. Tidak ada jawaban apapun dari tuannya selama beberapa detik. Mark melihat layar telepon, sambungan teleponnya belum terputus, tapi dia tidak mendapat jawaban apapun dari tuannya.
Alhasil, Mark juga ikut terdiam ditempatnya, jika Mark mematikan telepon nya, itu tidak sopan. Bahkan sangat tidak sopan "Tuan?" Tanya Mark ketika tidak ada jawaban apapun dari tuannya sejak tadi.
"Baiklah terserah kau saja" Final Cleon, Mark memasukan teleponnya ke dalam saku celananya setelah sambungan dimatikan oleh Cleon. Berjalan lagi ke tempat tujuannya yaitu membeli minum untuk Alin dan dirinya.
Sementara di bangku pinggiran kota, tampak seorang perempuan duduk dengan pandangan tertunduk, ia mengangkat kepalanya lalu menelisik lingkungan sekitar "Huh panas sekali, lebih baik aku meneduh di pohon seberang saja" Gumamnya sembari menatap pohon rindang yang berada di sebrang jalan.
Gadis itu berdiri lalu mengambil 2 keranjang bunga, ia jinjing di lengan kanan dan kirinya. Maju satu langkah dan sedetik kemudian dia berhenti, seperti ada yang dipikirkannya sehingga membuatnya tidak melangkah untuk langkahan yang kedua "Eh tapi, Mark mencariku jika aku tidak ada di tempat sebelumnya" Alin menggumam, lalu mundur satu langkah, dan tampak berfikir.
"Aku bisa melambaikan tanganku atau aku bisa langsung menghampirinya ketika dia kebingungan mencariku. Ya, sebaiknya aku berteduh untuk beberapa menit kedepan" Ucapnya yakin, lalu berjalan beberapa langkah kedepan dan merentangkan satu tangannya supaya ia bisa menyebrang, ketika ditengah jalan, angin cukup besar datang, dan topi yang ia kenakan terbang ke dekalang
"Oh topinya!" Pandangan beralih mengikuti topi milik Mark yang terbang ke arah belakang, seketika konsentrasi menyebrang jalanan yang ramai dan terik hilang.
"Alina awaaasss!!!"
TIIINNN!!
"Ahhhhhh"
BRAKKK!!
**
__ADS_1
Di ruangan VIP rumah sakit, seorang gadis sedang berbaring di bangsal rumah sakit yang berukuran sedang dengan mata terpejam dan kaki kanannya di gips.
Di kursi, samping bangsal pasien, seorang laki-laki yang sedang duduk sembari memegang satu tangan pasien dengan menggunakan kedua tangannya.
"Alina, ku mohon sadarlah..." Romi menundukkan kepalanya tapi tangannya tidak terlepas dari tangan Alin, entah berapa kali Romi mengucapkan kata itu.
Mata Alin bergerak tapi masih dengan kondisi tertutup, bau obat-obatan khas rumah sakit menusuk indra penciumannya, membuka matanya perlahan. Matanya menelusuri setiap sudut ruangan itu.
"Aku dimana" Lirihnya dengan suara lemas.
Romi yang mendengar suara lirihan seseorang dengan refleks mengangkat kepalanya "Ahh, syukurlah kau sudah sadar" Ia menghembuskan nafasnya lega melihat Alin dengan mata terbuka.
Alin mengarahkan pandangannya ke sumber suara, dilihatnya Romi sedang di sampingnya sembari memegangi tangannya dan matanya sedikit sembab, beberapa bagian wajahnya juga memerah.
"Apakah ini di rumah sakit?" Tanya Alin sembari mencoba untuk bangkit, tapi ada yang tidak enak pada bagian bawah nya. Ia melihat ke arah kakinya.
"I-ini, ka-kaki ku kenapa? Kenapa memakai ini? Ada apa dengan kakiku? Kenapa tidak bisa digerakkan?" Alin panik ketika kakinya di gips dan susah untuk digerakkan.
Alin membiarkan Romi membantunya untuk terduduk, ia segera melihat ke arah Romi "Kenapa dengan kakiku?" Tanyanya cemas sembari mengguncangkan tangan kanan Romi.
Romi melihat ke arah Alin yang terus mengguncangkan tangan nya dengan melontarkan berbagai pertanyaan "Tadi kamu tertabrak motor, dan..." Romi menghela nafas, "Kakimu mengalami patah tulang" Lanjutnya.
Alin terkejut, "P-patah tulang?" Ia mengulangi kembali perkataan yang diucapkan Romi dengan gugup dan sedikit tidak percaya.
Romi hanya mengangguk sebagai jawaban. Alin mengalihkan pandangan pada kakinya lagi, menunduk dan menutupi wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya. Kini tubuhnya mulai bergetar.
Romi segera memeluknya dari samping, menenggelamkan wajah Alin pada dada bidangnya "Kenapa bisa terjadi ya tuhan...ke-kenapa padaku, kenapa–" Ucapnya di pelukan Romi sembari sesenggukan.
Romi mengsela ucapan Alin "Sstttt...jangan menyalahkan tuhan, tuhan tidak salah" Ucapnya sembari mengelus rambut Alin.
Alin hanya mendengarkan perkataan Romi, dia masih menangis, benar juga apa yang Romi katakan, jangan menyalahkan tuhan, tuhan tidak salah.
__ADS_1
"Apakah aku yang salah?" Tanya Alin dalam dekapan tubuh kekar Romi.
Romi menggeleng walau tidak dilihat oleh Alin "Kamu juga tidak salah. Ini adalah takdir, ikuti saja scenario yang Tuhan berikan untukmu, yakinlah ada kebahagiaan di balik semua ini" Jelasnya membuat tangis Alin sedikit demi sedikit membaik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sebuah meja makan yang telah dikelilingi oleh makanan dan orang-orang yang sedang memakannya. Seorang pria melahap sarapan paginya dengan buru-buru, ia bahkan hanya memakan satu potong roti dengan selai kacang dan segelas susu. Pria itu berdiri dari kursinya sembari menggalungkan tas di punggungnya.
"Loh kok buru-buru sekali sayang?" Tanya perempuan paruh baya tapi masih terlihat cantik.
Romi mengarahkan pandangannya ke depan, menatap sang ibu yang juga sedang menatapnya "Sebenarnya pelajaran akan dimulai satu jam lagi, tapi–"
"Mau mengunjungi kekasihnya dulu bunda" Sela seorang anak lelaki yang lebih muda darinya.
Romi mengalihkan pandangannya pada anak lelaki yang sedang menyantap sarapannya "Eh? Tidak bunda, Harland jaga bicaramu!" Mengarahkan pandangan bergantian, pada bundanya lalu pada sang adik.
"Lalu?" Tanya sang adik sembari mengangkat wajahnya menatap wajah sang kakak yang lebih tinggi darinya.
Romi gugup, entah apa yang harus dikatakan pada kedua orangtuanya dan adik nya "I-itu, jadi temanku ada yang sakit, dan aku ingin menjenguknya sebelum berangkat bunda" Jawabnya menatap orang-orang di hadapan dan disampingnya secara bergantian.
"Perempuan kan?" Tanya Herland lagi.
Romi menghela nafas, mendengus kesal dengan perkataan sang adik yang seolah-olah memojokkan dirinya "Jangan berfikir macam-macam" Sarkasnya.
Herland mengambil segelas susu yang berada didepannya, meneguknya dan menyimpannya kembali "Tapi perempuan kan?" Tanya Herland lagi sembari menatap wajah Romi.
Mengambil nafas dalam-dalam dan membuangnya secara –tidak kasar, tapi pelan. Karena dihadapannya ada sang ayah yang sangat menjunjung tinggi sopan-santun "I-iya perempuan, tapi itu bukan kekasihku" Ucap Romi.
Harland mencebikan bibirnya "Tapi calon kekasih"
"Harland!" Rupanya adiknya sangat memojokkannya sekarang, adiknya yang memiliki sifat cuek dan dingin, apalagi kata-katanya yang selalu membuat orang Ter-skak mat dan bungkam seketika. Sangat berbanding terbalik dengan nya.
__ADS_1
bersambung~