Be Strong Girl

Be Strong Girl
Chapter 8


__ADS_3

Kini aku berjalan pulang ke kontrakan ku untuk mengerjakan tugas kuliah yang belum aku selesaikan.Kini tubuhku sudah membaik, badanku tidak terasa lemas lagi, aku tidak lagi merasakan sakit dikepalaku.Aku menenteng Paper Bag di tangan kananku karena kresek pemberian Bu Daisy yang ternyata isinya adalah nasi goreng sudah kumakan habis dan kreseknya ku buang kedalam tempat sampah.


Dari kejauhan ku lihat seorang nenek sedang berdiri di samping zebra cross, rupanya ia ingin menyeberang tapi lalu lalang kendaraan sedang ramai-ramainya.Nenek itu terus berdiri menunggu lampu lalulintas berwarna merah sembari sesekali meremas perutnya, entahlah apa yang terjadi pada perutnya.


Aku berjalan menghampiri nenek itu "Nek, nenek mau menyebrang ya?" Tanyaku dengan suara keras supaya nenek itu bisa mendengarku karena suara bising kendaraan didepanku sangat menggangu.


Nenek itu menengok padaku "Iya nak, tapi kendaraan nya sangat ramai" Jawab nenek itu dengan suara yang sudah lemah, untungnya aku masih bisa mendengar suaranya, kira-kira umur nenek itu sekitar 60 tahunan.


"Saya temani ya nek" Ucapku menawarkan diriku untuk menemani di sampingnya.


Tak lama kemudian lampu lalulintas berwarna merah, aku menuntun nenek berjalan di garis berwarna putih dan hitam.Tangan kananku memegang bahu kiri nenek itu dan tangan kiri ku menstop kendaraan yang tepat berjajar rapi disampingku membentuk seperti orang yang menghadang✋lebih tepatnya aku meminta jalan pada mereka, takutnya lampu lalulintas berubah warna karena nenek berjalan dengan sangat lambat, harus kumaklumi karena umurnya sudah lanjut dan pasti tenaganya juga sudah tidak sekuat dahulu.


Kini kita - aku dan nenek - sudah berhasil membelah ramainya kendaraan, tentunya dengan bantuan lampu merah.


Kumelihat nenek itu meremas kuat perutnya lagi "Nenek sakit?" Tanyaku.


Nenek menganggukan kepalanya "Nenek belum makan dari kemarin nak" Jawabnya masih dengan meremas perutnya.


"Hah!" Pekik ku dengan wajah yang terkejut dan mulut terbuka lebar.


"Memangnya anak nenek kemana?"


"Nenek tidak mempunyai anak–" Jawabnya.


"Ceritanya sembari duduk ya nek" Aku memotong perkataannya yang belum terselesaikan dan menggiring nenek itu untuk duduk di kursi pinggiran kota.


"Tunggu sebentar disini ya nek!" Aku berjalan meninggalkan nenek yang masih duduk di kursi pinggiran kota.

__ADS_1


Aku mencari warung makan yang dipinggiran, tapi aku tidak menemukannya.Tidak ada pilihan lain aku masuk kedalam rumah makan yang tidak terlalu besar "Bu nasi putih lauknya ikan, tempe, tahu, dan telur ya bu" Ucapku pada penjualnya.


Lalu ibu itu segera mengambil yang aku sebutkan tadi.


Beberapa saat kemudian ibu itu memberikan satu kresek berwarna hitam kepadaku "jadi berapa bu?" Tanyaku sembari mengambil alih kresek dari tangannya.


"Tiga puluh lima ribu"jawabnya.


Lalu aku mengambil uang dari saku bajuku dan memberikan beberapa lembar uang pada ibu penjualnya.


"Terimakasih" Ucapku sembari berjalan meninggalkan rumah makan itu.


Jujur, aku belum pernah masuk dan membeli makanan di rumah makan, karena aku tahu pasti harganya lebih mahal daripada yang dijual di warung pinggiran.Mengingat nenek tadi yang katanya belum makan dari kemarin, mau tidak mau aku harus masuk ke dalam rumah makan karena tidak ada penjual makanan dipinggiran.Mungkin jika aku mencarinya pasti menemukannya, tapi itu membutuhkan waktu yang lama untuk berjalan menyusuri pinggiran kota dan nenek bisa saja mati kelaparan.Untung aku mendapatkan uang tambahan dari Bu Daisy tadi, dan aku tidak harus membeli makanan cepat saji di supermarket karena Bu Daisy memberikan ku nasi goreng.


Aku berlari-lari kecil untuk segera menemui nenek itu dan memberikan makanan padanya, aku tahu pasti ia sedang menahan betapa sakit dan perih perutnya karena tidak diberi asupan sejak kemarin.Bayangkan saja 'Tidak makan dari kemarin' - ah sudahlah aku tidak bisa membayangkannya.


Nenek itu mendengak menatap ke arahku, lalu dia mengambil kresek yang ada di tanganku.Dia membuka kresek itu dan mengambil bungkusan yang ada didalamnya.Aku duduk di sampingnya, aku melihatnya yang sedang melahap makanan dengan rakus, wajahnya yang sudah berkerut, pipinya yang sudah mengempes, dan rambut yang sudah beruban-lebih tepatnya seluruh rambutnya- aku menangkap ekspresi wajah nenek itu seperti senang.


"Aku saja yang tidak makan setengah hari bisa pingsan dua kali, tapi nenek dari kemarin tidak makan mukanya tidak pucat dan pingsan-entahlah aku tidak tahu, bisa saja dia sudah pingsan sebelum bertemu denganku.Mungkinkah karena aku memiliki penyakit mag?" Batinku menatap sang nenek yang sedang melahap makanan yang aku berikan.


"Nek tunggu sebentar ya" Aku berdiri dan berjalan beberapa kaki untuk membeli minuman.


"Air mineral satu dek" Ucapku pada anak-anak yang menjualnya.


"5000 kak" Ucapnya memberikan satu botol air mineral padaku.


Aku menerima botol mineral darinya dan memberikan lembaran uang padanya "Kembaliannya ambil saja ya" Ucapku.

__ADS_1


"Terimakasih banyak kak" Jawabnya dengan begitu girang.


"Ini nek, minum dulu" Ucapku pada nenek itu, makanannya sudah habis, bahkan sangat bersih, nenek memakannya sampai ada yang tersisa lauk pauk ataupun nasinya.


Nenek mengambil botol mineral dariku dan meminumnya, aku tersenyum melihatnya.


"Terimakasih banyak ya nak!semoga kamu sehat selalu, dilancarkan rezeki dan urusannya, menjadi orang yang sukses, mendapatkan jodoh yang baik, dan bisa membanggakan kedua orangtuamu" Ucapnya memberikan banyak doa-doa yang baik kepadaku.


Entah mengapa doa yang terakhir diucapkannya seperti menancap dihatiku, dadaku sesak ketika mendengarnya mengucapkan kalimat 'membanggakan kedua orangtuamu'


"Orang tuaku saja tidak menganggap aku ada"batinku miris.


Tak terasa buliran cairan bening membasahi pipiku, sangat sakit mengingat perlakuan papah terhadapku.Aku ingin disayang layaknya seorang anak pada umumnya, papah tidak seperti ayah diluaran sana yang sangat menyayangi anaknya.Dari dulu aku hanya ingin satu kata keluar dari mulut papah, hanya satu kata 'Bangga'.Sejak kecil sampai sekarang hanya kata itu yang kuharap kan keluar dari mulut papah, bukan kata-kata kasar yang dilontarkannya, bukan kata-kata yang selalu membuat hatiku sakit, bahkan kata-katanya yang mematahkan semangatku dan membuatku hancur.


"Nak, kamu kenapa? kok menangis?" Tanya nenek itu khawatir padaku.


Aku tersadar bahwa aku sedang menangis dihadapannya "A-aku tidak apa-apa nek! aku hanya terharu mendengarkan doa-doa yang dilontarkan nenek" Jawabku berbohong.


Dengan segera ku hapus cairan bening yang sudah membasahi pipiku sampai ke daguku.


"Oh iya nek, ini untuk nenek saja ya!" Aku berjongkok dan melepas sendal yang kupakai dan memakaikan sendalku pada kaki nenek.


"Jangan nak! nanti kamu kepanasan, jalanan Sydney sedang panas-panasnya" Ucapnya menolak sembari ingin mencopot sendal yang aku berikan padanya.


Aku menahan tangan nenek itu untuk melepaskan sendal yang sudah kukenakan padanya "Tidak apa-apa nek, aku bisa membelinya lagi" Jawabku dengan tersenyum.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2