Be Strong Girl

Be Strong Girl
Chapter 21


__ADS_3

Sejak berkuliah sikap Alan berbeda, berbeda sekali. Kemana Alan yang selama ini selalu menghiburnya ketika sedang sedih? Memberinya semangat? Menjaganya? Memperhatikannya ketika belum makan? Itu tidak ada dalam diri seorang Alan sekarang. Tutur katanya berubah, sikapnya berubah menjadi angkuh dan dingin, tidak seperti dulu. Alan yang friendly, humble, penyayang, dan senyum yang tak pernah pudar dibibirnya.


Kembali ke papahnya Millen.


London, Inggris


Di sebuah ruangan dengan ukuran sangat besar, tampak pria tidak muda dan tidak terlalu tua duduk di kursi kebesarannya dengan berkas-berkas yang ada dihadapannya, tepatnya tergeletak di meja.


Duduk berfikir lalu menyatukan kesepuluh jarinya setelah menerima telepon dari anaknya yang sedang menuntut ilmu di Aussie.


"Kisah percintaan mu rumit nak!" Gumam Harper yang merupakan papah dari Melanie.


Ia menghela nafasnya lalu mengambil telepon yang tak jauh darinya. Memencet kontak 'Alpert jenkins' lalu melakukan sambungan telepon Internasional.


Tak lama kemudian, panggilannya tersambung.


"Halo Harper? Ada apa?" Ucap seorang di sebrang telepon setelah sambungannya terhubung.


"Alpert apakah kau sedang sibuk?" Tanya Harper. Ya, Harper tau jika temannya itu hanya memiliki sebentar waktu untuk bercakap-cakap karena kesibukan di dunia bisnis.


"Tidak, ada apa? Sepertinya serius ya?" Tanya Alpert.


"Tidak juga. Mengenai Millen" Jawab Harper to the point.


"Ah Millen, aku jadi kangen dengan gadis cantik itu! Bagaimana kabarnya Millen?" Ucap Alpert antusias dengan kata Millen, gadis perempuan yang sangat menggemaskan baginya. Wajar saja, karena Alpert tidak memiliki anak perempuan.


"Millen baik-baik saja, tapi hatinya yang tidak baik"


"Alan?" Tanya Alpert yang sudah tau penyebabnya.


"Ya, Alan! Anakmu yang satu itu" Jawab Harper.


"Sudah kuduga!"


"Alan selalu menolak perasaan Millen mentah-mentah tanpa mencobanya terlebih dahulu" Jelas Harper pada Alpert melalui sambungan telepon.


"E-e kalau begitu maafkan Alan ya! Ah aku jadi tidak enak denganmu! Dari dulu aku selalu membujuknya untuk menerima Millen, tapi dia tidak mau mendengarkan ku sama sekali" Jawab Alpert agak sungkan.


"Alan yang sekarang berbeda" Ucap Harper.


Alpert menghela nafasnya lalu berbicara "Ya, akupun merasakannya! Entah karena hal apa yang berhasil mengubah kepribadiannya, akupun tidak tahu, dia tidak menceritakan apapun padaku. Setelah lulus SMA dia tertutup denganku, sangat tertutup. Bahkan dengan Luna (mamahnya Alan) pun sama, dia tidak menceritakan hal apapun dengan ibunya, berbeda dengan Alan dulu yang selalu terbuka dengan kedua orangtuanya" Jelas Alpert panjang lebar mengenai anak laki-laki nya itu.


"Kuharap perasaan Millen tidak bertepuk sebelah tangan" Ucap Harper.


"Ku harap juga begitu, nanti akan aku coba bicarakan dengan Alan" Final Alpert.

__ADS_1


"Baiklah terimakasih banyak Alpert! Itu saja yang aku ingin katakan" Ucap Harper.


"Hanya itu saja?" Tanya Alpert.


"Ya, memangnya apalagi yang harus kukatakan padamu?" Tanya Harper dengan wajah binggung.


"Tidakkah kamu ingin berlibur ke Jerman?" Tanya Alpert.


"Lain waktu saja, pekerjaan ku masih banyak" Jelas Harper


"Oh oke, jangan lupa kabarkan aku jika kau ingin ke Jerman, pintu rumahku terbuka untukmu" Final Alpert.


"Terimakasih atas waktunya"


"Sama-sama"


FLASHBACK END


Alan tampak frustasi, dia mencoba memejamkan kedua matanya untuk menghilangkan rasa pusing di kepala karena ulah papahnya yang meminta Millen untuk - ah, sudahlah.


Bagaimana bisa orang tuanya memaksanya untuk menerima cinta Millen dengan begitu mudah, sedangkan ia tidak memiliki perasaan apapun pada Millen, ia hanya menganggap Millen selama ini sebagai sahabatnya. Tidak lebih.


Bisa saja Alan menerima cinta Millen tanpa membalasnya, hanya sekedar untuk membuatnya bahagia. Tapi, bukankah perasaan itu tidak boleh dipermainkan?


Hal yang dipegang teguh Alan sampai sekarang adalah dia tidak ingin berpacaran lebih dari satu dan begitupun dengan pernikahan, ia ingin menikah bersama wanita yang ia cintai, tidak dengan terpaksa atau dengan paksaan.


Sebenarnya ia tidak meninggalkan Alin di toilet, ia pergi ke kantin membeli sampo untuk Alin. Tapi, setelah ia kembali ke toilet, ia tidak menemukan gadis itu. Dan ia belum sempat bertanya kepadanya.


Ah sial, kenapa aku jadi memikirkan gadis bodoh itu.


Menggelengkan kepalanya beberapa kali


"Dasar gadis bodoh! Kenapa dia melintas di pikiranku!" Ucap Alan sembari memukul-mukul kepalanya kecil.


Kalau keras, sakit juga kan si Alannya.


Memejamkan matanya lagi dan beberapa menit kemudian Alan telah sampai di alam mimpi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di Apartemen, seorang boss sedang bercakap-cakap dengan bawahan kepercayaan nya.


"Memecahkan beberapa telur di kepalanya dan menaburkan terigu di atas kepalanya" Jelas bawahannya yang rupanya sedang menceritakan informasi yang ia dapat pada tuannya.


"Siapa yang melakukannya?" Tanya tuannya yang sedang membelakangi nya tanpa menatap ke arahnya.

__ADS_1


"Melanie dan Naraya, mahasiswi yang selalu membully nya ketika di kampus. Anak dari pak Harper petinggi perusahaan ***** di London dan dia juga memiliki perusahaan di Jerman" Jelasnya lagi


"Belakangan ini Alina memiliki seorang teman laki-laki bernama Romi–"


"Siapa Romi?" Sela Cleon cepat dan membalik menghadap Mark.


"Saya tidak tahu tuan, identitas disembunyikan. Yang saya tahu Romi adalah mahasiswa pindahan dari Korea karena mengikuti ayahnya yang harus menjalankan perusahaan yang berada di Aussie. Ia sangat dekat dengan Alina, kemarin saya mengikutinya dan dia berjualan bunga bersama Alina" Jelas Mark lagi.


"Cari tahu tentangnya, menyamar lah menjadi penjual bunga Mark!" Ucap Cleon pada Mark.


Mark menganggukan kepalanya lalu membungkuk dan berbalik "Baik tuan, saya permisi"


Melihat Mark yang sudah tidak ada dihadapannya, dan ia masih mematung di tempatnya.


"Entahlah Alina, mengapa saya bisa tertarik denganmu. Senyumanmu seakan candu bagiku, aku tidak sabar untuk bertemu denganmu lagi" Gumamnya dengan seulas senyuman menghiasi wajahnya.


Kringg..


Suara telepon seluler nya berbunyi membuyarkan lamunannya yang sedang membayangkan wajah Alin yang sedang tersenyum manis.


Berjalan beberapa langkah untuk mengambil telepon seluler nya yang tergeletak di tepi kasur.


Mendecak malas karena melihat siapa yang menghubungi nya, siapa lagi kalau bukan pacar manjanya.


"Halo sayang!" Sapa orang di sebrang telepon.


"Ada apa?" Jawab Cleon malas.


"Bisa temani aku berbelanja tidak?" -Tusya


"Tidak bisa, aku sedang sibuk di kantor" -Cleon


"Tadi aku ke kantormu dan kamu tidak ada di sana" -Tusya.


Huft sial,


Menghembuskan nafasnya dengan kasar karena ia ketahuan berbohong oleh kekasihnya "20 menit lagi aku sampai" Finalnya.


"Aku tunggu, bye sayang!"


Menutup sambungan teleponnya sembari mendecak malas lalu menyambar kunci mobil dan keluar dari apartemen.


Mobil Alphard miliki Cleon melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan Sydney yang tidak terlalu ramai saat itu. Mengemudikan mobil tanpa ekspresi diwajahnya.


Perlahan, ekspresi di wajah Cleon berubah. Benar-benar berubah dari beberapa detik yang lalu. Seperti mengingat sesuatu.

__ADS_1


bersambung~


__ADS_2