Be Strong Girl

Be Strong Girl
Chapter 16


__ADS_3

Apakah ada dosen yang masuk? Ah, rasanya sangat tidak mungkin. Biasanya juga setiap dosen memasuki kelas tidak ada satupun siswa ataupun siswi yang bersuara, bahkan mereka selalu tertidur dengan buku yang menutup kepalanya ketika dosen menjelaskan pelajaran. Ada apa ini?


Begitulah kira-kira pertanyaan demi pertanyaan yang muncul dibenaknya. Hingga mahasiswa yang ia kenal muncul dari kerumunan orang-orang yang ada di sana.


"Alan?" Gumamnya sembari mengerutkan keningnya.


Alan berjalan ke arahku sampai akhirnya dia berada di depan mejaku, duduk di kursi yang tepat ada di hadapanku. Lalu memajukan wajahnya dan mentapku.


Aku kaget dengan pergerakan selanjutnya yang tiba-tiba memajukan wajahnya kewajahku. Dengan segera ku jauhkan wajahku darinya. Tersenyum menyeringai kearahku tanpa melepas tatapannya padaku, aku menelan saliva dengan susah payah. Senyumannya membuat bulu kuduk ku berdiri dan sialnya membuatku ketakutan setengah mati.


"Kenapa mundur? Takut gue cium Lo kan?" Tanyanya sembari memainkan alisnya.


Blusssss


Seketika tubuhku membeku ditempat, ucapan selanjutnya membuatku terhenyak "Eh? A-apa? Tadi dia bilang apa? Ci-cium? " Batinku masih menatapnya dengan tatapan takut.


"Kenapa dengan wajahku? Apa ada? Mengapa rasanya panas? " Lanjut batinku. Memundurkan lagi wajahku berusaha menjauhkan wajah ku dengan Alan.


"Kenapa pipi Lo merah? Malu? Seperti kepiting rebus saja!" Ucapan Alan selanjuty membuatku tersadar dan–


Buagghhhh


Sebelum aku mengalihkan pandanganku, tiba-tiba satu tonjokan yang entah datang dari mana mendarat di pipi Alan. Aku kaget melihatnya. Dengan segera ku alihkan pandanganku dari Alan dan menatap ke arah siapa yang menonjoknya.


"R-romi"


"Kau tidak apa-apa? Apakah dia melukaimu?" Tanyanya sembari menelisik setiap inci di mukaku.

__ADS_1


"A-aku ti–"


"Katakanlah! Jangan takut Alina!" Tekan Romi masih dengan menelisik tubuhku.


Aku segera menggelengkan keukeuh kepalaku. Pandangannya beralih pada Alan, aku pun mengikuti arah pandangnya. "Kau apakan dia hah?!" Tekan Romi sembari menarik kerah baju Alan dan membawanya berdiri.


"Lo bisa lihat kan pacar Lo gak luka? Kenapa nanya ke gue? Oh gue lupa kalau Lo gak punya mata!" Jawab Alan berdiri dari duduknya sembari memegangi bibirnya yang mengeluarkan darah lalu mengusapnya perlahan.


"Bajingan!"


Buagghhhh


Romi kembali menghajar Alan sampai Alan mundur beberapa langkah kebelakang. Bibirnya terus mengeluarkan darah. Mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah lalu berjalan maju beberapa langkah.


Buagghhhh


Kali ini pukulan bukan datang dari Romi, melainkan dari Alan. Dengan sekuat tenaga dia menonjok wajah Romi sembari memegang sudut pipinya yang terluka.


Aku takut jika mereka belum menghentikan pertengkaran nya, ada salah satu dosen yang melihat, sudah tau kan akibatnya jika ada dosen yang melihat melihat mereka berdua bertengkar? Ya, mereka akan masuk Bk. Ruangan yang sangat ditakutkan oleh mahasiswa dan mahasiswi di kampus Zervard.


Aku berdiri dari kursi ku dan menerobos lingkaran orang yang mengerubungi mereka - Alan dan Romi yang sedang bertengkar - Mereka mengerubungi mereka berdua seperti tontonan tinju sungguhan.


Gila, sungguh gila, mereka semua gila!! Ah kepalaku pusing melihatnya.


"Cukup!! Tolong hentikan!!" Ku kerahkan semua tenagaku untuk berteriak. Baru pertama kalinya aku berteriak sekencang. Tapi mereka masih melanjutkan aksi tinju-meninju itu tanpa mendengar teriakanku atau menoleh ke arahku. Apalagi suara mahasiswa dan mahasiswi di kelas ini sangat sangat bising, mereka mendukung perkelahian antara Romi dan Alan. Ada yang mendukung Alan, ada juga yang mendukung Romi. Meskipun suara itu lebih banyak mendukung Alan, sudah pastinya dari para penggemar ceweknya.


"Tolong dengarkan aku Romi! Hentikan!!!" Teriakku lagi.

__ADS_1


"Berisik!! Lihatlah pertarungan ini sangat seru! Baru kali ini ada orang yang berani melawan Alan selain Arkan" Sarkas mahasiswi yang ada di sebelahku.


Arkan, rival Alan. Mahasiswa yang tak kalah gantengnya dengan Alan, bisa dibilang 11 12 dengan Alan. Di segani oleh mahasiswi karena sejuta pesonanya. Selalu ribut dengan Alan, entahlah karena masalah apa mereka selalu baku hantam. Aku tidak mengetahui terlalu dalam tentang mereka berdua, karena aku tidak dekat dengan Arkan, dan Arkan tidak pernah mengganggu ku seperti Alan. Aku hanya mengetahui - eh tidak, bahkan semua warga Zervard sudah tau dan tidak heran ketika mendengarnya - Jika Arkan terluka dan memar pasti ulah Alan. Dan juga sebaliknya, jika Alan luka atau memar itu sudah pasti ulah Arkan.


"Ada apa ini!" Suara bariton seseorang membuat semua yang berada di kelas itu refleks menoleh. Disana berdiri seorang laki-laki memegang beberapa buku di tangannya seraya menatap tajam ke arah depan. Romi dan Alan segera menghentikan baku hantam nya lalu menatap ke sumber suara.


Sial, sungguh sial. Apa yang aku khawatirkan terjadi. Pak Robert, dosen killer di kampus Zervard. Sebelum pak Robert datang ke kampus Zervard, tidak ada hukuman apapun yang diberikan kampus untuk anak anak nakal yang sering ribut dan tidak mentaati peraturan sekolah.


Tapi berbeda ceritanya sejak pak Robert datang dan mengajar di Universitas Zervard. Ia tak segan-segan untuk menghukum semua siswa yang berulah, tidak memandang siapa orang tua siswa tersebut. Semuanya sama di mata pak Robert.


Semua terdiam, sunyi, kaku, membeku, dan menundukkan kepalanya menatap sepatu mereka masing-masing - tidak termasuk Romi dan Alan.


"Ada apa ini Alan?! Kamu membuat masalah apalagi di sini!!" Tanya pak Robert menatap tajam ke arah Alan dengan dinginnya.


Ya, pak Robert sudah mengenali Alan. Tentunya karena Alan sering keluar masuk ruangan BK dengan kasus yang sama. Baku hantam.


Alan masih memandang pak Robert dengan diam sembari memegang pipinya yang membiru dan sudut sudut bibirnya yang berdarah, begitu juga dengan Romi "Ck, dia duluan pak yang memulainya" Jawab Alan sembari mengendikan dagunya ke arah Romi.


"Bubar semuanya! Kembali ke tempat masing-masing! Pelajaran akan segera dimulai!" Ucap pak Robert dengan kepada siswa yang masih diam mematung ditempatnya.


"Dan kau Alan dan–"


"Romi" Sela Romi cepat, karena ia tahu dosennya tidak mengetahui namanya. Maklum, murid baru.


"Alan! Lo kenapa?!" Teriak seorang tepat di belakang pak Robert. Millen. Dia rupanya tidak sengaja melewati kelas Manajemen Bisnis. Berlari kecil ke arah Alan tanpa menghiraukan pak Robert yang menatapnya dengan malas.


"Lo luka!! Astaga!! Kenapa bisa begini!! Ini pasti ulah Lo ber–" Cerocos Millen.

__ADS_1


"Obati luka kalian di UKS, lalu bapak tunggu kalian di ruangan BK!" Sela pak Robert cepat pada Alan dan Romi. Lalu ia pergi dari kelas Manajemen Bisnis, karena memang bukan jadwalnya mengajar hari ini.


bersambung~


__ADS_2