
Lalu ku arahkan pandanganku padanya sembari masih memakan roti yang aku genggam. Ku dengar penjelasannya, suaranya sangat kalem, menyejukkan hati dan menentramkan - uh, rasanya aku ingin tertidur karena mendengar suaranya - siapapun yang mendengarnya bisa tertidur karena suara itu.
"Ku lihat kau sedang tergeletak lemas di samping pintu toilet, lalu aku membawamu ke Ruang UKS" Lanjutnya.
"Terimakasih telah menolongku" Ucapku di sela-sela mengunyah makanan yang ia berikan padaku.
"Mukanya tidak familiar, mungkin aku belum pernah bertemu dengannya ya?" Batinku
"Sepertinya aku tidak pernah melihat mu di kampus ini" Ucapku.
Karena pasalnya aku memang tidak pernah melihat wajahnya berkeliaran di kampus Zervard, jadi aku tidak mengenalnya.
"Perkenalkan namaku Romi Herton Haydn, panggil saja Romi" Ucapnya sembari mengulurkan tangannya padaku.
Aku menjabat uluran tangannya "Alina Giraldo, panggil aku Alin" Ucapku memperkenalkan diriku sendiri.
"Mungkin kamu belum pernah melihatku sebelumnya, aku mahasiswa pindahan dari korea.Keluarga ku pindah ke Sydney, karena mengikuti ayahku yang menjalankan perusahaannya di Sydney" Jelasnya.
Aku hanya mengangguk kecil ber-oh. Melanjutkan memakan roti lagi yang masih belum kuhabiskan karena terpotong oleh penjelasannya.
"Maukah kamu menjadi sahabatku?" Tanyanya sukses membuat aku tersedak roti yang kumakan.
"Uhuk..uhuk" Dia segera membuka dan menyodorkan air mineral padaku.
Aku menerimanya lalu meneguknya "Maaf" Ucapku padanya.
"Hati-hati" Ujarnya.
"Bagaimana bisa ada orang yang mau mengajakku bersahabat? Dia orang pertama yang mengajakku untuk bersahabat, dia tidak tahu kalau aku selalu menjadi bahan bully an mahasiswa dan mahasiswi di kampus ini" Batinku
"Maaf aku tidak bisa" Jawabku tanpa menatap kearah nya.
"Kenapa? Kamu tidak mau bersahabat denganku?" Tanyanya dengan mimik muka yang berubah.
"E-eh t-tidak, bukan seperti itu maksudku"
"Lalu?"
"Aku..."
"Aku tidak pantas bersahabat denganmu" Jawabku dengan suara melirih.
__ADS_1
"Why?" Tanyanya lagi.
"Karena...aku selalu menjadi bahan bully an di kampus ini" Jawabku dengan suara berujung melirih.
"Aku tidak mempunyai teman" Lanjutku menundukkan kepalaku.
"Tidak masalah, bertemanlah denganku, maka kau akan mempunyai teman" Ucapnya dengan senyuman mengembang.
Aku tampak berfikir, apakah aku mau menerima ajakannya untuk bersahabat denganku atau tidak? Walau bagaimanapun dia orang yang baru aku kenal.
"Oke! Aku mau bersahabat denganmu" Finalku lalu tersenyum
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
"Alina!"
Aku yang sedang berjalan meninggalkan kelas, karena kelas hari ini telah usai. Aku menghentikan langkah kakiku, karena dari arah belakang ada seseorang yang memanggilku. Menoleh ke belakang dan aku melihat dia tersenyum padaku, aku membalasnya dengan senyum simpul. Romi berlari kecil untuk menghampiriku.
"Apakah kamu mengerti pelajaran tadi?" Tanyanya ketika sudah didepan ku.
Mau tidak mau aku menenggakan kepala ku untuk dapat menatapnya, dia sangat tinggi.
"Oh begitu ya, aku....masih belum mengerti" Ucapnya sembari menggaruk kepalanya dan sedikit menunduk untuk dapat melihatku, wajahnya kebingungan.Dia belum paham betul tentang pelajaran tadi.
Karena tak kunjung mendapat respon dariku, Romi membuka pembicaraan dahulu "Apakah kamu bisa mengajariku?" Mukanya tampak memohon, aku jadi tidak tega untuk menolaknya. Tapi, bagaimana dengan pekerjaan ku jika aku mengajarinya.
"Boleh" Jawabku sembari menganggukan kepalaku.
Raut wajahnya tampak senang ketika aku mengiyakan pertanyaan nya "Kapan kamu memiliki waktu? Apakah bisa sekarang?" Tanyanya lagi.
"Sekarang? A-aku..." Mengulangi pertanyaannya lagi, entahlah aku harus menjawabnya dengan kata apa? Mungkin aku harus libur dulu menjual bunga, lagian hanya satu hari saja, besok aku akan menjualnya sampai–
"Tidak bisa ya?"
"Eh tidak, bisa ko" Selaku cepat.
"Yasudah ayo!" Wajahnya berubah sumringah seketika. Dia mengambil tanganku dan menggenggamnya, aku sempat tercengkat dengan perlakuannya yang tiba-tiba menggandeng tanganku melewati para mahasiswa dan mahasiswi di koridor. Aku tidak melepaskan nya, entahlah rasanya sangat nyaman sekali, papah saja tidak pernah menggandengku seperti ini.
Oh sial, aku jadi mengingat papah kembali.
**
__ADS_1
"Dimana rumahmu?" Tanyanya ketika sudah sampai di rumah berpetak-petak dan kecil.
Kita - aku dan Romi - menaiki mobil Romi untuk sampai ke kontrakan ku, mobilnya bagus sekali, seperti mobil orang yang waktu itu membeli bungaku dengan kak Tusya, tapi ini lebih bagus.
Menunjuk salah satu rumah petak yang paling kecil "Ini rumahku. Eh tidak, maksudku kontrakan ku" Jawabku.
Dia mengerutkan keningnya, "I-ini?" Tanyanya lagi. Mungkin dia tidak mempercayai nya, karena kontrakannya sangat kecil dan beberapa kayunya sudah rapuh.
Aku mengangguk kecil sembari tersenyum canggung "Maaf ya,"
Dia segera menatapku dan menggelengkan kepalanya sembari tersenyum kikuk "E-eh, bukan, emm maksudku tidak apa-apa"
Aku memakluminya, mungkin yang memenuhi pikirannya adalah kenapa aku bisa kuliah di kampus bergengsi di kota Sydney, sedangkan aku hanya mengontrak di kontrakan kecil.
Mengambil kunci kontrakan di dalam seragamku dan membukanya "Mari masuk" Ucapku sembari membuka pintu kontrakan dan masuk ke dalamnya. Dia mengikutiku di belakang dan masuk ke kontrakan.
Masuk dan duduk di lantai yang tidak beralaskan, bahkan keramiknya sudah ada yang bolong-bolong dan retak dimana-mana. Aku merasa tidak enak padanya "Maaf ya, aku–"
"Tidak perlu meminta maaf, kamu tidak bersalah, kenapa meminta maaf" Romi menyela ucapanku yang belum terselesaikan sembari mendudukan tubuhnya di atas lantai, lalu melepaskan tas dari punggungnya.
"Apakah kamu mau minum?" Tanyaku dan menjawab anggukan kecil darinya.
"Bagaimana bisa?" Gumam Romi setelah kepergian Alin dari hadapannya. Matanya terus mengelilingi seluruh detail kontrakan Alin yang tampaknya tak layak untuk dihuni.
"Ini" Memberikan gelas yang berisikan air putih biasa kepadanya. Ia menerimanya dan meminumnya, lalu meletakkan gelas itu tepat disampingnya.
Aku duduk disampingnya "Bagian mana yang kamu belum paham?" Tanyaku kepadanya.
Mengeluarkan buku-buku yang ada di tasnya "Ini" Ucapnya setelah membuka buku pelajaran yang belum dia pahami.
Kami satu kelas, dia mengambil jurusan manajemen bisnis. Sampai saat ini aku masih heran kenapa dia bisa dengan mudah pindah dari sekolah lamanya ke Sydney? Bukankah itu sangat merepotkan? Apalagi ini sudah semester akhir.Entahlah, mungkin ini hanya kebetulan dia satu Jurusan denganku.Dia baik, bahkan sangat baik, aku bersyukur memiliki teman sepertinya.
**
"Masih belum paham ya?" Tanyaku.
Kini waktu sudah menunjukan pukul 5 PM. Kami belajar cukup lama - oh tidak, aku tidak belajar, aku mengajarinya - yang kutangkap darinya adalah, dia orang yang pintar dan menangkap dengan baik apa yang aku jelaskan padanya. Mungkin di kelas tadi, dia kurang konsentrasi memerhatikan penjelasan dosen.
"Mengerti, tapi ada sedikit yang belum aku pahami, nanti aku pelajari lagi di rumah" Jawabnya tersenyum kepadaku, sangat manis. Memasukan kembali buku-buku yang telah ia pelajari bersamaku ke dalam tas nya.
bersambung~
__ADS_1