
"Sudah, sudah, jangan bertengkar" Suara bunda Yeon menengahi perdebatan kecil kakak dan adik itu.
"Aku tidak bertengkar bunda" Elak Harland tidak terima dengan perkataan bundanya.
Bunda Yeon melirik ke arah Harland "Lalu tadi apa?" Tanya bunda Yeon sembari mengangkat kedua alisnya, anak bungsu nya itu tidak mau kalah ataupun disalahkan.
"Hanya kak Romi saja yang tidak mau jujur" Harland melempar pandangan nya ke arah lain dengan malas.
"Aku tidak memiliki kekasih" Ucap Romi pada si bungsu.
"Tapi kakak mencintainya, iya kan?" Ucap si bungsu, tersenyum lalu menatap ke arah kakaknya yang diam mematung.
Skak mat.
"Cepat berangkat Romi, jangan hiraukan adik kecilmu, bisa telat kamu nanti ke kampusnya" Itu bukan suara bundanya, melainkan suara ayahnya. Akhirnya ada yang menyelamatkan harga dirinya yang secara tidak langsung dijatuhkan oleh adiknya sendiri.
Harland mendecak malas "Aku sudah besar ayah! Berhentilah mengataiku adik kecil"
Lee Haydn tersenyum "Iya, iya, sudah besar, tapi masih adik kecilnya kakakmu, anak kecilnya ayah dan bunda" Ucapnya sembari menepuk-nepuk kecil rambut anak bungsunya.
Harland menjauhkan kepalanya dari tangan sang ayah "Terserah kalian saja" Finalnya lalu meneguk susunya lagi.
"Ayah, bunda, aku berangkat dulu" Ucap Romi pada kedua orangtuanya.
**
Romi berjalan di lorong rumah sakit dengan sedikit berlari menuju kamar VIP tempat Alin di rawat. Ya, Alin harus dirawat beberapa hari dirumah sakit karena patah tulang nya lumayan serius.
Kini Romi sudah berdiri di depan pintu kamar Alin. Ia ragu, apakah harus mengetuk dulu atau langsung masuk? Ah, sebaiknya mengetuk dulu.
Tokk tokk...
"Masuk"
Tangan Romi memegang knop pintu lalu memutarnya. Di atas bangsal, tampak sosok manis Alin dengan balutan seragam pasien. Alin tengah duduk dan menatap ke arahnya.
Romi tersenyum memandang wajah Alin yang tampak segar, rupanya Alin habis mandi dan perbannya sudah diganti.
Romi berjalan mendekati bangsal "Bagaimana keadaan mu?" Ucapnya perlahan, Manarik kursidi samping bangsal Alin, kemudian mendudukkan dirinya di sana.
__ADS_1
"Ku rasa lebih baik" Jawab Alin diiringi senyum simpul.
Romi menatap wajah cantik Alin beberapa detik, lalu pandangannya beralih pada nakas yang ada di sampingnya.
Romi melihat kotak nasi yang ada di nakas, pemberian dari rumah sakit "Kenapa tidak dimakan?"
"Aku belum lapar" Jawab Alin dengan pandangan lurus kedepan dan menjawabnya tanpa ekspresi.
Romi menatap lekat wajah Alin dengan jarak cukup dekat "Are you okay?" Tanyanya pelan. Ia tahu Alin sedang tidak baik-baik saja, dilihat dari raut wajahnya yang lesu dan tampak sedih. Tidak seperti biasanya.
"Yes, but..." Mengangguk pelan sembari mengerjapkan matanya dengan senyum samar di bibirnya. Sangat samar, dan bahkan hampir tidak terlihat.
"Aku hanya sedikit merindukan seseorang" Melanjutkan kata-katanya yang digantung sembari membuka matanya.
"Siapa?" Tanya Romi.
Alin menoleh ke arah samping, pandangan mereka bertemu beberapa detik sampai akhirnya Alin menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Romi "Bunda"
Romi sempat tertegun, seperti ada rasa yang sangat amat menyakitkan tergambar di raut wajah cantik Alin ketika mengatakan kata tersebut. Satu kata berjuta luka.
Romi mengerjap, lalu bertanya "Ah iya, dimana bundamu? Apakah dia tau kamu dirawat? Aku ingin berkenalan dengan bundamu" Ucapanya sembari melihat ke arah kanan dan kiri mencari seseorang.
Alin menggeleng sebagai jawaban. Romi menyerngitkan keningnya tidak mengerti dengan gelengan dari Alin?
Alin menarik nafas lalu menghembuskan nya dengan tenang "Jadi, sebenarnya bundaku...." Ucapannya tergantung, ada perasaan mengganjal di hatinya.
"Apakah aku harus menceritakan tentang bunda padanya? Tapi perasaan ku seolah mengatakan aku harus memendamnya saja, bukankah ini waktunya aku berbagi cerita pada seseorang agar bebanku sedikit berkurang?" Batinnya. Alin masih memandangi wajah tampan Romi, tapi pikirannya sedang tidak ada disitu, hanya raganya saja.
"Jadi? Kenapa dengan bundamu?" Tanya Romi yang membuat lamunan Alin buyar seketika.
"Bunda..." Lanjutnya bingung sendiri, antara mengatakannya, atau tidak.
"Bunda tidak apa-apa" Selanya dengan cepat.
Romi terus memandang lekat mata Alin, ia tahu gadis dihadapannya itu berbohong. Tapi, apalah dayanya jika Alin tidak ingin berbagi cerita dengannya meskipun persahabatan mereka menginjak satu bulan. Mungkin bukan waktu yang tepat untuk Alin berbagi cerita dengannya.
"Aku menunggumu" Finalnya.
Alin mengerti maksud perkataan Romi, ia hanya membalasnya dengan senyuman.
__ADS_1
Alin yang baru menyadari baju yang Romi kenakan adalah baju seragam kampusnya, ia lupa kalau sekarang hukuman Romi sudah selesai "Kamu harus berangkat kampus, ini pertama kali kamu masuk lagi ke Zervard"
"Iya, sebentar lagi aku akan berangkat, tapi aku ingin memastikan bahwa kamu sudah memakan makanan yang diberikan oleh pihak rumah sakit" Ucapnya lembut.
Aku hanya mendengarkan setiap perkataan yang keluar dari mulutnya "Jangan buat masalah lagi ya dengan Alan atau dengan siapapun, aku tidak mau kamu terluka"
Romi tersenyum "Iya, iya, ratu. Maafkan hamba" Candanya sukses membuat Alin tersenyum, ada rasa bahagia dihati Romi ketika bisa membuat Alin tersenyum kembali.
"Ishh apaan si," Gelak Alin sembari tersenyum.
Romi mengambil kotak nasi di nakas dan membukanya "Dimakan ya, atau mau aku suapi?" Tanyanya.
Alin menggeleng "Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri"
"Baiklah"
Alin mengambil alih kotak nasi yang berada di genggaman tangan Romi, lalu memakannya.
Setelah beberapa sendok, dia melirik ke sampingnya, ternyata Romi masih ada di sampingnya "Kenapa masih belum berangkat?" Tanyanya.
"Aku diusir nih?" Ucap Romi sembari berpura-pura ngambek dengan ucapan Alin.
Alin menggeleng kukuh "Eh? Bukan seperti itu maksudku, tapi sebentar lagi pelajaran akan dimulai, apalagi sekarang pelajaran pak Robert" Ucapnya setelah menelan makanan yang ia kunyah.
"Hahaha dosen killer itu ya?" Romi tertawa kecil, bahkan sangat renyah di telinga Alin. Alin mengangguk-anggukan kepalanya sembari tertawa kecil.
Setelah beberapa detik tertawa, Romi menghentikan tawanya "Ya sudah aku berangkat ya Alina, dimakan sampai habis sarapannya. Akan ku catatkan pelajaran hari ini untukmu, byee" Ucapnya sembari berdiri lalu mengelus pelan rambut Alin sebelum pergi melangkahkan kakinya.
"Terimakasih"
Baru saja Romi memegang knop pintu ruangan Alin, Romi menghentikan langkahnya ketika suara Alin memasuki telinganya. Memutar badannya menghadap ke Alin yang sedang terduduk dengan kotak nasi yang ia pegang dengan kedua tangannya sembari tersenyum manis kepadanya.
"Sama-sama" Ucapnya sembari membalas senyuman manis yang Alin berikan padanya.
"Hati-hati" Ucap Alin selanjutnya yang diangguki oleh Romi.
"Aku beruntung memiliki sahabat seperti mu" Gumam Alin sambil melihat kepergian Romi dari kamar rawatnya.
Romi tersenyum mengembang setelah keluar dari kamar Alin. Hatinya sangat bahagia oleh kata-kata dan senyuman Alin yang diberikan untuknya.
__ADS_1
"Saat ini, ku katakan bahwa aku benar-benar mencintai mu Alina" Gumamnya dengan seiring senyuman sembari meninggalkan lorong rumah sakit.
bersambung~