
"Biar gue yang obati!" Ucap Millen pada Alan.
"Tidak per–"
"Plisee!! Nurut sama gue!" Sela Millen lalu segera memapah Alan menuju ruang UKS.
Alan hanya pasrah menerima perlakuan dari Millen untuk memapahnya.
Menoleh ke samping kananku "Mari aku obati lukamu!" Ucapku pada Romi lalu memapahnya setelah mendapat anggukan kecil dari sang empunya.
"Huh! Gila! Kayaknya Romi berani juga sama Alan!"
"Pertarungan yang sangat menyenangkan, sayangnya pak Robert datang di waktu yang tidak tepat"
"Banyak musuh ni Alan"
"Rival lama Alan, Arkan. Rival baru Alan, Romi! Siapa lagi ya kira-kira!"
Begitulah bisik bisik para siswa di kelas yang sedang berada di kursi nya masing masing setelah pak Robert keluar dari kelas.
**
"Kenapa bisa seperti ini Lan?!" Tanya perempuan berdarah Inggris - Australia itu sembari mengobati memar di wajah Alan, hampir semuanya.
Tak mendapatkan jawaban dari Alan. Millen hanya melanjutkan kegiatannya. Tak lama kemudian pintu UKS terbuka, nampaklah seorang perempuan memapah seorang pria yang mukanya membiru disana-sini.
Ada tatapan sinis dari Alan melihat Alin memapah Romi. Sedangkan Alin berkontak mata beberapa detik dengan Alan, lalu ia juga yang memutuskannya dan membawa Romi menuju brankar yang ada di sebelah Alan.
Menaikan satu persatu kaki Romi keatas brankar lalu mengambil kotak P3K di nakas. Mengobati luka dan memar yang ada di wajah Romi dengan telaten. Gadis itu tidak menyadari ada sepasang mata yang mencuri-curi pandang kearahnya dengan tatapan tak suka.
"Auu" Romi meringis kesakitan saat alkohol menempel di wajah memarnya.
Alin segera menarik kapas yang sudah diberi alkohol pada memar Romi "Sakit sekali ya rasanya?" Tanyaku khawatir padanya.
"Alah lebay!" Celetuk seseorang di seberang.
Romi dan Alin refleks menengok ke arah sampingnya "Kau!"
Romi sempat terpancing emosi lagi karena celetukan Alan.
"Sudahlah, jangan terpancing omongannya" Ujarku sembari mengusap punggung lebarnya dengan tangan mungilku.
Memalingkan pandangannya ku menatap ke arah samping "Dan kau Alan, tolong jangan memperkeruh keadaan" Ucapku tanpa ekspresi.
"Ih apaan si Lo miskin! Berani-beraninya Lo nyuruh Alan!!" Sarkas Millen maju beberapa langkah ke arah Alin, tapi satu tangan kekar menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Jangan" Sela Alan cepat.
"Tapi Lan, dia udah berani-beraninya nyuruh lo!" Ucap Millen tidak terima dengan ucapan Alan yang menyuruhnya untuk diam tidak melukai Alin.
"Cepat obati luka gue" Ucap Alan jengah
Akhirnya Millen berangsur mundur lalu mengobati Alan kembali.
Hening, tak ada percakapan lagi diantara mereka ber 4 selama beberapa menit terakhir.
Cklekk
Di tengah keheningan, seseorang membuka pintu UKS. Semua yang ada di dalam ruangan menatap ke arah pintu dengan refleks. Tampaklah seorang mahasiswa wajah tampan sambil menenteng tas di bahu.
Uhh bencana,
"Hahahaha ternyata Lo lemah banget ya!!" Ejek seorang mahasiswa dengan tawa yang memenuhi ruang UKS.
"Brengsek!" Sarkas Alan ketika melihat siapa yang datang.
"Hah, gak kebalik ni? Bukannya Lo yang brengsek!" Jawab mahasiswa itu dengan berpura-pura kaget.
"Baku hantam aja kalah Lo! Payah banget jadi laki! Heran gue!" Lanjutnya mengeluarkan lagi kata-kata makian untuk Alan.
Aku, Romi dan Millen hanya memperhatikan cekcok mulut antara Alan dan Arkan.
"Ngapain Lo datang ke sini hah!? Buat ngejek gue?! Cuman buat ngejek gue kan?! Ck, gada kerjaan banget emang Lo!" Tanya Alan dengan nada yang meninggi, bahkan sampai urat-urat nya menonjol dengan sempurna.
"Cih! Ngapain! Jangan kegeeran jadi orang!" Arkan mengelak dan mendecih mendengar perkataan Alan.
Hingga akhirnya ia berbicara lagi "Tadi gue gak sengaja lewat depan UKS, trus denger suara Lo di dalem, gue kepo dong, jadi gue masuk, ya kan Alina?" Tanyanya sembari melihat ke arahku.
Hah? bagaimana bisa? sejak tadi kami tidak ada satupun yang mengeluarkan suara bahkan sampai terdengar ke luar ruangan UKS. membingungkan, dia bohong.
Dan lebih parah lagi, kenapa Arkan bertanya padaku? Kenapa aku di bawa-bawa dalam cekcok mulut mereka berdua? Dan kenapa Arkan bisa tau nama ku?
"A-aku? Kok bi–" Jawabku gugup.
Di tersenyum setelah aku menjawabnya dengan gugup "Pasti Lo heran kan darimana gue tau nama Lo? Semua orang juga udah tau kali!"
Mengarahkan pandangannya kembali pada Alan yang sedang terduduk di brankar dan berkata.
"Seorang perempuan yang sering di-bully oleh Alan Jenkins! Si pria pecundang yang hanya berani berlindung di bawah kekuasaan ORANG TUANYA" Lanjutnya dengan senyuman iblisnya.
Ku lihat di samping brankar, tangan Alan sudah terkep dengan sangat kuat, antara menahan amarah dan ingin menjotos.
__ADS_1
Berjalan ke arah Arkan dan–
Buagghhhh
"Bajingan Lo!"
Alan memukul Arkan dengan sekeras tenaganya yang belum pulih akibat baru saja Alan dan Romi baku hantam di kelas.
Arkan tidak bisa menghindari pukulan yang diberikan oleh Alan. Gerakan Alan terlalu cepat sehingga Arkan tidak bisa menghindarinya.
Millen segera menjauhkan dan melerai Alan dari Arkan, bisa bahaya kalau mereka tidak dileraikan. Mereka bisa baku hantam dan bahkan mungkin ada yang mati diantaranya.
Sungguh menyeramkan.
Arkan tersungkur ke lantai, sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah. Dia mengusap darah yang ada di sudut bibirnya lalu berdiri.
"Cukup!!" Teriak Millen menggema di ruangan itu.
"Jangan makin memperkeruh keadaan lagi Arkan! Ini bukan waktu yang tepat! Setelah Lo lukain Alan tempo hari, bukannya meminta maaf–" Cerocos Millen pada Arkan
"Ck, gue gak sengaja" Sangkal Arkan dengan cepat.
"Jadi...karena pertandingan basket dengan Arkan, Alan sampai terluka tempo hari" Batinku
"Apaan yang gak sengaja! Jelas-jelas gue liat Lo dorong Alan sampai tersungkur dan lututnya berdarah waktu pertandingan basket! Apa itu yang disebut TIDAK SENGAJA?! Licik juga ternyata Lo orangnya" Ucap Millen dengan menekankan kata 'tidak sengaja'
"Pacar Lo aja yang lemah! Disenggol dikit langsung jatuh hahahah" Jawab Arkan lagi.
Millen mengambil nafas dalam-dalam "Berisik Lo sialan! Pergi dari sini"
Millen mendekat dan mendorong tubuh kekar Arkan sampai si empunya mundur beberapa langkah dan Millen langsung membanting pintu UKS setelah kepergian Arkan yang membuatnya naik darah.
Sementara aku dan Romi hanya melihatnya.
"Apa Lo liat-liat!" Sarkasnya padaku, dengan segera ku alihkan pandanganku untuk tidak menatapnya.
Mendekat lagi ke brankar Alan lalu bertanya "Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa bisa begini?" Akhirnya Millen membuka obrolan dengan melempar pertanyaan pada Alan. Pertanyaan yang memenuhi pikirannya.
"Tidak ada" Jawab Alan.
"Apanya yang tidak ada, jelas-jelas lo luka, lebam, dan berdarah!" Sarkas Millen menaikan nada bicara dari sebelumnya.
"Bukankah Lo sering liat gue kayak gini" Jawab Alan lagi dengan santai.
"I-iya tapikan....pokoknya Lo harus jelasin ke gue sekarang! Gak mau tau!" Bersih kukuh karena Millen ingin tau penyebabnya Alan bertengkar dengan mahasiswa laki-laki ini, ah dia tidak mengetahui namanya, dan dia juga baru melihat pria itu.
__ADS_1
"Dia nonjok gue duluan, ya otomatis gue nonjok balik lah" Jawab Alan masih dengan dinginnya.
bersambung~