
Aku berdiri dan meninggalkan mereka dengan tergesa sembari memegang lutut dan hidungku, berjalan dengan pelan dan sedikit pincang.Menjauhi mereka yang merendahkan ku, memakiku dan menertawakanku.
Sebelum aku masuk ke kelas, aku pergi ke UKS yang ada di kampus ini.Kebetulan kelasku mulainya setengah jam lagi, jadi aku memiliki waktu untuk mengobati lututku yang memerah.
Meraih kotak P3K di sana dan membawanya.Aku duduk di salah satu brankar ruang UKS itu, menaikan kedua kakiku keatas brankar dan membuka kotak P3K yang tadi ku ambil dan sudah pasti isinya adalah berbagai macam obat-obatan dan alkohol.
Mengambil obat merah dan menuangkannya di kapas, lalu kutempelkan kapas itu pada lututku perlahan.
Aku menahan sakit pada lututku karena obat merah menyentuh lututku yang berwarna merah "Auu" Aku meringis kecil menahan sakit.
Saat aku sedang mengobati lututku, pintu UKS terbuka dan tampaklah seseorang yang sedang ditandu oleh empat orang mahasiswa.Aku tidak bisa melihat siapa orang yang sedang ditandu itu, karena banyak yang mengerubungi disekitarnya.Yang jelas dia seorang mahasiswa, karena ia memakai celana panjang bukan rok sepertiku.
Aku hanya memperhatikannya sembari menyerngitkan keningku.Sampai akhirnya orang itu diletakan di brankar sampingku oleh keempat mahasiswa yang membantu menandunya.
Orang itu, aku mengenal orang itu.Kenapa dengannya?
"Alan" Batinku ketika mengetahui orang yang ditandu tadi adalah Alan.
"Ada apa dengannya?kenapa dia bisa sampai ditandu?" Bermonolog dengan batinku sendiri.
"kenapa juga denganku?aku ingin tahu lebih jelas tentang alasan Alan bisa seperti ini?bukan khawatir, aku hanya kepo" Lanjut batinku, perlu digaris bawahi 'hanya kepo'
Pandanganku menatap pada Alan yang berada disampingku - oh tidak, ada jarak lumayan jauh yang memisahkan - ku lihat ia sedang meringis kesakitan sembari memegangi lututnya yang dipenuhi banyak goresan luka dan sedikit mengeluarkan darah.
"Alan, biar aku yang membantumu mengobati lukamu" Ucap seorang mahasiswi yang mendekati Alan dan mengambil kotak P3K yang berada disampingnya.
"Biar aku saja kak! aku lebih pandai darinya" Ucap seorang mahasiswi lainnya, sepertinya dia adalah adik tingkatnya karena cara memanggilnya dengan embelan 'kak'.
Mereka berdua berebut ditengah kerumunan orang, untung disini belum ada penyakit bernama Corona.Kalau ada, bisa terkena semua mereka karena berkerumun untuk mengobati Alan bak Alan adalah seorang kaisar.
"Aku saja!" Sela seseorang menerobos kerumunan dan mengambil alih kotak P3K dari tangan mahasiswi yang memegangnya.
Millen.
Mendengar gosip dikampus ini, sebenarnya mungkin bukan gosip biasa, tapi ini gosip populer dan ramai diperbincangkan dikalangan mahasiswa dan mahasiswi, bahkan mungkin trending topik di kampus Zervard.Millen menyukai Alan, tapi entah dengan Alan.
"Biar aku yang mengobatimu" Ucap Millen membuka kotak P3K itu dan mengambil obat merah, ketika ia ingin menuangkannya pada kapas ucapan Alan membuat aktifitas nya terhenti seketika.
"Pergilah kalian semua!" Seru Alan dengan nada meninggi dan menakutkan.
__ADS_1
"Iya, pergilah kalian semua!" Timpal Millen.
"Tak terkecuali kau" Ucap Alan.
"Aku?" Tanya Millen sembari menunjuk dirinya.
"Semuanya! gue bilang semuanya ya semuanya! ngerti gak si kalian semua, bego!" Ketus Alan dengan nada meninggi dari sebelumnya.
"Apakah termasuk denganku?" Batinku.
Millen menaruh kotak P3K di tempat sebelumnya dan dia berlalu begitu saja dari hadapan Alan dan meninggalkan ruang UKS.Sedikit demi sedikit mahasiswa dan mahasiswi keluar dari ruang UKS itu.Sementara aku dilanda kebingungan, apakah aku juga ikut keluar atau tetap berada disini bersama–
"Astaga, sial! ketemu Lo lagi! udah lutut gue sakit, pake acara ketemu Lo lagi! bikin semua tubuh gue sakit terutama mata gue tau gak Lo!bisa gak si gausah muncul dihadapan gue! enyah kek dari dunia!" Cerocos Alan.
Karena Cerocos Alan yang berbicara tanpa jeda dan bernada ngegas, lamunanku buyar seketika.
Kulihat ke kanan-kiri tidak ada mahasiswa maupun mahasiswi di tempat ini.
"Ya ampun" Batinku.
Hanya menyisakan aku dan Alan saja yang masih selonjoran di atas brankar di ruangan ini.Mungkin, karena aku terlalu serius dengan lamunanku, sehingga aku tidak menyadari bahwa tidak ada satupun mahasiswa atau mahasiswi di ruangan ini.Ya, kecuali aku dan Alan.
"Heii bisu!" Panggilnya.
"Dia memanggil siapa?apakah memanggil ku?dengan sebutan bisu? benar-benar sangat–" Batinku kesal.
"Nengok woi kalau dipanggil!" Ucapnya masih dengan nada yang menjengkelkan ditelingaku.
Terpaksa aku menengok kearahnya dan berbalik, tidak mungkinkan dia berbicara dengan tembok atau benda lainnya jika tidak denganku? tapi aku juga bukan bisu seperti yang dikatakannya.
"Obati lukaku! kau harus bertanggungjawab karena sudah membuat moodku benar-benar hancur" Ucapnya.
Aku tidak menjawabnya, aku berjalan mendekatinya dan mengambil kotak P3K yang tidak jauh dari brankar Alan.Aku mengambil obat merah dan kapas lalu kutuangkan obat merah pada kapas dan membersihkan lututnya yang penuh dengan luka.
"Pelan-pelan, sakit bego!" Ketusnya.
"Millen, bolehkah kau bertukar posisi denganku" Batinku kesal.
Bisa-bisanya mahasiswi tadi berebut untuk mengobati luka Alan.Sedangkan aku malas sekali meskipun diberi uang satu juta atau miliyar.
__ADS_1
...****************...
"Kak! kenapa bunga Asternya ada, tapi Mawar Ungunya tidak ada?" Tanyaku pada Kak Seto.
"Entahlah! sepertinya sedang kosong, mereka hanya mengirim segitu" Jawabnya sembari menunjuk berbagai macam bunga yang masih di dalam wadah dan belum ditata rapi.
"Kenapa kakak tidak membelinya ditoko lain?" Tanyaku.Sebenarnya tidak hanya bertanya, tapi juga memberikan saran padanya.
"Tidak perlu, itu langganan Florist ini sejak dahulu" Jawabnya.
Aku hanya mengangguk kecil sembari mengambil bunga-bunga segar yang akan aku jualkan pada keranjang kecil.
**
"Hallo bos, dia sedang berjualan di pinggir jalan dekat lampu lalulintas" Ucap seseorang dengan sambungan teleponnya.
"Awasi dia terus dan berikan informasi selanjutnya padaku" Jawab seseorang di sebrang telepon.
"Baik bos!" Ucapnya.
Lalu sambungan telepon pun terputus, bukan diputus olehnya, melainkan oleh orang di sebrang telepon.
**
"Ini 30 ribu, kalau yang ini 50 ribu" Ucapku pada pembeli yang ingin membeli dagangan ku.
"Mawar merah aja deh mbak, satu ya" Final pembeli itu setelah beberapa menit dia menawar dan menanyakan harga setiap bunga yang kujualkan.
Aku memasukan Mawar Merah kedalam kresek "50 ribu" Ucapku sembari memberikan kresek padanya.
Orang itu menyodorkan selembar uang kepadaku "Uang pas ya" Ucapku pada si pembeli.
"Terimakasih" Ucapnya padaku setelah menerima kresek yang berisikan bunga Mawar Merah.
bersambung~
...Aku \= Alin...
...Jadi, kalau ada kata 'aku' berarti itu Alin yang cerita atau ngomong ya...
__ADS_1