
"Terimakasih banyak telah mengajariku" Ucapnya.
"Sama-sama. Lain kali, jika ada yang belum kamu pahami, tanyakan saja padaku, jangan sungkan" Ujarku dengan senyuman.
"Temani aku, mau?" Tanyanya.
Mengerutkan keningku "K-kemana?" Aku menjawabnya dengan pertanyaan lagi.
"Makan" Jawabnya singkat sembari mengambil kunci mobil di kantung celananya.
"Tapi–"
"Aku traktir! Anggap saja sebagai tanda terimakasih aku padamu karena kamu telah mengajariku tadi" Ucapnya memotong perkataanku lagi.
"Tidak usah, aku ikhlas" Jawabku.
"Oh, Come on Alina!" Ucapnya lagi.
Apakah dia sedang memaksaku? Bolehkah aku bilang 'tidak' sekali lagi? Jika aku menolaknya, apakah dia akan tersinggung?
"Come on, please..." Ucapnya lagi.
"Aku butuh teman, aku tidak terlalu mengenal wilayah Australia"
"Baiklah" Finalku mengiyakan ajakannya, mungkin dia sudah terlalu lapar akibat belajar terlalu lama tadi. Dan benar juga, dia belum tahu betul wilayah Australia, secara dia kan pendatang baru. Tidak ada salahnya menerima ajakannya, lagian aku juga sudah lapar.
"Mari" Menggandeng tanganku dan menaruh tas dipundak nya.
"Sebentar" Ucapku melepaskan gandengannya lalu mengunci pintu kontrakan ku terlebih dahulu sebelum pergi.
Romi memencet kunci mobilnya, seketika pintu mobilnya langsung terbuka dan terangkat ke atas secara otomatis. Benar-benar sangat menakjubkan. Pasti harganya juga fantastis. Aku jadi sedikit penasaran dengan Romi, anak siapakah dia?
Tadinya aku kaget dengan pemandangan itu - sangat memalukan, aku belum pernah melihat pemandangan itu sebelumnya - Romi menyuruhku untuk masuk terlebih dahulu, lalu ia menyusul ku setelah aku duduk di mobilnya.
__ADS_1
Menyalakan mesin mobil lalu, melajukan mobil dengan kecepatan sedang, membelah ramainya jalanan Sydney "Kamu mau makan apa Alina?" Tanyanya ketika sedang mengendarai mobil tanpa menoleh kearahku.
"Terserah kamu, bukankah kamu yang ingin makan?" Jawabku menimpali nya dengan pertanyaan lagi.
"Kamu juga harus makan, aku tidak mau makan kalau kamu hanya melihatku makan" Ucapnya dengan nada sedikit memaksa.
"Baiklah aku akan makan bersamamu" Finalku.
Sejak detik itu, tidak ada yang memulai perbincangan terlebih dahulu, Romi sibuk mengendarai mobil nya, dan aku memutuskan untuk menoleh ke samping dan melihat para pedangang jalanan yang dilalui oleh mobil Romi.
Tak lama kemudian, mobilnya berhenti tepat di depan Restoran yang lumayan besar.
**
Romi tampak heran dengan ku dan menyerngitkan keningnya "Apa hanya itu saja yang kau pesan?" Tanyanya padaku karena aku hanya memesan dua menu dan satu minuman.
Aku mengangguk kecil "Ya, aku tidak terlalu lapar" Jawabku berbohong.
Sebenarnya aku lapar, tapi aku tidak terbiasa makan di restoran sebesar ini - rasanya canggung sekali bagiku - apalagi orang-orang disana memandangiku, mungkin mereka heran karena aku hanya memakai kaos lengan pendek dengan celana selutut. Sungkan, berada di sini sangatlah sungkan, mereka memakai dress dan baju yang bagus dan pasti harganya mahal. Memandangi ku dengan tatapan aneh.
Tak lama kemudian pesanan kami datang, meletakkan beberapa piring dan juga gelas ke atas meja.
"Thank you" Ucap Romi pada sang pelayan yang menghidangkan makanan di atas meja kami.
Pelayan itu hanya menganggukan sopan lalu pergi.
"Makanlah, nanti kamu sakit! Kamu kan belum makan" Ujarnya.
Aku mengangguk, mengambil sendok lalu memasukkan makanan yang ku pesan ke dalam mulutku.
Tak lama kemudian kita telah menghabiskan makanan. Sebenarnya makananku tidak habis, tapi aku beralasan bahwa perutku sudah kenyang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
"Kenapa? Apa alasannya lo nolak gue?" Tanya gadis perempuan menatap lekat bola mata berwarna coklat milik sang pria dengan raut muka kekecewaan.
"Pertama, karena gue gak cinta sama lo dan yang kedua gue gak akan pernah cinta sama lo" Jawab sang pria dengan ketus tanpa melihat lawan bicaranya.
"Tapi Lan, gue cinta sama lo, gue suka sama lo" Timpal perempuan itu, tampak bersih kukuh bahwa dia cinta dan sangat mencintai sang pria.
"Gak bisa Len, Lo cari selain gue. Cinta gak bisa dipaksakan!" Jawab Alan tanpa mengubah nada bicaranya dan terus memalingkan wajahnya.
Rupanya jawaban tidak enak yang keluar dari mulut Alan membuat Millen agak tersinggung. Menghela nafas dalam-dalam dan berkata lagi.
"Gue akan berusaha semaksimal mungkin, terlepas Lo nantinya cinta sama gue atau nggak, gue akan berusaha supaya Lo cinta sama gue" Ucap Millen masih dengan pendiriannya yang tidak patah oleh jawaban dari orang yang dicintainya.
"Terserah" Final Alan lalu berjalan meninggalkan Millen yang masih mematung ditempatnya.
Millen terus menatap punggung Alan yang lama kelamaan menjauh darinya. Ada rasa kecewa, kesal dan sakit hati karena tolakan dari Alan, tapi rasa cinta nya jauh lebih besar. Tetap pada pendiriannya yaitu membuat Alan mencintainya. Ya, suatu saat pasti Alan bisa ia taklukan, Millen yakin bahwa Alan akan mencintainya - meskipun kecewa berulang kali - Ia akan mengulangi kata yang sama pada Alan nanti. Millen selalu saja mendapatkan jawaban tidak mengenakan untuk hatinya. Millen selalu mengungkapkan perasaannya pada Alan tapi selalu juga Alan menolaknya, Mengungkapkan lagi dan Alan menolaknya lagi. Jawabannya selalu sama.
Entah sudah berapa kali Millen mengungkapkan perasaannya pada Alan dan hanya kekecewaan yang ia dapat. Dia merasa harga dirinya telah dijatuhkan oleh Alan, bagaimana bisa dia menolak cintanya? Sedangkan semua laki-laki diluaran sana mengejar-ngejar ingin mendapatkan cintanya? Tapi itu tidak membuat Millen patah semangat.
Come on Millen, Alan bukan laki-laki diluaran sana.
"Gue akan berusaha untuk dapetin Lo Alan Calvo Jenkins! Gimana pun caranya, gue harus dapetin lo" Gumaman dengan seringai licik mengembang dibibir nya.
"Sepertinya gue butuh sedikit bantuan dari papa" Gumamnya lagi.
**
Berjalan menjauh dari Millen yang membuat mood nya akan hancur seketika ketika bertemu dengan gadis berdarah Inggris - Australia itu.
Berjalan dengan sesekali menendang sampah kaleng minuman yang ada dihadapannya. Melewati koridor, sampai kakinya berhenti di sebuah kelas Manajemen Bisnis. Entah mengapa dia berhenti di kelas itu, seperti ada energi yang menariknya untuk berhenti dikelas itu.
Menengok ke dalam kelas dan matanya menelusuri setiap sudut di kelas itu sampai mata coklatnya terhenti pada mahasiswi perempuan yang sedang membaca buku - entahlah itu buku pelajaran atau bukan - yang Alan lihat hanyalah sedang membaca buku.
Memasuki kelas tersebut dengan langkah angkuh seperti biasanya, mengacuhkan para mahasiswi centil yang meneriaki namanya dan tidak henti memuji ketampanannya bak seorang pangeran.
__ADS_1
Di pojokan kelas, seorang perempuan sedang fokus membaca buku pelajaran yang hari ini akan dibahas oleh dosennya. Suara bising, bahkan sangat bising mengganggu konsentrasinya sampai buyar. Sang empunya menoleh kearah suara sangat bising, mencari apa yang terjadi dengan mahasiswa-mahasiswa dikelasnya yang berteriak histeris tiba-tiba.
bersambung~