Be Strong Girl

Be Strong Girl
Chapter 20


__ADS_3

Kami sedang berjalan menuju kontrakan ku dengan berjalan kaki.


"Rom" Tanyaku membuka obrolan dengan nya.


Dia menengok ke arahku "Hmm? Ada apa Alina?"


"Kamu capek ya?" Tanyaku.


"Tidak juga, memangnya kenapa?"


"Jangan bohong! Masa tidak capek si?"


"Tidak" Jawabnya dengan gelengan kecil.


"Bukankah kamu tidak terbiasa berjalan-jalan tanpa memakai kendaraan?" Tanyaku.


"Iya, memang baru pertama kalinya aku berjalan tanpa menggunakan mobil" Jawabnya.


"Pasti capek kan?" Tanyaku lagi.


"Tidak Alina, otot kaki ku kan kuat, aku setiap hari berolahraga, kamu mau lihat tidak otot-otot ku?" Romi menjawabnya dengan kata 'tidak' lagi, lalu sedikit meledekku.


Aku tergelak karena ucapnya "Eh? Tidak-tidak!" Ucapku menggeleng kepala keukeuh.


Dia tertawa "Hahaha jangan khawatir, aku hanya bercanda!"


Entahlah, mengapa hatiku begitu bahagia dengan hal sederhana ini. Mungkin, karena aku baru merasakannya lagi setelah kepergian bunda ya? Ya, aku bahagia, sangat bahagia. Aku beruntung bisa bertemu dan berteman dengan Romi. Dia orang baik, ceria, dan cerdas. Bisa dikatakan sempurna.


Uh, aku jadi rindu dengan bunda.


Ketika aku sedang larut dalam pikiranku, dan Romi tidak tahu sedang apa. Tiba-tiba ada benda kental dan manis mengenai hidungku.


Aku terperanjat dan lamunanku buyar seketika. Ku lihat Romi sedang terbahak-bahak di sampingku.


"Hahaha kau lucu sekali Alina" Tawanya.


Aku mendecak kesal karena ulahnya "Ihh Romi nyebelin!"


Ku usap cairan yang ada di hidungku, sedikit lengket. Dan ternyata itu es krim yang tadi dibeli di supermarket.


Aku segera mengambil es krimku yang masih berada di dalam keresek. Ku ambil dan kubuka es krim dengan rasa vanila itu lalu ku colek ujungnya sedikit memakai tanganku dan ku paparkan pada di hidung mancung Romi, sama seperti yang ia lakukan padaku.


"Rasakan ini" Ucapku seraya tertawa kecil.


Dia menghentikan tawanya lalu menatap ke arahku.


"Oh sudah berani membalas ya!" Ucapnya bercanda.


Lalu dia melakukan yang sama lagi padaku, dan sebaliknya denganku yang membalasnya juga.


Terjadilah drama lendot melendotkan es krim ke muka lawan.


"Sudah, sudah Alina! Hentikan, kau menang!" Ucapnya menyerah.

__ADS_1


Aku menghentikan kegiatan ku yang terus memaparkan es krim pada wajahnya. Kalau dipikir-pikir kasian juga mukanya sudah dipenuhi oleh banyaknya es krim. Dan sudah pasti lengket.


"Maaf-maaf, aku terlalu excited" Ucapku dengan senyum berdosa


"Kamu hebat" Ucapku


Dia menghentikan kegiatannya yang sedang membersihkan muka memakai tangannya lalu menoleh ke arahku "K-kenapa?"


"Jika aku berjualan bunga bersamamu bunganya bisa terjual habis semua!"


"Tidak juga" Sangkalnya.


"Kalau begitu aku akan terus mengajakmu berjualan bunga supaya bunganya cepat habis terjual" Ucapku bercanda.


Dia mengangguk yakin "Boleh juga"


Aku cengo dibuatnya lalu dengan segera menggelengkan kepalaku. Aku hanya bercanda, tapi dia menanggapi nya dengan serius, kan lucu.


"Eh tidak tidak, aku hanya bercanda"


"Tidak bercanda juga aku mau" Jawabnya lagi.


"Eh?"


"Ngomong-ngomong kenapa tadi pada meminta fotomu ya? Seperti seorang bangsawan saja" Lanjutku.


"Jawabannya cuman 1" Ucapnya


"Apa?" Tanyaku mulai penasaran.


"Ishh kepedean sekali" Aku hanya menggelengkan kepala, memang benar adanya jika Romi tampan, semua orang juga pasti tahu, tapikan–


"Hahah bercanda, oh ya Alina, jika aku menemanimu berjualan bunga lagi besok–"


"Tidak boleh!" Selaku dengan cepat


Dia mengerutkan keningnya sampai-sampai kedua alisnya hampir menyatu "Kenapa?"


"Kamu luka Rom, habis bertengkar sama Alan juga, bukannya istirahat! Ehh...malah bantuin aku jualan, jadi gak enak aku jatuhnya, tapi... terimakasih ya!" Ucapku diiringi dengan senyuman.


"Tidak apa-apa, luka ini tidak sakit kok ketika aku terus bersamamu dan sama sama" Jawabnya.


"Eh kok bisa begitu?" Tanyaku heran dengan jawaban Romi.


'Luka ini tidak terasa sakit jika bersamamu' maksudnya?


"Karena kamu menularkan virus yang bisa membuat lukaku sembuh" Jawaban selanjutnya membuat kerutan dikeningku semakin jelas.


Virus? Aku mempunyai virus? Kenapa dia bisa tahu aku memiliki virus? Sedangkan aku sendiri tidak mengetahuinya?


"Hah virus!? V-virus apa? Setau aku, aku tidak mempunyai virus Rom, kalau aku mempunyai virus jangan dekat–"


"Virus cinta"

__ADS_1


**


"Apaan si pah! Tolong jangan atur hidup aku! Aku sudah besar pah! Aku bisa–"


"Alan papah mohon padamu nak, menurut lah dengan papah! Papah tau apa yang terbaik untukmu! Bukankah kalian berdua bersahabat dengan baik?"


"Papah tidak tahu yang terbaik untukku! Tolong jangan paksa Alan pah! Alan tidak mau dijodohkan!"


"Alan, papah tidak menjodohkan kamu dengan siapapun nak, papah hanya ingin kamu menerima cintanya Millen! Millen juga anaknya baik, dan dia sudah lama mengenalmu"


"Tapi aku tidak mencintainya pah!"


"Cobalah dulu, cinta datang dengan sendirinya ketika kalian bersama"


Tutt.


Mematikan dengan sepihak sambungan telepon Internasional. Seorang pria membanting handphonenya dengan kasar ke lantai sampai terbagi menjadi beberapa bagian setelah menjawab telepon dari papahnya. Menjatuhkan tubuhnya di kasur kebanggaannya dengan kasar lalu mengacak rambutnya frustasi.


"Akkhh sial! Bicara apa anak itu pada papah!" Kesalnya.


Ya, Alan sedang kesal karena papahnya memintanya untuk menerima cinta Millen yang jelas-jelas Alan tidak menyukai gadis itu -sangat tidak menyukai- entahlah apa alasan Alan tidak menyukai gadis berdarah Inggris - Australia itu.


FLASHBACK ON


"Halo?" Ucap seseorang di balik telepon ketika sudah tersambung.


"Hallo pah!"


"Ada apa sayang?"


"Pah, aku butuh sedikit bantuan dari papah" Ucap sang penelepon dengan to the point.


"Katakanlah! Perlu bantuan apa kamu?"


"Aku mencintai Alan pah!"


"Alan? Anak–"


"Om Alpert" Selanya cepat.


"Alpert Jenkins?" Tanya seorang di balik telepon.


"Ternyata kamu belum bisa melupakannya nak, padahal jelas-jelas Alan menolakmu berkali-kali dengan kata-kata yang tidak mengenakan" Batin sang penerima telepon


"Ya, bisakah papah membantuku?"


"Tentu sayang, akan papah usahakan untuk kebahagiaan mu nak!"


Millen tersenyum ketika mendapat bantuan dari papanya "Terimakasih pah! I love you" Ucapnya.


"I love you to sayang!"


Millen mematikan sambungan telepon dengan papanya, ia tahu papahnya adalah orang yang sibuk, jadi ia berbicara dengan sangat to the point agar tidak terlalu mengganggu waktu papahnya.

__ADS_1


Papah Millen dengan papah Alan adalah teman bisnis, tapi mereka seperti keluarga. Bahkan perusahaan mereka sedang bekerjasama. Keluarga mereka berdua sangat dekat, Millen mengenali keluarga Alan, begitupun dengan Alan. Millen dan Alan berteman sejak SMA, bahkan seringkali Millen berlibur ke Jerman atau mengintili papahnya yang mengurusi perusahaan yang ada di Jerman hanya untuk mengunjungi mansion keluarga Jenkins dan menginap di sana. Seiring berjalannya waktu, ternyata Millen menyukai Alan. Bahkan Millen sampai berkuliah di Australia untuk dapat terus bertemu dengan Alan. Tapi Alan tidak menghiraukannya, ia hanya menganggap omongan Millen sebagai angin lalu.


bersambung~


__ADS_2