
"Alasannya?" Tanya Millen lagi
"Gak tau, tanya aja ke orang yang tiba-tiba nonjok gue tanpa sebab"
"Jelas gue kesel karena dia mau mencoba mencium Alin!" Sela Romi cepat.
Millen menyerngitkan keningnya dan mulutnya yang terbuka karena kaget "H-hah!! Apa!! Cium!! Cium gadis miskin ini?!" Tanya Millen ke arah Alan memastikan.
"Ck, gak niat gue cium dia enak aja Lo!" Jawab Alan dengan dinginnya.
"Oh, jadi rupanya gadis miskin ini yang jadi penyebabnya" Sinis Millen menatap ke arah Alin yang mematung di samping brankar Romi.
"Jaga mulutmu! Dia mempunyai nama!" Serkah Romi dengan kesal, karena sedari tadi Millen menyebut sahabatnya dengan sebutan tidak mengenakan di telinga.
**
Menatap ke bawah, melihat sepatu yang menempel di keramik kampus "Maaf," Lirihku padanya.
Dia menatapku, "Sudahlah tidak apa-apa, ini bukan sepenuhnya salahmu" Ucapnya lembut sembari menangkup wajahku supaya aku melihatnya.
Kami ber 4 - Romi, Aku, Alan dan Millen - telah keluar dari ruangan BK. Keputusannya adalah Romi dan Alan di skors selama tujuh hari. Itupun pihak kampus meringankan hukumannya. Tadinya mereka akan mengeluarkan Alan dan Romi dari kampus, tapi aku dan Millen membujuk para dosen untuk tidak men drop out mereka dari kampus. Aku sempat membela mereka - Romi dan Alan - mengatakan kalau mereka tidak bersalah, itu semua karena ku, karena aku mereka jadi bertengkar. Tapi dengan segera Romi menyangkalnya, dia malah membelaku. Dan akhirnya hukuman skors jatuh kepada mereka berdua.
"Tapi, aku yang menyebabkan kalian bertengkar dan akhirnya–" Jawabku dengan nada berujung melirih.
Di tersenyum ke arahku.
Masih sempat-sempatnya Romi tersenyum? Padahal dia baru saja mendapatkan hukuman? Bagaimana reaksi orang tuanya ketika tau anaknya di skors?
Mengacak-acak rambutku dengan gemas "Sudah, jangan bicarakan itu lagi, mari kita ke kantin. Cacing-cacing ku sudah berdisco rupanya"
Aku memanyunkan bibirnya "Bisa bisanya kau bercanda disaat seperti ini"
"Astaga, cantik sekali ketika sedang marah, gemes liatnya" Batin Romi gemas.
Romi masih belum memudarkan senyumannya, ia malah mengembangkan senyumnya lebih lebar "Hahaha maaf, aku hanya tidak mau kau menyalahkan dirimu terus menerus, karena ini bukan sepenuhnya salahmu Alina Giraldo"
"Kok tau nama lengkapku?"
"Karena kamu pernah mengatakannya saat kita berkenalan pertama kali"
"Wahh ternyata daya ingatmu tinggi juga ya, aku saja tidak mengingat nama lengkapmu, mungkin karena nama lengkapmu terlalu panjang untuk ku ingat hehee..." Aku meringis keki.
"Ku afalkan supaya aku lancar saat mengucapkan ijab kabul" ucapnya pelan, sangat pelan, hingga nyaris tak terdengar.
__ADS_1
Aku tidak mendengar jelas ucapannya, dia seperti sedang berbicara, tapi tidak terdengar. Seperti angin yang berhembus pelan "Hah apa?" Tanyaku.
"Tidak ada, mari ke kantin!" Ucapnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mahasiswa dan mahasiswi berhamburan keluar dari kelas ketika bell pulang berbunyi. Terlihat seorang gadis yang menenteng tas sekolah nya di pundak, berjalan ke luar kelas mengikuti teman temannya - oh bukan, tidak mempunyai teman sekarang - keluar ruangan dengan wajah yang lusuh dan tidak bersemangat.
"Sepi, tidak ada orang yang mengajakku ke kantin, belajar di kelas, bercanda tawa" Gumam sang gadis dengan muka lesu nya.
Entah, siapa orang yang dimaksud. Mungkinkah itu Romi? Sahabat barunya? Ataukah Alan? Yang jelas bukan dia. Gadis itu sedang merindukan sahabatnya yang sedang mendapat hukuman berupa skors dari kampus. Tidak ada yang menghiburnya selama beberapa hari terakhir ini.
Berjalan kaki keluar dari gerbang kampus, gadis itu terus menunduk. Memandang ke sepatunya.
"Ah, aku melupakannya" Ucap Alin.
Ya, dia melupakannya. Dia harus berjualan bunga. Pikirannya hanya tertuju pada Romi, sampai-sampai dia melupakan kesehariannya.
Aku berjalan menuju arah kontrakan ku dengan membawa berisikan buku buku paket yang sangat tebal di tas ku - uh, ini sangat berat. Aku akan menyimpannya dulu buku-buku ini di kontrakan lalu pergi menjual bunga Karena tidak ada pelajaran tambahan yang aku ikuti, jadi aku pulang tidak terlalu siang. Mungkin sekarang sekitar jam 10 atau jam 11.
Itu hanya tebakanku. Aku menebaknya dengan cara melihat matahari yang bersinar tidak terlalu terik.
Ku ambil kunci kontrakan ku di dalam saku seragamku. Mendengakan pandanganku kembali, dan betapa terkejutnya aku ketika–
"Akhirnya kau pulang juga" Pria jangkung itu menengok ke arahku dan berdiri menghampiri ku.
"Kau! Mengapa kau ada disini?" Tanyaku menatap heran padanya.
"Aku menunggumu daritadi! Apakah tamu ini tidak diperbolehkan masuk?" Tanyanya lagi.
Aku sempat tertegun melihatnya yang sedang duduk di kursi yang sudah rapuh itu "Ah i-iya, masuklah" Ucapku mempersilahkan nya.
"Kau mau apa kemari?" Romi menyerngitkan keningnya.
"Eh, maksudku ada apa?" Ucapku merevisi ucapanku.
"Mengajakmu jalan-jalan" Jawabnya dengan seulas senyuman.
"Mengajakku?" Tanyaku mengulang pertanyaannya.
"Ya"
"Tapi aku tidak bisa"
__ADS_1
"Why can not?"
"Karena aku harus berjualan"
Sedetik kemudian pria itu mengerutkan keningnya, kedua alisnya tampak bersatu.
"Berjualan?" Tanyanya mengulangi perkataanku.
"Ya, aku berjualan bunga dipinggir jalan untuk menghidupi diriku, kau baru mengetahuinya bukan? Apakah setelah kau mengetahuinya kau akan menjauhiku? Jika iya–" Cerocos ku panjang lebar tanpa menatap kearahnya.
Dia mendengarkan kata-kata yang aku keluarkan "Tidak! kenapa kau bisa berfikiran aku akan menjauhimu setelah aku tau kau seorang penjual bunga" Sela nya dengan cepat.
"Apakah kau masih mau berteman denganku?" Lirihku.
Mengangguk yakin "Yes, of course!" Romi tersenyum padaku lalu mengacak-acak kecil rambutku.
"Lalu?"
"Aku akan menemanimu berjualan!"
**
Di pinggir jalan kota, aku dan Romi menjinjing keranjang kecil yang sudah pasti berisikan bermacam macam jenis bunga. Aku menjual banyak bunga dari hari-hari biasa. Ketika kita sedang duduk di kursi dipinggiran kota, tiba-tiba ada orang orang yang berdatangan ke arah kami. 1 orang, 3 orang, sampai akhirnya ramai yang mengerubungi kami - oh bukan aku, tapi hanya Romi.
Mengerutkan keningku dan menyeimbangkan tubuhku yang sempat oleng karena terdorong dorong oleh orang yang tiba-tiba mengerubungi Romi.
Entah, aku binggung.
Berjalan dengan menerobos masuk ke dalam kerumunan orang dari mulai cewek-cewek yang berusia Sam denganku sampai dengan ibu-ibu.
Aku menaikan kedua alisku sembari memandang ke arah Romi. Romi hanya mengangkat kedua bahunya ke atas sembari menggelengkan kepalanya
"Mas saya minta foto dong!" Ucap seorang perempuan cantik dengan dress merah
bersambung~
Note\=Di novel author ada berpindahan antara orang ketiga serba tahu, dan tokoh utama ya.
Dan sorry juga, author gak tau tentang dunia perkuliahan. Karena author nya juga belum kuliah guys! entahlah author hanya mengarang hahaaa... pengetahuan tentang dunia perkuliahan aku nol banget meskipun udah cari tahu di Mbah Google tapi tetep gak mudeng otaknya huhuu😭! jadi jangan di hujat ya🙃
Thank you so much for reading my novel❤️
ILY-!🥀
__ADS_1
#salam dari dunia perhaluan🐼