Be Strong Girl

Be Strong Girl
Chapter 26


__ADS_3

Seorang pria berjalan lurus, melewati koridor dan suara teriakan dari para mahasiswi yang meneriakinya.


"Sumpah si ganteng banget woii!!"


"Kak! kalau gak bisa dimiliki, gantengnya dikurangi si!"


"Baru beberapa hari gak masuk, makin ganteng aja elah!!"


"Alan aku padamu"


"Woahhh Alan udah selesai di skors!!"


"Makin hari makin ganteng aja, heran gue!"


"Jantungku!!"


"Gimana gak jatuh cinta, tampilannya aja kek gini!!"


Begitulah teriakan-teriakan nyaring mahasiswi dan adik tingkatnya ketika Alan melewati koridor. Alan hanya mengacuh mereka semua, memakai kacamata hitam, telinganya ia sumpal dengan earphone, berjalan dengan berwibawa dan angkuh seperti biasanya, tapi itu sangat amat menambah kharisma dan ketampanan yang dimilikinya.


Apalagi para fens garis keras Alangansver yang terus mengambil gambar Alan dengan beberapa kali dan menampakan foto candid Alan lalu mereka posing ke dalam sosial media masing-masing. Alangansver adalah singkatan dari Alan ganteng Lovers nama penggemar Alan yang diberi nama oleh para fens nya sendiri.


"Alay banget Lo!" Teriakan seseorang di belakangnya menggema dan mampu menghentikan teriakan-teriakan para penggemar nya. Langkahnya terhenti, ia membalikan badannya, lalu membuka kacamata hitam nya dengan gerakan slow motion dan menyingkirkan earphone yang disumpal ditelinga nya.


"Wah ada Arkan woi, gue juga fens garis kerasnya Arkan!" Teriak salah satu mahasiswi yang berada dalam kerumunan


"Arkansas!!" Timpal beberapa siswi meneriaki Arkan dengan nama penggemarnya.


"Gue gak bisa milih klo kayak gini, gue kan Algansas"


Alan menatap ke arah Arkan dengan sinis "Mau ngajak ribut Lo?" Sarkas Alan yang langsung terpancing emosi karena kedatangan Arkan.


Akan berjalan maju kearahnya, menatap Alan dengan tatapan mengejek, menyamakan tinggi badannya dengan sang rival. Lalu mendecih "Cih, gak ada kerjaan banget gue ribut sama Lo, baru juga hukuman skors Lo selesai, udah mau di skors lagi rupanya"


"Lo cowok apa cewek si! Banyak omong Lo!" Sarakas Alan.

__ADS_1


Arkan tersenyum devil mengejeknya "Lebih baik banyak omong daripada banyak tingkah"


"Shit!" Alan mengeratkan giginya, ia mati-matian menahan emosi supaya tidak menjotos muka orang dihadapannya itu.


"Ribut sama murid pindahan aja Lo kalah, apalagi sama gue" Menggerak-gerakkan kedua alisnya lalu tersenyum mengejek tepat di depan muka Alan.


"Gue gak akan kalah oleh siapapun!" Ucap Alan tegas.


"Oh ya?"


"Kalau gitu, 3 hari lagi kita tanding basket untuk nunjukin kekalahan Lo!" Tantang Arkan.


"Oke, siapa takut" Jawab Alan tidak mau kalah.


Arkan berjalan satu langkah di samping Alan "Selamat menerima kekalahan nanti!" Ucapnya tepat di telinga Alan lalu menepuk beberapa kali pundak Alan dan berjalan meninggalkannya.


"Bubar Lo semua!" Suara bariton seseorang membuat semua mahasiswa/i yang sedang menyaksikan adu mulut Alan dan Arkan menengok ke arahnya lalu segera membubarkan diri dan masuk ke kelas masing-masing.


Tampaklah seorang mahasiswi cantik berdiri tidak jauh darinya ketika semua orang yang tadi mengerumuninya menghilang "Alan, Lo yakin mau tanding lagi sama Arkan?" Ucapnya seraya berjalan ke arah Alan.


"Kenapa tidak?" Jawab Alan datar.


"Gak usah banyak bacot bisa gak? Lama-lama Lo sama Arkan sama aja" Alan menyela, ia tampak sedikit emosi. Mungkin emosinya belum stabil.


Millen terdiam beberapa detik, menatap lekat netra coklat Alan. Apakah itu benar Alan? Sahabat kecilnya? Kenapa, kenapa sangat berbeda.


"Lo berubah banget Lan" Lirihnya.


"Ya, gue berubah karena Lo!"


"Gue?" Tanya Millen seraya menunjuk dirinya sendiri.


Alan menghembuskan nafasnya untuk sedikit meredam emosi nya, ia tidak mungkin membentak atau berkata kasar pada Millen sahabat kecilnya, Millen adalah gadis yang sangat sensitif. Bagaimanapun Millen pernah menghiburnya dulu dan selalu ada untuknya.


"Ya, Lo! Kenapa Lo harus mencintai sahabat Lo sendiri"

__ADS_1


"Gue juga nggak tau Lan, perasaan ini muncul karena kita selalu bersama, dan...gue cinta sama lo" Ucapnya dengan nada berujung melirih sembari menundukkan kepalanya, menatap ke arah sepatunya.


"Maka dari itu gue berubah karena Lo, gue jauhin Lo supaya Lo hapus perasaan cinta Lo ke gue"


Millen mendengakan kepalanya lagi "Lo bohong! Gue tahu itu!" Sarkas Millen, tidak mungkin hanya alasan itu yang membuat Alan-nya berubah, pasti ada alasan lain.


"Gue gak bohong!" Elak Alan.


"Tapi kenapa? Kenapa Lo gak mau terima cinta gue? Gue sayang sama Lo Alan"


Menarik nafas dalam-dalam, Alan tidak tahu lagi bagaimana caranya supaya Millen menghapus perasaan cinta padanya, meskipun Alan sering menolaknya dengan sarkas "Tapi gue nggak, gue hanya anggap Lo sebagai sahabat gue, nggak lebih. Asal Lo tahu, cinta tidak bisa dipaksakan" Jelasnya.


"Dan satu lagi, jangan pernah sekali lagi Lo minta bantuan papa Lo buat ngebujuk gue untuk nerima perasaan Lo! Atau gue gak mau dan gak pernah mau ketemu sama Lo lagi" Ucap Alan panjang lebar. Dia tidak suka dengan cara Millen, mendapatkan hatinya melalui papahnya, itu sama saja memaksakan kehendaknya sendiri. Dan Alan tidak menyukainya.


Mata Millen memerah, sedetik kemudian ia menitikkan air mata, dia tidak menyangka bahwa sahabat nya yang dulu begitu perhatian dan memperlakukan nya bak seorang ratu kini berkata semenyakitkan itu bagi Millen.


Millen pergi meninggalkan Alan, ia berlari untuk menjauhi Alan dengan deraian air matanya yang berjatuhan ketika ia berlari.


Cukup lama Millen duduk di bangku kampus Zervard, dia menutupi wajahnya sembari menangis tapi hanya tubuhnya saja yang sedari tadi bergetar hebat "Hiks hiks..." Suara isakan lolos dari mulut Millen.


"Lo kenapa Len?" Seseorang berkata padanya lalu duduk di sampingnya.


"Ini Lo minum dulu deh" Ucapnya sembari menyodorkan jus alpukat padanya.


Millen membuka kedua tangannya yang menutupi wajahnya, ia membuka mata lalu menengok ke arah samping.


Naraya kaget ketika Millen membuka mata, mata Millen memerah dan bengkak karena menangis terlalu lama "Ya ampun, mata Lo sampe bengkak gini!" Paniknya.


Millen meminum jus yang diberikan oleh sahabat nya, dengan sekali sedotan, Millen menghabiskan minuman milik Raya


Raya melihat Millen dengan cengo "Coba Lo jelasin pelan-pelan ke gue, Lo kenapa? Lo ada masalah kah?" Tanyanya pelan.


Millen meletakan gelas jus di sampingnya lalu menoleh ke arah Raya yang menatapnya dengan khawatir "Alan, dia tolak gue lagi, dia bentak gue, dia berubah Raya!"


**

__ADS_1


Romi sedang duduk di bangku kelasnya, ia sangat memperhatikan penjelasan demi penjelasan yang Pak Robert jelaskan di depan sana. Ia akan menjelaskan ulang pada sahabatnya -sahabat atau orang yang dicintai ya- selama Alin masih dirawat, Romi yang mencatat semua pelajaran di bukunya maupun dibuku Alin, lalu ia jelaskan kembali yang dijelaskan guru pada Alin.


bersambung~


__ADS_2