Because You Were There

Because You Were There
Bab 20


__ADS_3

"Tingki Wingkicong Dipsicong Lalacong Pooo—" Nyanyiannya terhenti sesaat. "cong?" Matanya membulat sempurna.


"Yah, ketendang, Le," ujar Gara polos saat kakinya tak sengaja menendang istana pasir yang baru saja dibangun Re di Taman Bermain Kenanga.


Re tercengang. Ia yang masih duduk bersila di atas pasir, mengerjapkan mata dengan mulut menganga. Ia tak percaya melihat istana pasirnya hancur mengenaskan oleh sepatu bermerek sahabatnya.


"AAAHHH!!!" jerit histerisnya. "Ictanaku!!!" Re langsung menarik-narik sebelah kaki Gara dan menaboknya membabi buta dengan tenaga seadanya.


"Ah! Kamu mah ngehanculin aja! Aku capek tahu bikin itu! Ngabicin waktu empat tahun tiga bulan dua puluh tiga hali empat puluh empat jam!" cerocosnya sambil terus memukuli kaki Gara, meluapkan seluruh amarahnya tanpa berniat untuk menyakiti kaki itu.


Gara hanya diam saja, pasrah. Ini memang salahnya yang jalan tak lihat-lihat.


"Lele! Lele ikan lele!" panggilan seorang gadis itu membekukan aktivitas Re. Ia dan Gara pun menoleh bersamaan pada gadis kecil yang menggandeng temannya dengan ceria sambil melompat-lompat kecil mendekati dua anak cowok itu.


"Ini ... kenalin temen balu kita," ujarnya merujuk pada gadis berambut hitam yang terus menundukkan kepalanya malu.


"Ciapa, Mput?" tanya Re pada Putri gadis yang dikenalinya saat ia berdiri seraya membersihkan pakaian dari pasir dengan tangan.


"Nih, kenalin ya ..." Putri mengambil tangan Gara dan Re untuk menjabat sekaligus dua tangan gadis yang diajaknya tadi.


"Yang jelek ini namanya Le. Kalau yang ganteng namanya Gal—aw!" ujarnya yang langsung dihadiahi jitakan dari Re yang sudah melotot padanya. Putri hanya merengut mengelus kepalanya lalu beralih pada gadis yang diajaknya.


"Nah, dia ini—"


"Laquelia Amanda," potong Raquel sembari menggoyangkan dua tangannya yang sedang berjabatan dibalas senyuman hangat dari keduanya.


Alena tak pernah menyangka bahwa sahabatnya sendiri juga suka pada orang yang sama seperti dirinya. Rasanya sakit mengetahui itu, mengingat Raquel, Gara, dan Re terbilang cukup dekat semasa tidak adanya Alena setelah kepindahan Alena yang mendadak ke Jakarta sepuluh tahun yang lalu. Hanya surat yang ia tinggalkan pada masing-masing sahabatnya lewat kotak pos depan rumah berharap ketiga sahabatnya akan mencarinya dan menemukan secarik kertas kecil itu.


Alena tidak pernah bisa berhubungan lagi dengan ketiga sahabatnya karena ia disibukkan dengan belajar. Ia tidak punya alat komunikasi sampai ia menginjakkan kaki di SMA. Selama itu, ia kesepian dan hanya bisa merindukan ketiga sahabat kecilnya lewat alam mimpi.


*******


"Re! Buruan mandi lo!" teriak Juniar dari luar kamar Re karena cowok itu masih belum menampakkan diri. Di sampingnya berdiri Alena yang sudah kewalahan membangunkan cowok kebo itu, sampai ia meminta bantuan Juniar.


Kesalahan terbesar Re, ia mengunci pintu kamarnya.


"Woy!" Juniar gedor lagi pintu dengan kasar. Ia merasakan ponsel di saku celananya bergetar dan saat ia lihat layarnya. Nomor tak dikenal yang meneleponnya.


"Halo?" sapanya entah pada siapa.


"Kapan bayar hutangnya?" Bibir Juniar langsung mencekung dan matanya menyipit dengan sendirinya.


Ia berdehem beberapa kali menormalkan suaranya. "Sekarang. Kita ketemu di tempat MV." Juniar bisa merasakan perempuan itu tersenyum geli di seberang sana.


Alena hanya menggelengkan kepala melihat Omnya malah senyam-senyum kayak orang nggak waras. Ia pun menggedor lagi pintu kamar dan Re akhirnya membuka pintu dengan mata yang masih terpejam lengkap dengan rambutnya yang sudah persis seperti sarang burung.


"Berisik," lenguhnya. Re pun menutup pintu lagi yang langsung mendapat belalakan mata dari Juniar dan Alena.


"Wey! RE!" sentaknya mengejutkan Re yang langsung mengucek-ngucek matanya.


Gara yang duduk manis di sofa tak mau ikut campur dan hanya menikmati adegan itu sambil menyesap teh hijau yang menghangatkan tubuhnya.


Ting!


K. Moldy : Lo masih di Roma?


Tanpa sadar Gara tersenyum membalas pesan dari aplikasi Line itu.


Anggara. P : Iya. Kenapa?

__ADS_1


K. Moldy : Ya gak kenapa-napa, sih. Cuma sekedar info gua balik ke Indo besok.


Gara mendengus geli membaca pesan singkat dari Kaira—gadis pencuri ponselnya. Semenjak gadis belasteran Indo-Belanda itu mendapatkan nomor Gara, ia sering menghubungi Gara dan menanyakan hal-hal yang tidak penting. Bahkan malah menceritakan tentang dirinya sendiri pada Gara. Percakapan pun sangat cepat berakhir dan percakapan kembali terbit karena dimulai oleh gadis itu.


Anggara. P : Kode mau dianter ke bandara sama gue?


Mengapa senang rasanya mengusili cewek tomboy penikmat olahraga ekstrem itu. Kenapa Gara bisa tahu, itu karena Kaira yang mengatakannya lewat pesan-pesan sebelumnya. Padahal Gara tidak pernah bertanya pada cewek itu.


K. Moldy : Sori! Nggak la yaw! Gua bisa terbang sendiri make paralayang ke sana.


Anggara. P : Oh.


Jleb!


K. Moldy : Oh doang.


Anggara. P : Ngambek?


K. Moldy : Nggak!


Anggara P : Bohong itu dosa.


K. Moldy : Terserah lu dah.


Percakapan berakhir.


Padahal, jika gadis itu berkata jujur, Gara mau-mau saja mengantarkan teman barunya itu ke bandara. Tapi jawabannya sudah sangat jelas bahwa gadis itu menolak keras Gara mengantarnya.


Nah, lantas mengapa gadis itu memberitahukan kabar bahwa ia pulang besok pada Gara? Apa benar tak ada maksud apa-apa? Gara kembali menyesap teh hijaunya yang sudah mendingin. Ia menggeleng kecil. Kaum Hawa memang rumit.


*****


Keadaan pita suara Gara mulai berangsur pulih walaupun ia masih belum diizinkan untuk bernyanyi dalam nada yang tinggi dan tiap harinya Dr. Kyla selalu menemani Gara untuk melakukan terapi agar kondisi pita suaranya membaik.


Pada dua hari terakhir, Alena, Juniar, Dr. Kyla, sudah berdandan rapi untuk menonton penampilan terakhir Re di sebuah acara penyambutan salah satu hotel untuk para tamu VVIP yang akan melaksanakan perjamuan makan malam. Re harus bernyanyi di acara ini hitung-hitung sebagai balas budi karena apartemen yang mereka tempati itu gratis dan satu pemilik dengan pemilik hotel ini.


Gara dan Re sama-sama dilatih oleh guru vokal di sini. Walaupun latihan Gara tidak bisa maksimal karena memang pita suaranya masih belum bisa dipaksakan, Gara tetap antusias dalam pelatihan dan ditawarkan untuk mengiringi Re bernyanyi dengan permainan pianonya. Gara mengangguk mantap.


Alena menyibak tirai ruang ganti di mana si penampil acara sedang bersiap. Re yang sudah bersetelan jas masih duduk di kursi rias menunggu wajahnya selesai dipoles. Sedangkan Gara, sedang duduk di kursi tunggu sisi ruangan. Ia terus memainkan kancing lengan kemejanya. Ia lepas-pasang kancing itu sampai Alena menghampirinya dan Gara mendongak menatap Alena.


Tangan gadis itu bergerak untuk mengancingkan lengan kemeja itu. "Kenapa, Gar? Gugup, ya?" terka Alena lalu duduk di samping Gara.


Gara menghembuskan napas berat. "Iya," jawabnya.


"Nggak usah gugup, nyantai aja. Lagian juga kan nanti ada Re satu panggung sama kamu," hibur Alena tersenyum manis.


Gara tersenyum kecil. Ia tatap binar kelabu gadis itu yang malah melunturkan senyumannya perlahan. Ia pun cepat-cepat membuang wajah.


Kok, dag-dig-dug?


Alena mengernyit dan saat tangannya hendak menggapai bahu Gara, seseorang sudah terdahulu menghampiri mereka.


"Aspri? Ngapain lo di sini?" heran Re.


Alena mendengus. "Ya, biarin aja. Aku cuma mau nyemangatin kalian," sewotnya kemudian berdiri di samping Re dan mengangkat tangan untuk tos dengan cowok itu. "Semangat, Re!" cerianya.


Dengan malas Re membalas tos itu yang langsung ia genggam tangan Alena untuk ia turunkan ke bawah. "Iya! Tapi nggak usah malu-maluin juga, kali," cibirnya.


Alena merenggut sebal. "Ih, nyebelin! Malu-maluin dari mana, sih?"

__ADS_1


Ia beralih pada Gara yang masih duduk di kursi. "Gar, semangat, ya!" kepalan tangan gadis itu terangkat dua-duanya.


Perlahan kepala Gara terdongak menatap cantiknya wajah gadis itu. Ah, tidak. Degupan jantung yang berpacu itu kembali terasa. Gara harus bisa bersikap normal. Ia langsung berdiri dan tersenyum kecil pada Alena yang masih ceria di hadapannya.


"Makasih," ujarnya ramah seraya mengacak puncak kepala Alena.


"Ah, Gara!" Alena merengut. Langsung ia tepis kasar tangan Gara dan ia rapikan rambutnya.


Gara berdehem beberapa kali apalagi setelah melihat pandangan kosong dari Re yang melihat itu. Gara sudah gila. Jantungnya malah semakin tersetrum karena ia melakukan itu. Ia pun berbalik memunggungi dua sahabatnya pura-pura merapikan rambutnya.


Re mengerjap. Rahangnya mengeras tanpa perintahnya dan jantungnya terasa jatuh ke dasar perutnya. Re pun berpaling dan berjalan pergi meninggalkan Gara dan Alena menuju belakang panggung.


*****


"Loh, Chyntia?" kejut Juniar melihat Chyntia memasuki ballroom dengan dress selutut berwarna putih yang sangat anggun melekat di tubuhnya. Mata perempuan itu berbinar menemukan Juniar yang menyapanya.


"Kamu ke sini juga?" tanya Chyntia. Di sampingnya berdiri Chyra—adiknya— yang hanya fokus pada gadget-nya. Tak peduli pada lingkungan sekitar dan ia hanya mendongak sekilas menatap Juniar kemudian berlalu pada benda di tangannya.


Juniar terkekeh canggung. "Iya, artis aku tampil. Kok bisa ketemu terus, ya? Apa ini yang disebut takdir?"


Chyntia berdehem canggung dan menyelipkan rambut ke belakang telinganya. "Iya, kali."


Juniar mengembangkan senyum lebarnya.


"Om Jun!" Juniar menoleh pada suara yang memekik memanggil namanya.


"Na! Sini," ajaknya pada Alena yang mengenakan gaun mint dengan rambut yang dicepol, terlihat sangat manis di tubuhnya yang mungil.


Alena berdiri di samping Juniar dan langsung terpesona pada kecantikan Chyntia. Perempuan itu tersenyum ramah pada Alena dan Juniar pun memperkenalkan mereka berdua.


"Om, cantik banget," gumam Alena pada Juniar ketika Chyntia tengah memunggungi mereka.


"Iya, dong." Juniar langsung mendekatkan bibirnya pada telinga Alena. "Doain biar dia jadi istri Om."


"Itu, sih, pasti." Mereka bertos-ria dengan senyuman bahagia. "Kayaknya dia udah ngasih lampu ijo tuh buat Om."


Ia tak percaya. "Ah, masa, sih?" Juniar menyikut perut Alena sembari memasang senyum kesemsem.


Alena mengelus sisi kiri perutnya dan melotot pada Juniar. "Awas aja, Om, kalau sampe buta warna malah nempatin dia dalam friendzone. Om nanti nyesel seumur hidup," peringatnya.


Kening Juniar mengerut dalam. "Ya nggak mungkinlah, Na. Emang bisa ya kayak gitu?" tanyanya.


Alena mengangguk mantap. "Bisa, lah, Om. Nih, ya. Banyak orang yang udah dipertemukan dengan jodohnya tapi mereka tuh nggak tahu dan nggak sadar bahwa mereka sendiri yang udah nempatin jodoh mereka dalam friendzone. Misalnya gara-gara nggak peka lah, terlalu cuek lah, atau masih terus nyari yang sempurna. Banyak kasus tuh yang kayak gitu," jelas Alena.


Tanpa dia sadari, kisah cintanya adalah salah satu contoh dari kasus tersebut.


Juniar membulatkan tekadnya dengan tangan yang terkepal. "Om bakal berusaha buat dapetin cintanya Chyntia." Alena tersenyum meyakinkan Juniar.


Perempuan itu menoleh ke belakang dan mengajak Juniar untuk mendekatinya karena acara akan segera dimulai. Juniar dan Alena bertukar pandang memasang senyum yang sama. Mereka pun berjalan menghampiri perempuan itu.


Chyra, Chyntia, Juniar, dan Alena berdiri bersampingan. Ah, tidak. Sebenarnya ada satu lagi yang berdiri di antara Chyntia dan Juniar. Cupid yang siap memanahkan panah asmara.


Tirai pertunjukkan pun terbuka dari tengah menampilkan Re yang sudah siap di tengah panggung dengan microphone di tangannya. Ia membungkukkan badannya tanda hormat disusul senyum tipisnya. Tirai masih bergerak dan terlihatlah Gara yang sudah siap di belakang grand piano warna cokelat di sisi kanan panggung.


Semua mata langsung tertuju pada dua anak remaja seakan menantang sehebat apa mereka bisa sampai dipanggil untuk mengisi acara penyambutan tamu VVIP di salah satu hotel berbintang di kota Roma.


Re menolehkan sedikit kepala untuk melihat Gara dan mereka bertukar pandang saling memberi isyarat mata untuk memulai. Seringai kecil terbit di masing-masing wajah. Tantangan, diterima.


Malam pun pecah oleh pertunjukkan yang memukau dari kedua anak berbakat di depan panggung.

__ADS_1


__ADS_2