
Mata elang itu terpasang di wajah Re yang menatap tajam mobil Juniar sedari tadi. Untuk pengejaran kali ini, Re tidak bisa meminta bantuan Mang Ayus. Ia akan urus semuanya sendiri. Stir kemudi sudah dalam genggamannya dan di jok samping sudah duduk Alena yang diajak untuk menemaninya.
"Kita mau kemana?" tanya Alena yang tak tahu menahu apa-apa.
"Ya mana gue tahu," sahut Re yang dihadiahi decakan malas dari Alena.
Getaran ponsel pun terdengar dari saku kemeja yang Re pakai untuk melapisi kaos tipisnya. "Ambilin, dong, terus sambungin ke Tape mobil." Alena langsung bergerak menuruti perintahnya.
"Halo?" sahut Re setelah melihat nama yang memanggil.
"Huaaaaa .... Hhh ... Hhh ..." Malah jerit tangis yang terdengar memenuhi keheningan mobil ini.
"Kenapa lo, Dy?" tanyanya.
“GUE PUTUS SAMA ACHA, BANG!!!" jeritnya sungguh menyakiti telinga.
Re terperangah sembari menginjak pedal rem akibat lampu merah. Mobil Juniar berjarak dua mobil dari mobil Re. Ia tatap tape mobilnya sendiri berasa ada wajah Ardy yang terpampang di sana. "Lah? Kok bisa putus?!" tanyanya.
Alena ikut mendengarkan. Ternyata Re punya adik. Alena baru tahu itu, karena ia kira Re adalah anak tunggal. Re tidak pernah memperkenalkan adiknya sendiri pada Alena saat berusia tujuh tahun itu.
"Kata emaknya, dia harus rajin belajar. Dan emaknya nyalahin gue yang jadi penyebab nilai Acha jadi anjlok semester kemaren. Padahal gue juga suka belajar bareng dia. Dan nilai yang dikata anjlok itu cuma turun 0,2 doang, Ya Allah! Gue aja yang nilainya pas KKM kagak ribet, tuh. Emaknya ribet banget, sih! Gimana gue nggak kesel?!"
Re kembali menginjak pedal gas seraya berpikir nasihat apa yang harus ia sampaikan pada adiknya. "Kalau lo sayang sama Acha ya hargain keputusan dia, lah. Dan ibunya juga nggak salah kalau emang pengen anaknya dapet nilai bagus biar bisa masuk kuliah nanti."
"Iya, gue tahu! Tapi kenapa Acha nggak bisa ngehargain keputusan gue juga? Dia malah ngotot pengen putus dulu di saat gue mau mertahanin. Emangnya setelah tali putus terus diikat lagi, tali itu bakalan mulus? Nggak bakal. Talinya bakal cacat dan semakin gampang buat diputusin lagi."
__ADS_1
Re menghela napas pasrah. "Terus mau lo gimana?" tanya Re sembari memutar setirnya ke kiri.
"Harusnya Acha jangan gampang bilang putus kayak gitu. Dia bilang pas kita berdua kuliah baru pacaran lagi. Tapi gue nggak yakin. Gue takut perasaan gue atau dia bakal berubah karena sekarang udah nggak ada ikatan apa-apa. Gue nggak punya hak buat minta dia ngejaga perasaan dia lagi."
Mobil hitam itu belum juga sampai ke tempat tujuan. Re masih harus fokus untuk membututinya tanpa dicurigai oleh Juniar. Kepalanya pening mendengar curhatan dari Ardy. Rasa-rasanya, ia ingin menutup sepihak saja sambungan telepon ini.
"Dy?" Kening Re berkerut melihat sekilas Alena yang mengambil alih sambungan telepon.
"Iya? Ini siapa, ya? Ceweknya abang gue?!"
"Enak aja! Bukan!" sanggah cepat Re.
"Ya terus? Siapa? Oh, asisten pribadi lo?"
Keningnya berkerut samar. "Aku lebih suka kalau dianggap temennya aja."
"Aku cuma mau ngasih tahu, kalau jalan kalian memang harus putus, ya itu berarti udah jalan terbaik buat kalian. Mungkin Acha nggak mau nyakitin kamu dengan status pacar karena dia harus fokus buat belajar. Dan kamu juga takut nyakitin Acha kalau suatu saat nanti perasaan kamu berubah.
"Perasaan itu bagaikan air, bisa mengalir dari dataran tinggi ke dataran rendah lalu menguap jadi awan dan turun bagai hujan ke tempat asalnya. Bisa berpaling dari yang sempurna ke yang selalu ada lalu teredam karena suatu alasan dan kembali pada rumahnya.
"Mungkin perasaan kalian sedang berada di tahap penguapan. Di mana kalian harus mengikhlaskan apa yang sudah terjadi hingga perasaan masing-masing harus diredam jadi awan dulu. Jika berjodoh, pasti awan akan menumpahkan segala luapan perasaan itu pada kalian lagi. Pada rumahnya."
Keheningan pun melanda. Re ikut terpana mendengarkan nasihat dari gadis di sampingnya ini. Ia mencoba untuk meresapi perkataan itu.
"Oh, jadi aku harus nahan perasaan ke Acha, dong? Kalau pun suatu saat perasaan kita berdua saling berubah, itu berarti emang hati aku sama Acha bukan rumah sebagai tempat kembalinya perasaan masing-masing."
__ADS_1
Re tersenyum kecil. "Tumben cepet nangkepnya," cibir Re.
"Berisik, lo!" Re mendesis kesal. "Makasih, ya ... kak ...?"
"Asp—Alena!" sahut Re yang mendapat sipitan mata dari gadis itu.
"Ardy? Kamu udah makan?"
Re dan Alena saling pandang sekilas karena Re harus segera berpaling menatap jalanan lagi.
"Itu, siapa, Dy?" heran Re mendengar suara yang asing di telinganya.
Terdengar deheman canggung dari sana. "Pacar," cicitnya.
Re langsung menganga tak percaya. "Kampret, lo, emang! Lo baru aja putus dan udah punya pacar lagi?!" semprotnya.
"Ya biarin aja! Lagian cewek gue ini tahu kalau dia cuma pelampiasan doang karena gue juga pelampiasan buat dia. Yang penting, gue, tuh, setia sama Acha! Lo tahu, kan, gue nggak bisa sendirian."
Re menginjak pedal gasnya. "Defangga! Lo persis banget kayak bokap."
"Ya salahin aja bokap kenapa sipatnya begitu jadi nurun ke gu—" Tut-tut-tut.
Pulsa koid.
Ia mulai mengendorkan pijakan pedal gasnya dan menginjak rem perlahan mengikuti lampu rem di mobil Juniar yang menyala terang. Mobil Juniar pun berbelok melewati gerbang ke dalam suatu bangunan besar dan luas. Re ikuti jejak Juniar melewati gerbang dan tulisan yang terpajang di atas gedung membuat Re dan Alena meneguk salivanya.
__ADS_1
Rumah Sakit Jiwa.