
Hari Kamis, tanggal lima maret, dua ribu enam belas. Pukul empat lewat dua belas menit, di detik ke tiga puluh tiga.
Kalau kamu sampai menerima pesan ini setahun kemudian, berarti aku udah nggak ada di dunia Re.
Kamu pasti benci sama aku, kan, yang mutusin kamu sepihak? Aku harap kamu benci sama aku biar bisa lupain aku. Kamu, kan, gitu orangnya. Kalau udah benci sama orang boro-boro nyapa, senyum aja nggak pernah. Dan karena kamu benci sama aku, aku pikir kamu nggak bakal mikirin aku lagi jadi kamu bisa lupa dengan mudah dan bisa bernyanyi tanpa beban lagi.
05 Mar 2016 – 14.10 Love you too, Ara.
Aku dapet pesan dari kamu. Aku seneng, kamu bilang cinta sama aku. Hampir buat aku nggak jadi operasi tahu, nggak, demi balik lagi ke Bandung dari RS. Singapura buat bilang aku juga cinta sama kamu.
Re, aku mengidap tumor otak akut dan karena itu aku jarang ada di sekolah karena aku harus pengobatan dengan dalih belajar bareng Fakhri. Presentase kesembuhan aku cuma 20 persen dan kalau nggak dioperasi, aku juga tetep bakal mati
Aku nggak mau suasana hati kamu kacau kalau aku bilang aku lagi sakit apalagi harus dioperasi saat kamu lagi Festival Seni, makanya aku mutusin kamu saat ini karena aku masih malu untuk mengakui semua kesalahan aku ke kamu dan aku ingin kamu bisa jadi juara satu lagi.
Jadi, gadis itu memutus hubungan sepihak tiba-tiba karena tidak ingin memberitahu bahwa ia sedang operasi yang akan mengacaukan suasana hati Re yang sedang melaksanakan festival hari itu? Dan agar Re bisa dapat bernyanyi dengan bayang membenci gadis itu bukan karena kesedihan gadis itu telah meninggalkan dunia?!
Ah, Re tidak habis pikir dengan jalan pikir Raquel. Mengapa semuanya menjadi rumit seperti ini? Dan mengapa pula, ia menyembunyikan fakta bahwa ia sedang sakit tumor otak?
Sahabat macam apa yang tidak menyadari keadaan sahabatnya sendiri? Re benar-benar merasa tak pantas menjadi teman terbaik Raquel. Terbaik menjadi sahabat terbodoh sedunia? Ya, mungkin Re memang lebih pantas menyandang gelar tersebut. Ia tak pernah tahu apa yang terjadi di sekelilingnya. Re memang sahabat terburuk.
Aku mau minta maaf udah bohongin kamu, Re. Putri belum meninggal. Maaf butuh waktu lama buat aku jujur sama kamu. Aku malu. Aku malu berat sama semua kebohongan aku. Jadi aku simpan pesan ini untuk aku kasih tahu kamu setahun kemudian.
__ADS_1
Lepaskan aku. Masih ada Putri di hati kamu. Kamu hanya kasihan sama aku, Re.
Kamu nggak akan bisa berkencan dengan orang yang kamu kasihani.
Kejar Putri. Maafin aku yang bilang bahwa dia udah meninggal. Dia selalu mencintai kamu, Re.
Cinta yang tulus bukan karena keegoisan aku yang cinta sama kamu.
O iya, kasih tahu Gara juga, ya. Makasih udah mencintai aku sampai dia rela aku ngejar kamu, Re. Asal dia tahu, aku juga sayang sama dia. Namun, terlambat menyadarinya.
Kejar Putri, ya. Karena cuma itu yang bisa bikin aku tenang di alam sini.
Maafin otak aku yang dangkal ini malah egois ngehancurin hubungan kalian. Dia yang selalu ada buat kamu, bukan aku. Dia yang paling mengerti kamu, bukan aku.
Awas kalau dia sampai di pelukan orang lain. Bakal aku gentayangin kamu, Re. Hehe ...
Rekaman suara berhenti bersamaan dengan napas Re yang tercekat. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Jadi, gadis yang telah menghabiskan waktu selama tiga bulan bersamanya itu benar-benar Putri? Gadis yang sekarang akan pergi lagi meninggalkannya itu benar-benar seorang Putri? Dia benar gadis kecil yang selama ini Re rindukan? Ah, mengapa bisa Raquel membuat skenario seperti ini?
Ternyata gadis yang sudah ia tunggu selama satu tahun hanya meninggalkan nama. Semua pertanyaan mengapa Raquel tiba-tiba memutuskannya sepihak di saat Re sudah berharap padanya, sudah terjawab dengan sangat jelas. Re tidak pernah membenci Raquel satu kali pun. Perkiraan Raquel bahwa Re akan membencinya, sudah melenceng sangat jauh. Re malah tidak melupakannya dan terus tersiksa kala mengingat Raquel.
Kejar Putri, ya. Sekelebat suara Raquel muncul dalam pikirannya. Ia sudah kehilangan Raquel, dan sekarang ia tak boleh kehilangan Putri juga!
__ADS_1
Re langsung bergegas mengambil jaket dan kunci mobil seraya berlari keluar dari apartemen.
*****
Re berlari sangat kencang hingga rambutnya berkibar ke segala arah. Ia tak peduli dengan teriakan gadis atau ibu-ibu yang mengenalinya di sekitaran lingkungan bandara. Bahkan banyak pula yang mengabadikan momen Re yang lari terburu-buru menyusuri bandara dengan kamera ponselnya. Mungkin, esok hari harus diadakan konferensi pers untuk menjelaskan mengapa Re berlarian seperti ini.
Di pikirannya hanya ada nama Putri sampai-sampai ia lupa jika tempat yang akan ia kunjungi adalah tempat umum. Re tidak mengenakan kacamata hitam ataupun jaket berkupluk. Ia biarkan semua mata dapat menangkap raut wajah gelisah juga matanya yang memerah. Re tidak peduli.
Re masih berlari sampai ia menyembul dari balik dinding dan apa yang ia lihat langsung membuatnya mengerem langkah mendadak. Bahkan sepatu Re tergelincir beberapa senti dari lantai pijakannya.
Napas tersengal dan peluh yang sudah membanjiri keningnya menemani Re yang masih tidak percaya dengan apa yang dilihat matanya. Orang yang ia sayangi jatuh dalam pelukan orang lain. Pupil matanya pun melebar, ia sadar sesuatu.
Cinta dapat mengalir. Mengalir dari tempat yang tinggi menuju tempat yang rendah. Beralih pada orang yang sempurna ke yang selalu ada.
Ia tak mau menjadi Raquel yang menjadi sosok egois yang melukai hati Gara. Hubungan persahabatan yang pernah retak antara Re dan Gara sudah kembali membaik.
Apa yang akan terjadi apabila Gara juga menyukai Putri? Apakah bisa, Re sebagai sahabatnya merebut lagi orang yang dicintai Gara? Apakah tidak terlalu kejam bagi Gara?
“Apa ... aku juga harus melakukan hal yang sama kayak yang Gara lakuin ke Raquel?”
“Melepaskan kamu, Putri.”
__ADS_1