
Hari-hari berlalu dilalui dengan canggung. Re tak pernah mengajak bicara lagi Alena sejak ia keluar dari kamarnya yang subhanallah, seperti kapal pecah. Re sudah biasa bangun sendiri tanpa perlu Alena tarik-tarik lagi selimutnya yang selalu ditahan oleh Re tiap pagi. Re pun tak pernah meminta tolong untuk menyiapkan sarapan. Setelah mandi, ia langsung berjalan keluar sendiri dengan hoodie hitam tebal yang dikenakannya untuk menutupi diri dari para penggemar yang bisa saja menghadang Re di mana saja.
Tiap pertanyaan yang Alena lontarkan, hanya dijawab anggukan, gelengan atau bahkan putaran bola mata cowok itu. Ia lebih senang meminta tolong pada Juniar jika ada hal yang diinginkannya. Juniar hanya bisa mengangguk mengerti karena Alena telah menceritakan inti dari permasalahan ini.
Kadang, Re selalu berbisik pada Juniar untuk ia memecat saja gadis itu karena Re sangat tidak nyaman dengan orang yang mengaku-ngaku sebagai Putri. Tapi saat itu terjadi, Re selalu diingatkan Juniar akan insiden bertubi-tubi yang baru saja menimpa gadis itu. Ia masih sangat membutuhkan pekerjaan ini yang membuat hati Re terenyuh dan sedikit merasa bersalah jika ia harus memecat Alena.
Acara demi acara, dapat Re lalui dengan senyuman di atas panggung tanpa ada yang curiga bahwa Re sedang dilanda masalah. Kini, Re bisa mengatur seluruh emosinya agar tak mempengaruhi pekerjaannya lagi. Ia sudah bisa memisahkan kapan waktunya ia harus berpura dan kapan waktunya ia jadi dirinya yang sebenarnya. Senyuman Re pasti akan luntur dalam satu hitungan kala melihat gadis itu menghampirinya. Sedangkan Alena, hanya bisa menahan kesesakan di dadanya seorang diri.
“Re ... kamu mau makan apa? Ada waktu dua puluh menit buat kamu istirahat,” tanya Alena pada Re yang menyandar pada kursi dengan tangan yang terlipat dan dengan mata yang sengaja ia arahkan ke arah berlawanan dengan tempat di mana Alena berdiri. Di samping kirinya.
Di hari yang panas ini, Re, Juniar, dan Alena sedang berada di tenda yang dibangun khusus untuk para artis pengisi acara di panggung outdoor. Banyak artis lain dalam ruangan ini bukan hanya Re. Mereka terlihat saling bercengkerama satu sama lain tapi mereka segan jika harus mengajak bicara Re yang memasang wajah dingin seakan mengatakan bahwa ia tidak ingin diganggu.
Re hembuskan napasnya panjang. Ia benci suara gadis itu, ia benci rambutnya, ia benci wajahnya, ia benci cara gadis itu menatap dirinya, ia benci mengingat perkataannya bahwa ia adalah Putri! Re sungguh muak berada satu lingkup dengan orang asing ini yang selalu membuatnya menyesal dan menyesal telah berlaku baik padanya.
Tapi apa yang ditunjukkan gadis itu? Sebuah lelucon yang sama sekali tidak ada lucu-lucunya di mata Re. Gadis itu telah membuat lelucon paling garing sedunia telah mengatakan dirinya adalah Putri.
Re hanya memutar bola matanya menjawab pertanyaan gadis itu. Alena menghembuskan napas pasrah dan segera ia ambil kipas di dalam tas yang ada di samping kursi yang diduduki oleh Re. Ia kibaskan kipas itu pada Re yang sangat terlihat kepanasan. Keringat terus mengucur di daerah pelipisnya.
Tanpa memalingkan wajah, tangan Re terangkat dan ia rampas kipas itu dari tangan Alena yang tersentak akan gerakan dadakannya. Ia tatap penuh kebencian gadis itu yang selalu terlihat ingin menangis jika menatapnya. Tapi Re tidak peduli.
“Pergi,” ketusnya. “Jijik gue liat muka lo,” sarkasnya kembali memalingkan wajah.
Alena tak bisa menahan air matanya. Ia biarkan meluncur begitu saja membanjiri dua pipinya. Ia pun berlari keluar dari tenda dengan dua tangan yang menutupi wajahnya.
Semua pandangan dalam tenda terarah pada Re sampai Juniar datang menghampiri dengan kernyitan di kening. Ia pun meminta maaf pada semua orang dalam tenda dan berkata bahwa ada sedikit gesekan antara artis dan asisten pribadinya. Mereka pun mengangguk mengerti.
Hati Re mencelos dan bahunya merosot mendengar isakan tangis gadis itu. Perlahan ia putar kepalanya menatap tempat hilangnya gadis itu.
*****
__ADS_1
“Senyam-senyum mulu, lo,” cibir Re melihat Juniar yang duduk di jok samping supir sedang berbagi kabar pada Chyntia lewat media sosial.
Dua jemarinya bergerak gesit membalas pesan itu. “Ye, biarin aja sama calis sendiri ini,” balas Juniar.
Re yang duduk di belakang, memajukan tubuhnya dan menyembulkan wajah di samping kursi jok yang duduki Juniar. “Apaan calis?” kernyitnya. Baru Juniar menganga untuk menjawab Re langsung memotongnya. “Calon istri?!” Juniar mengangguk mantap. “Ya elah, receh banget, sih, lo!”
“Ye sehepi-hepi gue, lah,” jawab Juniar lalu menolehkan kepalanya pada wajah Re yang tepat ada di sampingnya. Ia berikan toyoran kasih sayang pada dahi Re.
“Apaan, sih, lo?!” rengutnya sambil mengelus dahi.
“Kalau gue bilang Nana emang beneran Putri ... apa lo percaya sama gue?” tanya Juniar serius.
Re sontak mendengus dan menjambak rambut Juniar sebelum ia kembali duduk di jok dengan benar.
“Kutil!” pekik Juniar.
Ia lirik sekilas Asprinya yang masih saja menunduk dan menunduk. Rambut panjangnya menutupi seluruh wajah gadis itu dengan tangan yang terkulai begitu saja di sisi pahanya. Re tidak mau peduli. Ia segera buang wajahnya menghadap kaca jendela mobil yang sedang melaju menuju apartemen.
Tapi, gadis itu tak bergerak lagi setelah sekian ratus meter mobil ini melaju. Ah, sial! Hati nurani Re terus memaksa cowok itu menanyakan kabar Alena. Ia alihkan pandangan pada kaca spion depan yang memantulkan wajah Juniar. “Mas! Mas Jun!” bisiknya.
“Apa?” Lelaki itu menautkan dua alisnya di saat Re menunjuk kecil Alena agar tidak ketahuan bahwa ia sedang peduli.
Juniar mengerti dan segera membelokkan kaca spion untuk melihat Alena. Ia pun berpaling dan menjulurkan sebelah tangannya untuk menepuk-nepuk lutut gadis itu. “Hei? Na? Nana?” Tak ada sahutan bahkan tak direspon apapun.
“Re! Tolongin Nana sana! Ini jalan tol nggak bisa berhenti,” khawatir Juniar.
Re terus menggelengkan kepala enggan untuk sekedar menepuk gadis itu. Re, kan, sedang benci padanya. Mana mau Re melakukan itu.
Juniar semakin merasakan jantungnya berdebaran. Ia pun memutar kepala dan melotot tajam pada Re. “Re! Buruan napa?! Kalau gue bisa ke situ, gue juga nggak bakal minta tolong sama lo!” sentaknya serius.
__ADS_1
“Yaudah loncat aja sini,” balas Re keras kepala.
“Renggana ...,” geram Juniar yang membuat Re meringkuk. Juniar yang kayak pelawak itu udah berubah sangar jadi preman. Re, kan jadi takut.
Ia angkat paksa tangannya untuk menepuk pundak gadis itu. “Aspri! Lo kenapa, sih?”
Tak ada sahutan.
Re goyangkan pelan bahu Alena yang malah membuat tubuh lemah itu jatuh ke samping. Hampir saja, kepalanya menabrak jok kursi jika Re tidak segera menggeser posisi duduknya ke tengah untuk menahan kepalanya. Kini, telinga kiri gadis itu menempel di atas paha Re.
Cowok itu terperanjat merasakan tangannya yang serasa terbakar kala menyentuh wajah gadis itu. “Mas! Buru ke rumah sakit! Dia panas banget!” cemas Re yang membuat napasnya jadi terengah-engah. Peluh berasa bercucuran di keningnya melihat Alena yang tak berdaya seperti ini.
Re segera singkap rambut panjang itu yang masih menutupi wajahnya. Mata gadis itu terpejam dan lenguhan-lenguhan kecil terdengar dari bibir pucat Alena. Re usap perlahan sebelah pipi gadis itu. Alena sangat terlihat kesakitan.
“Mas!” sentak Re melihat Juniar malah sibuk menelepon. Lelaki itu pun menutup panggilannya dan menatap Re dari kaca spion.
“Nggak bisa, Re! Nggak ada waktu buat lo tampil di cafe itu. Bentar lagi nyampe apart. Kita rawat Nana aja di sana,” ujarnya.
Re mendesis kesal. Sedang berada di situasi genting seperti ini, Juniar masih saja bisa hitung-hitungan waktu. “Yaudah cepetan!” sentaknya.
Kembali ia tatap nanar Alena yang kian terlihat kesakitan. Tubuhnya pun bergetar karena tergigil. Re segera melepas jaketnya untuk menyelimut tubuh Alena. Ia belai lembut rambut gadis itu dan bahkan mendekap wajah pucat gadis itu yang sudah tak mampu lagi untuk membuka matanya.
Napasnya kian terengah-engah. Hatinya ikut meringis bagaikan Re merasakan pula sakit yang Alena rasakan.
“Kamu nggak boleh sakit. Jangan sakit, please ... aku nggak bakal bisa benci kamu kalau kamu sakit kayak gini,” gumamnya kemudian mengecup puncak kepala gadis itu hingga air matanya mengalir.
Ia tak tahu mengapa hatinya begitu berkecamuk hanya dengan melihat Alena yang sakit seperti ini. Ia juga tidak tahu apa yang mendasari semua perilakunya pada Alena saat ini.
Ini semua di luar kemampuannya.
__ADS_1