Because You Were There

Because You Were There
Bab 34


__ADS_3

Hujan deras menjadi musik pengiring Alena yang masih setia berlutut di samping makam ibunya. Penyesalan terus datang menghampiri. Ia begitu menyesal tak sempat untuk menemani Amely di detik-detik masa terakhir hidupnya. Air matanya sudah mengering. Dan tak ada pula yang bisa ia ungkapkan selain doa agar ibunya tenang di alam sana.


Juniar yang menggenggam payung hitam untuk melindungi tubuh Alena, ikut menitikkan air mata melihat gadis itu yang masih belum mau meninggalkan makam. Hanya tersisa teman-temannya di sini yang ikut berkabung dalam duka. Re dan Gara yang ikut berlutut di samping Alena menaburkan bunga dan memanjatkan doa untuknya. Yusuf, Fikran, Fany, dan Sabrina yang juga tak mau meninggalkan Alena seorang diri.


Tak ada yang berani berucap atau bahkan membujuk gadis yang baru saja kehilangan malaikat pelindungnya di bumi. Semua setia menunggu sampai gadis itu benar-benar mampu untuk berdiri dengan satu kaki dan hidup dengan satu tangan setelah ditinggalkan separuh jiwanya untuk selamanya.


Dan pertanyaannya adalah; adakah yang bisa menggantikan separuh jiwa itu?


*****


Re yang duduk di sofa terus menggertakkan gigi melihat Alena yang mondar-mandir di apartemennya entah mengambil pakaian di laundry, menyiapkan makanan, atau menyiapkan kostum untuk Re. Ia terlihat biasa saja padahal hari kemarin baru saja ia berkabung.


Alena baru saja kembali dari dapur membawa nampan berisi semangkuk bubur ayam yang ia simpan di atas meja depan sofa. "Nih, lo makan dulu nanti jam 11 lo ada acara di stasiun TV," ucapnya tanpa menatap mata yang sedari tadi menegang melihat Alena seperti ini. Gadis itu pun berputar dan hendak melangkah sampai suara Re menahan pergerakannya.


"Lo masih mau kerja?" Alena terhenyak dan mendiamkan pertanyaan itu sekian detik lalu menganggukkan kepalanya.


"Udah, deh, mending lo cuti dulu seminggu," sangsi Re. Gadis itu baru saja menerima kenyataan pahit bertubi-tubi dan bisa-bisanya ia bersikap biasa saja hanya dalam selang waktu satu malam? Re benar-benar tidak paham.


Alena memutar tubuhnya untuk membalas tatapan Re. "Nggak usah, Re. Gue masih butuh uang. Lagian juga gue nggak papa." Alena langsung mengembang senyum manisnya. "Nih, liat, gue udah bisa senyum, kan?" pamernya menampilkan deretan gigi.

__ADS_1


Re menghembuskan napas jengkel. "Senyum kepaksa, keliatan banget," tandasnya melunturkan senyum palsu Alena. Re pun beranjak dari sofa berniat untuk mandi. "Udah, deh, lo jangan ngeyel. Lo cuti dulu, gue bisa ngurus diri sendiri." Re berjalan melewati Alena menuju kamar mandi.


"Nggak mau, nanti gue nggak digaji," ucapnya yang buat Re mengerem langkah dadakan.


Cowok itu menggeram. "Gue tetep gaji elo," tekannya tanpa berbalik.


Alena meremas nampan dalam genggamannya. "Nggak mau, itu gaji buta namanya."


Re menjatuhkan rahang tak percaya lalu mengangkat dua tangannya untuk menggaruk kasar kepala. "Aishh, lo batu banget, sihhh!" gemasnya udah minta banget buat dicium ... pake kaki.


Ia pun putar tubuh agar bisa melihat manik mata kelabu gadis itu yang sekarang tengah menunduk menatap kosong lantai.


Alena mengangkat kepalanya perlahan melihat Re yang masih menekuk jemarinya. Lalu ia simpan nampan di atas meja sebelum berjalan gontai menghadap bosnya. "Apa?" tanyanya lesu.


Re langsung tarik sebelah tangan Alena hingga gadis itu melangkah mendekat di saat Re lingkarkan dua tangannya di pinggang gadis itu. Dagu Re pun terjatuh pada bahu kanan Alena di saat kepala gadis itu harus sedikit terdongak di bahu Re.


Tubuh Alena menegang dan matanya membulat sempurna. Re sungguh memeluknya begitu erat seperti mencoba memberi kekuatan lebih pada Alena dengan kehangatan tubuhnya yang dapat mengalir lewat dekapan ini. Tapi tak lama, tubuh Alena pun kian melemas membiarkan segala rasa yang ada dalam dirinya tumpah hingga Re dapat merasakannya.


Re pejamkan matanya dan semakin menenggelamkan kepalanya di lekukan leher gadis itu. "Jangan sok kuat di saat lo emang nggak kuat nanggung semuanya. Jangan pernah khianatin diri lo sendiri dengan senyum terpaksa. Lepasin semua perasaan lo jangan pernah dipendam. Jangan pernah malu buat nangis. Karena nangis bukan hal yang memalukan."

__ADS_1


Bendungan air mata yang sudah dibangun Alena semalaman hancur sudah. Cairan bening langsung mengalir deras dari kedua matanya. Alena sembunyikan wajahnya di tubuh Re dan mencengkram erat dua sisi kaos yang dikenakan cowok itu.


Alena tak mau menangis. Sudah cukup ia habiskan air matanya di hari kemarin yang sungguh mengguncang hatinya. Ia harusnya bisa tersenyum hari ini tapi Re malah menghancurkan benteng yang sudah susah payah Alena bangun untuk menahan air mata agar tak menerobos keluar.


Ia tak mau menangis lagi karena ia tahu, sekali Alena meneteskan air matanya, tangisan itu takkan bisa berhenti mengalir sesuai keinginannya lagi. Hanya jika pasokan air matanya habis, tangisan itu baru akan berhenti.


Alena mulai sesenggukan. "R-re ... aku nggak punya siapa-siapa lagi. Semua orang udah pergi ninggalin aku," isaknya.


Re mengerutkan kening merasa iba lalu mengeratkan pelukannya dan mengelus lembut punggung gemetaran gadis itu.


"Tenang, ada aku di sini," bisiknya.


Alena kembali menumpahkan segala kesedihannya dan sekarang ia balas pelukan itu.


Seharusnya ia tak pernah berinisiatif untuk datang ke apartemen ini. Ia tarik perlahan pintu yang tadi sempat memberikannya celah untuk mengintip. Ia melangkah mundur dan langkahnya terseok melihat pemandangan yang menyesakkan dalam pikirannya sendiri.


Tangannya terasa lemas hingga benda yang dibawanya pun terjatuh begitu saja. Ia pergi tanpa pamit dan tak sempat pula untuk disambut. Hatinya telah tergores dan lukanya yang menguar terasa begitu amat nyeri.


Andaikan manusia bisa menghapus memori sesukanya. Segala luka di hati pasti dapat mudah terobati.

__ADS_1


__ADS_2