Because You Were There

Because You Were There
Bab 45


__ADS_3

Re bersiul memanyun-manyunkan bibirnya sembari menuliskan nama Al di dalam buku kecil menggunakan pensil. Ia sedang bersandar pada jok mobil yang disupiri oleh Gara. Mereka akan pergi ke suatu tempat.


Sudah empat tahun, Re tidak pernah melewatkan satu kali pun kesempatan untuk tidak menulis nama Al di dalam buku kecil ini. Re yakin, pasti ia yang akan menang melawan gadis itu melihat jumlah Al yang selalu ia tuliskan tiap harinya bisa melebihi dua ratus kali.


Re tak pernah berkomunikasi dengan Alena semenjak perpisahannya di bandara. Gadis itu benar-benar memutuskan kontak dengannya. Tak ada nomor telepon atau e-mail yang ditinggalkan. Re sudah berusaha meminta izin pada pihak sekolah Alena untuk membocorkan identitas dari siswinya yang sedang menjalankan beasiswa.


Biasanya, sekolah akan menyimpan nomor ponsel dari muridnya agar mudah dihubungi. Tapi, sekolah itu sangat ketat dan Re malah diusir mentah-mentah.


Kini, hanya ada buku kecil yang menjadi bukti kerinduan Re pada gadis itu. Bukti, bahwa Alena dan Re masih terhubung walaupun jarak membentang memisahkan mereka berdua.


"Re ... lo nulis mulu. Nggak di sini, di apart, sampe di kampus, lo malah nulis Al di sana bukannya nulis materi," ujar Gara yang sudah bosan hanya berdiam diri di dalam mobil.


Re terkekeh kecil. "Karena gue selalu merindukan dia di tiap hembusan napas gue."


Tangannya tak berhenti menuliskan nama Al di lembaran kertas itu.


"Gar, kapan Alena ke sini?" tanyanya sudah yang ke-seribu tujuh ratus kali.


"Gue kangeeeennnn banget sama dia, Gar." Re pasang ekspresi memelasnya berharap Alena akan Tring! muncul di hadapannya dengan ajaib.


Gara menggeleng perlahan. "Lo aja nggak tahu apalagi gue."


Gara memutar kemudinya ke arah kanan memasuki kawasan parkir Mall di Kota Bandung.


Trek! Re terkejut dan menegakkan tubuhnya yang bersandar di jok. Pensilnya patah. Seketika saja perasaan khawatir menyelubungi pikirannya. Bukan karena Re tidak mampu untuk membeli pensil lagi, tapi ia merasa bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi cepat atau lambat. Baru huruf A yang selesai ia tuliskan sebelum pensil itu patah.


"Gar, kok perasaan gue nggak enak, ya?" tanyanya seratus-rius.


"Ya, enakin aja."


Ha-ha. Gara lucu banget ya hari ini. Saking lucunya bikin Re pingin nabok mukanya pake bujur katel seratus kali.


"Gue serius! Lo nggak ngelihat pensil gue patah, nih-nih-nih!"


Re tunjukkan pensil itu di depan wajah Gara yang masih menyetir. Kepala Gara pun harus bergerak ke segala arah menghindari pensil yang sengaja digerakkan mengikuti pandangan matanya.


"Kalo gue nabrak lo yang tanggung jawab, Re!" kesal Gara sambil membelokkan tajam ke arah kiri karena hampir aja menabrak mobil yang terparkir.


Re mendecih sebal dan menarik tangannya kembali. Takkan ada yang mengerti dengan apa yang dirasakan Re saat ini. Takkan pernah ada.


*****


Re Re Re Re Re Re ....


Senyum simpul selalu terukir kala menuliskan satu nama yang sangat dirindukannya dalam sebuah Note kecil ini.


Kadang, gadis itu berpikir bagaimana jika Re tidak melakukan apa yang ia lakukan selama ini? Bagaimana jika Re sudah membuang jauh buku catatan kerinduannya? Bila seperti itu, nanti ia hanya akan terlihat seperti gadis bodoh yang melakukan permainan macam ini.


Tapi dalam lubuk hati, ia sangat yakin bahwa Re akan menepati janjinya. Bahkan setelah satu dekade berlalu, di hati Re hanya ada dirinya dan dirinya saja sama seperti yang ada dalam relung hatinya yang hanya ada Re dan Re saja selama hidupnya.


Tubuhnya bersandar pada ranjang dengan kaki yang ia biarkan lurus menyilang. Buku di tangannya terus ia genggam di tangan kiri saat tangan kanan yang membawa pensil terus menorehkan nama yang sangat ia rindukan.


"Alena, apa kau akan pulang?" tanya teman sekamar Alena yang bernama Jenneth dengan bahasa inggris yang fasih.


Alena mendongakkan kepala dan tersenyum manis pada Jenneth.


"Iya, sudah waktunya. Aku akan sangat merindukanmu," balasnya dengan bahasa inggris pula.


Jenneth langsung terharu dan berlari memeluk Alena erat.


"Jangan lupakan aku, ya! Selamat atas keberhasilanmu lulus dari sini. Aku akan sangat-sangat merindukanmu."


Alena balas pelukan hangat dari Jenneth. "Ya, terima kasih."


Reee12 : Re aku pulang. Tunggu aku ya *Send


*****


Aroma khas bangunan baru masih tercium sepanjang menyusuri lorong Mall K Group ini. Padahal, bangunan ini sudah dioperasikan lebih dari sebulan yang lalu.


Harusnya dalam rentang waktu yang cukup lama, sudah bisa menyesapkan aroma cat baru, semen, dan debu yang masih mencuat ke indra penciuman tiap pengunjung yang mendatanginya.


Gara berjalan santai bersama Re di sampingnya yang makin hari makin terlihat autis saja. Andaikan ada kantung kresek sekitar sini, Gara pasti sudah menutup wajah abstrak sahabatnya itu sedari tadi.


Re berjalan dengan bibirnya yang maju-maju sembari memainkan pensil yang patah di depan hidungnya hingga dua bola matanya akan terlihat mengumpul ke tengah saja. Kurang autis apa coba sahabatnya Gara ini? Ah, Gara menyesal membawa Re ke sini.


Gara sudah berbelok ke satu toko tapi Re malah terus berjalan maju yang membuat Gara terbelalak melihatnya.


"Heh, Re!" Ia tangkap kerah belakang cowok itu yang masih berjalan. Re pun tercekik dan terbatuk-batuk.


"Ngemeng, kalo belok! Jangan nyekek gue!" kesal Re sambil memusuti sekitaran lehernya. Gara hanya menggelengkan kepala.


Re dan Gara pun berjalan masuk ke dalam toko souvenir. Baru beberapa ubin lantai, mereka langsung menghentikan langkahnya saat melihat kaki jenjang yang mulus semulus pantat bayi keluar dari balik dinding.


Kaki itu terbalut sepatu hak tinggi berwarna putih. Pandangan pun mereka naikkan perlahan dan melihat dress selutut dengan lengan ¾ yang sangat anggun terpasang di tubuh seorang perempuan yang memiliki berat tubuh ideal.


Rambutnya pun diuntun ke samping kanan dan wajah putih yang memasang senyuman canggung pun menjadi akhir pemandangan yang menakjubkan ini.


Re menjatuhkan rahangnya tak percaya mengulangi memperhatikan perempuan itu dari atas sampai bawah sekali lagi.


"Nyeeet? Lo masih monyetnya Gara, kan?" tanyanya takjub.


Gara ikut-ikutan mengerjap masih berusaha menganalisa apakah benar perempuan ini yang dicarinya sedari tadi.


Perempuan itu berusaha meredam emosi dan terkekeh hambar pada Re.


"Eh, Goblok! Ngapain lu ke sini?!" sapanya tidak santai.


"Nah!" Re pun menjetikkan jarinya pada perempuan itu. "Ini baru monyetnya Gara!" serunya kemudian menoleh menatap Gara.


"Iya, nggak, Gar?"


Gara mengangguk tanpa sadar.


Re pun terbahak puas hingga perutnya sakit.


Perempuan itu menelan salivanya susah payah sebelum ia menatap Gara yang masih tak percaya melihat dirinya berdandan seperti ini. Ia berdehem canggung.

__ADS_1


"Gar, lu nggak bakal ngomong apa-apa gitu ke gua?" tanyanya.


Gara menggeleng cepat membuyarkan fantasinya yang mulai liar ke segala arah. Ia tatap wajah perempuan itu yang jadi sedikit lebih tinggi darinya karena efek sepatu ber-hak dengan tinggi sepuluh sentimeter.


Ia tarik dua sudutnya bibirnya ke atas.


"Cantik," ucapnya.


Perempuan itu langsung membuang wajah dan mengangkat satu tangannya ke belakang kepala berusaha menyembunyikan senyum bahagianya dipuji sama orang yang disayanginya. Cengiran lebar pun hadir di wajah putihnya.


"Alah, gitu aja baper," cibir Re berusaha menjahili cewek tomboy satu itu.


"Lo nggak pantes kayak gitu, Kaira Monki!" rutuknya seakan menyimpan dendam kesumat padanya.


Nggak pantes, ya? Hati Kaira sedikit tersayat. Ia bukan cewek baperan. Tapi jika sudah menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan wanita, entah mengapa Kaira yang biasanya berdandan seperti preman dengan celana mini dan kaos tanpa lengan kemana-mana pun akan merasa tersindir.


Kaira langsung memberenggut kemudian menatap Re dengan tatapan membunuh.


"Diem lu, Curut!" rutuknya yang malah membuat Re ketakutan pura-pura dengan dua tangan menyatu di depan mulutnya.


"Pergi nggak, lu! Gua hitung sampe tiga, kalau lu belom juga angkat kaki, gua panggil satpam buat ngusir elu! Satu--"


Re langsung merangkul Gara. "Gar, lo bakal diem aja gue diusir kayak gini?"


Gara mengangguk. "Salah lo sendiri."


"Dua--"


Re mendesis dan mendorong bahu Gara dengan kesal. "Kampret, lo, emang! Lo yang ngajakin gue ke sini. Bantuin gue, dong!"


"Ti-"


"Udah, Moldy. Dia mah anak autis." Re mendengkus mendengarnya.


"Biarin aja dia ngelakuin hal sesukanya. Jangan kesulut emosi kayak gini, dong," ucap Gara lembut, seperti biasa.


Bukan karena ucapan itu Kaira jadi mingkem dan membatu seperti ini. Tapi karena lingkaran tangan Gara yang melingkari bahunya secara tiba-tiba dan kepalanya pun bersandar di samping kepala Kaira yang membuat gadis itu mematung.


"Jangan marah, ya," bisiknya tepat di telinga Kaira.


Wajah Kaira memerah semerah kepiting rebus yang sudah siap untuk disantap. Ah, Gara memang punya pesona tersendiri yang selalu bisa melelehkan hati Kaira. Kaira jadi pingin terjun bebas aja sekarang. Biar bisa teriak sepuasnya!


Gara jauhkan tubuhnya dari tubuh Kaira. Ia terkekeh kecil melihat wajah gadisnya yang begitu merona dengan pandangan yang kosong. Menggemaskan.


Gara dan Kaira tak sengaja bertemu lagi di tempat kuliah. Pertemuan karena insiden ponsel Gara yang hilang dan dicuri oleh Kaira di Roma itu ternyata berlanjut menjadi sebuah pertemanan dan ternyata membuat keduanya saling nyaman satu sama lain.


Kaira dengan tingkah premannya yang kadang bikin Gara kerepotan untuk meminta maaf pada anak kampus lain juga sikap romantis dan kesabaran Gara menghadapi Kaira yang menyebalkan, menyadarkan satu sama lain bahwa ternyata mereka saling membutuhkan.


Gara membutuhkan sosok yang harus dilindungi di saat Kaira yang merasa bahwa ia bisa melindungi siapa pun walau nyatanya, justru dirinyalah yang harus dilindungi. Hubungan resmi itu baru terjalin setahun yang lalu karena memang cukup lama waktu bagi mereka untuk beradaptasi.


Apalagi, ternyata Kaira adalah anak pemilik K Group yang cabang bisnisnya sudah menjangkau bidang teknologi, informasi, pariwisata, dan transportasi. Gara sempat minder dan takut bagaimana cara mendekati orang tua Kaira di saat Haris pun lebih suka gadis yang modelnya seperti Alena.


Gadis anggun dan santun dalam bicara bukan yang petakilan dan sering membuat onar seperti Kaira. Mereka berjuang untuk mendapatkan keyakinan dari masing-masing orang tua hingga hubungan resmi pun dapat mereka sandang tanpa harus bersembunyi lagi.


"Idih, peluk-pelukkan di depan gue. Gue iri, tahu!" rengut Re bersedekap.


Gara elus perlahan sebelah pipi Kaira guna menyadarkannya. "Moldy ... jangan ngelamun," katanya.


Gara sudah terkenal dan jarang hadir di kampus. Jadi, saat Kaira tahu Gara akan mengunjunginya di salah satu Mall milik ayahnya ini, Kaira berusaha mati-matian untuk berdandan semanis mungkin walaupun ia risih dengan pakaian seperti ini. Ia ingin terlihat istimewa di depan orang yang disayanginya.


Dan semua sikap Gara yang perhatian ini sungguh di luar dugaannya. Walaupun bukan hanya kali ini saja Gara melakukan itu padanya, tetap saja hati Kaira meletup-letup. Ia masih belum terbiasa.


Kembali ia tegakkan tubuh untuk menatap Gara dan melirik kesal ke arah Re.


"Gar, kenapa lu bisa sahabatan sama nih curut, sih? Heran gua, orang sebaik lu sahabatannya sama anak dajjal kayak dia," gerutu Kaira yang langsung dibalas lototan tajam dari Re.


Gara hanya terkekeh geli melihat Kaira yang sudah memberenggut kesal seperti itu.


"Heh! Adanya juga gue yang nanya! Bisa-bisanya Gara jadian sama lo yang sangarnya udah persis banget kayak juragan batu akik!"


Re pun berpaling pada Gara. "Gar, lo nemu nih anak di mana, sih?" tanyanya ikut-ikutan kesal.


Gara tersenyum pada Re. "Kolong jembatan," jawabnya yang membuat Re terbahak puas berasa menang melawan Kaira.


"Gar ...," panggil Kaira penuh peringatan dengan tangannya yang terkepal.


"Iya?" sahut Gara yang masih bisa kalem-kalem aja padahal tatapan membunuh terpasang di wajah Kaira.


"Kenapa?" tanyanya sambil tersenyum.


Kaira menggeram bahkan tanduknya sudah mencuat bukan lagi dua melainkan tiga sekaligus di atas kepalanya.


"Untung lu tunangan gua, Gar," geramnya.


"Emang kenapa kalau bukan?"


Kaira mendengkus. "Udah gua tampol lu sampe mental ke Luar Angkasa!" sentaknya.


Gara malah mendengus geli. Gara tahu Kaira akan kesal jika ada orang yang tidak berpihak padanya. Dan dalam kasus ini Gara adalah orangnya.


"Yaudah, tampol aja, nih." Gara menunjuk-nunjuk sebelah wajahnya pada Kaira.


"Tampol aja kalo berani," tantang Gara semakin mendidihkan darah Kaira.


Re langsung menarik-narik pakaian Gara dan membisikkan sesuatu pada cowok itu,


"Lo yakin, Gar? Cewek lo tuh mainannya boxing, balap mobil, panjat tebing sama taekwondo! Bukannya piano sama gitar kayak lo!" ingat Re merasa khawatir melihat Gara malah memancing singa yang sedang kelaparan.


Gara mengedipkan dua matanya pada Re mengisyaratkan, udah-tenang-aja.


Ia kembali tatap Kaira yang kemarahannya makin menjadi. "Mana? Katanya mau nampol," tantangnya lagi.


Kaira langsung menyingsat lengan dress-nya ke atas. "Gua nggak bakal tanggung jawab sama pengobatan lu, ya, Gar!" ujar Kaira sudah menyiapkan kuda-kuda andalannya.


"Iya, Moldy. Lama banget, sih, nampol doang," balas Gara santai.


"Gue jamin gigi lo bakal rontok, Gar!" pekik Re.

__ADS_1


Cowok itu pun melipir menjauh daripada kena imbasnya dari Kaira yang ngamuk.


"Gue mendoakan lo dari sini!" pekik Re yang sudah menyumput di balik rak yang berisi souvenir.


"Jangan nangis ya, Gar, dapet tampolan dari gua! Kemaren aja ada yang masuk rumah sakit dua minggu gara-gara nyari masalah sama gua!"


"Dan sekarang, kamar mayat menunggu lo, Gar!" imbuh Re.


Gara hanya diam saja menunggu serangan benar-benar datang padanya.


"Hiyaaaaaaa!!!" Dengan tenaga yang tidak main-main, Kaira langsung melayangkan tinjunya pada rahang Gara.


Secepat kilat Gara tangkis tinju itu dengan tangan kiri bersamaan dengan tangan kanannya yang menarik tengkuk Kaira hingga bibir Gara pun menempel di sudut bibir Kaira.


Jika yang kenanya bibir Kaira langsung, mungkin Gara akan langsung ditampol dari keluarganya Kaira. Ia tidak mau itu terjadi, jadi ia hanya berikan kecupan di sekitar pipi kiri perempuan itu dekat dengan sudut bibirnya.


Mata Gara terpejam berusaha meyakinkan gadis itu bahwa ia benar-benar tidak bermaksud membuat Kaira kesal seperti ini. Ia juga merasa bersalah dan ikut merasa kesal pada Re yang seringkali menghina Kaira, orang yang disayanginya. Gara mengucapkan maaf seribu kali dalam hati yang Gara harap dapat tersalur lewat kecupan singkat ini.


Mata Kaira membulat dan tubuhnya menegang namun lambat laun ia merasa tubuhnya melemas dan jatuh dalam kenyamanan. Matanya pun ikut terpejam.


Ia kalah, lagi.


Kaira memang selalu kalah jika sudah melawan Gara. Hanya Gara yang bisa mengalahkannya seperti ini bahkan sampai menangkis serangan yang sangat kuat itu. Gara memang orang yang tepat untuk Kaira bernaung di bawahnya.


Re langsung nyengir sambil jingkrak-jingkrak geregetan.


"Bisa banget, lo modusnya, Gar!" Re pun memasukkan dua jari pada bibirnya dan bersiul pada sepasang manusia di sana.


Gara menjauhkan bibirnya perlahan bertepatan dengan Kaira yang mengangkat kelopak matanya. Cowok itu merasa malu juga asal nyosor kayak begitu.


Gara pun menggaruk lehernya canggung dan terkekeh hambar pada Kaira. Sedangkan perempuan itu, langsung memutar tubuhnya karena ia menyengir bahagia.


Ting! Re rogoh saku celananya dan didapatlah benda pipih ajaib sudah bertengger di antara jemarinya. Ia melihat pop chat dari id Line orang baru. Re pun menekannya dan tatapan tak percaya langsung menyergapi wajahnya.


Alenapw : Re aku pulang. Tunggu aku ya


"GARA!!! CALIS GUE PULANG!" teriaknya.


*****


Lantunan musik pop silih berganti menemani Re yang terduduk sendirian di dalam cafe yang lumayan ramai pengunjung. Jarinya ia ketuk-ketukkan di atas meja mengikuti irama musik yang menyala.


Seorang pramusaji pun menghampiri Re dan menyimpan secangkir minuman Frappucino di atas meja. Gumaman terima kasih terdengar di telinga pramusaji dari mulut Re.


Tangannya terangkat untuk memainkan sedotan di minuman dingin itu bertepatan dengan orang yang baru saja masuk dan tiba-tiba duduk di hadapannya.


Re menghela napas ringan dan menatap malas cewek garang di hadapannya yang kembali berpakaian seperti preman.


Biasanya cewek itu akan memakai hot-pants ke mana-mana memamerkan pahanya yang mulus dan bening. Tapi hari ini ia memakai celana panjang tanpa robekan di lutut sedikit pun. Walaupun kaos tanpa lengan masih dipakainya disertai headseat dan topi baseball yang selalu bertengger di atas kepalanya.


"Heh, kenapa lu bengong di Kape gua?" tanyanya kayak orang lagi malak.


Re mainkan lagi sedotan di minumannya.


"Nungguin orang yang gue sayang, Monmon," balas Re geregetan.


"Katanya dia pulang, udah tiga hari gue tunggu masih aja nggak ada kabar. Mana chat nggak dibales, telepon juga nggak diangkat lagi," curhat Re.


"Ya udah sabar aja, emang Inggris-Indonesia itu jaraknya kayak Jakarta-Bandung, kan, nggak!" balas Kaira kemudian memutar kepalanya ke arah pintu masuk. Matanya seketika berbinar mendapati kehadiran orang yang ditunggunya sedari tadi.


Gara yang baru memasuki cafe menyisir banyaknya pengunjung. Seketika saja ada orang yang berdiri dari duduknya dan mengajak Gara untuk segera menghampiri.


Gara tersenyum melihat pakaian cewek itu yang sedikit tertutup dari biasanya. Usaha Gara mengomeli gadis itu ternyata membuahkan hasil.


"Moldy, udah lama nunggunya?" tanya Gara saat sudah sampai di samping Kaira. Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya dengan semangat.


Gara berdecih geli dan merebut topi dari kepala Kaira.


"Gara!" ringik Kaira berusaha mengambil topinya kembali. "Balikin topinya!"


Gara langsung menggigit bibir bawahnya sembari melotot pada Kaira yang langsung kicep di tempat.


Sebenarnya wajah Gara nggak serem, malah terkesan imut kalau lagi marah kayak gini. Tapi Kaira jadi takut kalau dia membangkang, Gara nanti malah marah beneran. Marahnya Gara diem-dieman dan bakalan jadi jutek abis. Kaira tidak mau itu sampai terjadi karena buat balikin Gara biar perhatian lagi butuh waktu yang tidak sedikit.


"Kan aku bilang nggak usah pake topi, rambut kamu jadi lepek ketutup terus. Ayah kamu juga nggak suka."


Gara pun memakai topi itu di atas kepalanya dan tersenyum segaris pada Kaira yang mendecak sebal. Gara mengacak puncak kepala gadis itu dan merangkulnya berusaha meredam emosi Kaira.


Kepalanya bergerak untuk menoleh pada penonton yang sedari tadi melongo menatap kebersamaan mereka berdua.


Re pun mengerjapkan matanya. "Berduaan aja sono berduaan! Gue mah cuma obat nyamuk di sini," cebiknya, iri.


Gara terkekeh geli. "Lo nggak bakal jadi obat nyamuk Re bentar lagi."


Satu alis Re terangkat. "Kenapa emangnya?"


Gara tepuk pundak Re semangat dengan tangannya yang bebas.


"Alena udah di perjalanan menuju Bandung."


Pupil matanya melebar dan hatinya seketika plong mendengarnya.


"Beneran, lo, Gar!" Ia pun berdiri dari kursinya dalam satu hitungan.


Gara mengangguk mantap.


Re langsung menyengir lebar dan tangannya secepat kilat mengambil minumannya di atas meja. Namun saat gelas itu sudah terangkat di tangannya, tangan Re terasa licin dan gelas pun meluncur begitu saja ke lantai.


Prank!


Serpihan gelas yang pecah langsung melunturkan warna wajah Re dalam sekejap. Kaira segera mungkin memanggil pelayan untuk segera membersihkannya di saat Gara langsung menghampiri Re dan menggoyangkan bahu sahabatnya itu.


"Re?! Lo kenapa?" khawatir Gara melihat wajah Re langsung memucat dengan peluh yang seketika membanjiri keringatnya.


"A-a-le-na?" ucapnya tergagap masih menatap serpihan kaca.


Re pun menggerakkan bola matanya menatap Gara yang ikut merasa cemas. "Dia nggak bakal kenapa-napa, kan?" tanyanya.

__ADS_1


Pertama, pensil. Kedua, gelas pecah.


Dan Re pun merasa jantungnya hampir mati setelah Gara menjawab panggilan dari Rumah Sakit.


__ADS_2