Because You Were There

Because You Were There
Bab 40


__ADS_3

Tangan kirinya membenarkan tas yang tersampir di sebelah bahunya. Ia pun menaiki undakan tangga untuk masuk ke dalam bis.


“Hei, sebentar!” pekikkan itu membuat kepalanya menoleh. Rambut kecokelatan pemilik binar mata kelabu hadir di pandangannya. Gadis itu terlihat terengah-engah dan menarik lengannya untuk kembali turun. Mereka pun berdiri berhadapan di sisi bis pariwisata.


“Kamu, Anggara Putera, kan?” tanya gadis itu.


Kening Gara mengernyit. Dari mana gadis ini tahu namanya? Ia mengangguk kecil.


Gadis itu langsung mengembangkan cengiran leganya. “Gara! Aku Putri! Kamu inget, kan?” tanyanya.


Gara mengerjap dan sekian detik setelahnya ia menggelengkan kepala.


Gadis itu terperangah dan menunjuk dirinya sendiri. “Aku Putri, Gar! Temen kecil kamu! Temennya Re sama Raquel juga,” ucap gadis itu berusaha mengingatkan.


Pupil mata Gara langsung melebar dengan napasnya yang tercekat. Putri? Dia ... masih hidup? Gara masih menatap gadis itu tak percaya. Mengapa bisa dia di sini?


“Kamu inget, kan?” desak gadis itu penuh harap.


Putri memang belum mati, Gar. Kamu tahu betul tentang itu. “Mput?” tanyanya yang dibalas senyuman lega gadis itu. Putri memang belum mati.


“Maaf, Al. Aku minta maaf,” ucap Gara pada Alena yang duduk di hadapannya di sebuah cafe.


Keadaan Alena sudah pulih setelah satu hari beristirahat penuh di rumah Re. Gadis itu pun menghela napasnya panjang menatap Gara.


“Buat apa minta maaf, Gar? Aku bener-bener nggak ngerti.” Alena sesap minuman hangatnya.


“Aku udah tahu kalau Raquel bilang ke Re bahwa kamu udah mati,” ucapnya yang sontak membuat Alena tersedak. Gadis itu terbatuk-batuk sampai Gara memberikan tisu untuknya.


Alena lap sekilas bibir yang jadi berlepotan lalu kembali menatap Gara tak percaya. “Apa?!” pekiknya.


Lelaki itu tersenyum kecut.


Gara kontan tersedot ke dalam memori lampaunya. Kelas sembilan SMP.


Gara tahan pergelangan tangan Raquel yang hendak beranjak dari kursi di hadapannya. “Ara, kamu udah gila?” ketusnya.


Raquel mendengus dan menghempaskan tangan Gara. Ia tatap tajam Gara yang duduk terbalik di kursi kelasnya. Hanya ada mereka berdua di sini, semua anak kelas lain sedang jajan di kantin.


“Iya, aku emang gila karena cinta sama Re!” tukasnya tak membantah.


“Ra, duduk dulu,” titah Gara tenang yang langsung dituruti oleh Raquel. Ia pun duduk kembali di kursinya.


“Bukan kayak gini caranya, Raquel. Kamu nggak bisa mengendalikan perasaan orang kayak gitu. Emang kamu pikir kalau Re tahu Putri udah mati, Putri di hatinya bakalan mati? Menurut aku nggak bakal, Ra. Kamu tahu banget, kan, Re udah nungguin Putri semenjak kepindahannya?”


“Ya makanya itu, Gar! Aku udah muak ngeliat Re terus-terusan mikirin orang yang nggak ada kabarnya kayak gini. Aku sayang sama dia dan aku selalu ngerasa sakit hati melihat dia mikirin orang lain. Aku cuma mau dia bisa hidup tenang, nggak selalu tersiksa mikirin orang yang nggak ada kejelasannya kayak gini,” balas Raquel menggebu-gebu.


“Kalau kamu udah bilang ke Re bahwa Putri udah mati, apa yang terjadi setelah itu?” tanya Gara.


Raquel mengalihkan pandangannya dari apapun selain wajah Gara. Ia lebih memilih untuk menatap tempat pensil monokurobo yang ada di atas mejanya. “Setelah itu ... aku bakal berusaha buat jadi pengganti Putri di hatinya Re,” balasnya terang-terangan.


Gara terhenyak mendengar penuturan Raquel yang jujur dari dasar hati.


Ia julurkan tangannya mengelus lembut rambut Raquel yang berponi menutupi keningnya. Raquel sudah biasa jadi ia tidak terkejut mendapat perlakuan manis dari Gara.

__ADS_1


“Kalau kamu sama dia ... aku gimana?” Nada bicaranya tenang namun terselip kekecewan yang amat besar dan teramat menyakitkan.


Raquel terenyuh hatinya dan segera menurunkan tangan Gara dari atas kepalanya. Ia simpan tangan itu di atas meja dan mengelusnya perlahan. Ia tatap mata Gara yang berkilat sendu.


“Maaf, Gar. Kita udah ngomongin—“ Tangan Gara yang dielus Raquel, perlahan-lahan bergerak menjauh hingga sampai pada sisi tubuh pemiliknya.


Gara berikan senyuman pada Raquel yang sedikit kebingungan. “Iya, aku tahu. Nggak usah dijelasin lagi. Kalau emang kamu bener-benar berniat buat bikin Re jatuh cinta sama kamu ... aku bisa apa? Aku yang sayang sama kamu cuma bisa ngedukung keputusan kamu,” tuturnya.


Raquel tersenyum tipis. “Maaf, Gar.”


“Iya, gapapa, Ra,” balas Gara.


“Jadi, kamu bakal janji, kan nggak bakal ngebongkar rahasia ini?” Gara mengangguk kecil.


“Kalau suatu saat kamu bakal ketemu Putri lagi, janji buat nggak bilang ke dia, ya?” Lagi-lagi Gara mengangguk.


“Aku yang akan jadi orang pertama yang akan bilang ke Putri apa yang terjadi sebenarnya. Sampai saat itu, kamu nggak boleh bongkar rahasia ini, ya?”


Gara tersenyum geli dan mencubit kedua pipi chubby Raquel. “Iya, bawel,” balasnya.


Raquel merengut dan mengelus pipinya. “Janji, kan?” pinta Raquel ketakutan.


Ia hela napasnya panjang. “Janji.” Gara berujar.


Raquel dan Gara pun menghampiri Re yang selalu berusaha meyakinkan diri bahwa Putri akan datang minggu depan. Tidak, tapi esok hari. Ah, sepertinya sore ini, Putri akan kembali ke Bandung. Re terus berharap dan berharap karena hanya dengan itu ia akan bisa mengendalikan perasaan hatinya yang berkecamuk kala mengingat gadis itu yang menghilang tanpa jejak seperti ini.


Re duduk di ayunan Taman Bermain Kenanga sembari menorehkan tulisan di buku diary miliknya.




“Re?” Pemilik nama segera menutup buku kecil itu dan menyimpannya dalam saku celana. Gara dan Raquel sudah ada di hadapannya.


“Kenapa, Ra?” tanya Re kebingungan saat melihat siratan kecemasan di wajah Raquel.


Gara segera berlalu pergi ke balik punggung Re menghadap perosotan. Ia tidak mau merusak akting Raquel yang seakan terkejut mendengar kabar kematian Putri di saat tampang Gara datar-datar saja. Re bisa meragukan kebenaran yang disampaikan Raquel nantinya jika melihat Gara yang tidak ikut terkejut.


Tapi melihat pergerakan Gara, malah membuat Re ikut-ikutan khawatir. “Ada apaan, sih?” tanyanya pada Raquel tak mau berbasa-basi.


“Put—“


Baru mendengar penggalan kata itu, Re sudah langsung berdiri dari ayunan dan mencengkram dua bahu Raquel dengan tatapan antusias.


“P-putri ... kenapa? Kamu dapet kabar terbaru tentang dia?” tanyanya menggebu.


Raquel mengangguk perlahan di saat Gara mengeraskan rahang berusaha mati-matian melawan rasa tak enak hati membohongi sahabat terbaiknya sendiri.


“Apaan? Apaan kabarnya?!” tanya Re tidak santai. Ia semakin memperkuat cengkeramannya di bahu Raquel. Ia geregetan.


Raquel tatap binar cokelat madu di hadapannya. Maaf, Re. Tapi ini caraku mencintai kamu.


“Putri meninggal karena kecelakaan pesawat,” ucapnya membuat jantung Re berhenti berdetak sekian detik.

__ADS_1


Ia masih memproses apa yang didengarnya dan tangannya pun melemas dari bahu Raquel. Ia berjalan mundur dan mundur dengan pandangan kosong sampai tersandung dan terjatuh di atas pasir.


“Re!” kejut Raquel langsung berlalu mendekati Re dan ikut berlutut di hadapannya.


“Nggak mungkin, Ra ... Nggak mungkin ....” ucapnya lemah. Ia pun tatap tajam Raquel dengan kepalan tangannya yang terbentuk. Asap seketika mengepul di atas kepalanya.


“NGGAK MUNGKIN, RAQUELIA AMANDA!” sentaknya sekeras mungkin. “LO BOHONG SAMA GUE!” Tangisannya langsung mengalir deras dengan napasnya yang tersengal.


“Re, aku nggak bohong. Kamu tahu, kan, ayah aku kerja di penerbangan. Ada sepuluh korban yang dinyatakan hilang karena kecelakaan pesawat dini hari tadi dan Putri adalah salah satunya. Mereka bilang, udah nggak ada kemungkinan mereka selamat dari ledakan pesawat itu,” jelas Raquel.


“ARRGGHH!!!” Re luapkan seluruh emosinya. Raquel tidak pernah berbohong padanya. Semua perkataannya pasti terpercaya hingga dapat dengan mudah Re menerima perkataan Raquel.


Ia cengkeram kerahnya sendiri dan meringis kesakitan. “Hh, Putri ... MPUT!!!” Ia terus memanggil-manggil nama Putri.


Sesuai rencana. Re memang tidak pernah meragukan ucapan Raquel.


Raquel segera berlutut dan menyandarkan kepala Re di tubuhnya. Ia dekap tubuh lemah itu yang semakin menjerit histeris mengeluarkan terus air matanya. “Ah, Putri ....”


Gara tak percaya dengan apa yang terjadi di depan matanya. Re benar-benar percaya ucapan Raquel semudah itu? Ya, Gara juga tahu Raquel adalah orang terjujur dan tidak pernah menyembunyikan apapun dari Gara ataupun Re.


Hanya saja yang Re tidak tahu, orang jujur itu sudah tiada. Kejujurannya sudah terbunuh oleh serakahnya rasa ego bisa memiliki seseorang.


Hati Gara serasa diperas melihat Raquel berhasil melakukan aktingnya dengan sangat baik, bahkan bisa mendekap Re penuh kasih seperti itu.


Jangan peluk dia, Ara. Andaikan Gara punya hak untuk mengatakan itu.


Gara tak bisa datang ke sana jika tak ingin merusak akting Raquel. Ia hanya bisa mengeratkan buku-buku jarinya menatap nanar mereka berdua.


Begitu bodoh melepaskan perasaan untuk orang lain hingga lupa perasaan dirinya akan tersakiti.


“Setelah hari itu, Raquel selalu memberikan semangat sama Re dan akhirnya berani buat nembak Re. Aku nggak tahu apa yang mereka bicarain, tapi akhirnya Re nerima Raquel walaupun bayang-bayang Putri, maksud aku, kamu, masih ada di pikirannya,” jelas Gara.


Alena termangu di hadapan Gara. Ia tak menyangka semuanya akan menjadi serumit ini setelah kepergiannya.


“Di mana Raquel sekarang?” tanya Alena tanpa basa-basi.


Gara mengedikkan bahu sedih. “Entahlah. Pencarian aku sama Re cuma berhasil menemukan fakta bahwa Raquel ke luar negeri. Aku kehilangan kontak sama dia setelah festival tahun lalu.”


Sama saja seperti Re. Alena menundukkan pandangannya.


“Al, maafin aku, ya, kalau dari awal aku udah bilang sama kamu, mungkin kekesalan Re nggak sampai kayak gini,” ucap Gara merasa bersalah.


Alena tersenyum pada Gara. “Nggak apa-apa, Gar. Justru aku berterima kasih sama kamu. Mungkin, kalau Re tahu dari awal, dia bakal membenci aku lebih dari ini dan nggak bakal ada kesempatan buat aku deket sama dia. Semua kejadian emang udah diatur biar terjadi tepat pada waktunya,” balasnya. “Nggak ada yang perlu disesali.”


Gara menghembuskan napas lega. “Semua permasalahan ini bakal beres, kalau Raquel udah balik ke sini. Re pasti bakal percaya sama perkataan Raquel.”


Alena menggigit bibir bawahnya. “Tapi, Gar,” selanya.


“Iya?” jawab Gara dengan dua alis terangkat.


“Gimana kalau Raquel tetap akan mempertahankan skenarionya?” Gara terperangah.


Alena takut ini akan menjadi kenyataan dan jika ini benar terjadi, tak akan ada lagi alasan bertemu Re kemudian.

__ADS_1


__ADS_2