Because You Were There

Because You Were There
Bab 29


__ADS_3

Sepuluh hari setelah Festival.


Terasa toyoran kasar di bahunya dengan telunjuk yang begitu menusuk. Terus bertubi-tubi hingga Gara mengerang kecil di kursinya. Gara angkat kelopak matanya sembari melepas headset yang menyumpal kedua telinganya. Tatapan penuh tanya langsung ia lemparkan pada Naba yang sudah sumringah menatap dirinya dengan tangan penuh bungkusan kado.


"Gar-gar-gar-gar-gar!" seru cowok berambut merah itu sebelum ia duduk di bangkunya, di samping Gara.


"Apa?" sahut malasnya bersamaan dengan Naba yang menyimpan lebih dari sepuluh bungkus kado di atas bangku mereka.


Naba pun menoleh pada Gara. "Gila, Ma Man! Tos dulu, dong!" Telapak tangannya langsung melayang pada Gara yang mengernyit heran.


Ia tidak mengerti tapi ia angkat juga telapak tangannya. Niatnya, sih, untuk membalas tos dari Naba. Tapi apa yang ia dapat? Tangan Naba malah memukul keras jidat Gara disusul tawa bahakan darinya.


Gara menggeram kesal dan melajukan tangannya yang tadi terangkat untuk menjambak rambut Naba sekuat tenaga. "Ah, ampun-ampun-ampun," ringis Naba walau tawa geli itu masih terdengar di telinga Gara.


Gara dan Naba memang sudah duduk sebangku semenjak kelas sepuluh. Namun mereka baru kenal akrab semenjak Gara yang memulai mendekati Naba setahun lalu karena ia tengah dalam misi berperang dingin dengan Re, Yusuf, dan Fikran yang biasanya selalu berkumpul saat beristirahat walaupun berbeda kelas. Dan kali ini, Gara memang bisa berteman dengan Naba.


Gara lirik bungkusan kado yang sudah memenuhi mejanya. "Apaan, nih?" tanyanya.


"Ya punya lo, lah, Gar!" cetus Naba heboh sembari menggerakkan tangan membuat gerakan yang aneh-aneh. "Lo nggak nyadar apa kalau lo tuh makin populer tiap harinya di nih sekolah." Telunjuknya menekan keras meja kayu di hadapannya.


"Nggak," balas dingin Gara seperti biasa, yang mendapat decihan dari Naba.


Gara penasaran dengan isinya. Syukur-syukur ada makanan karena Gara sangat lapar, ia belum sarapan. Ia pun buka salah satu bungkus kado yang menarik perhatiannya.


"Napa gue bisa jadi terkenal?" Tangannya berhenti merobek kertas kado. Pertanyaan ini memukul dirinya sendiri, ia pun menyipitkan mata curiga pada Naba. Dia pasti telah menyebar gosip pada satu sekolahan yang belum diketahui Gara itu apa. Gara sangat yakin itu.


Naba terkekeh hambar. Ia ketahuan. "Gue nggak nyebar gosip yang aneh-aneh, kok."


"Terus?" Gara semakin mengintimidasi Naba dengan tatapannya.


Naba menggaruk lehernya canggung lalu mendorong pelipis Gara agar mengalihkan tatapan curiga itu darinya. Naba sangat risih dengan tatapan itu. "Jangan natap gue kayak gitu. Berasa baru aja ngehamilin anak orang, tahu, nggak."


Gara mendecih dan melanjutkan merobek kertas kado itu dan Tara! Ada bungkusan koran lagi ternyata. Ia buka lagi bungkusan itu dan bungkusan koran lagi yang ia dapat. Apaan, sih, nih? Trik biar kadonya keliatan gede, ya? Gara semakin penasaran apa isinya.


"Terus lo nyebarin berita apa ke anak-anak?" tanya Gara.


"Ya ... gue cuma bilang aja, 'Siapapun yang ngasih kado ke Gara sebagai ucapan selamat dia berhasil ikut festival nasional ... Gara bakal terima cintanya.' "

__ADS_1


Freeze.


Tanpa basa-basi Gara langsung menjambak rambut Naba lagi dalam sekali hentakan dan ia tarik kepala itu mendekati bibirnya. "Tuh, kan, nggak beres. Elo jangan buat gosip yang aneh-aneh, deh," ucapnya begitu mengintimidasi tepat di telinga Naba.


Naba hanya bisa meringis berusaha untuk melepaskan cengkeraman tangan Gara. "Nggak-nggak-nggak! Suer itu boong, Mama!" pekiknya histeris.


Gara pun melepaskan rambut merah itu. Entah kenapa, sasaran empuk untuk memberikan pelajaran pada Naba pasti terletak di rambutnya. Bukan hanya Gara saja, tapi semua guru dan murid cewek pun pasti akan menyerang rambut itu bila Naba sudah bikin naik darah seperti saat ini. Rambut merah alami itu seakan mengejeknya.


Naba hanya bisa meratapi rambutnya yang sudah acak-acakkan di saat Gara masih berusaha membuka lapisan koran itu. Ya Allah, masih aja koran. Mana kadonya?


"Gue cuma nyebarin info bahwa lo udah nampilin bakat yang keren banget di Festival Seni, Gar. Lo udah terkenal di mana-mana. Kalangan ibu-ibu arisan di komplek gue aja malah prada nanyain lo ke gue. Mereka nonton aksi lo dari youtube. Lo udah jadi trending topic di mana-mana dan kebetulan pas gue lewat ke loker elo, nih kado udah ngumpul di sana. Yaudah, gue bawa ke sini," jelas Naba panjang kali lebar sama dengan luas kali tinggi sama dengan volume. Abaikan saja ini.


Gara tersenyum kecil. Ia tak menyangka ia bisa terkenal seperti ini. Sebenarnya bukan kali ini saja ia mendapatkan kado, tapi sudah semenjak hari Festival itu berakhir. Banyak para penonton Festival yang memberikan bunga padanya dan bahkan meminta foto. Padahal artis yang asli sedang berada di sampingnya tapi mereka tak menyadari itu dan tetap meminta foto ataupun sekedar mengucapkan selamat pada Gara.


"Lo keren, Gar. Padahal lo nggak dapet juara. Tapi yang diomonginnya elo mulu di mana-mana," celoteh Naba sembari membuka bungkusan kado dan hebatnya ia langsung mendapatkan cokelat bar yang harganya tidak bisa dikata murah di saat Gara masih sibuk membuka bungkus koran.


Gara terkekeh geli. "Iya, ya ... padahal gue didiskualifikasi dari Festival."


"Juara ketiga diraih oleh ... Nur Aira. Juara kedua diraih oleh ... Jim Hardian. Dan inilah yang ditunggu-tunggu, juara pertama kita sekaligus juara nasional di Festival Seni tahun 2017 adalah ...."


Semua penonton menegang termasuk Fikran, Yusuf, Alena, Re, dan Gara yang sudah bergabung bersama mereka. Masing-masing nama yang disebutkan telah naik ke atas panggung. Gara belum menghampiri ayahnya sekali pun. Rasa takut itu masih menyelubungi hatinya.


Tatapan percaya kontan memenuhi tiap wajah penonton dalam aula acara ini. "Kok, bukan Anggara?!" seru Fikran keras-keras disusul teriakan tidak puas akan keputusan juri dari penonton yang lain. "Iya, masa dia, sih?" sela salah lain penonton yang ikut kesal.


Bahu Gara merosot. Ia sudah tahu. Boro-boro juara satu mungkin juara terakhir pun Gara tidak akan dapat meraihnya. Gara telah melanggar sistem permainannya. Ia sudah didiskualifikasi. Tepukan halus dari Re membuat Gara menoleh menatapnya. Re yang juga mengerti akan situasi itu tersenyum menyiratkan semua akan baik-baik saja, dapat menenangkan hati Gara yang sedikit merasa kecewa.


Pemilik nama langsung berdiri dan ditepuki meriah oleh keluarga dan orang-orang yang mendukungnya saja karena penonton yang lain masih tercengang tak dapat menerima keputusan juri.


Giva berjalan canggung ke depan panggung karena tatapan tak suka malah dilempari tepat ke mukanya. Tapi Giva tidak peduli. Ini memang salah Gara sendiri yang melanggar peraturan Festival. Ia pun sampai di atas panggung walaupun hanya segelintir orang yang menyetujui hasil ini.


Sorakan tak puas dari para penonton yang meneriaki bahwa ini bukan keputusan yang adil terdengar hingga membuat kuping para juri panas. Mereka tahu akan seperti ini, tapi mereka tak bisa berbuat banyak. Kibar pun segera berdiri membawa microphone di tangannya menghadap para audiens.


"Harap tenang semuanya! Saya dapat memaklumi pendapat kalian semua tapi ini menyangkut peraturan lomba Festival." Semua terdiam mendengarkan. "Peserta Anggara telah dinyatakan gugur dari kompetisi karena dia malah mengubah lagu yang telah ditetapkan, seharusnya ia bernyanyi mengikuti notasi yang sudah ada," jelas Kibar.


"Saya tidak setuju!"


"Penilaian apaan kayak gini. Yang bagus malah dibuang gitu aja."

__ADS_1


Pekikkan penolakan itu sungguh mendengung di telinga Kibar. "Kami selaku juri juga mengakui kemampuan hebat Anggara dalam jangkauan vokalnya yang tinggi dan penyaluran nada yang sangat baik tapi penilaian itu akan tidak adil bagi peserta lain yang sudah mengikuti peraturan.


"Jika mau mengubah sebuah lagu menjadi miliknya sendiri, itu hanya bisa dilakukan jika ia sedang tampil sendiri bukan dalam sebuah ajang perlombaan."


"Saya aja yang jadi juri!"


Kibar hanya bisa tersenyum sabar. "Tapi, kami bertiga telah membuat pengecualian untuk Festival kali ini." Kibar melirik juri Olin dan Arisa yang menganggukkan kepala setuju pada keputusan yang telah mereka buat. Kibar pun kembali menghadap audiens.


"Anggara Putera akan kami tetapkan sebagai Juara Favorit pilihan Audiens di Festival Seni tahun 2017 kali ini."


Semua kepala langsung menoleh serempak pada Gara yang sekarang bisa **** senyuman lebarnya. Tepukan meriah dan sorakan bangga pun terdengar merdu di telinga Gara. Re langsung mencengkram gemas dua bahu Gara dari belakang. Mereka pun bertos-ria sekuat tenaga hingga Re harus meniupi tangannya yang terasa panas. Alena langsung menjabat tangan Gara sambil menggumam kata selamat serta Fikran dan Yusuf yang mengacungkan semua jempolnya.


"Selamat atas keberhasilan Anggara. Silahkan naik ke atas panggung."


Tepukan meriah masih mengiringi kaki Gara yang melangkah sampai tiba di atas panggung. Ia pun bersanding dengan ketiga juara lainnya yang sudah ditetapkan, kemudian saling mengucapkan selamat satu sama lain.


Semua perwakilan dari peserta diminta naik ke atas panggung untuk memberi selamat. Dan inilah saat yang menegangkan bagi Gara. Terlihat Haris yang menganggukkan kepala pada pelatih maupun orang tua peserta lain sebelum ia naik ke atas panggung. Haris belum benar-benar menatap putranya di saat Gara terus memperhatikan gerak-geriknya hingga berdiri di hadapannya.


Masing-masing perwakilan mulai mengalungkan kalung bunga pada tiap peserta yang juga dilakukan Haris pada Gara. Haris belum menampakkan ekspresi apapun dan Gara hanya bisa terkekeh canggung pada ayahnya.


"Yah, Gara gagal, deh, hehe." Hanya itu yang bisa ia ucapkan pada ayahnya.


Haris menggeleng takjub pada putranya. "Anak nakal," gumamnya.


Lagi-lagi Gara hanya bisa berikan senyum polos tak berdosanya. Ia tak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa untuk pertama kalinya Gara bahagia mendapatkan gelar juara. Walaupun ini juara yang ia dapatkan dadakan, tapi semuanya terasa sempurna dan ia sangat puas atas hasil keputusannya sendiri. Sama sekali tak ada penyesalan dalam diri Gara telah gagal menjadi juara pertama dalam Festival kali ini.


Dan Haris sangat mengerti itu.


Satu tangannya langsung melingkar di bahu Gara dan Haris dekap putranya. Erat. Wajah Gara yang sekarang sudah bertopang dagu di pundak ayahnya hanya bisa terus **** senyum kebahagiaannya. Ia hanya bisa tertawa tak percaya pada dirinya sendiri yang sangat nekat sampai melanggar peraturan.


Haris memejamkan matanya dan mengacak gemas rambut Gara. "Selamat, Anggara." Setetes air mata menerobos pertahanan Gara dan terjun bebas di sebelah pipinya. Ia terhenyak dan begitu terharu karena ini adalah kali pertama Haris begitu bangga padanya setelah usaha yang telah dikerahkan Gara di suatu kejuaraan sampai ia mau mengucapkan kata Selamat padanya. Sungguh, kata sederhana yang sangat ingin didengar Gara selama hidupnya.


Gara masih nyengir lebar menatap Alena dan juga Re yang berbagi senyum yang sama padanya. Haris tak tahu mau berkata apa. Ia terlalu kagum pada kemampuan anaknya sendiri yang sangat jauh meningkat di luar dugaannya. Kini, ia bisa menyombongkan putranya pada semua teman konduktor dan rekan kerjanya bahwa Gara bisa mendapatkan gelar Juara Terfavorit di ajang bergengsi Nasional ini.


Akhirnya koran terakhir pun selesai dirobek oleh Gara. Ia tercengang beberapa detik namun kekehan kecil segera menggantikannya setelah mendapati isi kado tersebut. Ia tahu siapa yang mengirim kado ini dan Gara sangat mengerti apa maksudnya.


Naba yang duduk di sampingnya menganga tak percaya melihat benda apa yang sudah ada di tangan Gara.

__ADS_1


"TERONG?!" pekiknya penuh tanya.


__ADS_2