
"Gar? Gara?" Alena berusaha menaikkan tangan untuk melepaskan dekapan Gara. Apa yang sebenarnya Gara lakukan? Alena tidak mengerti.
"Sebentar," jawabnya parau.
Alena tidak tahu mengapa suara Gara jadi parau seperti ini. Tapi suara itu berhasil meluluhkan hati Alena yang membuatnya membalas dekapan Gara dengan menepuk punggungnya berulang kali. Gara terlihat begitu lemah.
"Gar ..., kamu kenapa?" tanya Alena bersimpatik.
Gara malah semakin mengeratkan dekapannya. Aliran listrik terasa merambat dan menyetrum jantung Alena.
"Sekali aja. Aku pengen meluk orang yang aku sayang," ucap Gara dengan matanya yang sudah terpejam sedari tadi.
"Apa?" Alena mengerjap berusaha meyakinkan pendengarannya.
"Aku sayang sama kamu, Al. Tapi yang menyedihkan, Re juga sayang sama kamu. Dan aku, harus melepas pergi orang yang aku sayang, lagi," jelas Gara menjawab keheranan gadis itu.
Alena terperangah. Ia tak sadar bahwa Gara ternyata menyimpan perasaan padanya. Ia pikir semua perlakuan Gara terhadapnya hanya sebatas sahabat, tidak lebih. Gara memang cowok pengertian dan peduli pada siapa pun. Alena tak merasa curiga sedikit pun dengan tingkah laku Gara.
Ia elus punggung cowok ini. "Gar ... aku juga sayang sama kamu. Kamu sahabat terbaik aku."
Gara tersenyum kecut. Ya, memang hanya sampai di situ batasan Gara. Alena sudah membuat batasnya dan sudah memblokade Gara untuk menerobos pintu hatinya.
Perasaan memang penipu paling ulung. Ia bisa membuat tuannya percaya akan perasaan yang dirasakan dan menitah tuannya untuk melakukan hal yang didasari oleh perasaan itu. Padahal, kejelasan perasaan itu belum terbukti. Apakah hanya sekedar suka, tertarik, nyaman, atau benar-benar sudah cinta? Banyak orang yang sudah tertipu dengan perasaannya sendiri.
Dan Gara harap, perasaan ini benar-benar telah menipunya. Ia berharap ini bukan cinta tapi hanya rasa nyaman saja. Karena jika seperti itu, Gara akan mudah melepaskan Alena dan dapat menerima cinta dari orang yang baru.
Gara melepas dekapannya perlahan dan tersenyum pada Alena yang juga membalas senyumannya.
Langkahnya terseok melihat pemandangan yang tak pernah diharapkan olehnya ini. Ia berjalan perlahan sembari menahan segala kesesakan di dada. Perlu keberanian yang tinggi untuk mengambil langkah mendekati dua sahabatnya. Re tidak boleh menyerah sampai di sini.
Apa yang terlihat bukanlah segalanya.
Saat jarak mereka sudah dekat, Re langsung tarik tangan Alena hingga berputar menghadapnya. Gara ikut terbelalak melihat Re yang sungguh nekat datang ke tempat umum seperti ini tanpa dikawal. Lampu-lampu dari ponsel dan kamera saling bersusulan memburu gambar artis baru yang masih hangat menjadi perbincangan. Gara sungguh risih dengan suasana seperti ini.
"R-re?" serak Alena karena napasnya tiba-tiba tercekat melihat orang yang ia kira takkan datang kemari sudah hadir di depan matanya.
"Putri ..." Re berujar parau.
"Apa sekarang kamu percaya?" tanya Alena.
Re langsung menghambur memeluk erat gadis itu. "Jangan pergi. Aku mohon jangan pergi lagi," mohonnya.
"AH, JANGAN, RE!"
"Enak banget tuh cewek dipeluk suami gue!"
"Bang! Lepaskan dia, Bang! Dede nggak sanggup, Bang!"
Pekikkan heboh dari para penggemar Re langsung bergemuruh. Tapi seakan ada yang menulikan pendengaran Re, cowok itu tidak peduli.
"Re! Banyak yang lihat!" tegur Alena ikut menjadi sorotan publik. Ia tidak suka ditatap penuh kebencian dari semua penggemar wanita Re.
"Kamu nggak pacaran sama Gara, kan?" Re malah menanyakan hal lain. Ia lebih mengkhawatirkan hal ini dari pada apa pun.
"Apa?"
Re melepaskan dekapannya. Kemudian ia tatap sahabatnya yang masih berada di sekitarnya. "Gar ... lo nggak suka sama Putri, kan? Please, bilang nggak. Gue tahu lo sukanya sama Raquel. Dia bilang-"
"Gue udah tahu, Re." Ia mengangkat rekaman duplikasi yang juga diterimanya. "Raquel juga nitip pesan ke gue," balas Gara.
Satpam dan pihak keamanan pun berusaha untuk menyingkirkan kerumunan para penggemar karena telah menghalangi orang-orang yang ingin masuk ke dalam pesawat. Ada yang dengan mudah menyingkir, tapi banyak pula yang bandel dan masih tetap bersikeras ingin menonton artisnya secara langsung.
"Jadi ... gimana sama perasaan lo?" tanya Re hati-hati.
Bibirnya tersenyum namun tidak dengan matanya yang sayu. "Sayangnya, perasaan gue berubah, Re. Dan gue sakit ngelihat lo meluk Alena kayak gitu."
"Gar ..." lirih Alena.
Gara mengibaskan lengannya. "Abaikan gue aja. Gue emang ditakdirin buat menjalani kisah cinta tanpa memiliki kayaknya." Ia terkekeh hambar.
"Gar, sumpah gue nggak maksud," sela Re merasa benar-benar bersalah.
"Re, waktu terus berjalan. Dia emang punya lo dari awal. Gue cuma nggak sengaja aja dapet kenyamanan dari Alena. Gue yakin perasaan gue juga bakal ngalir lagi ke orang yang emang bakal ada buat gue nantinya."
"Gar, maaf," ucap Alena.
Gara mengangguk mengerti.
"Makasih, Gar. Maaf gue selalu jadi penghalang kebahagiaan lo. Nggak musik nggak cewek. Perasaan elo mulu yang menderita. Lo selalu ngalah apapun buat gue," cerocos Re.
Gara terkekeh kecil. "Lo nggak salah, Re. Emang takdir lagi mainin kita aja, kali. Dah, gue nggak mau ganggu. Gue pamit duluan, ya."
Ia melambai pada Alena. "Bye, Mput." Alena ikut melambaikan tangan pada Gara yang sudah membalikkan tubuh berjalan menjauh.
Menjauhi sesosok gadis yang pernah memiliki arti penting bagi kehidupannya. Gadis yang berhasil menarik Gara keluar dari jeratan masalah dalam dunia musiknya. Gadis yang berhasil menyadarkan dirinya untuk mengalahkan dirinya sendiri. Dan gadis yang berhasil membuat Gara melupakan cinta pertamanya, yang menjadikan gadis itu ratu di hatinya.
Ia harap, perasaan ini akan hilang seiring langkah yang ia ambil menjauhi gadis itu. Gara hanya berharap itu.
*****
Re kembali menatap lurus Alena setelah punggung Gara tak nampak lagi di penglihatannya.
__ADS_1
"Kalau aku bilang jangan pergi, apa kamu bakal tetep pergi?"
Alena mengangguk.
"Kalau aku bilang aku sayang banget sama kamu, apa kamu bakal tetep pergi?"
Lagi-lagi, Alena mengangguk.
"Kalau aku-"
Re langsung menarik tengkuk Alena membuat kepala gadis itu mendongak mendekati wajahnya. Mata Alena sudah membulat dan jantungnya berdebaran diiringi pekikkan histeris para wanita yang merasa geregetan dengan tingkah Re yang jelas hendak mencium gadis itu.
Mata Re sudah tertutup dengan kepala memiring dan sampai batang hidung mereka bersentuhan, Re menghentikan aksinya.
"Re, berhenti," gumam pelan Alena berhasil menahan pergerakan Re yang bibirnya tinggal beberapa sentimeter lagi hampir mendarat dengan sempurna.
"Yah, kok nggak jadi?!"
"Ah, nggak seru, ah!"
"ALHAMDULILLAH! Saya syuci kalian penuh dosya!"
Re masih mematung di posisi itu. Hembusan napas gadis itu masih terasa menerpa kulit wajahnya. Ia dapat merasakan tubuh Alena menegang. Gadis itu memang tak ingin dicium olehnya.
Perlahan ia jauhkan kepalanya seraya membuka mata. Ternyata mata Alena pun ikut terpejam. Ia lepaskan tangannya dari tengkuk gadis itu yang membuat Alena perlahan menaikkan kelopak matanya.
"Kenapa?" bisik Re yang membuat Alena tergugu.
"Kenapa?!" Ia ulang pertanyaannya dengan nada menyentak.
"Kenapa kamu selalu jahat sama aku, Put?! Kamu udah ninggalin aku sepuluh tahun dan sekarang kamu mau pergi lagi?! Takdir aku emang buat nunggu dan terus nunggu ya kayaknya," imbuhnya yang membuat napasnya kembali tersengal.
"Re-"
Terdengar suara wanita dari speaker bandara yang mengingatkan para penumpang untuk segera menaiki pesawat karena keberangkatan tinggal sepuluh menit lagi.
Alena hembuskan napas panjang. Semua kata yang ingin ia ucapkan telah masuk lagi ke dalam tenggorokan. Hanya tersisa satu kalimat dengan tiga kata yang harus ia katakan pada Re.
"Aku harus pergi." Hanya ini yang tersisa.
Alena pun balikkan tubuhnya sembari menggeret kopernya.
Re berdiam di tempatnya. Ia tatap nanar tiap langkah gadis itu yang semakin mendekati pintu masuk kabin pesawat. Re sudah kehilangan kewarasannya. Bahkan, tadi hampir saja ia mencium gadis itu di depan semua mata. Berita ini pasti akan meledak nanti malam. Ah, tidak, tapi sore ini. Re yakin ada wartawan yang akan membawa kamera dan microphone-nya sebentar lagi dan juga ...
"RE! Bocah Gendeng, lo!"
Dia. Mas Jun.
Sudah terlambat. Ini semua sudah menjadi skandal.
Re tak melepas pandangan dari untaian rambut kecokelatan sepunggung itu yang masih berjalan perlahan-lahan.
Bukan pertemuan seperti ini yang Re harapkan saat bertemu dengan Putri. Ia mengharapkan pertemuan lama dengan penantian yang singkat saat bertemu dengan gadis itu. Tapi, mengapa yang terjadi adalah sebaliknya?
Re akan mencoba menahan kepergian gadis itu sekali lagi. Ia pun berlari cukup cepat diikuti oleh tiga orang Bodyguard yang berpakaian serba hitam dengan kacamata hitam pula.
Alena mendengar deru langkah kaki di balik punggungnya yang kian lama kian membesar. Suara itu pun menghilang menyisakan orang yang tepat berhenti di belakang punggungnya. Tubuh Alena lagi-lagi menegang karena tangan orang itu langsung melingkar erat di pinggangnya bersamaan dengan kepalanya yang terbenam di lekukan leher Alena yang dihiasi rambut.
Re singkap rambut itu dengan wajahnya yang bergerak ke kanan dan ke kiri dan ia telusupkan hidungnya di lekukan leher gadis itu yang beraroma Vanilla. Ia hirup dalam-dalam aroma parfum itu karena pasti ia akan merindukan hal ini untuk waktu yang lama. Ia ingin menyimpannya dalam memori.
"Re ...?" panggilnya yang tak disahut apapun.
"Re, lepasin aku." Alena berujar masih dengan jantung yang berdentum hebat dalam dirinya.
"Nggak mau," balas Re sambil memindahkan kepalanya ke samping kepala Alena dan semakin mengeratkan pelukannya.
Ia tak mau berpisah seperti ini. Hatinya terkoyak di dalam sana mengeluarkan darah yang mengalirkan rasa sakit ke dadanya. Tangisan Re mengalir, karena gadis itu.
"Re, kumohon," pinta Alena memelas.
"Kalau kamu pergi aku nggak bakal bisa main musik lagi!" sentak Re. "Aku nggak percaya lagi sama musik!"
"Aku udah hilang arah, Putri. Cuma kamu yang bisa mengarahkannya. Cuma kamu yang bisa mengembalikan nada aku ke jalurnya yang benar. Karena kamu, notasi aku. Kamulah notasinya!" Napas Re kembali susul menyusul.
"Tiap lagu yang udah aku buat. Itu karena kamu hidup di dalamnya. Aku buat lagu itu buat kamu. Tiap nada tiap not yang udah aku tulis. Itu semua gambaran kamu yang ada di otak aku, Putri."
Re tenggelamkan wajahnya di bahu gadis itu. Ia berharap, Alena akan luluh hatinya dan akan memilih untuk tetap tinggal di sisinya.
"Kalau kamu pergi ... aku bakal benci musik selamanya."
Dengan segenap tenaga, Alena paksa buka lingkaran tangan Re yang sangat erat itu. Alena pun menghadap Re yang sudah menampilkan wajah tak karuan. Cemas, takut, kesal, sedih, semuanya bercampur jadi satu.
"Re ... dengerin aku. Aku nggak akan kemana-mana. Aku cuma mau menimba ilmu di Oxford. Aku udah lolos seleksi pertama, Re. Ini cita-cita aku dari lama. Biarin aku pergi, please. Aku nggak bakal lupa sama kamu. Setelah empat tahun lagi, aku pasti balik ke sini."
"Aku ikut sama kamu," jawab Re yang membuat Alena mengeraskan giginya kesal.
"Re! Dunia kamu di sini. Musik. Bernyanyi. Semua penggemar kamu di sini. Semua orang yang cinta sama kamu di sini! Ini cita-cita kamu biar jadi musisi terkenal. Aku nggak bakal suka kalau kamu buang semua apa yang udah kamu punya demi aku.
"Kesuksesan kamu adalah kesuksesan yang diinginkan banyak orang, Re," ingat Alena. "Kamu mau buang gitu aja?! Kamu udah ngusahain ini lebih dari sepuluh tahun. Aku tahu itu. Kamu mau buang gitu aja?!" ulang Alena menyentak.
"Kalau dengan mencintai aku kamu melupakan mimpi kamu, aku nggak akan pernah mau jadi orang yang kamu cintai, Re," ujar Alena berusaha bersikap tenang.
__ADS_1
Walaupun sebenarnya, ia juga ikut merasakan pilu di hati harus berpisah seperti ini.
"Put ..." Re mengerutkan keningnya. Semakin kacau saja wajah Re hari ini. "Gimana caranya aku ngelangkah setelah ini, Put? Udah nggak ada notasi buat aku. Hidup aku bakal tanpa arah, Putri."
"Re, kamu bisa hidup tanpa aku. Buktinya kamu masih hidup setelah aku tinggalin satu dekade. Bahkan, setelah kamu tahu aku udah mati, Re. Kamu masih bisa hidup dan tetap bisa bikin musik, kan? Tenang aja, aku akan selalu ada di sini." Alena simpan telapak tangannya di dada Re.
"Notasi kamu nggak bakal pernah hilang, Re." Ia kembalikan tangan ke sisi tubuhnya.
Re terlihat seperti seorang wanita sekarang. Hatinya memang terlalu lemah jika berurusan dengan cinta. Ia dapat dengan mudah mengeluarkan air mata pada orang yang disayanginya. Sekuat tenaga Re tahan agar cairan bening itu tidak mengalir. Namun, Re selalu gagal.
Setetes air mata mengalir dari sudut matanya.
Ia kembali rengkuh gadis yang sudah ia tunggu selama satu dekade. Gadis yang selalu menjadi inspirasi dalam setiap lagu yang ia senandungkan. Gadis yang akan selalu diingatnya pertama kali saat ia gembira atau pun saat sedih.
"Aku sayang kamu," ujar Re serak.
Alena tersenyum haru. "Aku juga," balasnya.
Satu kalimat istimewa, berhasil Alena dengar tepat sebelum kepergiannya. Ia pikir, kata itu takkan pernah bisa menjadi kenyataan.
"Mbak, ayo tinggal dua menit lagi," ujar Pramugari yang sudah menunggu sedari tadi di pintu masuk kabin pesawat. Ia tak mau mengganggu sejenak karena lumayan bisa nonton drama gratisan.
"Re, lepasin tangan kamu," izin Alena lembut.
"Nggak mau. Aku ngelepasin kalau aku yang mau, bukan karena kamu yang mau," rengutnya.
Re pun mengangkat kepalanya sedikit menjauh dan meminta pramugari tadi untuk memasukkan koper Alena ke dalam pesawat karena ia masih belum mau melepaskannya. Tangan Re masih melingkar di bahu Alena tapi kepalanya menatap pramugari tadi.
"Bilangin ke pilot jangan berangkat dulu pesawatnya! Sepuluh menit lagi," pinta Re.
"Ya, tidak bisa sep-"
"Nanti, saya bayar kelebihan waktunya," ujar Re tegas. Re terlihat menyeramkan bila sudah bersuara dan menajamkan tatapannya seperti itu. Pramugari pun mengangguk patuh dan segera melapor pada pilot pesawat.
Alena hanya menghela napas pasrah. Re memang suka seenaknya.
Ia pun merogoh tas kecil yang dipakainya dan mengangkat Note kecil di depan wajah Re yang mengernyit heran. Re melepas dekapannya dan mengambil itu lalu menganalisanya.
"Ini apaan, Asp-Put."
Re langsung nyengir karena hampir keceplosan bilang Aspri lagi. Kan, Alena sudah mengundurkan diri jadi asisten pribadinya. Namanya juga sudah kebiasaan.
Alena memicingkan matanya pada Re kemudian menghela napas panjang.
"Jangan panggil aku Putri lagi, ya? Nama itu udah mati sejak kebangkrutan ayah aku. Aku harap kamu ngerti sama perasaan aku," ujarnya yang diangguki patuh oleh Re.
Alena mengangkat juga Note kecil miliknya yang sama persis dengan milik Re.
"Ayo, kita buat tantangan. Setiap kita sedang rindu, kita harus menuliskan namanya di dalam Note kecil ini. Nanti, siapa yang paling banyak menuliskan nama dari orang yang dirindukan adalah pemenangnya," cetus Alena.
"Kamu kalah," ucap Re yang membuat kening Alena mengernyit. "Udah pasti aku yang bakal menang!" cetusnya overpede.
Alena menggeleng tegas. "Nggak! Pasti aku yang bakal menang. Nama kamu, kan, cuma dua huruf doang jadi aku cepet nulisnya," balas Alena tak mau kalah.
Re mencebikkan bibir. "Licik! Ya udah aku nulisnya Al aja untuk Alena."
Alena tersenyum dan menyodorkan tangannya pada Re. "Deal?"
Re langsung membalas jabatan tangan itu. "Deal."
Alena pun benar-benar menghilang dari pandangan Re. Seakan kabut, gadis itu langsung mengabur dan menghilang dari hadapannya, begitu saja.
Re tatap kepergian pesawat terbang di balik kaca bandara. Terasa rangkulan dari orang yang berdiri di samping kanannya. Re pun menoleh dan ternyata ini Juniar yang baru saja kembali setelah membereskan keributan di dalam bandara ini. Juniar menepuk pundak Re dua kali dan ... tersenyum.
Ah, sial! Bukan senyuman untuk menyemangati Re. Tapi malah senyuman horor yang terpasang di wajah seram itu yang membuat Re nyengir paksa.
"Ah, sakit bego!" ringis Re.
Telinga kanannya langsung dijewer oleh Juniar hingga tubuh Re terpaksa menunduk mengikuti tarikan keras pada telinganya.
"Udah puas Romeo-Julietannya di sini?" geramnya. "Nggak kira-kira, lo, kalau mau bikin skandal malah bawa-bawa Nana juga. Kita harus begadang, Re mulai sekarang nanggepin komentar miring tentang lo!"
Juniar langsung menarik telinga Re yang masih meringis kesakitan sambil berjalan. Tangan Re berusaha untuk melepaskan jeweran dari Juniar.
"Gue laporin lo ke Kak Seto!" adunya.
"Gue laporin lo ke Emak Lo!" balas Juniar tak mau kalah.
Re terbelalak. "Eh?! Jangan-jangan! Iya, deh, ampun-ampun."
Kalau sudah bawa-bawa Naya, Re hanya bisa pasrah. Bisa dipecat jadi anak sama Naya jika Re ketahuan malah peluk-pelukkan di tempat umum. Hampir ciuman lagi. Ah, Naya pasti langsung mengutuk Re jadi batu saat itu juga.
Re masih mengikuti langkah panjang Juniar. "Mas Jun! Sakit telinga gue! Gue lagi berduka juga. Gue tuh baru ditinggalin tapi malah langsung disiksa kayak gini," cerocosnya.
Juniar terkekeh geli dan melepaskan jewerannya kemudian merangkul adik menjengkelkannya ini.
"Udah nggak usah galau, Nana pasti setia sama lo. Buktinya, dia tuh nggak pernah pacaran sama sekali padahal banyak yang ngejar-ngejar dia."
Re hanya bisa memusuti telinganya yang memerah sembari cemberut. Ia tatap Note kecil di tangan kirinya. Peninggalan terakhir dan merupakan saksi yang akan membuktikan kerinduan siapakah yang paling besar nantinya. Re bisa menjamin, buku kecil ini takkan muat menampung kerinduan yang sebenarnya Re rasakan. Memangnya sejak kapan rindu bisa dihitung?
Al, kangen. Satu.
__ADS_1