Because You Were There

Because You Were There
Bab 22


__ADS_3

Hari Festival Seni 2017.


Gara, Fikran, Yusuf, dan Alena berada dalam ruang tunggu peserta festival menunggu dengan cemas Re yang sedang berganti pakaian. Apakah mereka akan berhasil membuat Re tidak dikenali? Apakah mereka berhasil membuat semua orang percaya bahwa Re adalah Gara? Mereka sangat mencemaskan hal itu.


Fikran terus menggigiti kuku duduk di kursi rias menatap bayangan dirinya sendiri dalam cermin besar. "Heh, Cup! Lo sama Lara gimana nasibnya?" tanya Fikran tiba-tiba penasaran karena melihat figur Yusuf dalam cermin sedang bersandar di dinding.


Yusuf mengedikkan bahunya menatap bayangan Fikran dari cermin. "Entahlah. Dia masih ngotot nggak mau diputusin," balasnya.


Fikran membulatkan mulutnya lalu beralih menatap bayangan cermin Alena yang sedang duduk bersama Gara dalam sofa kecil di sebelah kanannya. "Kalau lo, Al?" tanyanya.


Dua alis gadis itu terangkat. "Gue?" tunjuknya. "Kenapa emangnya?"


"Lo ada kemajuan sama Re?" tuntutnya.


"APA?!" Alena seketika berdiri dari duduknya. Kenapa bisa Fikran berpikiran seperti itu?


Fikran memutar kursinya dan memicingkan mata pada Alena. "Nggak usah purgat gitu, deh, Al. Gue tahu lo suka sama Re. Iya, kan?" terkanya yakin seratus persen. Orang peka sedunia dilawan.


Alena tergugu. "Nggak! Enak aja!" sangkalnya.


Masih berani ngibul ternyata.


"Heh! Nggak usah ngeboongin diri lo sendiri, deh. Gue tahu. Jelas banget dari semua sikap lo sama dia," ujarnya yang semakin memperjelas semburat merah di kedua pipi Alena.


Alena menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Apaan, sih, Fik?! Lagian juga—"


"Re masih punya pacar," potong Gara datar membuat tiga orang penghuni lain terperangah. Hampir saja Yusuf terpeleset dari sandaran saking kagetnya.


Perlahan dua tangan yang mengatup wajah Alena ia turunkan. Sebenarnya bukan itu yang ingin ia katakan. Ia ingin berkata bahwa ia hanyalah seorang asisten pribadinya tidak lebih. Tapi, mengapa Gara? Sudahlah, mungkin ia hanya ingin membantu Alena yang sudah terlihat kelabakan.


"I-iya! Itu!" tekannya lalu kembali duduk di sebelah Gara yang sekarang memasang senyum tipisnya pada Alena. Alena hanya bisa tersenyum kecil dan menundukkan kepala.


Fikran menggaruk lehernya canggung. "Ya, iya, sih. Re emang nganggep dirinya masih punya pacar. Tapi, kan, dia udah diputusin. Dan gue yakin, Al. Dia itu—"


"Please ... fokus sama festival gue. Jangan bahas yang nggak jelas," ketus Gara.


"Hah?" sahut Fikran kebingungan. Gara tak pernah seperti ini sebelumnya. Dia pasti selalu terlihat santai dan tenang. Mengapa tiba-tiba jadi sensitif seperti ini? "Oh, iya deh." Fikran hanya bisa mengalah.

__ADS_1


Pintu ruang tunggu pun berdecit. "Udah mirip Gara belum?" tanya Re merasa aneh dengan pakaian yang ia pakai.


Ia gunakan sweater hitam yang bagian kerahnya tinggi hingga menutupi leher bahkan setengah bagian wajahnya bisa-bisa tenggelam di dalam kerah sweater itu sendiri.


"Lo ... yakin mau pake itu?" tanya Yusuf setelah mengamati pakaian yang Re pakai sangat berbanding terbalik dengan para peserta lainnya yang sudah Yusuf lihat. Mereka terlihat rapi di balik setelan jas yang terbalut di tubuhnya berbeda dengan Re yang kayak orang sakit seperti ini.


Alena masih menerawang kemudian berdiri menghadap Re. "Menurut aku ini bagus-bagus aja, kok." Telunjuknya menggosok dagu seakan melakukan penilaian. "Yang penting, sweater longgar ini bisa nutupin postur tubuh Re biar bisa mengecoh publik. Kalau pakai setelan, kayaknya Re bakal mudah dikenalin. O iya, tinggal kita tutupin wajahnya jangan sampe kelihatan jelas. Semua orang kan udah kenal sama wajahnya."


Fikran hanya manggut-manggut sedangkan Gara masih melongo membayangkan penampilan dirinya sendiri jika terbalut dalam pakaian seperti itu. Tangan Fikran pun bergerak meraih kacamata hitam di meja rias lalu ia sodorkan itu pada Re.


Re ambil benda itu. "Apaan?" Re mengernyit menganalisis kacamata di tangannya.


"Ya pakelah sama lo!" Re pun memakainya dan Fikran langsung menyemburkan tawanya.


Tawa Fikran menular hingga Alena dan Gara pun tertawa di saat Yusuf terkekeh kecil, tertawa puas.


"Persis kayak tukang pijit keliling! Haha!" ucap Fikran di sela tawanya. "Tinggal bawa tongkat aja lu, Re! Haha, Perfecto!"


Re pun mendesis kesal dan melepas kasar kacamata itu. "Sialan, lo, Embe!" kesalnya.


"Ganteng?" ulang Re memastikan.


Alena mengangguk mantap seraya mengacungkan jempolnya pada Re. "Iya ganteng. Buruan pake, biar nggak ketahuan."


Re yang rambutnya sudah dicat cokelat terang persis seperti milik Gara pun tersenyum kecil dan memakai lagi kacamata itu. Selalu beda rasanya jika mendengar kata ganteng dari Alena. Re jadi tambah semangat mengikuti ajang festival ini.


*****


Re merasa benar-benar jadi seorang tunanetra harus memakai kacamata hitam kemana-mana. Pin nomor urut 39 sudah terpasang di ujung kiri sweater-nya. Ia baru saja keluar dari kamar mandi untuk bernapas dan mengipasi diri dengan melepas sweater-nya sebentar karena bahan tebal ini sangat tidak sesuai dipakai di hari seterik ini.


Saat ia sibuk merapikan kerah sweater-nya, ada seseorang yang tak sengaja menyenggol bahu kirinya hingga kacamata Re melorot. Pria itu sama sekali tak merasa bersalah dan tetap berjalan. Sesegera mungkin Re naikkan kacamatanya sebelum ada yang melihat seorang artis berkeliaran. Bisa-bisa jadi gosip panas minggu ini nantinya. Re tak boleh bertindak ceroboh.


Awalnya Re tidak mau peduli dan berlanjut berjalan tapi di langkah ketiganya, ia merasa ada yang janggal.


Sama seperti pria paruh baya yang menabraknya pun ikut terhenti di langkah ketiganya. Ia pun memutar kepalanya perlahan hingga tubuh pria paruh baya ini ikut memutar dilanjut menelengkan kepala menatap punggung orang yang terdiam di hadapannya. Berbeda dengan Re, ia hanya menampilkan setengah wajahnya melirik sekilas wajah pria paruh baya itu.


Bahunya merosot. Oh, tidak. Ini bencana.

__ADS_1


Re langsung menarik wajahnya ke depan dan lari terbirit-birit meninggalkan pria paruh baya yang kembali berjalan berlawanan arah dengannya.


Re membuka kasar pintu ruang tunggu dan menggebrak pintu kemudian bersandar di sana dengan napas satu-satu mengejutkan semua temannya yang sedari tadi menunggu di dalam.


"Lo kenapa, Re?" cemas Alena.


"Iya, Re. Kenapa, sih, lo?" sambung Fikran.


"Ada masalah?" tanya Gara menaikkan satu alisnya.


Re masih terengah-engah dan buliran keringat meluncur di pelipisnya. Ia seka peluhnya itu dengan punggung tangan dan ia tatap Gara penuh kekhawatiran.


"Gar ..." Dan apa yang diucapkan Re berhasil membuat jantung semua anak berhenti berdetak sekian detik.


"Bokap lo."


Mata Gara melebar sempurna. Gara dan Haris jarang berbincang di rumah, jadi Gara tak tahu apa saja kegiatan yang akan dilakukan ayahnya. Dan sialnya, ia malah lupa tentang satu hal penting ini.


Ayahnya pasti akan menonton perlombaan Gara tanpa memberi kabar seperti tahun-tahun sebelumnya. Dan seorang ayah pasti akan mengenali anaknya. Apa jadinya jika Haris tahu bahwa bukan Gara yang naik ke atas panggung melainkan Re? Ah, Gara pasti akan dicincang hidup-hidup.


Fikran langsung mengerang frustrasi bersama dengan Re. Selalu duduk sebangku selama tiga tahun ternyata memberikan efek kesamaan sifat pada keduanya.


Yusuf menggertakkan gigi berusaha berpikir walau sama sekali tak terlihat raut kecemasan di wajahnya. Kosong. Begitulah ekspresi Ucup saat ini.


Alena langsung mengatup mulutnya tak percaya. Ia sama sekali tak berpikir sejauh ini. Cepat atau lambat Haris pasti akan mengunjungi Gara di ruang tunggu.


"Kalian! Gimana, dong?! Ayahnya Gara pasti bakal ke sini bentar lagi."


Re meremas ujung sweater-nya geregetan. "Ya mana gue tahu!" ringisnya.


Yusuf langsung merogoh saku coat biru telur asinnya. Ia angkat dua tabung kecil dan ia tunjukkan pada semua pasang mata yang mengernyit melihat itu.


"Gue bawa ini, siapa tahu aja butuh."


"Itu apaan?" tanya Gara menunjuk dua tabung kecil itu yang Yusuf angkat sejajar dengan telinganya.


"Obat cuci perut."

__ADS_1


__ADS_2