
De Terong's Cafe.
Pandangan yang pertama kali ia dapatkan saat membuka pintu cafe adalah sepasang manusia yang saling bercengkerama di meja bundar nomor delapan dekat jendela.
Senyumnya perlahan luntur melihat kebersamaan itu. Gara yang bisa tertawa lepas sembari mengacak puncak kepala asisten pribadinya yang juga membalasnya dengan cengiran lebar yang teramat manis.
Kok, nyesek?
Alena masih menyisakan tawanya karena merasa geli menceritakan kebodohan tingkah tukang parkir yang pakai gigi palsu dan saat berteriak 'Kiri-kiri-STOP!' untuk memarkirkan kendaraan, gigi palsunya loncat keluar dari mulutnya dan kelindes ban mobil yang sedang diparkirkan olehnya sendiri. Sungguh miris sekali hidupnya.
Ia pun mengalihkan pandangan dari Gara yang sibuk tertawa geli di hadapannya ke arah pintu masuk cafe. Tawanya terhenti dan segera tergantikan dengan cengiran lebar pada Re yang masih bengong di ambang pintu. Re yang kini menyampirkan tas kecil di sebelah bahunya. Tumben sekali. Mungkin karena Alena tidak ikut bersama Re, jadi Re inisiatif membawa tasnya sendiri.
Ia lambaikan tangannya pada artis itu yang telah memintanya untuk menunggu Gara karena ia yakin cowok itu cepat atau lambat pasti akan kemari di saat Re ada urusan dulu dengan Mas Jun.
"Re!" pekik Alena yang mengembalikan fokus Re.
"Oi!" sahutnya. Gara pun ikut melambai singkat padanya.
"Gar, lo ngerti juga apa maksud dari kado gue," ujarnya setengah berteriak karena jarak mereka terlampau jauh.
Re tidak perlu jaim di cafe ini karena ia sudah mem-booking-nya selama dua jam mengetahui Gara sudah sampai di cafe favorit mereka ini dari Alena. Jadi, semua pengunjung sudah diusir secara halus agar Re bisa leluasa mengobrol bersama sahabatnya.
Gara melipat tangannya di atas meja. "Yaiyalah gue ngerti, lo selalu kasih itu mulu kalo ngado." Tangan Gara pun menengadah membuat gestur meminta. "Mana kado aslinya?" tagihnya, seperti biasa sudah tahu kebiasaan Re yang suka menunda kado sebenarnya.
Re mendengus geli. "Nanti. Gue mau mesen makanan dulu." Gara pun mengangguk beriringan dengan Re yang berputar menuju dapur cafe.
Pintu kayu berkaca bundar pun didorong oleh Re yang langsung tersenyum melihat penghuni di dalamnya. Ada Hilmi Si Kapten dapur yang sibuk memainkan spatula di atas wajan. Bisa dilihat api menyembur dari dalam wajan tersebut. Di sampingnya, ada Nesya yang sibuk meng-garnish kue padahal kuenya sudah sangat siap untuk dijual. Nesya pasti malu untuk menyapa Re dan pura-pura tidak menyadari kehadirannya. Re sudah tahu betul sikap gadis yang seumuran dengan Ardy itu.
“Hai, Abah Hilmi! Apa kabar?!” ceria Re mendekati Hilmi.
Hilmi sedikit terkejut. Tanpa perlu menoleh, ia sudah tahu siapa yang memanggilnya. “Oi, Re! Awas jangan deket-deket nanti kecipratan minyak,” peringatnya.
Re mencibir, “Tumbenan banget lo perhatian sama gue. Biasanya juga suka nyuntrungin gue ke minyak panas!”
Hilmi terkekeh mengingat kebiasaannya menakuti Re dengan mendorong bocah itu mendekati minyak yang sudah mendidih di katel besar untuk menggoreng. Mereka berdua akan adu sumo untuk saling mendorong dan sudah tak terhitung berapa kali kaos Hilmi yang malah robek dicakar sama Re yang sudah menjerit ketakutan kalau-kalau dia benar nyemplung ke minyak panas itu.
“Itu, kan, sebelum lo terkenal, Re. Nanti kalau gue nyuntrungin elo lagi dan lo kecebur beneran, nanti gue dihujat dan cafe gue ini bakal diambrukin sama semua fans elo,” sangsinya.
Re hanya tersenyum. Semua orang bisa memberlakukan kita berbeda tergantung bagaimana mata orang lain melihatnya.
__ADS_1
“Nasgor Stroberinya tiga, ya! Yang satunya jangan lupa kasih racun tikus, buat Si Gara!” cetus Re cekikikan.
Hilmi terkekeh sambil manggut-manggut. “Okelah, Siap!” ujarnya.
Re tepuk pundak pria berkepala empat ini sebelum ia berjalan mendekati Nesya. Re sandarkan punggung ke meja dan ia tempelkan telapak kiri pada meja tersebut, memperhatikan Nesya di samping kirinya yang masih sibuk mengunyel-unyel garnish kue yang sudah rapi.
“Kamu masih kerja di sini?” Re mengawali percakapan.
Pipi Nesya langsung merona. Ia pun langsung berpaling memunggungi Re canggung. “I-iya,” jawabnya sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
Re terkekeh kecil. Ia tahu Nesya pernah suka padanya. Yang Re tidak tahu, ternyata perasaan itu masih ada di hati Nesya hingga hari ini.
“Nes! Tolong ambilin piring!” titah Hilmi.
Nesya mengangguk. “Iya, Pah!” serunya kemudian pamit pada Re untuk mengambil piring.
Re menunggu pesanan sembari beberapa kali mengusili Hilmi dengan menggelitik perutnya di saat tangan pria itu sudah penuh dengan spatula di tangan kanan dan wajan di tangan kiri. Badannya tiba-tiba menegang dan terus meliuk lucu seperti cacing kepanasan hingga semakin gencar saja Re mengelitiknya sambil terbahak puas.
"Gue tampol juga lo pake nasgor!" ancam bapak satu anak ini yang sudah kewalahan harus memasak sambil digelitik.
Ancaman Hilmi bukan hanya perkataan semata. Re tidak boleh melanjutkan aksinya bila wajahnya tidak mau semakin tampan karena disiram pakai nasgor panas-panas. Re pun segera melipat tangan di depan dadanya. "Iya-iya-iya, ampun-ampun," ucapnya masih cekikikan.
Re tidak pernah merasakan indahnya bercengkerama dengan seorang ayah. Ayahnya sudah kabur menikahi wanita lain sejak Re baru berumur tiga setengah tahun. Ia tidak dapat mengingat apa-apa. Dan kebersamaan dengan Hilmi, selalu bisa mengobati rasa penasaran Re akan bercanda bersama dengan seorang ayah. Re merasa beruntung bisa bertemu dengan Hilmi.
"Re, siapa tuh cewek? Ceweknya Gara?" tanya Hilmi tiba-tiba.
Re mengernyit tak suka. "Apaan, sih? Ya bukanlah, dia itu cew—"
"Ceweknya lo?" potongnya.
"Cew ... cewek yang jadi asisten pribadi gue." Entah kenapa rasa hati Re tak puas berkata itu padahal ia telah mengatakan faktanya. Tapi seperti ada yang mengganjal di hati Re.
Hilmi menyeringai. "Yakin cuma sebatas asisten pribadi? Gue denger lo tinggal bareng ama asisten pribadi lo, kan?"
"Ya, yakinlah, Abah! Lagian juga gue masih punya Ara," ketusnya. Re jadi malas jika ada yang sudah membahas kisah percintaannya. Mood pasti hancur seketika.
"Ah, Raquel? Dia belum balik juga?" Re menggeleng lesu. "Lo udah diputusin, Re ... berhenti mikirin dia. Lo bakal nungguin dia sampai berapa tahun, lagi?" Lagi-lagi Re menggeleng.
Hilmi menghela napas panjang. "Siapa nama dia?" tanyanya merujuk pada gadis pertama yang mereka bicarakan.
__ADS_1
"Asp—Alena," balasnya hampir saja keceplosan.
"Namanya cocok sama mukanya. Lo emang nggak ada rasa sama dia?" Hilmi mulai menuangkan nasi goreng pada tiap piring serta mulai menggarnisnya dengan tomat yang diukir bentuk mawar, daun selada, dan potongan acar di sudut tiap piring.
Re terdiam cukup lama. "Eng-gak ...," jawabnya tak yakin. Ia tak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan. Ia baru menyadari bahwa hatinya selalu merasa tenang jika berada di dekat gadis itu. Tapi, Re tidak mau melompat pada kesimpulan bahwa ia menyukainya.
Masih ada Ara—pacarnya.
Hilmi hanya tersenyum melihat raut bimbang yang terukir jelas di wajah Re. Ia tepuk pundak anak cowok itu. "Sebelum lo berpikir pakai otak lo. Hati lo udah tahu jawabannya duluan." Re hanya meresapi perkataan itu.
Hilmi pun bergerak untuk membawa piring di tangannya sampai Re tersadar dan sontak melotot untuk merebut piring itu. "Udah, sama gue aja," pintanya.
Dua piring sudah bertengger di tangan kiri Re berlanjut dengan satu piring lagi yang baru ia genggam dengan susah payah.
"Satu piring jatoh, lo ganti seratus, Re," was-was Hilmi melihat piringnya dibawa gemetaran seperti itu oleh Re.
Re perlahan-lahan menegakkan tubuhnya. Lidahnya yang tak sengaja terjulur ia gigit di antara giginya. Ia sedang mencoba untuk fokus. "Iye, ah, bawel. Dulu, kan, gue pernah ngegembel di sini jadi pelayan saking nggak ada ongkosnya buat pulang."
"Kak, mau dibantuin, nggak?" tawar Nesya yang ikut cemas melihat Re.
"Nggak. Nggak usah. Gue ... pasti bis—eh-eh, Nesa!” pekiknya heboh.
“Kenapa, Kak?!” cemas Nesya mendekati Re.
“Tolong benerin tali tas aku dong, melorot, nih.” Re kedikkan bahu kanannya yang tersampir tas kecil dan talinya malah terjatuh di lengan Re yang tertekuk. Nesya pun bergerak menaikkan lagi tali tas itu ke atas bahu Re.
“Oke, makasih, Nes!” Re pun berjalan membawa tiga piring di tangannya.
Re terus berjalan berhati-hati mendekati pintu dapur. Ia pun memunggunginya dan mendorong perlahan-lahan pintu hingga ia keluar dari dapur. Ia terus memandang piringnya takut bergeser atau akan kesenggol benda lain sampai Re percaya diri untuk mendongak melihat dua temannya.
"Pesanan dat—" ucapnya tertahan karena ia melihat pemandangan yang menyesakkan di depan matanya. Gara dan Alena tidak lagi duduk berhadapan. Mereka duduk bersebelahan.
Alena yang menangkup wajahnya dengan dua tangan itu menyembunyikan wajahnya di tubuh Gara di saat cowok itu sibuk tertawa setelah melihat isi ponselnya yang ia simpan di atas meja. Gara berusaha bertanya apa yang terjadi pada Alena dan karena ia tidak mendapatkan sahutan, ia mulai menepuk-nepuk punggung Alena berusaha menenangkan gadis itu yang terlihat amat ketakutan melihat isi ponsel.
Tangan Re melemas. Hampir saja, ia jatuhkan ketiga piring ini di tangannya jika Re tidak tersadar untuk segera menyimpan piring itu di meja lain yang ada di dekat Re. Re menarik kursi dan mendudukkan diri di sana melihat Alena yang sudah bangkit dari posisinya dengan punggungnya yang bergetar akibat tertawa namun air mata malah keluar dari matanya. Ia pasti masih syok namun merasa konyol dengan tingkahnya sendiri. Gara tersenyum kecil dan mereka berbagi tawa yang sama.
Re keluarkan buku diary yang ada di dalam tas kecilnya. Buku diary yang sudah berumur sepuluh tahun. Ia putar ketiga pin itu dan gembok pun terbuka. Re mulai menarik pensil yang terselip di antara lapisan kertas dan ia mulai menggambar garis paranada di lembaran kosongnya. Re pun menggambar berbagai notasi di sana. Di garis pertama lalu bergerak naik dan turun sesuai irama apa yang ia rasakan saat ini.
Terbesit sepenggal lirik dalam pikiran Re.
__ADS_1
Lihatlah kemari ada aku duduk di sini. Selalu di sini. Menantimu.