Because You Were There

Because You Were There
Bab 37


__ADS_3

Re mengacak rambutnya frustrasi. Ia tatap pantulan dirinya sendiri yang sudah kacau di cermin depan lemari kamarnya. Sudut matanya memerah, rahangnya masih terus mengeras bersamaan dengan kerutan di kening akan rasa sakit yang masih tergambar jelas.


“ARRGGGHH!” Re mengerang seraya menghempaskan sekuat tenaga buku diary dalam genggamannya. Prank! Cermin pun meretak menggoreskan guratan ke segala arah. Tinggal satu sentuhan lagi dan cermin itu akan pecah melukai jemari kaki Re.


Alena terhenyak mendengar suara erangan yang keras disusul pecahan beling dari dalam kamar Re. Lututnya terasa lemas dan ia biarkan itu hingga membawa tubuhnya bersandar di pintu kamar Re untuk terduduk di lantai. Alena peluk kedua lututnya sembari menenggelamkan kepalanya di atas sana.


“RE—“


“PUTRI UDAH MATI!”


Napas Alena tercekat. Ia langsung cepat menyanggah pernyataan itu, “Kata siapa, Re?” lirihnya.


Re mengusap wajahnya penuh tekanan sebelum ia tatap kembali binar mata yang menuntut jawaban sedari tadi. “Raquel. Raquel yang bilang Putri udah mati!”


Mata Alena kembali berkaca. Untuk apa Raquel membuat cerita palsu seperti itu tentangnya? Ia tidak percaya sahabatnya sendirilah yang telah mengatakan hal keji itu pada Re.


“Apa kamu tahu aku dimakamin di mana? Apa pernah ada surat dari keluarga aku bahwa aku udah mati?!” selidiknya.


Re sudah amat lelah berdebat tentang Putri. Ia hela napasnya panjang. “Putri kecelakaan pesawat jadi mayatnya nggak bisa ditemuin.”


Jantungnya serasa diremas begitu kuat. Alena sungguh tak bisa mencerna semua perkataan Re. “Re, Itu bohong! Aku masih hidup. Putri yang selalu kamu rindukan ada di depan mata kamu!” sentaknya.


Re mencengkram bukunya kuat-kuat hingga urat terlihat menyembul dari lengannya juga raut kesakitan di wajahnya semakin terlihat begitu nyata.


“Argh! Apa-apaan, sih, nih?!” Re edarkan pandangannya menyusuri saksi bisu di sekelilingnya. “Please ... jangan buat lelucon sama gue!” Nadanya kembali meninggi di kata terakhir. “Sumpah, gue bingung ... gue nggak ngerti!”


Ia tarik napasnya sekuat tenaga dan ia hembuskan perlahan lalu kembali ia tatap gadis yang mengaku-ngaku sebagai Putri. “Sekarang pilihannya cuma ada dua; Raquel yang berbohong atau elo yang udah bohongin gue.”


Re langsung tarik kasar bahu Alena agar keluar dari kamarnya. Ia pun banting kasar pintu di depan wajah gadis itu.


Alena angkat wajahnya dan ia ketuk pintu putih di balik tubuhnya ini perlahan. “Re ... aku nggak ngerti maksud kamu apa,” ujarnya yang dibalas erangan keras dari dalam. Suara benda yang Re hempaskan ke sembarang arah membuat Alena tersentak. Alena yakin pasti semua benda di dalam kamar itu sudah terlempar jauh dari tempatnya semula.


Alena tidak tahu cara mengatasi situasi ini. Bila Alena tak pernah mengatakan siapa dirinya, pasti Re masih ada di sini bersamanya. Alena pasti masih dapat melihat tawa jahil yang begitu manis dari bibir cowok itu. Pada jam ini, mungkin Re akan menikmati ayam goreng dengan wajah gembiranya.

__ADS_1


Bukan seperti ini respon yang Alena harapkan. Ia pikir, Re akan memeluknya karena ia berhasil lagi bertemu dengan Putri, teman semasa kecilnya. Namun apa yang terjadi? Jauh dari apa yang telah diekspetasikan olehnya.


Alena menyesal mengingatkan Re tentang Putri.


*****


“Kamu tinggal di apart ini juga?” tanya Juniar sembari berjalan menyusuri lorong apartemen Re yang sudah menggelap dan hanya disinari lampu yang akan menyala jika seseorang lewat di bawahnya. Ia berjalan berdampingan dengan pujaan hatinya. Perempuan cantik yang begitu modis sungguh tipe ideal Juniar.


Chyntia mengangguk sambil tersenyum memandang wajah Juniar dari samping yang sedari tadi tak kunjung juga membalas tatapannya. Ia kembalikan pandangannya menatap lantai. “Cuma beberapa minggu. Chyra ada job deket sini sebelum nanti lanjut lagi tinggal di Bogor,” jawabnya.


Juniar hanya manggut-manggut. “Hutang saya, tinggal berapa lagi?” tanyanya.


“Dikit lagi. Kenapa? Mau dilunasin sekarang?” tanya balik Chyntia.


Ia sudah diajak makan, nonton, sekedar jalan-jalan bahkan sampai dibelikan tas yang harganya melebihi hutang lelaki itu. Saat Chyntia bilang hutangnya sudah lunas dan malah Chyntia yang berhutang kalau begini jadinya, Juniar malah berkata itu baru memotong hutang dua ratus ribu karena sisa nilai harganya, Juniar memang ingin membelikan tas itu untuk Chyntia. Terpaksa, Chyntia mengikuti permainan Juniar karena ia juga tak mau menghabiskan alasan itu secepat mungkin.


Juniar menghentikan langkah sesaat membuat Chyntia mengernyit. Ia nampak berpikir, kemudian melanjutkan langkahnya yang diikuti lagi oleh Chyntia. “Nggak. Nanti nggak ada alesan buat ketemu kamu lagi.”


Chyntia melambai singkat. “Nggak apa-apa. Lagian juga udah deket kok di ujung lorong sana tinggal belok kiri.”


Juniar tersenyum kecil. “Sampai nanti, saya—“ Ucapannya terpotong karena Chyntia terlanjur menjejali tangannya dengan sebuah surat kecil. Ini bukan surat biasa. Dan surat seperti ini tidak pernah diinginkan untuk hadir di tangannya. Surat Undangan.


Juniar menatap tak percaya Chyntia yang tersenyum sendu. Perempuan itu menundukkan kepalanya. “Nggak usah lunasin hutangnya. Dateng aja ke sana. Aku harap, sih, kamu berkenan untuk dateng.”


Juniar merasa jantungnya jatuh ke dasar perutnya. Ia terlambat. Ia terlalu lama menunda waktu untuk mengatakan yang sebenarnya. Ia tak pernah melihat perempuan itu berpacaran dan Chyntia selalu saja mau ikut jika diajak olehnya untuk berjalan-jalan. Perempuan itu sama sekali tak pernah menyinggung soal pacaran ataupun pacarnya. Tapi mengapa? Surat ini sampai di tangannya?


Hati Juniar remuk. Sakitnya, orang yang ia cintailah yang memberikan surat ini langsung padanya. Ia tidak boleh terlihat lemah. Juniar segera membuat senyuman canggung.


“Oh? Iya, saya pasti dateng, kok.” Iya, datang terus membakar gedung pernikahannya biar Chyntia gagal kawin sekalian.


Chyntia mengembangkan senyum yang teramat manis. “Makasih, Juni—”


“Siapa?” sela cepat Juniar sebelum ia kehabisan tenaga untuk pura-pura baik-baik saja. “Siapa cowoknya?”

__ADS_1


Chyntia mengangkat dua alisnya dan merebut surat undangan di tangan Juniar. “Di sini ... ditulis Hendra sama Kate,” cengirnya membuat Juniar melongo.


Ia mengerjap dan buru-buru merebut surat itu lagi dan melihat tulisan yang tercetak di surat undangan itu. Matanya melebar sempurna. Apa ini? Bukan nama Chyntia yang tertulis di sana. Lalu? Maksud Chyntia mengajak Juniar untuk ke sana untuk apa?


“Kok, kamu kaget, gitu, sih? Kamu kira aku yang nikah, ya?” usilnya kemudian terbahak menertawai wajah tak ternilai yang terpampang di wajah lelaki itu. Juniar masih tak sanggup untuk berkata-kata.


“Hendra itu mantan aku. Jadi, kamu mau dateng, kan, ke sana bareng sama aku? Aku pengen manas-manasin dia, nyebelin banget mutusin cuma gara-gara nggak diangkat teleponnya doang.” Ia tatap Juniar dengan binar mata yang cerah. “Mau ke sana, kan?”


Juniar masih melongo. Tangan Chyntia pun melambai-lambai di depan wajahnya membuat Juniar mengerjap. “Bukan kamu yang nikah?!” tuntutnya yang dibalas anggukan dari Chyntia. “Kenapa bukan kamu?!” tanyanya tak percaya.


Chyntia langsung mengernyit dan mencebikkan bibirnya. “Kok, bilang gitu, sih? Kan aku pengen nikahnya sama kam—“


Alamak! Mata Chyntia melebar sempurna diikuti gerakan ia menutup mulutnya dengan dua tangan. Demi roti sobek seluruh penghuni webtoon yang pernah Chyntia baca, tolong robek saja ini mulut yang suka kepeleset kalau ngomong! Chyntia hanya bisa meringis malu.


Nikah? Kamu? Juniar langsung mengembangkan cengiran lebarnya. Dan karena saking bahagianya ia langsung tarik tubuh Chyntia untuk masuk dalam pelukannya. Juniar tumpahkan seluruh kebahagiaannya pada perempuan itu. “Makasih, makasih banyak,” ujarnya. Hatinya sangat plong mendengar itu.


“Saya yang bakal nikahin kam—“ Ucapannya tersendat. Juniar segera tersadar dari rayuan setan yang ada di sekelilingnya ini lalu ia dorong dua bahu Chyntia menjauh dari tubuhnya yang masih melotot tak percaya.


Tubuh Chyntia masih menegang namun segera ia lemaskan dan ia sipitkan mata pada Juniar. “Pacaran aja belom, udah nikah-nikahan aja,” cebiknya membuang wajah pura-pura kesal.


Juniar langsung kelabakan dan melarikan dua tangannya ke belakang kepalanya. Ia pun turunkan tangan itu ke sisi tubuhnya. “Jadi ... kamu mau jadi pacar saya?” tanyanya serius.


Chyntia menundukkan pandangannya. “Kamu orang yang baik dan selalu bisa bikin aku ketawa. Aku selalu nilai semua sikap kamu semenjak kamu nyicil bayar hutang. Aku selalu ngerasa aman di dekat kamu dan semua itu udah ngejelasin bahwa nggak ada alesan buat aku nolak kamu.” Kembali ia angkat kepala sembari menyunggingkan senyum tipisnya. “So then ... yes.”


Juniar kembali menarik senyuman kecil dan memeluk singkat Chyntia. “Saya masuk dulu.” Chyntia mengangguk dan segera berjalan cepat menuju kamar apartemen menyembunyikan senyuman bahagianya di saat Juniar membuka pintu dan masuk ke dalam.


Juniar takkan pernah melupakan hari bersejarah ini. Ia memang belum lama mengenal Chyntia, tapi langkah awal sudah terbuka untuk jalan yang lebih besar daripada ini. Perjalanan masih panjang untuk saling mengenal lebih dalam.


Tidak usah terburu-buru untuk sesuatu. Penyesalan selalu datang bagi siapa pun yang tidak bisa berpikiran dengan matang.


Juniar selalu merasa aneh dengan pertemuannya dengan Chyntia yang tiba-tiba. Dimulai dari insiden menyenggol blender di festival, lalu pertemuan di Roma, dan pertemuan-pertemuan kecil lain yang tidak pernah Juniar duga seperti hari ini. Mereka tak sengaja bertemu di tempat parkir apartemen dan berujung berjalan bersama masuk ke apartemen.


Pertemuan berulang kali mungkin cara Tuhan untuk mengatakan; Berhentilah mencari, dia udah di sini.

__ADS_1


__ADS_2