Because You Were There

Because You Were There
Bab 21


__ADS_3

Indonesia. SMA Jayabakti. 10.09 WIB.


Seorang lelaki bertopang dagu menatap luar jendela yang mengarah langsung pada taman sekolah. Ponsel ditangan kanannya menempel dan masih tersambung pada seseorang di sana.


"Bosen," ujarnya datar.


"Kenapa? Ini kan hari pertama masuk sekolah lagi," sahut seorang gadis yang diteleponnya.


Pandangannya terpaku pada Fikran dan Fany yang tertawa lepas bersama di bangku taman. Pemandangan yang mengirikan semua anak kelas yang cuma bisa melongo melihat kemanisan mereka berdua.


"Nggak ada kamu di sini," jawabnya dengan nada do, iri.


Gadis itu berdecih geli. "Kita kan beda sekolah. O iya, kamu udah ketemu sama cewek PHO itu?"


"Belum. Kenapa?"


"Kok belum, sih? Berarti kamu pengen ketemu dong. Kamu udah mulai suka ya sama dia?"


"Kamu masih nggak percaya sama aku?"


"Nggak tahu, ah! Cepet-cepet usir dia baru aku percaya."


Yusuf pun manggut-manggut. "Iy—" Ponselnya ditarik paksa dan saat lelaki ini menoleh ternyata itu Lara. Cewek itu melotot dan membawa kabur ponselnya keluar kelas.


"Lara," panggilnya datar. Boro-boro cewek itu mendengar, orang yang duduk di bangku depan Yusuf pun pasti tak dapat mendengarnya. Mengapa ia tidak bisa berteriak? Yusuf pun segera keluar dari bangku berlari kecil mencari keberadaan Lara.


Langkah cepat kaki Lara dapat tersusul dengan mudah karena kaki jenjang milik Yusuf sangat membantunya. Bahu gadis itu diraihnya dan diputar agar menghadapnya di lorong yang masih dipenuhi oleh anak-anak yang sedang beristirahat.

__ADS_1


Lara masih memeluk ponsel itu dengan tatapan ketakutan dan cemas. Ia tempelkan ke telinganya seraya membuang tatapan ke pot tanaman di sisi koridor.


"Halo? Yusuf? Halo?" Masih terdengar suara dari seberang.


"Halo?!" panggilnya menyentak.


Terdengar hembusan napas kesal. "Lo?! Lo lagi lo lagi. Bisa nggak sih lo pergi aja!"


Lara menggeram. "Heh! Mendingan lo yang pergi! Nggak capek apa gangguin pacar orang?!"


"Ngaca dong! Siapa yang jadi orang ketiga di sini?! Gue yakin pacar gue udah bilang ke elo sejelas-jelasnya."


Lara terkekeh. "Bilang? Bilang apa? Kalau bilang dia pengen mutusin lo, sih, udah! Dia udah enek banget sama lo!"


"Apa?" Nadanya terdengar bergetar, Lara semakin yakin ia akan berhasil menghancurkan hubungan ini.


"Apaan, sih? Lepasin!" Lara mengerutkan kening dan mengeraskan rahangnya masih berusaha untuk menarik ponsel itu yang sudah digenggam oleh Yusuf. "Gue bilang lepas!" gertaknya.


"Lar ... berhenti," ujarnya membuat Lara tercengang. Genggaman pada ponsel pun melemas dan benda itu sudah kembali pada pemiliknya.


Yusuf masih melihat sambungan teleponnya tersambung. Ia tekan tombol loudspeaker dan terdengarlah suara Shilla yang hampir menangis dari sana.


"Apa?! Apa, sih, yang mau lo bilang?! Yusuf nggak mungkin bilang gitu! Lo bohong! Dasar pembohong!" pekiknya tercekik berusaha tak mau mempercayai tapi hatinya sudah terlanjur sakit mendengar itu.


Anak kelas yang masih berkeliaran di lorong menghentikan aktivitas, pura-pura sibuk melakukan sesuatu di sekitar Yusuf dan Lara padahal mereka menguping dan menonton aksi ini diam-diam.


"Apa?" tanyanya dengan kerutan di kening.

__ADS_1


"Berhenti, Lar ...," ulang Yusuf.


Mata Lara memerah dan ia menegakkan tubuh menghadap Yusuf dengan benar. "Berhenti apa? Berhenti suka sama kamu?!" pekiknya membuat napasnya sendiri tercekik.


"Halo, Yusuf? Kamu di situ?"


Yusuf menghembuskan napas panjang kembali menatap Lara. "Bukan."


"Terus lo bilang berhenti itu apa?!"


"Berhenti nyakitin diri kamu sendiri," jelasnya.


"Apa?" Bibir Lara bergetar.


"Kamu cuma obsesi, Lar. Coba liat sekeliling kamu, banyak cowok yang suka sama kamu. Tapi sayangnya, aku gak termasuk jadi salah satunya. Hati aku cuma milih Shilla. Aku cuma sayangnya sama dia. Temen les aku. Kuharap kamu ngerti."


Lara meringis sakit dan air matanya merebak. "Nggak! Nggak mungkin! Kalau kamu jadi aku, emang kamu bakal bisa menghentikan perasaan yang kamu punya?! Aku yakin kamu nggak bakal bisa, Suf!" pekiknya.


"Lar ... aku sayang sama Shilla. Kita udah—"


Lara langsung menutup kedua telinganya seakan tahu apa yang akan didengarnya. "Nggak! Belum! Kamu masih jadi pacar aku apapun yang terjadi!" Gadis itu berbalik dan berlari menembus kerumunan di lorong sekolah.


Pandangannya yang sudah mengabur membuat ia tidak fokus hingga ia menginjak tali sepatunya sendiri dan ia terjerembap ke lantai. Ia masih menangis sampai ada uluran tisu di depan matanya. Ia mendongak melihat satu wajah.


Yusuf memperhatikan itu di ujung lorong kemudian ia tempelkan ponselnya. "Kamu denger, kan? Sekarang kamu percaya sama aku?"


"I-iya. Makasih, Suf."

__ADS_1


"Jangan raguin aku lagi," pintanya.


__ADS_2