Because You Were There

Because You Were There
Bab 25


__ADS_3

Satu persatu peserta mulai naik lagi ke panggung setelah istirahat berlangsung dua puluh menit. Karena tinggal lima belas peserta lagi yang masih bertahan di babak akhir, guliran nomor peserta terasa begitu cepat hingga tinggal lima peserta lagi sebelum nomor urut Gara dipanggil. Itupun hanya akan menghabiskan waktu empat sampai lima menitan tiap pesertanya.


Seharusnya ini bukan masalah. Sama sekali bukan.


Jika saja Gara tidak menghilang seperti saat ini.


Re yang belum berganti pakaian menggigit gemas kerah sweaternya. "Kemana, sih, si Gara?! Kok dia nggak balik-balik lagi?" pekiknya khawatir.


"Iya kemana, sih, tuh anak?!" sambung Fikran yang sudah guling-guling di lantai lalu menekuk dua lututnya dan menggigiti kuku jempolnya. Ia sangat gelisah.


Alena terus mondar-mandir di tengah ruangan. Ia sudah tak bisa berdiam menunggu Gara lebih lama lagi. Ia hentikan aktivitasnya dan menatap tiap wajah di dalam ruangan ini. "Kita harus jemput Gara. Aku rasa dia nggak bakal balik lagi ke sini." Alena berujar sangat yakin.


Namun, Yusuf tidak setuju akan perkataan Alena. "Kenapa gitu?" sahut datarnya.


Alena mengacak rambutnya frustrasi. "Mana aku tahu! Tapi firasat cewek itu selalu bener. Jadi ayo kita cari Gara sekarang!" tuntutnya.


Sudah tak ada waktu lagi untuk berpikir. Semuanya pun bergegas keluar dari ruang tunggu tanpa basa-basi. Namun mereka semua berhenti sejenak di depan pintu dan tiga kepala serempak menoleh pada satu kepala yang berada di sisi terluar deretan ini.


Re mengangkat satu alisnya. "Kenapa?" tanyanya tidak mengerti dipandang seperti itu.


Re langsung didorong paksa agar masuk kembali dalam ruang tunggu. "Woy! Apaan, sih?" Fikran pun menahan pintu itu yang terus digedor dari dalam oleh Re. "Woy, buka pintunya!" Kepalan tangan itu kembali menggedor pintu.


Alena maju mendekati pintu. "Re, kamu di sini aja buat jaga-jaga siapa tahu Gara nanti dateng, ya?" pintanya.


Re mendengus kesal. Ia tak mau berdiam diri sendirian di ruangan pengap ini. Namun karena waktu yang sudah mepet, Re pilih untuk mengalah saja. "Yaudah, deh. Sana cari Gara!"


Ketiga teman itu mengangguk mengerti dan mulai berpencar menyusuri gedung Universitas Seni mencari Gara, meninggalkan Re yang sekarang duduk di kursi rias bertanya-tanya mengapa Gara bisa melarikan diri seperti ini.


"Anggara Putera!"


Re berdecak mendengar pekikkan suara yang tak dikenalnya dari ambang pintu masuk ruangan. Ia putar kepalanya untuk menoleh. "Dia nggak—" Ucapannya tertahan menyadari bahwa seorang panitia acaralah yang memanggilnya. Beruntung, wajahnya belum sepenuhnya berputar. Segera Re obrak-abrik meja rias dan saat menemukan kacamatanya, ia langsung pakai itu secepat mungkin.

__ADS_1


Panitia acara yang tangannya masih menggenggam gagang pintu mengernyit samar. "Anggara? Kamu Anggara, kan?" ragunya.


Re berdehem kasar bahkan hampir tersedak karena dehemannya sendiri. Ia pun memutar tubuhnya untuk menghadap orang itu. "I-iya, saya Anggara," akunya.


"Sudah siap?" tanyanya.


Re menganggukkan kepalanya dalam ragu. "I-iya, saya siap."


"Ayo bersiap di panggung sekarang!" titahnya tegas dan mengintimidasi hingga mau tak mau Re menurut dan mengekorinya berjalan keluar ruangan menuju aula panggung.


Rahangnya mengeras dan bisa ia rasakan tangannya basah berkeringat. Gar! Lo di mana, sih?! batinnya menjerit.


****


Dalam sebuah grup chat yang dibuat dadakan oleh Fikran. Mereka bertiga saling memberi kabar tentang pencarianya mencari peserta festival yang hilang.


Fikafany : Udah ketemu belom?


Ucupians : Belum. Mobilnya masih ada. Berarti dia masih di sekitar sini.


Alenapw : Aku juga udah buka sampai gudang-gudang berdebu. Coba cek gedung lain. Aku lagi coba cek ke atap.


Fikafany : Okidoki!


Ucupians : Siap.


Undakan tangga terus Alena pijaki hingga ia merasakan betisnya mengeras, keringatnya mengucur dan napasnya pun kian tersengal setelah ia menaiki lebih dari 50 anak tangga. Dibukanya pintu besi yang sudah hadir di depan matanya. Temaram langit yang diselimuti awan mendung menjadi hadiah Alena yang sudah kelelahan.


Matanya menatap nyalang seluruh benda di sekitarnya berharap ada makhluk hidup di sekitar sini. Toren air menjadi benda paling besar yang ditangkap matanya berlanjut dengan bangku kosong yang sungguh strategis ditempatkan di tengah-tengah wilayah atap. Ada juga sebuah ruangan kecil yang Alena yakini sebagai gudang yang lain.


Namun, sial! Tidak ada Gara di sini.

__ADS_1


Alena coba melangkah mengitari gudang kecil itu karena hanya satu sisi di sana yang tak dapat terlihat olehnya. Langkahnya terhenti bersamaan dengan senyuman leganya. Segera ia buka ponsel untuk mengabari kawan-kawannya agar berhenti mencari.


Alenapw : Ketemu.


Ia masukkan ponsel itu ke dalam saku celana sembari berjalan mendekati satu punggung yang membelakanginya. Kepala cowok itu terus menengadah menatap langit dengan kembang kempisan dada yang mengeluarkan napas teratur namun terdengar berat dan lambat. Telinganya bergerak menangkap suara gesekan antara alas sepatu dengan tanah yang membuatnya menoleh. Betapa terkejutnya ia mendapati sosok yang memandangnya lega namun masih jelas tersirat kekhawatiran yang mendalam di wajahnya.


"Gar ..." Alena mendekat namun Gara segera berdiri dari duduknya menatap gadis itu sangsi dan tak percaya. "Kenapa kamu di sini?" Langkahnya ia tutup merasa bahwa Gara tidak ingin didekati olehnya. Jarak mereka hanya dibatasi dengan bangku putih yang sudah menguning akibat reaksi oksidasi, pengkaratan.


Mulut Gara masih terkunci rapat hanya mata yang mengatakan bahwa ia masih terkejut melihat Alena berhasil menemukan dirinya yang sudah susah payah menaiki puluhan anak tangga hingga ia sampai di sini. Ia pikir, takkan ada yang menanyakannya apalagi mencarinya bahkan sampai menemukannya seperti ini. Matanya pun kian melemas dan Gara mengalihkan pandangan ke jalanan yang terlihat kecil dari atap gedung lantai empat ini.


"Kamu harusnya di sana, Al. Kamu yang kenapa di sini?" Bukannya menjawab, Gara malah balik bertanya.


"Gar! Sebentar lagi kamu tampil, tinggal dua peserta lagi," bujuknya menghampiri Gara. "Ayo ke bawah sekarang." Tangan Alena menggenggam lembut pergelangan tangan Gara yang membuat cowok itu melihatnya. Cukup lama. Sangat terlihat bahwa sedang ada perdebatan hebat dalam kepala cowok itu. Terhenyak, Gara langsung hempaskan begitu saja lengannya hingga tangan Alena terjatuh ke udara.


"Gar! Kamu kenapa, sih? Udah nggak ada waktu. Ayolah," bujuk Alena yang sudah tak mengerti jalan pikir Gara. Sebelumnya ia baik-baik saja walaupun seringkali kepergok tengah melamun. Tapi semuanya makin aneh saat Haris mengunjungi Gara.


Tanpa mau menatap wajah yang sudah berdiri di sampingnya, Gara berucap, "Tinggalin aku sendiri. Biar Re aja yang tampil di babak terakhir."


Alena mengerjap. "Maksud kamu?"


Gara menghela napas berat. "Dia udah dua kali ada di festival ini dan selalu meraih juara pertama. Bahkan skor aku unggul sekarang pun itu berkat dia. Dia pasti bisa merebut juara satu lagi."


Alena mengeraskan rahang dan berjalan tegas ke hadapan Gara. Ia sudah tak bisa menahan emosi yang sedari tadi dibendungnya. "Gara! Ini perlombaan kamu bukan perlombaan Re! Kamu yang harusnya tampil bukannya dia!" sentaknya.


Gara tatap nanar wajah yang menatapnya lurus-lurus. "Aku bakal ngehancurin semuanya," gumamnya yang langsung mendapatkan kernyitan di kening Alena. "Suara aku belum sepenuhnya pulih. Biar aja Re yang ngambil tempat itu karena semua mata bakal melihat Gara yang jadi juaranya. Dan itu, yang ayah aku inginkan," ujarnya.


Mata Alena berkaca menatap Gara yang terlihat begitu lemah hari ini. "Terus, gimana sama kamu sendiri? Apa kamu bakal ngeliat diri kamu sendiri sebagai juaranya?" Alena mulai menaikkan oktaf bicaranya saking kesalnya pada Gara. "Ini kejuaraan kamu, Gar! Kamu yang harus mengakhiri semuanya!"


Gara menghembuskan napas kasar. "Aku pasti gagal!" sentaknya membuat Alena terhenyak. Suara keras itupun meredam beriringan dengan napas yang kian terdengar sesak dari bibirnya. "Aku pasti gagal, Alena ...," lirihnya.


Gara buang wajahnya enggan melihat wajah yang masih terkejut di hadapannya. "Aku masih nggak yakin sama kemampuan diri aku sendiri."

__ADS_1


Alena terdiam. Ia masih tak percaya dengan sosok di hadapannya yang begitu saja menyerah semudah ia membalikkan telapak tangan? Bagaimana dengan latihan yang rutin ia lakukan tiap hari? Apakah tidak berharga bagi Gara? Apakah Gara tidak merasa bahwa semua usaha itu sia-sia? Bagaimana bisa dengan mudah ia buang semua usahanya sendiri dan membiarkan semua usaha itu tertiup angin begitu saja? Alena sama sekali tidak mengerti.


*****


__ADS_2