Because You Were There

Because You Were There
Bab 39


__ADS_3

Kelopak matanya terangkat perlahan dan cahaya lampu yang menyilaukan membuatnya mengerjap beberapa kali. Matanya masih berusaha menyesuaikan dengan intesitas cahaya yang masuk menembus retina sampai mata pun mampu merekah dengan sempurna.


Gadis itu sedikit terkejut namun tubuh lemah ini tidak mengizinkannya untuk bereaksi berlebihan. Hanya sentakkan kecil yang ia rasakan kala melihat Re yang berdiri di sampingnya memeras handuk kecil dalam baskom berisi air hangat.


Re pun bawa handuk itu untuk ia simpan di dahi Alena. Ia sedikit terkejut melihat mata gadis itu sudah terbuka sepenuhnya. Tapi ia masih mampu untuk menahan ekspresi datar agar tetap terpasang di wajahnya.


“R-re?” Alena mencoba menekuk sikutnya untuk bangkit. Namun Re menahannya dengan mendorong kompresan di dahi Alena. Alena pun melemaskan tubuhnya kembali.


“Diem,” titahnya datar. Re arahkan punggung tangannya untuk merasakan suhu tubuh gadis itu ke sekitar leher dan pipinya. “Udah reda,” gumamnya. Ia pun berjalan menuju pintu kamar Alena.


“Re?” panggil serak Alena yang hanya mampu membuat kepala Re menoleh sedikit saat cowok itu sudah di ambang pintu. “Makasih,” sahutnya.


Re tarik kepalanya ke depan. “Bukan gue yang ngerawat elo, tapi Gara.” Alena terperangah bersamaan dengan hatinya yang tersayat.


Ia tidak mengerti apa maksud perkataan itu. Dan ia tidak mau Re bersikap dingin seperti ini padanya. Alena langsung menyibak selimutnya dan berjalan tertatih-tatih mengikuti langkah cepat Re. Cowok itu langsung masuk ke kamarnya dan menutup pintunya begitu saja. Mata Alena terbelalak dan saat tangan Alena terjulur untuk meraih daun pintu, Gara datang menghampirinya dari balik dinding.


“Alena?!” kejutnya lalu bergerak cepat untuk melingkarkan lengan gadis itu ke lehernya. “Kamu mau ngapain?” tanya Gara heran.


“R-re ...”

__ADS_1


“Udah kamu istirahat dulu, badan kamu masih anget, Al,” bujuknya yang dibalas gelengan cepat dari Alena. Mata gadis itu terfokus pada pintu kamar Re yang bersampingan dengan kamarnya.


“Aku ... cuma mau ngomong sama dia,” gumamnya tergigil.


Gara ikut tatap pintu kamar Re. Ia dikabari oleh Re untuk menjaga Alena karena ia harus tampil di cafe dan jadwal ini tak bisa ia kesampingkan. Gara sontak terkejut dan buru-buru datang kemari. Ia langsung rawat gadis itu yang sudah tak sadarkan diri masih dengan tubuhnya yang sangat panas. Alena sudah pingsan selama tiga jam.


“Yaudah, ayo,” gumamnya lalu memapah gadis itu mendekati pintu kamar Re. Gara langsung ketuk pintu itu namun tak kunjung dapat sahutan.


“Re? Keluar, lo,” titahnya.


“Apaan?” sahut Re dari dalam.


“Alena mau ngomong sama lo katanya,” balasnya.


“Tinggal keluar aja susah banget sih, lo,” kesal Gara.


Alena langsung menggeleng pada Gara dan tersenyum tipis. Gadis itu tatap nanar pintu putih di hadapannya. “Re ... aku tahu kamu nggak bakal mau ngomong sama aku lagi kalau bukan hari ini.”


Re yang meringkuk di atas kasurnya mengiyakan itu dalam hati. Perlahan ia bangkit untuk mendekat ke arah pintu karena suara gadis itu yang parau tak terdengar begitu jelas.

__ADS_1


“Aku nggak tahu apa-apa tentang Raquel, kenapa dia sampai bilang aku udah mati ke kamu.” Tanpa gadis itu tahu, Gara menegang seketika.


“Aku nggak bohong sama kamu, Re. Aku emang Putri,” ujarnya lemah bahkan lututnya terasa lemas sampai Gara harus ikut berjongkok mengikuti Alena yang sudah tak mampu menopang tubuhnya lagi.


“Aku nggak kuat kamu selalu diemin aku kayak gini. Kamu boleh marah, ngatain aku, bahkan ngebentak aku sampai aku nangis. Asal jangan satu ... jangan pernah abaikan aku,” getirnya beriringan dengan air mata yang mengalir.


Gara mengelus punggung Alena. Gadis itu masih terus mengeluarkan air matanya. “Alena, jangan nangis.” Alena malah semakin merundukkan pandangan dan semakin terisak.


“Re ... aku tahu kamu denger dari dalem. Aku cuma mau bilang, aku bakal pergi ke Inggris tiga hari lagi buat ngejalanin beasiswa di sana. Aku udah bilang ke Om Jun buat cari pengganti aku.


“Dan sebelum hari itu, aku mohon kita jangan kayak gini, Re. Aku mohon sama kamu, jangan buat kenangan pahit kayak gini. Kalau kamu nggak mau nganggep aku sebagai Putri, aku bisa terima. Kalau dengan membohongi perasaan kamu aku bakal ada di sisi kamu, aku izinkan kamu berbohong selamanya.” Tangisan Alena kembali mengalir.


Gara langsung tarik tengkuk Alena untuk ia simpan di sebelah bahunya. “Tenang, Al. Jangan nangis,” gumamnya seraya mengelus lembut rambut gadis itu.


Isakan tangis itu berhenti dan Alena semakin terjatuh di tubuh Gara saat Re membuka pintunya lebar-lebar. Gara harus mendongak melihat Re yang hanya memandang kosong dirinya dan Alena.


Gara goyang perlahan tubuh Alena yang ada dalam dekapannya namun tak ada respons.


“Pingsan,” gumamnya.

__ADS_1


Re masih berdiri di ambang pintu dengan kepala yang menunduk menatap Gara dan Alena yang sama-sama terduduk di atas lantai. Tangan Re terkepal erat-erat tanpa sepengetahuan Gara.


Jangan peluk dia kayak gitu, Gar. Andai ia punya alasan untuk mengatakan itu.


__ADS_2