
“Re ... lo nggak bakal nganterin Nana?” tanya Juniar pada Re yang terduduk lesu bahkan hampir membungkuk di tepi kasurnya. Wajahnya pucat, bibirnya kering, tidak ada gairah hidup. Pertanyaan Juniar pun hanya dianggap angin lewat.
“Gue udah kosongin jadwal lo hari ini, lo bisa ketemu sama Nana,” ucapnya. Ia berjalan mendekati adiknya dan mengelus lembut rambut kusut itu. “Empat tahun, Re, lo nggak bakal ketemu sama dia. Mau sampe kapan lo nyangkal kalau lo suka sama dia.” Penuturan ini langsung mengangkat kepala Re menatap tajam Juniar.
Kata siapa Re menyukai Aspri itu? Mas Jun kalau bicara memang suka asal nyeblak.
Re tampik kasar tangan Juniar di atas kepalanya dan kembali memberenggut. Enggan melakukan apapun.
“Lo mau makan apaan?” tanya Juniar mengalihkan perhatian yang hanya dibalas gelengan dua kali.
“Malah geleng-geleng,” cebik Juniar. “Lo punya mulut, kan, digunain jangan dipajang doang.”
Dua tangan Re langsung meninju perut Juniar bergantian dengan tenaga tak seberapa. “Berisik, lo!” kesalnya.
Juniar malah merasa tergelitik ditonjok seperti itu. “Mau. Makan. Apaan?” ulangnya menekan setiap katanya.
“Al—“
“—lena?” potong Juniar cepat.
Re mendengus kesal. “Gigi lo Alena! Alpuket! Gue mau jus Alpuket!” sentaknya.
Juniar terkikik geli. “Iye, Raden Kanjeng Mas Renggana Adiwiyoto Djoyo Diningrot.”
Juniar pun berlalu keluar dari kamar Re. Saat ia berjalan menuju dapur untuk membuat jus menggantikan tugasnya Alena karena asisten baru belum juga dapat dihubungi, bel apartemen berbunyi. Juniar pun berjalan membuka pintu apartemen.
__ADS_1
“Ini rumahnya artis tersohor Re, itu, kan?” tanya Bapak berjas oranye.
Juniar mengerjap. “Iya, ada apa ya, Pak?”
“Oh, jadi di sini rumahnya penyanyi Re? Capek saya, toh, Mas, keliling-keliling ternyata sekitaran sini. Dari ujung ke ujung saya telusuri satu persatu. Eh, ternyata di apartemen ini,” celotehnya.
“Kok, curhat?” gumam Juniar.
Bapak itu berdehem canggung kemudian menatap serius Juniar. “Saya boleh minta foto nggak?”
Juniar menatap aneh bapak itu dan langsung menutup pintunya yang membuat Si Bapak menjerit heboh. “Weheheh! Kok malah ditutup, iki piye to?” (Ini bagaimana, sih?)
Juniar pun melebarkan sayap pintu kembali. “Jadi, bapak mau ngapain?” Ia malas meladeni orang aneh seperti ini. Bukannya tidak sopan, hanya saja Juniar sedang malas berurusan dengan orang yang bertele-tele seperti ini.
Bapak itu merogoh saku jas oranyenya dan menyodorkan benda kecil pada Juniar. “Ini, saya itu Pak Pos, mau ngasih barang penting ke artis Re.”
“Ye meneketehe. Deremene seye tehe ereng seye tedek tehe epe-epe.” Bisa-bisanya Si Bapak menyahut seperti ini. Juniar jadi pingin makan kepalanya.
“Udah, kan? Saya tutup pintunya.” Baru mau menutup pintu, Bapak Pos itu terburu menyela sembari menjejali tangan Juniar dengan kertas kecil.
“Galak amat, sih, nanti susah dapet jodoh, loh, amin!” rutuk Bapak Gila itu sembari memeletkan lidah sebelum pelariannya meninggalkan Juniar yang menganga tak percaya.
“Doa orang teraniaya selalu dikabulkan!” pekiknya di ujung lorong.
“HEH, KUTIL! GUE UDAH MAU NIKAH BULAN DEPAN! LIHAT, NIH, JARI GUE!” Juniar menyombongkan jari manis kirinya yang sudah terpantri cincin tunangan.
__ADS_1
Ia gebrak keras pintu apartemen sembari mengentakkan kesal kedua kakinya saat melangkah masuk ke dalam.
Dasar, orang gila! Masih pagi udah bikin setres aja. Ia turunkan pandangan pada kertas yang belum dilihatnya.
To : Arsy Renggana (Re)
From : Raquelia Amanda 2016-2017
*****
Gara yang menggeret koper besar menyejajarkan langkahnya di samping Alena menyusuri lorong bandara. “Jam berapa kamu berangkat?” tanya Gara.
“Jam dua, Gar,” balas Alena.
“Perasaan masih ada dua bulan lagi sebelum kita bener-bener lulus dari SMA, tapi kenapa kamu udah ditarik ke Inggris duluan?” tanya Gara.
Alena tersenyum tipis. “Kan aku ikutan beasiswa, Gar. Jadi aku bakal melewati beberapa tahap seleksi lagi yang diadakan langsung dari kampusnya. Dan kalau masalah ujian nasional atau apapun itu, aku bisa ngejalaninnya lewat internet,” jelas gadis itu yang membuat Gara manggut-manggut.
Mereka sampai di depan pintu yang menuju ke dalam kabin pesawat. Masih ada dua puluh menit lagi sebelum Alena benar-benar meninggalkan Tanah Air Indonesia. Alena belum mau duduk di dalam pesawat itu.
“Makasih, ya, Gar, kamu udah mau bantuin aku beresin barang-barang bahkan nganterin aku ke bandara. Aku udah ketakutan harus pergi sendirian ke sini,” ucapnya pada Gara yang berdiri di hadapannya.
Gara mengacak sekilas puncak kepala Alena. “Nggak usah terima kasih. Kalau kamu mau berterima kasih ... jangan pergi, Al,” ucapnya serius.
Alis Alena bertaut. “Kok, gitu?”
__ADS_1
Gara mengangkat satu sudut bibirnya beriringan dengan satu langkah yang ia ambil mendekati gadis itu. Mata Alena membulat saat dua tangan Gara melingkari pinggangnya. Kepala Gara pun terjatuh di sebelah bahu Alena.
“Gar ...?”