
Maaf nomor yang anda hubungi berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi.
Setetes air mata mengalir dari sudut matanya.
Maaf nomor yang anda hubungi berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi.
Tetesan-tetesan yang lain pun mengalir begitu saja tanpa ada perlawanan.
Maaf nomor yang anda—
“RE! Nomornya nggak nyambung, berhenti teleponin dia!” sentak Gara yang sedang membawa mobil kebut-kebutan menuju Rumah Sakit yang menjadi tempat Alena dirawat di sana.
Kaira yang duduk di jok penumpang ikut merasakan cemas dengan keadaan Alena. Walaupun ia tak pernah bertemu langsung dengan gadis itu tapi ia merasa gadis itu sudah banyak berperan penting dalam kehidupan Re dan Gara. Ia merasa bahwa Alena memang benar-benar pemeran utama dalam kisah ini.
Re langsung berlari keluar dari mobil Gara sesaat setelah mobil itu ditepikan di tempat parkir. Gara dan Kaira pun bergerak menyusul Re.
Kakinya yang terus melangkah melewati berbagai lorong, akhirnya berhenti saat melihat semua orang yang dikenalnya sudah hadir terlebih dahulu di depan pintu salah satu bangsal. Ada Fikran dan Fany yang duduk di kursi tunggu, ada Yusuf dan Shilla yang juga memasang wajah cemas berdiri di sampingnya. Lalu ada Juniar yang terlihat terus merapalkan doa saat menatap pintu bangsal yang tertutup.
Re melangkah perlahan mendekati mereka yang masih belum sadar akan kehadirannya. Di langkah ketiga pun semua kepala mendongak dan memberikan tatapan yang Re harapkan tidak akan pernah hadir di tiap wajah itu.
Ekspresi yang menggambarkan hal buruk telah terjadi dengan mata sayu yang berkilau karena air mata. Re tidak mau melihat ekspresi itu sekarang.
Ia berjalan mendekati pintu bangsal untuk melihat orang yang sudah dinantinya selama empat tahun. Orang yang tak pernah mati dalam hati Re bahkan setelah rentang waktu yang berlalu memisahkan mereka berdua. Orang yang menjadi inspirasi Re dalam tiap lagu yang dibuatnya.
Dan kini, orang itu sedang terbaring di atas ranjang putih bersama dokter yang masih berusaha mengembalikan detak jantungnya bersama suster lain.
“Alena ... Al?” rintihnya kesakitan melihat pujaan hati sedang berada di ambang hidup dan mati.
Gadis itu mengalami kecelakaan beruntun antara bis dan dua mobil saat ia sedang berada di dalam taksi yang tinggal beberapa ratus meter lagi, ia akan sampai di hadapan Re. Tapi tak ada yang bisa menjamin bahwa semua hal akan berjalan baik-baik saja dalam jarak yang tinggal beberapa ratus meter itu.
“ALENA!” sentak Re sambil mendorong kasar pintu bangsal. Menerobos masuk.
“Re! Jangan masuk dulu!” pekik Fikran hendak menahan Re tapi langsung ditenangkan oleh Fany. Ia pun duduk kembali di kursi ruang tunggu.
Kaki Re bergetar hebat saat sudah sampai di ujung ranjang. Tangisannya kembali mengalir.
Gadis itu benar-benar Alena.
Wajahnya tak banyak berubah setelah empat tahun berlalu. Namun wajah itu sekarang sudah tak berbentuk lagi. Banyak luka goresan kaca di sekitar wajahnya yang mengalirkan banyak darah. Kepalanya sudah diperban, sepertinya tempurung kepalanya terbentur benda keras. Seluruh tubuhnya pun bersimpuh darah.
“Al ... jangan tinggalin aku kayak gini ....” ucapnya terisak.
Tangan Re semakin mencengkeram erat buku kecil yang sedari tadi dibawanya. Buku kecil berisi jumlah kerinduannya terhadap gadis itu.
Katanya, empat tahun lagi mereka akan bertemu dan akan menghitung jumlah kerinduan siapa yang paling banyak dalam buku ini. Katanya, gadis itu takkan pernah melupakannya. Katanya, gadis itu—
Elektrokardiograf pun melengking datar bersamaan dengan dokter yang menghentikan proses pengobatan. Dokter itu menunduk dan menggelengkan kepala pada Re.
“Kenapa berhenti?” tanya Re tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya dilakukan dokter di hadapannya ini.
“KENAPA LO BERHENTI NGASIH DIA PERTOLONGAN?!” sentak Re sudah tak bisa menyortir pemilihan katanya lagi.
Sentakan itu menarik semua orang diluar bangsal untuk masuk. Beruntung, mereka datang pada waktu yang tepat karena Re sedang menerjang dokter tua itu dengan mencengkeram kerahnya. Gara dan Yusuf berusaha melepaskan Re di saat Juniar yang membantu dokter tua itu untuk keluar dari bangsal seraya meminta maaf.
Re terus meronta saat dua tangannya di tahan Gara dan Yusuf.
“WOY! DOKTER TOLOL! KENAPA LO BERHENTI NOLONGIN DIAAA?!” histerisnya sambil menangis dengan napasnya yang tersengal.
“RE! Alena nggak suka kalau lo kayak gini!” tukas Gara yang langsung dibalas tatapan tajam oleh Re.
“Sejak kapan Alena ngomong kayak gitu ke elo?! Gue yang kenal sama dia bukan elo! Lo nggak usah sok tahu tentang sikap Alena!” Re langsung menarik kasar dua tangannya dan berlari menghampiri Alena.
Monitor sudah jelas menggambarkan garis lurus. Namun seakan penglihatannya dibutakan, Re masih mencoba untuk bicara pada gadis itu.
Ia duduk di tepi ranjang dan langsung menarik gadis yang penuh luka itu dalam pelukannya.
“ALENA! Bukan kayak gini cara lo kembali di hadapan gue! Al ... bangun. Lo belom mati, Al,” ucapnya seraya terus menitikkan air matanya.
“Aku udah di sini, kamu nggak mau ngeliat aku? Please, buka mata kamu, Al. Jangan merem terus. Kamu suka sama suara aku, kan? Aku nyanyi, ya, biar kamu bangun.”
Re terus bermonolog sendiri di saat Juniar, Yusuf, Fikran, dan semua teman-temannya hanya bisa menundukkan kepala.
Dua tangan yang melingkari pinggang gadis itu semakin ia eratkan. Dagunya pun bersandar pada sebelah bahu gadis itu yang sedang tertidur pulas, menurut Re. Ia pun bernyanyi dengan suaranya yang sudah tercekik.
Aku rindu setengah mati kepadamu
Sungguh ku ingin kau tahu
Ku tak bisa hidup tanpamu
Aku rindu
B
ukan pertemuan seperti ini yang Re harapkan. Re tak mau kehilangan gadis yang berharga baginya. Ia takkan pernah bisa pindah ke lain hati sekeras apapun Re mencoba. Hatinya sudah terkunci hanya untuk Alena seorang.
Gara menghampiri Re dan menepuk pundak cowok itu perlahan. “Re, lepasin Alena,” ujarnya.
“Lepasin gimana?! Gue udah nunggu dia empat tahun dan ini yang gue dapet sekarang?! Orang yang gue sayang harus mati di hadapan gue?!” balas Re tak kunjung melepaskan dekapannya.
Juniar dan Fikran pun ikut mendekati Re.
“Re ... lo nggak kasihan apa sama Alena?” tanya Fikran dengan nada menyebalkannya.
Re menggeram. “Kasian apanya, sih?!”
“Aku sesek napas, Re.”
“Tuh, Nana-nya sesek napas.”
Re mengerang kesal. “Kata siapa Al—“
Nah, lho! Mata Re langsung melebar sempurna dan ia jauhkan tubuhnya dari tubuh Alena sekilat mungkin.
Terlihat gadis itu menarik dan menghembuskan napasnya perlahan dengan matanya yang mengerjap berusaha untuk membuka lebar.
Re cengo. Apa ini?
Ia tolehkan kepala secepat mungkin pada monitor jantung yang ada di samping kiri nakas dan hebatnya, garis luruslah yang tergambar di monitor itu. Ia kembalikan pandangan pada Alena yang menampilkan senyum tipisnya di wajah penuh luka.
Apa ini?
Mengapa gadis itu bisa tersenyum di saat monitor jantungnya menunjukkan garis lurus? Bukankah itu tanda bahwa orangnya sudah mati? Re dengan mata sembabnya masih menegang tak percaya. Segera ia telusuri lengan Alena untuk mencari nadinya. Re gagal. Ia tidak tahu di mana letak nadinya. Ia pun tempelkan telunjuknya di atas bibir gadis itu. Ternyata Re masih bisa merasakan napasnya.
“Re, kamu ngapain, sih?” rengut Alena.
Lah? Hantunya bisa ngomong.
Satu lagi yang harus Re buktikan. Detak jantungnya. Tangannya langsung terangkat! Dan segera mungkin, Re turunkan lagi tangan itu. Niatnya, sih, mau nempelin telapak tangan di dada perempuan ini. Tapi nanti malah disangka mesum.
Untungnya, otak Re masih berjalan normal hingga ia bisa berpikir memikirkan cara lain. Aha! Re tahu. Langsung saja ia tarik tubuh Alena untuk ia dekap lagi. Saat Re sudah bisa berpikir seperti ini, ternyata ia dapat merasakan detak jantung gadis itu yang berdebaran di tubuhnya. Ia pikir daritadi itu ini suara debaran jantungnya sendiri, ternyata ini milik gadis itu.
Lantas ada apa gerangan semua ini?!
__ADS_1
Ia jauhkan lagi tubuh Alena dan menatap aneh gadis itu. Alena tersenyum tipis.
“Happy Birthday, Renggana,” ucapnya yang disusul tawa bahakan dari semua penghuni bangsal rumah sakit ini.
“SURPRISE!!!” pekik Shilla, Fany, dan Kaira bersamaan.
“Aduh, gue sampe sakit perut nahan ketawa dari tadi,” celoteh Fikran memegangi perutnya.
Gara terkekeh kecil. “Tuh, kan, Re nggak bakal sadar kalau EKG itu gak nyambung ke tubuh Alena. Rencananya sukses.”
“Ayo-ayo nyanyi buat Si Re yang kayaknya masih melayang di awang-awang,” ajak Juniar.
Mereka pun bernyanyi sambil bertepuk tangan.
“HAPPY BIRTHDAY RENGGANA! HAPPY BIRTH—“ Semua orang pun berhenti karena pekikkan galak dari Re.
“STOOOP!!! BERISIK TAHU, NGGAK!” pekik Re yang sudah kesal stadium akhir.
Kepalanya sudah mengepul dengan asap dan ia edarkan kepalanya pada tiap wajah yang tadinya tertawa puas jadi ketakutan seperti sedang melihat setan.
Re mengerang kesal kemudian menatap Alena yang tak luput dari dosa.
“Jadi ... kamu pura-pura mati? Terus ini semua lebam sampe muka kamu robek-robek begitu semua cuma bohongan?” terka Re menajamkan pandangannya.
Alena berdehem canggung dan mengangguk perlahan. Ia coba melepaskan kulit buatan yang melapisi kulit wajahnya.
“Iya, ini cuma make-up doang, Re,” akunya ketakutan. “Kamu ... nggak marah, kan?”
Re terdiam cukup lama hingga bisa terdengar suara kruyukan dari perutnya Yusuf yang sedari tadi berubah jadi manekin. Hiks, laper.
Ia alihkan menatap bengis semua pasang mata yang memenuhi ruang bangsal.
“ARGH! KANCING COPLOK ANJING SETAN BABI KUDA KUTIL KADAS KURAP PANU TUYUL KUNTI—“
“Semua aja, Re, sebut semuanya,” ucap Yusuf datar.
“ARGH! SUMPAH! GUE BENCI KALIAN SEMUAAAAA!” Ia memekik sekencang-kencangnya.
“KECUALI AL-AL.” Si pemilik nama langsung melotot terkejut.
Re langsung tarik kembali tubuh Alena dan ia peluk erat tubuh mungil itu. Sangat erat seperti mengeluarkan seluruh amarahnya di dalam sana.
“Akh, Re. Aku susah napas.” Tangan Alena berusaha memukul-mukul bahu Re.
“BIARIN!!! Biar kamu mati aja di tangan aku sekalian! Rasainnnn,” gemasnya semakin mengeratkan pelukannya.
Semuanya langsung tergelak melihat tingkah Re. Setelah itu, Re melepaskan dekapannya dan mencium kening dan pipi Alena dengan kasihnya. Cowok itu pun langsung naik ke atas ranjang dan duduk bersandar pada tembok dengan Alena dalam rangkulannya. Ia perkenalkan Alena pada semua teman-temannya terutama pada Kaira yang baru pertama kali melihat Alena.
Pertemuan pun berakhir dengan perjamuan makan malam di salah satu restoran sebagai penyambutan kedatangan Alena sekaligus pesta kelulusannya yang telah berhasil menyelesaikan studi di Oxford sekalian pesta ulang tahun Re yang ke 23 tahun.
Saat sedang makan-makan, ponsel Re bergetar beberapa kali. Ia pun lihat pesan yang masuk di tampilan pesannya. Ia tersenyum membaca deretan pesan itu.
Ardy Defangga : Bang, Selamat Tambah Tua! Maapin gue sama Mama gak bisa dateng ke sana, banyak kerjaan di sini.
Ardy Defangga : Gue nggak jadian sama Acha, Bang :( Dia dijodohin sama emaknya.
Ardy Defangga : Iya dijodohin sama gue!!! XD Harus seneng, lo! Awas kalo nggak seneng.
Ardy Defangga : Kata Mama, “Renggana, kapan ngasih dedek bayi?”
Re langsung tersedak membaca pesan yang terakhir. Skripsi aja belom rampung udah bayi-bayian lagi, aja!
Ia simpan buru-buru ponselnya di atas meja makan bundar yang cukup besar dapat menampung sekitar sepuluh orang. Bola matanya pun bergerak lurus-lurus.
Re gigit bibir bawahnya sembari menunduk. Hatinya langsung berdebar nggak karuan. Ia lirik sekilas Gara yang duduk di samping kanannya. Jari manis cowok itu sudah terlingkar cincin tunangan. Re berdehem canggung. Kapan Re bisa seperti itu?
“Kapan, ya, Bun?” gumamnya bertanya pada Ibun.
“Woy, Re! Ayo foto!” ajak Fikran yang sudah berdiri di dekat taman restoran malam ini.
Re mengangkat kepalanya dan ternyata semua orang sudah beranjak dari kursi makannya. Re pun menghampiri mereka yang sudah berdiri merapikan dirinya untuk berfoto. Re masuk ke kerumunan dan duduk di kursi yang sudah diatur tepat di samping Alena yang berada di tengah barisan. Di samping kanan Re ada Mas Jun yang menjadi pembatas antara Re-Alena dan Gara-Kaira. Di barisan belakang yang berdiri ada Fikran, Fany, Yusuf dan Shilla.
Mereka pun berfoto dengan gayanya masing-masing melepas kerinduannya dan membuat kenangan sebanyak-banyaknya. Semua pasangan—kecuali Juniar yang berasa jadi jones karena Chyntia ada kerjaan di rumah—sudah berfoto dengan gayanya masing-masing.
Saatnya giliran Re dan Alena. Gadis itu bisa tersenyum lebar di saat Re hanya bisa senyum terpaksa. Semuanya heran mengapa Re malah berekspresi seperti itu bukannya heboh seperti yang mereka kira.
“Lo kaku banget, Re! Kenapa, sih?” celetuk Fikran.
“Kenapa, Re? Ada masalah?” tanya Gara.
Alena genggam dua tangan Re yang sedari tadi malah menghindari kontak mata darinya.
“Kamu kenapa? Kamu masih marah gara-gara kejutan ulang tahun kamu?” Re tidak menjawab. Ia terus menatap sepatu hitam di kakinya.
“Aku minta maaf, Re. Aku emang udah kelewatan bercandanya sampe buat kamu nangis kayak gitu. Asal kamu tahu, hati aku juga sakit ngeliat kamu ngeluarin air mata demi aku tapi di saat yang sama aku juga lega karena ternyata rasa cinta kamu nggak luntur sedikit pun. Aku nggak bermaksud nge-tes kamu atau—“
“Bukan, Al,” sela Re. Alena terperangah. Satu alisnya perlahan terangkat memandang Re yang kini memandang dirinya.
“Aku cuma heran aja sama kamu. Kenapa kamu bisa suka sama aku?”
Semua orang mengerjapkan mata termasuk Alena.
“Kenapa kamu sampe sesayang ini sama aku? Nggak ada hal dari diri aku yang bisa dibanggain, Al. Aku galak, selalu kasar kalau ngomong, aku selalu lukain hati kamu, dan aku udah beberapa kali bikin kamu nangis waktu dulu. Tapi, kenapa aku? Masih banyak cowok yang lebih baik lagi dari aku, Al. Tapi kenapa ... kamu milihnya aku?”
Alena tersenyum kecil. “Apa kamu tahu kenapa rumput warnanya hijau, kenapa langit warnanya biru dan kenapa api itu panas?”
Re termenung.
Alena terkekeh kecil. “Karena itu sudah kehendak-Nya, Re. Kamu nggak bakal bisa rubah semua hal yang udah dikasih oleh-Nya sesuai keinginan kamu. Sama kayak perasaan aku ke kamu. Aku juga nggak tahu kenapa aku suka sama kamu. Kenapa aku selalu nangis tiap malem hanya karena mikirin kamu. Dan kenapa rasa cinta aku nggak pernah terkikis oleh waktu. Aku juga nggak tahu kenapa.
“Tapi yang aku tahu, aku bahagia sudah dikaruniai Tuhan perasaan yang indah ini. Aku selalu bahagia ada di sekitar kamu. Aku tetap bahagia bahkan saat kamu melukai hati aku, Re. Semua pikiran aku yang menghadirkan kamu, maupun itu luka atau kesedihan, pasti membuat aku bahagia.”
“Aku bisa aja pindah ke lain hati kalau aku mau. Kan, Tuhan akan merubah hambanya jika mereka mau merubah dirinya sendiri.”
Alena langsung menggelengkan kepalanya. “Tapi aku nggak mau, Re. Aku nggak pernah nyesel suka sama kamu dan aku rawat rasa cinta ini buat kamu. Karena itu kamu. Karena orang yang aku suka itu kamu. Aku nggak peduli kamu itu siapa. Mau galak mau baik. Mau kaya mau miskin. Aku nggak peduli.”
Perlahan sebelah tangan Alena beranjak naik untuk mengelus wajah yang masih termangu di hadapannya.
“Jadi, jangan pernah mempermasalahkan ini, lagi, ya? Karena aku yakin, kamu juga nggak bakal bisa jelasin kenapa kamu bisa cinta sama aku.”
“Wuh!!!” Fikran langsung menjerit heboh sambil menghapus air di sudut matanya di saat semua temannya tersenyum lebar melihat pasangan ini.
Re merasa benar-benar jadi orang bodoh mempertanyakan hal yang tidak bermutu seperti itu. Tadi, ia tiba-tiba saja merasa tidak pantas bila nanti bersanding dengan Alena di pelaminan. Gadis itu terlalu sempurna untuknya dan benar kata Juniar, bukan gadis itu yang beruntung mendapatkan Re, tapi Re yang beruntung mendapatkan gadis itu.
Re takkan berani melukai perasaannya lagi. Sudah cukup, empat tahun yang lalu mereka lewati dengan tangisan dan duka bahkan rasa cinta ini pun sudah diuji kesetiaannya selama empat tahun tanpa pernah bertemu. Re takkan meragukan rasa cinta ini lagi.
Re langsung tersenyum manis. “Maaf, aku nanyain hal yang nggak penting. Tapi kamu salah, Al. Aku tahu kenapa aku cinta sama kamu,” cetusnya.
Kening Alena mengerut. “Kenapa emangnya?”
Re langsung mengangkat tangannya untuk mengelus rambut Alena. “Karena aku cinta musik. Makanya aku juga cinta sama kamu.”
Alena terkekeh geli. “Kok bisa gitu?” tanyanya.
__ADS_1
Re langsung rengkuh pujaan hatinya dengan tangan kiri yang melingkar di bahu Alena serta tangan yang lain menggantung di puncak kepala gadis itu. Alena semakin melebarkan senyumnya di tubuh bidang Re.
“Karena tanpa sadar, aku telah memasukkan kamu ke dalam musik yang aku cinta. Aku nggak akan pernah bisa benci musik yang berarti aku nggak akan pernah bisa benci kamu. Aku selalu mencintai musik yang berarti aku selalu mencintai kamu.”
“Kamu sudah menjadi bagian di dalamnya, Alena. Karena kamu, notasi aku.”
Alena langsung membalas rengkuhan Re di saat cowok itu mengecup puncak kepalanya penuh kasih dengan matanya yang terpejam. Fikran langsung jingkrak-jingkrak kayak kelinci belum divaksin saking gregetnya sampai ia harus ditahan sama Fany biar nggak jatoh ke kolam ikan di belakang punggungnya. Gara langsung merangkul Kaira dan mereka berbagi senyum yang sama saat melihat Re dan Alena. Yusuf hanya tersenyum datar sambil menggenggam erat tangan Shilla yang tersenyum manis.
Satu orang sisanya pun hanya bisa gigit jari. Ia meringis, Chyntia mana? Ia mendekati tukang foto yang malah ikut baper-baperan bukannya memotret momen penting ini. Fotografer pun memotret Re dan Alena.
Jepret!
Re menjauhkan tubuhnya dan menggenggam erat kedua tangan Alena.
“Al ... ketemu ayah kamu, yuk.”
Sontak mata gadis itu melebar sempurna.
“A-ayah?” tanyanya tergagap.
Re mengangguk dan mengalihkan pandangan pada kerumunan teman-temannya. Terlihat Gara dan Fikran mulai menggeser memberi jalan pada orang yang akan lewat.
“Dia udah di sini,” ucapnya yang membuat Alena menolehkan kepala secepat mungkin.
Gadis itu tersenyum lebar bersamaan dengan tangisan haru yang meluncur ke dua belah pipinya. Ayahnya tersenyum hangat dengan setelan jas yang rapi.
“Ayah?” panggil Alena masih tak percaya.
Edwin berjalan mendekatinya. Sesaat sebelum langkahnya selesai, gadis itu sudah berlari duluan untuk memeluk ayahnya erat-erat bahkan hingga Edwin sampai menegang karena terkejut. Pria itu terkekeh kecil dan mengelus lembut rambut putrinya yang sudah tumbuh dewasa.
Re dan kawan-kawan pun menghampiri Alena. Re tepuk pundak Alena dan tersenyum sopan pada Edwin. Alena tarik kepalanya untuk menatap wajah ayahnya dari dekat masih dengan tangan yang terlingkar di pinggang Edwin.
“A-ayah, maaf Putri nggak pernah ngasih kabar. Putri dikarantina nggak boleh komunikasi sama siapa pun, takut nilai Putri malah anjlok dan beasiswanya dicabut. Maaf, Yah.”
Edwin mengangguk dan kembali mengelus rambut putrinya.
“Ayah yang minta maaf udah buat kamu menderita di usia pelajar kamu.”
Alena menggeleng dan kembali menenggelamkan kepalanya pada tubuh Edwin.
“Wah, erat banget meluknya, iri aku,” celetuk Re membuat semua orang tertawa termasuk Edwin.
“Lepas dong, Mput. Nggak malu apa? Calon suami kamu cemburu, tuh,” celetuk Edwin.
Alena langsung melepas dekapannya dan menunduk malu lalu menabok lengan kiri ayahnya.
“Ih, ayah mah Putri jadi malu tahu,” gumamnya malu yang lagi-lagi disambut gelakkan tawa. Matanya pun mengerjap menyadari ada satu kalimat yang janggal di telinganya.
“Hah? Tadi ayah bilang apa? Calon suami?” tanya Alena tak percaya pada Edwin yang tersenyum lebar.
Re langsung menarik tangan Alena agar berada di sisinya. Alena semakin mengernyit tak mengerti. Apa yang telah terjadi selama empat tahun ia tak berada di Indonesia?
“Jadi ayah udah tahu?” tanyanya menatap Re dan Edwin bergantian.
Re hanya terkekeh geli melihat gadis itu kebingungan seperti itu dan mencubit hidungnya gemas. Alena pun merengut dan menepis tangan jahil Re.
Edwin mengangkat dua alisnya. “Tahu apa? Tahu kalau kamu pacaran sama anak setres yang suka nangisin kamu tiap malem dan bawelnya melebihi radio rusak ini?”
Re mendecih sebal di saat teman-temannya tertawa puas. “Om, jangan jujur banget, deh. Harga diri Re jadi jatoh sejatoh-jatohnya sekarang ini,” cebiknya dramatis.
Alena menggaruk belakang telinganya. “Sejak kapan kalian bisa kenal akrab kayak gini?”
Edwin tersenyum dan menceritakan bahwa semenjak kepergian Alena ke luar negeri, lelaki itu selalu mengunjungi Edwin di Rumah Sakit Jiwa. Di tengah jadwalnya yang padat, selalu ia sempatkan untuk mampir bertemu ayahnya Alena. Awalnya, Re hanya ingin menyapa tapi karena selalu diusir mentah-mentah dan dibentak oleh Edwin, Re justru semakin tergugah hatinya untuk menyadarkan Edwin agar ia tak disangka gila betulan dan bisa memulai lagi kerja seperti dulu lagi.
Re tak pernah berhenti menyerah untuk bertemu dengannya walau sudah Edwin katakan ia benci bocah ingusan itu. Dan akhirnya Edwin pun menyadari kesungguhan dan ketulusan hati Re untuk membantunya, ia pun mulai mendengarkan perkataan bocah itu untuk berjuang melawan dirinya sendiri dan diajak Re untuk keluar dari RSJ. Kini, Edwin dapat merintis usaha travelnya lagi dari awal berkat bantuan modal dari Re dan mereka jauh lebih akrab bahkan Re sering curhat tentang Alena pada Edwin.
Alena menatap takjub pada Re yang tersenyum lebar. “Wah, makasih banget, Re. Aku nggak nyangka kamu peduli banget sama keluarga aku. Aku semakin merasa beruntung dipertemukan dengan kamu,” ucapnya.
Re terkekeh bahagia kemudian berdehem canggung. Ia tatap Edwin di hadapannya dan segera ia sembunyikan Alena di balik punggungnya. Edwin dan Alena mengernyit bersamaan dengan Gara, Kaira, Fikran, Fany, Yusuf, Shilla, dan Juniar yang menelengkan kepalanya.
“Mau ngapain kamu, Re?” tanya Edwin dengan suara beratnya.
Re pun berdiri tegap saat wajah Alena menyembul dari balik bahu kirinya.
“Om Edwin, saya tahu kalau anda masih menganggap saya sebagai bocah ingusan. Saya juga belum ngerampungin skripsi yang selalu ditolak mulu judulnya.
“Tapi saya berani janji sama Om, kalau saya akan bisa menjadi orang yang diandalkan bagi Putri Om. Kalau saya akan bisa menjadi payungnya di saat hujan dan akan menjadi penerangnya di saat malam. Saya juga berjanji saya tidak akan melepaskan tangannya sampai akhir hayat hidup saya. Saya telah mencintainya tanpa syarat dan dia adalah segalanya bagi saya. Jadi ...
Re tarik napasnya perlahan lalu membuangnya beriringan dengan lirik yang ia nyanyikan. “Cause very soon I’m hoping that I ... Can marry you daughter and make her my wife. I want her to be the only girl that I love for the rest of my life and give her the best of me ‘till the day that I die.”
Tangisan haru Alena kembali meluncur bebas disambut sorakan meriah dan tepuk tangan semua pengunjung restoran yang ternyata ikut menonton aksi Re meminta izin pada calon mertuanya.
Para paparazi yang sedari tadi bersembunyi pun langsung mengangkat kameranya dan merekam momen ini secara terang-terangan. Setelah insiden empat tahun lalu di bandara yang menjadi viral di masyarakat, ternyata Re bisa kembali menuai sensasi pada hari ini. Memang artis sejuta sensasi.
Kelihatannya Re begitu nyaman bernyanyi sepenuh hati dengan mata yang menatap lurus-lurus mata Edwin, namun nyatanya ia gemetaran. Alena segera keluar dari balik punggung Re dan ia genggam tangan lelaki itu yang gemetaran. Re masih bernyanyi dan tersenyum pada Alena. Berterima kasih, karena telah menenangkannya.
“I’m gonna marry your princess and make her my queen. She’ll be the most beautiful bride that I’ve ever seen. Can’t wait to smile when she walks down the isle, on the arm of her father. On the day that I marry your daughter.”
Re tarik panjang dan buang napasnya perlahan. Ia terkekeh canggung pada Edwin yang hanya menampakkan senyum samarnya.
“S-sir, Can I marry ... your daughter?” tanya Re gugup.
Edwin terdiam cukup lama kemudian terkekeh kecil.
“Yes, I’m blessing you,” balasnya.
Sorakan kembali meriuh lebih ramai dari sebelumnya diiringi tepuk tangan meriah dari penjuru restoran.
“Hwaaa!!!”
Re langsung menjerit heboh sambil meninju udara. Saking senangnya ia langsung dekap erat Alena dengan gemasnya. Alena hanya bisa tertawa bahagia.
“Heh!” Edwin pun bersuara datar yang langsung membuat Re tersadar dan melepaskan Alena.
Ia terkekeh canggung pada Edwin.
“Eh, lupa, ada bapaknya,” gumamnya polos yang disambut gelakkan tawa.
Re garuk-garuk lehernya yang tidak gatal itu. “Jadi ... em ... itu ...” Ia menunjuk-nunjuk kecil Alena yang sayang dianggurin aja.
Edwin menghela napas pasrah. “Udah telat kalau mau minta izin.”
Ia gedikkan dagu pada putrinya yang sukses melebarkan senyuman Re.
Re malah berlari memeluk singkat Edwin yang membuat mata camernya melotot.
“Makasih, Om. Makasihhh banyak. Lope-lope, deh, Re sama Om.” Ia pun berlari lagi memeluk gadis itu dan bahkan mengangkat sambil memutar tubuhnya.
“Dasar mantu setres,” gumam Edwin tertawa kecil.
Juniar langsung menghambur memeluk singkat Re dan Alena yang disambung dengan Gara dan Kaira yang menyapa Edwin sembari mengucapkan selamat pada Re dan Alena. Fikran, Fany, Yusuf, dan Shilla pun melakukan hal yang sama kemudian mereka berbagi tawa yang sama.
You're my notation and will always be like that forever.
__ADS_1
Tamat.