Because You Were There

Because You Were There
Bab 44


__ADS_3

Lima puluh bulan kemudian.


Tangannya tak berhenti menuliskan satu kata dalam buku kecil yang nampak lusuh akibat selalu ia bawa kemana-mana. Sudah cukup. Ia sudah menuliskan lebih dari seratus kali kata itu hanya untuk pagi ini. Ditutupnya buku itu dan ia simpan di atas meja rias yang sedang ia duduki. Buku itu tersimpan apik di antara peralatan make-up lainnya.


Menghela napas ringan, ia angkat kepala menatap bayangan wajahnya di cermin besar yang dihiasi lampu neon di sekelilingnya. Riasan ini sedikit lebih tebal dari biasanya. Tak ada lagi poni yang terjatuh, semuanya sudah diangkat memperlihatkan keningnya yang memberikan kesan dewasa. Tuxedo kelabu sudah melekat di tubuh lengkap dengan bunga mawar di sisi kantungnya.


“Re, kamu sudah siap?” Suara perempuan yang sudah lama menemani Re ke mana pun di saat apa pun.


Re balas tatap wajah perempuan itu, tersenyum kecil.


“Sudah. Aku cuma lagi nungguin Gara,” balasnya yang diangguki oleh perempuan itu.


“Jangan lupa makan, ya, nanti kamu sakit,” ingat perempuan itu.


Lagi-lagi Re tersenyum seraya mengembalikan pandangan ke arah cermin.


“Iya, makasih, Sayang,” balasnya.


Perempuan itu pun keluar dari ruang tunggu pengisi acara. Bersamaan dengan ia yang membuka pintu, seorang cowok tegap yang sudah berpakaian rapi pun tersenyum padanya dan melenggang melewati bahu perempuan itu.


Cowok itu langsung datang menghampiri Re dan bersandar di meja rias sambil memainkan ponselnya.


Re pun mendengkus kesal di kursinya melihat itu.


“Woy, gue orang di sini bukannya patung. Dateng-dateng malah numpang main hp. Nyapa kek, apa kek,” sewotnya.


Cowok itu membuang napas pasrah.


“Bosen gue nyapa lo. Tiap hari juga ketemu,” balasnya dilanjut memasukkan ponsel ke dalam saku jasnya dan berbalik lalu merapikan sedikit tatanan rambutnya di kaca rias Re.


Re berdecih dan mendongak menatap bayangan cermin cowok itu. “Iya juga, sih. Makanya kalo manggung, beda tempat kek sama gue. Ngikut mulu lo, Gar,” ucapnya pura-pura kesal.


Gara terkekeh hambar. “Siapa yang ngikutin lo,” decak malasnya.


“Terus, takdir gitu kita ketemuan terus-terusan?” kekeh Re.


“Yes, namanya takdir,” balas Gara ikut terkekeh pula.


Gara kerap disandingkan bersama Re dalam tiap acara manggung. Sekarang, namanya sudah terkenal di mana-mana. Ia bukan lagi ekor Re atau apa pun itu. Orang-orang sudah mengenal nama Gara sebagai penyanyi pemilik jangkauan vokal yang tinggi yang pernah menjuarai ajang Internasional di Paris.


Gara adalah anak kesayangan di salah satu agensi yang didirikan oleh ayahnya sendiri. Tak heran, popularitas Gara kian menanjak dan banyak yang menyebutnya sebagai kembaran Re. Setidaknya, Gara sudah bisa berjalan beriringan dengan Re bukannya berjalan di belakangnya. Gara tidak masalah dengan julukan itu.


Re lirik jam dinding yang tergantung di atas meja rias. Waktu untuk manggung tinggal sepuluh menit lagi.


“Lo siap, kan, Gar?” tantang Re seraya berdiri di samping sahabatnya.


Gara menyeringai kecil saat menatap Re.


“Kapan gue nggak siap?” balasnya membuat Re menyengir lebar.


*****


Mobil sport warna merah ini melaju sangat kencang membawa penumpangnya. Ia selip kanan selip kiri tanpa menggunakan lampu seinnya. Ia sudah biasa kejar-kejaran waktu seperti ini karena memang kebiasaan kuliah, ia selalu terlambat bangun. Oleh karena itu, bakat pembalap terasah dengan sendirinya.


Dua tangan cowok lain menggantung pada pegangan sisi mobil dengan dua kakinya yang tertekuk ke atas.


“AHHH, CUP! Pelan-pelan, dong! Gue nggak mau mati muda! Gue belom ngelamar Si Fany!” pekiknya heboh. “Kasihan dia udah nungguin gue dari orok! Masa gue mati, sih?!”


Si muka lempeng itu tak berekspresi. Ya, namanya juga Ucup si lempeng. Ia pun menginjak pedal gasnya namun dalam sekian detik langsung berganti jadi menginjak pedal rem. Tubuh Fikran dan Yusuf pun mencondong hampir menabrak dasbor mobilnya Yusuf.


Untung, mereka memakai sabuk pengaman. Kalau tidak, pasti sudah Innalillahi kepala mereka pecah kejedot dasbor mobil. Decit gesekan antara aspal dan roda pun terdengar begitu keras. Ciiiiittt. Mobil pun berhenti tepat saat lampu merah.


“Allahu-Akbar Allahu-Akbar Allahu-Akbar.”


Fikran terus komat-kamit merapalkan doa dengan matanya yang terpejam rapat.


Yusuf hanya menoleh sekilas dan menggelengkan kepala kemudian mengecek ponsel yang sudah joget-joget di saku kemejanya.


“Halo?” sapa datar Yusuf.


“Yusuf, kamu di mana? Aku udah nyampe tempat acaranya. Ada pacarnya Fikran juga di sini.”


“Merah. Berhenti dulu,” ucapnya datar, seperti biasa.


“Oh, lagi kejebak lampu merah?”


Yusuf mengangguk. Saat yang nelepon nggak bisa lihat.


“Yaudah hati-hati, ya!”


Memang ajaib pacarnya Yusuf. Padahal omongan Yusuf itu nggak jelas tapi pacarnya mengerti apa maksud perkataan Yusuf. Yah, mungkin ini yang namanya sepasang kekasih bisa telepati.

__ADS_1


“Aku mau nyapa kakak kamu dulu, bye!”


Sambungan pun terputus. Yusuf simpan ponsel itu pada tempatnya semula.


“Cup, kita masih idup, nggak?” cemas Fikran yang masih memejamkan matanya.


“Bentar lagi,” ucapnya datar seraya menginjak pedal gas sampai pol.


“AHHH!!! BENTAR LAGI MATI, MAKSUD LO?!”


*****


Re dan Gara berada di satu panggung dan mereka bernyanyi untuk memeriahkan acara penyambutan yang diadakan di salah satu hotel ternama di Kota Kembang. Tamu undangannya pun orang-orang berkelas, seperti para pengusaha, pejabat, dan para keluarga artis-artis yang dianggap menjadi orang yang berpengaruh di Indonesia.


Tepuk tangan dan sorakan meriah saling bersahutan mengiringi dua artis terkenal yang sedang turun dari panggung. Bukan lewat belakang tapi langsung turun lewat depan untuk menghampiri dan menyapa orang-orang yang ada di ballroom besar hotel ini.


Seorang pria yang sedang menggendong batita itu menjadi sasaran pertama Re untuk ia kunjungi.


“Mas Jun!” sapa Re semangat.


Mata Juniar langsung berbinar cerah menemukan adiknya yang masih aktif di dunia keartisan ini.


“Oi, Re!” balas Juniar.


Mereka pun bertos-ria.


“Udah lama, ya, kita nggak ketemuan lagi,” ujar Re sembari mencubiti pipi gembil anak perempuannya Juniar dalam gendongan pria itu. Re terkekeh kecil karena terlalu asyik mencubitnya.


“Kan gue udah jadi ketua manajer. Masa iya, nggak naik-naik jabatan gue, Re.”


Tangan Juniar mengelus rambut anak perempuan itu yang dikuncir dua. Posisi tubuhnya terbalik dalam gendongan Juniar.


Sesekali ia menarik jempol anak perempuannya yang selalu diemuti. Nanti malah jadi kebiasaan sampe gede.


Re masih mengunyel-ngunyel pipi itu. “Gemes banget gue sama anak lo! Seratus persen mirip Chyntia!”


“Aduh!” Re terkejut karena Tiara tiba-tiba menggigit jarinya. Tapi Re tidak marah, ia malah tambah gemas saja dibuatnya. Iya, Re tidak marah tapi Tiara yang marah. Dasar nggak peka!


“Matanya mirip gue, Re!” sanggah Juniar tak rela bahwa tak ada kemiripan yang dibawa anaknya.


“Enggak, ah! Mirip Chyntia, tahu!”


Tiga gadis cantik pun datang menghampiri Juniar dan Re. Gadis berambut gelombang itu menepuk pundak Juniar dan meminta anak mereka untuk didudukkan saja di meja kecil agar tak kerepotan. Tiara pun didudukkan di sana.


“Adik? Chyra maksud kamu?” Chyntia menggeleng.


Shilla dan Fany yang ada di sekitar pun ikut menimbrung.


“Masa Mas Jun nggak tahu, sih, keluarga istrinya sendiri?” cibir Shilla.


Fany manggut-manggut. “Aduh, Mas Jun parah banget, deh.”


Juniar semakin merasa terpojok, ia pun menyikut perut Re di sampingnya. “Kok jadi gini?”


Re hanya mengedikkan bahu tak acuh.


Kembali ia dekati Tiara dan menekuk lututnya di hadapan gadis kecil itu. Tiara langsung melotot dan membuang wajahnya menatap Gara yang sudah berlutut duluan sedari tadi. Gara elus rambut gadis kecil itu dan sama sekali Tiara tak memberontak.


Re mendengkus sebal. Dasar pilih kasih. Sembari berdiri, ia mencubit pipi Tiara yang hampir membuat gadis kecil itu menangis.


“Re!” omel Gara sambil berdecak prihatin melihat tingkah Re yang umur limanya masih aja nggak tumbuh-tumbuh. Gara pun mengelus lembut pipi itu dan Tiara dapat kembali tenang seperti sedia kala. Calon ayah idaman.


“Shil, mana Ucup sama Fikran?” tanya Re beralih sama perempuan yang sudah besar karena dikacangin sama perempuan yang masih kecil.


Pemilik nama menggelengkan kepala tanda tak tahu.


Terdengar grasak-grusuk dari balik punggung mereka. Deru langkah kaki yang sedang membuka kerumunan orang-orang itu kian terdengar mendekat. Dua wajah pun menyembul dari balik tubuh seseorang yang baru saja menyingkir.


Chyntia langsung memeluk salah satu lelaki yang dibalas tepukan singkat oleh lelaki itu.


Chyntia pun menggandengnya untuk mendekati Juniar yang menganga tak percaya melihat istrinya baru saja memeluk brondong.


“Hai, Shil,” sapa lelaki itu kayak robot saat melewati pacarnya yang tersenyum manis.


“Kenalin ini adik aku, Jun.”


Bukan hanya Juniar saja yang terkejut, tapi Re, Gara dan Fikran pun ikut menjatuhkan rahangnya tak percaya.


“Lo adiknya?! Sejak kapan?!” pekik Re dan Fikran berbarengan. Fikran pun berdiri di samping Re diikuti oleh Gara.


Yusuf menatap datar keempat cowok yang terkejut.

__ADS_1


“Ya sejak lahirlah,” jawab malasnya.


“Nama lo, kan, Yusuf! Nggak ada nyambung-nyambungnya sama Chyntia dan Chyra,” celoteh Fikran.


Yusuf tersenyum datar. “Nama gue C. Yusuvians.”


“C?” Re mengernyit. “C untuk?”


“Chylo.”


“Oh, begitu, toh!” Keempat cowok itu pun membulatkan mulutnya.


Juniar pun berkenalan dengan Yusuf.


Cowok itu punya rumah sendiri tak pernah pulang dan saat pernikahan Juniar dan Chyntia berlangsung, Yusuf tidak sempat datang karena ia masih di luar negeri. Jadi, daripada Juniar nanti salah paham malah berpikir Yusuf tidak setuju akan pernikahan mereka, Chyntia lebih memilih untuk tidak menceritakannya saja. Dan malah kelupaan sampai hari ini ia tidak pernah menceritakan tentang Yusuf pada Juniar.


Re edarkan pandangannya melihat kebersamaan yang manis ini. Juniar dan Chyntia tertawa bersama melihat putri kecil mereka. Lalu ada Yusuf dan Shilla yang sudah bisa bersama tanpa bayang-bayang Lara lagi. Setahu Re, Lara sudah menikah dan bisa menjalani kehidupan bahagia dengan cowok lain. Pandangan Re pun terjatuh pada pasangan peka antara Fikran dan Fany yang sama-sama memasang senyum malu-malu. Fikran membisikkan sesuatu pada Fany yang membuat Fany tertawa lepas yang begitu manis.


Pundak Re pun ditepuk dari samping yang membuatnya menoleh.


“Re, nanti kalau ada apa-apa telepon aja, ya. Aku ada urusan sebentar,” izin perempuan itu.


Re mengangguk semangat. “Siap, Yang! Dadah!” Ia lambaikan tangannya mengiringi kepergian perempuan yang selalu bisa diandalkan dalam segala hal apapun. Ia perempuan pengganti Alena.


Saat Re mengalihkan pandangan pada semua temannya, ia terperangah. Ternyata semua mata sedang fokus menatap dirinya dengan raut wajah tak percaya.


“Lo udah lupa sama Alena?” tanya Fikran mengerutkan kening.


“Apaan, sih, Fik!” sanggah Re tak suka.


“Masih di luar negeri, ya?” tanya Yusuf datar.


Juniar menggeleng tak percaya pada Re. “Lo yakin khianatin Nana kayak gini, Re? Nggak nyangka gue,” tandasnya.


Chyntia langsung mengatup wajahnya menahan tangis. “Alena pasti nangis di belahan bumi yang lain kalau ngelihat orang yang dia sayangi udah buka hati buat orang lain.”


Juniar langsung merangkul Chyntia. Wanita ini memang sangat sensitif pada hal apapun.


“Aku nonton rekaman kalian di bandara yang hampir ciuman itu di Youtube! Aku kira, bakalan happy ending,” ucapnya terisak.


Re tergugu tak tahu mau berkata apa. Ia pun menyikut perut Gara yang diam saja sedari tadi. Gara meringis memegangi perutnya.


“Lah, Gar? Kok jadi gini?”


Gara hanya mengedikkan bahu tak acuh.


Re pun melongo.


Juniar semakin merasa terpojok, ia pun menyikut perut Re di sampingnya. “Kok jadi gini?”


Re hanya mengedikkan bahu tak acuh.


Inikah yang dinamakan K-A-R-M-A?


“Gara! Bantuin gue, lo, jangan kabur!” sentak Re melihat Gara sudah melipir menghampiri pintu ballroom. Gara hembuskan napas pasrah dan kembali berdiri di samping Re.  


“Kenapa coba kalian mikirnya kayak gitu?” selidik Re tak rela ia dituduh yang tidak-tidak.


Fikran langsung angkat bicara. “Ya lagian lo senyum-senyum gitu ke cewek asing tadi, sambil manggil-manggil dia, ‘Yang’ lagi! Apaan coba maksudnya itu?!” tandasnya.


“Namanya juga Sayang,” balas Re tenang. Merasa tidak ada yang salah dengan itu.


“TUH, KAN! Lo pindah ke lain hati, Re!” tukas Fikran dan Juniar bersamaan. Yusuf hanya mengangguk.


Gara langsung terkikik geli dan memutar tubuhnya setelah menyadari sesuatu. Ia tak tahan dengan tatapan bloon semua orang di sini.


“Heh, lo malah ketawa sendiri!” omel Re memutar kembali tubuh Gara yang masih tertawa geli.


Fikran mengernyit. “Si Gila, Gara, ye?”


“Kebalik, Woy!” ingat Re.


“Gue nggak gila,” ucap Gara mengklarifikasi. “Kalian yang salah paham. Nama asisten pribadi Re itu namanya Sayang. Bukan nama panggilan tapi nama asli,” jelasnya.


“Hah? Aneh banget namanya,” celetuk Fikran.


Re langsung menepuk tangannya berulang kali hingga semua mata menatapnya.


“Heh, nih, gue kasih tahu, ya. Nama kakak pertamanya itu Cinta. Nama kakak keduanya itu Kasih. Nah dia sebagai anak ketiga berarti namanya?” tanya Re.


“Sayang,” jawab serempak Yusuf, Fikran, dan Juniar memasang wajah iya-juga-ya.

__ADS_1


Re pun terbahak melihat ekspresi kebingungan dari semua mata temannya. Ia bergerak mengedikkan kepala pada Gara mengajak cowok itu untuk segera bersiap di acara yang lain lagi. 


*****


__ADS_2