
Deru kendaraan bermotor terdengar dari kejauhan. Suara itu pun menghilang menyisakan mobil yang terhenti di depan gedung apartemen.
Getaran ponsel terdengar dan tangan lelaki itu meraih benda tersebut di jok sampingnya. Keningnya mengerut mendapatkan nama yang tertera.
Kepolisian is calling...
Dihembuskannya napas panjang sebelum ia mengangkat panggilan tersebut.
"Selamat siang saya Hakim dari polres setempat ingin menanyakan beberapa hal terkait kasus Edwin. Apakah ada waktu?"
Juniar meneguk. "Ya, saya senggang sekarang."
*******
Pemilihan pemenang akan terpacu pada jumlah skor ketiga juri yang telah ditetapkan dan dalam setiap babak pasti ada peserta yang tersingkir agar lebih mengetatkan seleksi penjurian. Babak pertama yang diikuti oleh 78 peserta dari seluruh Indonesia akan disaring menjadi 25 peserta yang boleh maju ke babak kedua.
Mereka hanya perlu bernyanyi sesuai kriteria yang ada. Lagu pertama adalah lagu tentang kebangkitan nasional dilanjut babak kedua mereka diminta membawakan lagu asing dari luar negeri dan di babak terakhir akan ditetapkan satu lagu yang sama pada semua peserta dan mereka harus membawakan lagu itu seperti lagu aslinya namun tidak menghilangkan ciri khas dari masing-masing penyanyi itu sendiri.
"Mengapa kamu berpakaian seperti itu?" selidik salah satu juri berkepala plontos berjaket kulit tebal yang duduk di antara dua juri lainnya dalam meja panjang. Matanya terus menyipit menatap aneh pada peserta 39 yang sudah berdiri di atas panggung.
Re yang sudah siap memegang microphone, membasahi tenggorokannya. Ia memang selalu gugup jika harus menampilkan bakatnya tapi kegugupannya kali ini sungguh berlipat-lipat ganda.
Dia bukan Gara. Dia bukan peserta festival. Dia harus membuat juri percaya bahwa dia adalah Gara dan dia harus segera menyelesaikan nyanyiannya sebelum Haris datang untuk melihat penampilan anaknya.
Sungguh, tekanan batin yang nyata.
Re mengendurkan sedikit kerah sweater dari depan mulutnya. Ia berdehem beberapa kali mencari karakter suara yang ingin ia keluarkan. Re siap bersuara seperti Gara.
"A-apa benar ini merupakan masalah besar jika saya bernyanyi seperti ini?" tanya Re berusaha menurunkan tinggi pitch suaranya karena memang suara Re lebih nyaring daripada milik Gara.
Rambut panjangnya ia singkap dalam satu ikatan ke belakang lalu ia bertopang dagu menatap malas orang yang duduk di sisi kirinya. "Ada masalah apa, sih, Bar? Dia anak komposer terkenal dan selalu lolos festival seni ini sampai ke babak nasional. Menurut aku, nggak ada masalah apa-apa, tuh." Wanita berambut pirang itu mengedipkan sebelah matanya pada Re.
Walaupun terlihat gelap dari kacamata hitamnya yang sudah seperti tukang pijit kalau kata Fikran, Re masih dapat jelas melihat pergerakan itu yang menjadikannya salah tingkah. Janda muda.
Pria gundul plontos itu mengerang kecil. "Tapi Olin, ini bukan festival main-main. Semuanya pasti berpenampilan rapi dan ada penilaian khusus tentang ekspresi." Telapaknya menunjuk Re di atas panggung. "Coba lihat! Mengapa dia malah pakai kacamata hitam?"
Arisa yang duduk di kursi paling ujung hanya mengipasi dirinya sendiri dengan telapak tangan. Ia sama sekali tak peduli dengan perdebatan dua juri lainnya.
Olin jadi bertanya pula dalam hati dan langsung ia tarik microphone di atas mejanya untuk bertanya pada Gara (menurut pikirannya). "Anggara? Kenapa kamu pakai kacamata hitam? Biasanya kamu selalu menampilkan mata kamu yang menawan itu," tanya si penyanyi beroktaf empat ini yang sering menjadi perwakilan Indonesia dalam ajang bergengsi Internasional.
__ADS_1
Mata Re melebar sempurna. Untungnya ia memakai kacamata hitam yang besarnya tiga kali lipat di matanya, jadi semua pendukung maupun juri yang hadir di hadapan tidak akan heran melihatnya. Ia coba cari sinyal bantuan pada semua temannya yang berkumpul di sisi tengah aula salah satu Universitas Seni ini di mana Festival tengah diselenggarakan.
Alena terlihat cemas dengan dua tangan terpaut di depan dadanya. Ia terus merapalkan doa dengan bibirnya yang komat-kamit. Fikran terlihat terus menggertakkan gigi di saat Yusuf hanya memasang wajah datarnya, cemas.
Ini akan gagal bila Re berlama lagi berdiam diri. Semua mata akan mencurigai Re telah melakukan sesuatu yang buruk jika Re tidak segera menjawabnya. "Ga-gara ..." Tapi sial! Ia tak dapat berpikir apapun. Apa Re harus bilang matanya bintitan? Nanti kalau Gara malah dikira suka ngintipin cewek gimana? Re tak mau menjatuhkan harkat martabat sahabatnya sendiri.
Merasa sudah jemu karena menunggu jawaban dari anak itu yang tak kunjung terdengar, Arisa menarik microphone kecilnya yang terpasang di atas meja. "Anggara, kamu bisa mulai sekarang," ucapnya tegas. Ia lirik dua juri lain yang menatapnya heran, namun hanya kedikkan bahu yang dilemparkan oleh komposer musik dan guru vokal ternama ini.
Re menghembuskan napas lega. Untung ada Arisa, si juri yang tak pernah bertele-tele, ia terselamatkan. "Baik, saya Anggara Putera nomor urut 39 akan mulai bernyanyi."
******
Baru saja keluar dari kamar mandi, tapi ia langsung merasa perutnya digilas hingga ia dipaksa harus mengeluarkan isinya lagi. Tangannya terus mencengkeram erat perut saat baru dua langkah ia keluar dari bilik kamar mandi. Ini tidak bisa ditahan, ia harus segera kembali ke closet.
Tudung kepalanya ia tarik hingga menutupi setengah wajah dan hanya nampak bibirnya saja yang terus menghembuskan napas berat. Ia bersandar pada dinding kamar mandi tempat di mana ayahnya tak kunjung keluar dari sana. Sebenci apapun ia pada sikap keras ayahnya, ia masih merasa sakit melihat ayahnya tersiksa karena ulahnya seperti ini.
Ia ingin membantu. Ia ingin menghentikan pengaruh obat itu. Dikeluarkannya tabung kecil dari saku jaket hitam yang ia kenakan. Ia mainkan tabung kecil itu dalam dua jemarinya. Obat penawar.
Ia hembuskan napasnya panjang. Tidak. Belum saatnya. Ia masukkan lagi tabung itu seraya berjalan menuju aula di mana dirinya yang palsu sedang menampilkan bakatnya.
Tak ada yang mencurigai Gara maupun Re sedikit pun. Mungkin, memang benar karena mereka memiliki postur tubuh yang sama persis dan juga karena mereka selalu terlihat akrab berdua. Banyak dua orang teman yang selalu dianggap saudara oleh banyak orang karena mereka selalu menempel kemana-mana dan mungkin, Gara dan Re sedang dianggap seperti itu hari ini.
Ia tepuk sekilas pundak seorang gadis yang memasang wajah kagumnya pada sosok yang bernyanyi. Gadis itu menoleh dan tersenyum manis padanya. "Hai, Gar," bisik gadis itu. "Re bener-bener kayak kamu, ya?" tanyanya masih berbisik.
Tepukan meriah bergemuruh mengiringi Re yang baru saja selesai menampilkan bakatnya. Ia tersenyum tipis saat melihat berbagai reaksi dari para juri. Si botak plontos alias musikus ternama bernama Kibar Maurer itu manggut-manggut sembari menuliskan catatan kecil dan poin angka di selembaran penilaian. Ia masih merasa belum puas karena pakaian yang dipakai peserta kali ini. Sedangkan Olin tersenyum lebar saat menuliskan poin bertepatan dengan Arisa yang memasang wajah, boleh juga saat ia menilai. Re pun turun dari panggung dengan senyuman lega.
Babak pertama berhasil.
Yang disusul dengan keberhasilan babak kedua.
******
Senyuman mengembang dari tiap wajah memandang Re yang baru saja kembali dari atas panggung menyelesaikan babak kedua. Ia langsung hampiri sofa kecil dan bersandar di sana melepas kasar kacamata tukang pijatnya dan melonggarkan kerah agar angin dapat masuk ke dalam menyejukkan tubuhnya yang kepanasan.
"Wah, aku nggak nyangka rencana ini berhasil tanpa ada satu pun yang curiga," seloroh Alena berdiri di hadapan Re yang duduk bersama Gara.
"Iya, gue udah khawatir banget. Kirain juri bakal curiga sama penampilan lo, Re!" seru Fikran yang duduk di kursi rias namun ia membalikkan tubuhnya.
Yusuf mengangguk. "Tinggal Gara yang mengakhiri semuanya dan beres dia bakal jadi juara pertama," cetusnya yang dibalas anggukan antusias dari Alena dan Fikran.
__ADS_1
Re menegakkan tubuhnya yang kegerahan lalu beralih menatap Gara yang sama sekali tak terlihat senang akan usahanya. "Gar!" Ia lambaikan tangan pada cowok itu yang terus menatap lantai. "GARA!!!" pekiknya membuat Gara tersentak hingga punggungnya menabrak dinding.
"Jangan pake suara toa lo, Re!" komen Alena menutup kedua telinganya.
Re hanya mendecih pada Alena yang membalasnya dengan pelototan mata. Kembali ia tatap Gara yang sepertinya sudah tersadar. "Lo kenapa, sih?" Gara yang menatapnya hanya menggeleng kepala. "Lo nggak bakal siap-siap apa?" Re menggerakkan jarinya untuk melepas pin nomor 39 yang masih terpasang di sweaternya ia serahkan itu pada Gara. "Nih, nomor urut, lo."
Gara tatap Re sekilas lalu ia turunkan pandangan menatap nomor pin itu lamat-lamat. Fikran dan Yusuf saling kontak mata bertanya apa yang terjadi. Re dan Alena pun mengernyit melihat Gara mengapa jadi kehilangan semangatnya seperti ini.
Brak!
Semua pandangan langsung mengarah pada pintu masuk yang digebrak seenaknya dan mereka memasang wajah terkejutnya serempak saat menatap siapa pelakunya.
"Ang-gara," rintihnya memegangi perutnya yang melilit saat tangannya yang lain mencengkram bilik pintu guna menahan keseimbangan tubuhnya.
Gara yang terbelalak langsung berdiri dan buru-buru mengalungkan sebelah lengan ayahnya ke bahunya. "Ayah? Kenapa?" Pertanyaan bodoh. Ia sangat tahu mengapa ayahnya seperti ini.
"Entah. Kayaknya saya salah makan tadi pagi," jawabnya kesulitan menahan sakit di perutnya.
Mata Gara memerah. Hatinya teriris mendengar jawaban Haris yang bahkan tak pernah sebersit pun terpikir padanya bahwa ini adalah kelakuan anaknya. Gara memapah Haris agar duduk di sofa kecil setelah Re yang masih melotot ketakutan sudah menyingkir dari sana.
Ia harus kabur sebelum, "Renggana?" Suara itu memanggilnya. Re yang baru sampai meja rias pun terkekeh hambar pada Haris.
"Halo, ayahnya Gara," sapa Re melambaikan tangan.
Kening Haris mengerut berusaha menahan perutnya yang terasa sedang diperas sekuat tenaga. "Ngapain kamu di sini?" ketusnya seakan menolak kehadiran Re di sekitarnya.
"Re cuma mau mendukung Gara yang lagi festival," cerianya tertekan. Tatapan tajam dari Haris itu selalu saja mengurung Re dalam ketakutan. Re hanya bisa menunduk bersampingan dengan Fikran yang belum merubah posisinya.
Ia tatap wajah anaknya yang duduk di sampingnya. "Saya bakal nonton ... penam-pilan terakhir kamu, Ang-gara," gumamnya kesakitan.
"Yah, mending ayah pulang biar Gara telepon ibu." Sebelah tangannya merogoh saku setelan yang telah ia pakai lagi untuk mengambil ponsel. Melihat pergerakan itu, tangan Haris menggapainya dan menutup seluruh layar ponsel.
"Nggak usah. Saya bakal paksain diri. Saya denger kamu ... jadi peserta pe-roleh poin tertinggi. Saya nggak ba-kal—" Perutnya kembali bereaksi. "—lewatin yang terakhir."
Gara menghembuskan napas panjang. "Gara pasti jadi juara yang pertama, Yah." Hanya perkataan ini yang ditunggu oleh Haris keluar dari bibir putranya.
Merasa urusannya telah selesai, Haris langsung berdiri dengan sisa tenaganya yang terkuras habis. "Saya mau balik ke panggung." Haris pun berjalan keluar dari ruang tunggu dengan langkah yang tertatih-tatih.
Gara mengeratkan pejaman matanya lalu dengan sigap berdiri dan menatap satu persatu wajah yang menegang. "Gue mau ngasih ini ke ayah gue." Tangannya mengangkat botol kecil obat penawar itu. Ia pun berlari menuju pintu sampai suara Re menahannya.
__ADS_1
"Gar! Nomor urut lo!"
Gara menoleh sedikit ke belakang dan melihat Re menyodorkan nomor pin itu. "Pegang dulu," titahnya lalu melanjutkan pengejaran menyusul ayahnya.